Kamis, 29 Desember 2011

KATA ORANG


KATA ORANG
BY ARUNDINA

            "Enak ya jadi guru, banyak libur. Banyak uang. Gak cape !" ujar banyak orang padaku. Aku hanya tersenyum. Kalian tidak tahu betapa beratnya beban profesi guru itu. Kalau dilihat sekilas dan hanya satu aspek memang enak. Guru hanya masuk kelas. Mengajar. Selesai. Pulang. Dibalik itu ? Banyak orang yang tak tahu.
            Jam kerja guru bisa mulai dari jam 6 pagi ( banyak juga yang pergi dari rumah jam 5 subuh ) sampai jam empat sore. Bahkan lebih. Mereka mulai dengan kegiatan pelajaran tambahan, pemantapan dan sejenisnya. Setelah itu, melaksanakan kewajiban seperti biasa. Mengajar di kelas. Berikutnya, guru sering mendapatkan tugas tambahan, seperti: panitia ulum, koperasi, ekskul, walikelas, iht, pelatihan dan lain sebagainya.
            Menjelang pembagian rapot, karena keterbatasan waktu dan ketersediaan rapot yang mendadak,  banyak guru yang harus begadang saat mengisi rapot para siswa. Mengisi rapot butuh konsentrasi penuh. Tak etis rasanya jika rapot yang diterima oleh siswa penuh dengan coretan, tip ex atau kesalahan.
            Dalam melaksanakan tugas utamanya, guru tidak hanya mengajar di kelas. Mengajar di kelas hanyalah sebagian tugas utama guru. Hanya hal itulah yang dilihat oleh banyak orang. Pada dasarnya, profesi guru meliputi tiga aspek, yaitu: perencanaan, pelaksanaan dan pengevaluasian. Hal inilah yang menjadi tugas utama guru professional. Sebelum mengajar di kelas, guru harus membuat persiapan. Persiapan tersebut adalah perencanaan pengajaran. Guru harus mempersiapkan administrasi secara lengkap, berupa: program tahunan, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran maupun survey atau penelitian pendahuluan untuk memperkaya materi pembelajaran, menganalisis kebutuhan, minat, bakat siswa.
            Setelah perencanaan, kita melaksanakan pembelajaran di kelas. Mengajar bukan hanya sekedar transfer ilmu. Kita juga dituntut untuk mendidik dengan seni yang baik. Menerapkan nilai-nilai tanpa kesan menggurui atau menasehati. Inilah pekerjaan tersulit dalam profesi guru. Pendidikan berkarakter. Guru tidak bisa langsung menikmati hasil pendidikannya, tapi perlu waktu, proses. Pada tahap pelaksanaan ini, guru juga mengadakan pengamatan untuk menilai kesesuaian rencana dengan action di lapangan. Sesuaikah ? Ada penyimpangankah? Perlu perbaikankah ?
            Pada tahap evaluasi, guru mengukur ketercapaian kompetensi yang diserap oleh siswa. Mengukur materi pembelajaran ( teori ) tergolong mudah. Guru melaksanakan ulangan, siswa mendapatkan nilai. Tapi bagaimanakah ketercapaian aspek lainnya ? Mendidik adalah mencerdaskan fisik dan batin. Kecerdasan fisik mudah diukur. Kita tinggal mengamati kemajuan hasil kerja atau usaha siswa. Kecerdasan batin (mental) ? Sulit untuk diukur dan tak terlihat secara nyata hasilnya. Keberhasilannyapun cukup memakan waktu. Inilah tantangan profesi guru. Dilihat gampang, dilaksanakan susahnya minta ampun. Banyak halangan, rintangan dan godaan yang akan menutup keberhasilannya. Padahal, kecerdasan mental adalah amunisi jiwa bagi manusia untuk mengarungi kehidupannya. Kecerdasan mental inilah yang akan menjadi kemudi arah bagi manusia. Di jalan benar ataukah di  jalan yang salah ?
            Banyak uang ? Belum tentu. Tuntutan profesi guru masa kini berbeda dengan masa lalu. Boleh dibilang ada kenaikan kesejahteraan, Kesejahteraan yang menjanjikan itu belum bisa dinikmati oleh semua guru. Kesejahteraan itu belum berjalan secara optimal. Masih banyak kendala di sana sini. Namun,  tuntutannya pun tidak kalah banyaknya. Guru sekarang tidak cukup mengajar dengan kapur, tapi harus bisa menggunakan multimedia. Laptop dsb. Gratiskah ? Oh, no ! Jika ingin professional, kesejahteraan itu bukan untuk foya-foya atau sekedar mencukupi kebutuhan diri dan keluarga. Tapi harus mampu meningkatkan kompetensinya.
            Di samping itu, guru juga harus memperkaya diri dengan wawasan, ilmu pengetahuan yang up to date. Guru harus banyak membaca. Kuliah lagi. Menambah keterampilan mengajar. Long life education ! Pendidikan yang berkualitas menjadi target penting dalam pembangunan bangsa ini. Pendidikan berkualitas tidak akan pernah ada jika tidak didukung oleh guru yang berkualitas, siswa yang gemar belajar, sistem yang berkualitas dan jajaran birokrasi yang berkualitas pula. Semuanya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Semuanya harus seiring sejalan untuk menghasilkan pendidikan yang berkualitas. Apapun kata orang semuanya demi melahirkan pendidikan yang bekualitas. Siapkah kita menyongsong abad baru, abad pencerahan dengan hasil  pendidikan yang berkualitas ?


                                                                                            

HAFALAN SHALAT DELISA


REVIEW FILM INDONESIA

HAFALAN SHALAT DELISA
Oleh : ARUNDINA


           

            Musibah memang selalu datang tak diundang, tak diminta dan tak pernah diduga. Musibah selalu menyisakan pilu, tangis, kehilangan dan derita.         Namun, musibah juga merupakan sebuah media pembelajaran dalam mengarungi kehidupan ini. Banyak hikmah yang dikandungnya. Keikhlasan, kesabaran, empati, kebersamaan, dan motivasi untuk bisa naik kelas dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
            Kita harus optimis menerimanya. Musibah tidak untuk ditangisi, diratapi ataupun dirutuki,  tapi harus dihadapi dan diselami. Itulah inti cerita film Hafalan Surat Delisa. Film ini dibintangi oleh : Nirina Zubir, Reza Rahadian , Chantiq Schagerl, dan Fathir Muchtar.
            Film ini tidak mengobral tangis pilu atau derita akibat bencana tsunami. Namun, film ini sarat makna. Kehidupan Umi, Abi dan Delisa adalah sebuah symbol harmoni kehidupan. Manusia harus saling menguatkan, mengingatkan dan saling membantu. Kebersamaan yang indah. Kita adalah satu diantara banyak perbedaan. Delisa merupakan symbol kekuatan. Cacat fisik. Konflik batin yang dialaminya. Rasa kehilangan yang menderanya. Pada akhirnya, selalu dihadapi dengan optimis dan kegembiraan. Sikapnya ini mampu menginspirasi semua orang yang berada didekatnya. Sehingga orang-orang itu mampu menerima musibah dengan ikhlas.  Life must go on !
            Film Hafalan Shalat Delisa adalah sebuah tontonan yang menarik dan penuh hikmah. Kita belajar menghadapi musibah. Tak rugi kita membayar karcis. So teman-teman, selamat menikmati suguhan lezat itu. Have a good time !

Jumat, 23 Desember 2011

SPRING WALTZ


REVIEW FILM KOREA
SPRING WALTZ
                Suhao ditelantarkan oleh ayahnya di desa leluhur. Ia bertemu dengan Yinying. Seorang gadis kecil yang sakit-sakitan. Yinying tinggal bersama ibunya. Akhirnya, di rumah itulah Suhao tinggal. Setelah sang  ayah meninggalkannya, Suhao berusaha untuk melarikan diri dari desa itu dan menyusul ayahnya ke kota.  Berkali-kali usahanya itu selalu menemui kegagalan. Petugas pelabuhan selalu memergokinya saat ia akan menyelundupkan diri ke atas kapal. Usahanya itu terhenti, saat Suhao melihat Yinying menangis, meratapi kepergiannya.  Sejak itulah, ia berdamai dengan keadaan. Hidup normal bersama keluarga Yinying.
                 Tiba-tiba ayahnya datang kembali. Suhao sangat senang tinggal kembali bersama sang ayah. Namun, kebahagiaan itu tidak lama. Bualan sang ayah bahwa ia tinggal di Amerika membawa masalah. Teman-teman Suhao tidak mempercayai hal itu. Suhao akhirnya membuka identitas dirinya pada Yinying bahwa ia hanyalah seorang pencuri. Ayahnya kembali menghilang setelah merampok rumah Yinying. Uang operasi untuk Yinying raib. Suhao menjadi bahan cercaan warga desa. Namun, ibu Yinying yang baik menyadari bahwa Suhao pun merupakan korban sang ayah. Anak malang. Akhirnya, ibu Yinying pergi ke Seoul untuk mencari ayah Suhao dan mengambil kembali uang operasi itu. Ia berpesan pada tetangganya untuk mengurus Yinying dan Suhao.
                Suhao tidak mau diam. Ia kembali berusaha mencari sang ayah. Yinying tidak mau ditinggalkannya. Akhirnya, mereka berdua melakukan perjalanan bersama. Terdampar di sebuah pulau. Ditolong seorang kakek baik hati sehingga mereka bisa sampai ke kota. Merekapun mencari ayah Suhao dan ibu Yinying. Usahanya gagal. Mereka terlunta-lunta. Saat beristirahat di taman, penyakit Yinying kambuh. Suhao membawanya ke rumah sakit.  Secara tidak sengaja, ia mendengar pembicaraan tetangga Yinying dengan petugas rumah sakit. Ibu Yinying tewas kecelakaan. Saat menjenguk Yinying, ia kepergok oleh tetangganya. Suhao ketakutan. Ia lari dan bersembunyi di kamar seorang wanita kaya yang kehilangan anaknya. Namun, akhirnya tetangga Yinyin pun menyadari kemalangan Suhao. Mereka berdua kebingungan. Untuk sembuh, Yinying harus dioperasi tapi mereka tidak memiliki biayanya. Suhao mencuri tas seorang wanita yang sedang menelepon. Ia tertangkap. Seorang bapak kaya menolongnya. Bapak itu meminta Suhao menjadi anaknya, agar istrinya tidak bunuh diri karena meratapi kematian anak kandungnya. Suhao pun menggadaikan dirinya agar Yinying bisa dioperasi.
                Suhao dan keluarga angkatnya hijrah ke Kanada. Ayah angkat Suhao mengatakan bahwa Yinying  mati di meja operasi. Suhao pun berduka. Suhao dibesarkan menjadi seorang pianis yang berbakat. Ia berganti nama menjadi Zaihe.
                15 tahun kemudian, Philips, sahabat Zaihe bertemu seorang wanita di bandara. Ia mengira wanita itu adalah tamunya. Kesalahpahamanpun terjadi. Wanita itu tidak mau Philips menjadi pemandunya. Sebaliknya, Philips bersikeras bahwa ialah pemandunya. Beberapa saat kemudian, muncul Yina. Barulah Philips menyadari kekeliruannya. Ia menjadi pemandu Yina, pacar Zaihe. Philip mengantar Yina pada Zaihe yang dingin dan tak banyak cakap. Saat Philips mengantar Zaihe dan Yina, ia melihat wanita di bandara sedang kebingungan. Ia memutuskan meninggalkan Zaihe dan Yina. Lalu, memutuskan menemui wanita itu. Benih-benih cintapun tumbuh di hati Philips. Ia menjadi pemandu wanita itu. Yinying namanya. Ia memberikan pondokan untuk Yinying di sebuah kawasan wisata yang indah di Australia. Bahasa menjadi kendala pertemanan itu. Keesokan paginya, Philips ingin menemui Yinying di pondokannya.  Namun, Yinying sudah pergi. Ia meninggalkan cinderamata kerang buatan tangannya untuk Philips. Yina dan Zaihe melihat kerajinan kerang itu. Tiba-tiba, Zaihe pergi meninggalkan mereka berdua. Ia mengejar Yinyin ke museum Kristal. Gagal. Kenangan masa kecil kembali menghantuinya. Zaihe menemukan chemistry dengan Yinying.  Zaihe memutuskan pergi ke Korea. Philips dan Yina kaget dengan keputusan dadakan itu. Tapi mereka memahami karakter Zaihe yang misterius. Mereka akhirnya pergi ke Korea. Berencana membuat album Zaihe di sana.
                Setibanya di Seoul, Philips berusaha mencari Yinying. Ia akhirnya menjalin persahabatan sambil berharap Yinying mau menerima dirinya sebagai kekasihnya. Di sela-sela konsernya, Zaihe kembali mengurai masa lalu. Mencari informasi tentang sahabat kecilnya, Yinying. Konflik demi konflikpun mulai bermunculan. Yina merasa Zaihe bukanlah teman masa kecilnya, lelaki pujaannya. Pers mencium pemalsuan identitas Zaihe. Yinyin terlibat masalah hutang keluarganya. Ayah Suhao masih hidup. Kemunculannya membuka luka lama Yinying. Philips dan Zaihe memperebutkan Yinyin.  Zaihe memutuskan kembali ke desa leluhurnya. Ia ingin mencari kepastian tentang Yinyin kecilnya. Saat menelusuri kenangan masa kecilnya. Ia mendapatkan kejutan. Yinyin yang dikenalnya adalah Yinying masa kecilnya. Zaihe membatin. Ia bahagia bisa menemukannya kembali, tapi sedih dan ragu dengan segala kesalahan masa lalu dan rahasia hidupnya kini. Ia terjebak antara keinginan kembali pada Yinyin, satu-satunya wanita yang sangat dicintainya dan Yina yang posesif, wanita yang juga terobsesi pada Zaihe masa kecilnya. Zaihe kembali menjadi pria yang misterius dan dingin.  Konflik yang terjadi membuat Yinyin kembali berduka.  Philips berusaha selalu menghibur dan membesarkan hatinya.  Ia kembali menyatakan cintanya pada Yinyin. Namun, hati Yinyin hanya untuk Suhao. . Philips menyadari masalah itu.
                Waktupun berlalu. Konflik semakin meruncing. Zaihe terjebak pada situasi yang sulit. Keinginan dirinya untuk membuka identitas lamanya. Kondisi kesehatan  ibu angkatnya yang memburuk. Yina yang mendesak Zaihe untuk menikahinya. Zaihe menghilang. Semua khawatir. Konser terancam gagal. Philips membuka rahasia Zaihe pada Yinyin. Zaihe adalah Suhao. Philips merelakan Yinyin kembali pada Suhao. Yinyin memutuskan mencari Zaihe ke kampung halamannya. Yinyin memaafkan kesalahan Zaihe. Mereka pun kembali merenda kenangan masa kecil. Mereka kembali ke Seoul dengan harapan baru.
                Di Seoul, masalah semakin meruncing.Pers mencari informasi dari ayah kandung Suhao.  Pers mendesak agar Zaihe membuka identitas dirinya. Ibu Zaihe menyadari kesalahannya. Ia berbesar hati menerima Zaihe sebagai Suhao anak lain yang dicintainya. Merekapun mengadakan konferensi pers. Identitaspun akan terungkap.  Tiba-tiba, ayah Suhao menyangkal keberadaan anaknya. Zaihe bukanlah Suhao yang ditelantarkannya. Ia meminta maaf pada anaknya. Ayah Suhao tewas kecelakaan.  Identitas aslipun kembali menjadi rahasia keluarga. Suhao tetaplah sebagai Zaihe. Konsekuensinya Zaihe harus meninggalkan Yinyin. Ia harus menikah dengan Yina. Yinyin menerima keputusan itu dengan besar hati. Zaihe kembali berkonser. Namun kecelakaan menimpanya. Tangannya cedera parah sehingga  ia tak bisa bermain piano kembali. Zaihe, Yina dan Philips kembali ke Australia.
                Setelah beberapa waktu, Yinyin menjalani hidupnya  lebih optimis dengan balutan kenangan masa kecil. Yina menyadari kebesaran cinta Zaihe pada Yinyin. Ia menemui Yinyin.  Ia meminta Yinyin kembali pada Zaihe. Merekapun hidup bahagia. Yina dan Philips merelakan keduanya pergi dari hatinya. Seandainya Philips memilihku. Springs Waltz.

                Cinta tak harus memiliki. Cinta yang murni adalah ketulusan untuk memberikan  kebahagiaan terbaik pada orang yang dikasihinya.  Allah telah menetapkan jodoh terbaik untuk umatnya. Itulah petikan hikmah dari film Korea berjudul Springa Waltz. Film romantic yang sangat menguras emosi.  Namun, mampu juga memberikan inspirasi untuk menjadi pianis professional sebagai sumber mata pencaharian.  Gambaran kehidupan artis juga bisa kita dapatkan dalam film ini. Film yang cukup menarik untuk ditonton.
               
               

Senin, 19 Desember 2011

Doa Ibuku


Mendung menggelayut di awan-awan putih. Udara cerah berubah kelabu. Cuaca gelap menjelang malam Kulihat bendera kuning di depan  pagar rumahku. “Akh, ada apakah yang terjadi?” tanyaku dalam hati. Aku mempercepat langkahku. “Kuning?!” “Siapakah yang meninggal” bisik batinku. Kutatap lekat bendera wajit itu. “Apakah Kakekku yang meninggal?” tanyaku semakin galau. Tadi pagi, beliau merasa demam saat kutinggal pergi. “Maafkan aku, Kek!” rintih hatiku penuh sesal. “Hari ini, aku ada ujian jadi tak bisa bolos kuliah” lanjutku lagi.
 “Aduh, mengapa kakiku semakin berat untuk melangkah?” “Aku ingin segera tahu, apa yang terjadi?” batinku geram dan galau. Kulihat banyak orang berkumpul di sekitar rumahku. Kutatap mereka dalam kegelapan. “Ah, banyak saudara yang kukenal” Mereka menatapku sambil tersenyum pahit. Hatiku semakin kacau balau. “Ada apa, Paman?” tanyaku pada orang yang pertama kulihat di pintu pagar rumahku. Beliau tersenyum tipis. “Masuk sajalah. Lihat ke dalam!” jawabnya sambil menepuk pundakku. Beliau tersenyum pahit.
 Hatiku semakin berdebar kencang. Kerumunan orang semakin merapat. Aku berusaha masuk. Mereka memberiku jalan. Kutengokkan kepalaku lewat kaca jendela. Deg! Hah?! Aku bergegas masuk ke ruang tengah. Sosok lelaki berbadan gemuk telah terbujur kaku di hadapanku. “Sabar, ya Neng!” ujar saudaraku. Kakekku tampak duduk dengan tenang mendampingi ibuku di seberang sana. Dia tersenyum seolah menguatkan diriku akan kenyataan pahit yang tak terduga ini. “Ayah!” batinku lirih. Aku menangis tersedu.
            Putaran waktu bergulir begitu cepat. Tiga minggu sudah ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Suasana rumahku mulai sepi. Hanya satu dua orang saudara yang menjenguk kami. Kedukaan berganti kenyataan pahit. Kami harus hidup tanpa penopang kehidupan.
“Mah, aku harus membayar spp besok,” ujar adikku. “Ya!” jawab ibuku pendek. Wanita setengah baya itu membuka amplop besar. “Ini uangnya. Kamu bayarlah sppmu besok pagi!” perintahnya lembut. “Ongkosnya?” tanya adikku lagi. Beliau memberi tambahan selembar uang lagi. Ibuku menghela nafas panjang.
            Sejak kepergian ayah ke surga, ibuku menjadi kepala keluarga. Sosoknya sudah mulai keriput. Perawakannya kecil. Kulit hitam manis. Kecantikan masa lalunya masih mampu terlihat di usianya yang sudah mulai beranjak senja.
 Tak kulihat kedukaan mendalam di wajahnya. Sosoknya tegar, setegar karang menantang gelombang. Ibuku hanyalah seorang ibu rumah  tangga biasa yang secara tiba-tiba harus bergulat dengan derasnya arus kehidupan. Ia berusaha mengatur uang pensiun, warisan ayah untuk menghidupi kami. Kami empat bersaudara. Ayah pergi saat kami masih benar-benar membutuhkan biaya sekolah. Belum ada yang bekerja. Kakakku yang sulung masih kuliah di tingkat tiga. Aku kuliah kedokteran tingkat dua. Adikku masih bersekolah di SMA. Si Bungsu masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku menghela nafas berat. “Mampukah kami menjalankan hidup ini tanpa ayah?” batinku.
            Aku menimbang-nimbang keputusan. Bilang pada ibuku tentang kewajiban bayar spp ataukah tidak. Jika tidak? Tentunya aku tidak bisa melanjutkan kuliah. Jika mengatakannya,aku merasa kasihan pada ibuku yang tak berpenghasilan itu.
“Bagaimana ini, Kak?” anyaku pada Kakak meminta saran. “Kamu minta keringanan bebas spp aja ke fakultas. Dik!” jawab Kakakku. “Aduh,aku malu dong, Kak!” jawabku lagi. “Terserah kamu deh, kalau mau terus kuliah itu salah satu jalan terbaik!”jawab Kakakku tegas. Aku terdiam. “Tak ada cara lain lagi. Aku harus melakukannya,” bisikku pasrah.
 Keesokan harinya, aku segera mengurus pembebasan spp itu. Syukur aku mendapatkannya dengan mudah. Namun, tetap ada ganjalan dihatiku. Aku harus tetap membayar uang praktek walaupun hanya lima puluh persen saja. Aku masygul. Tetap, hidup perlu uang! “Ah, seandainya saja aku punya penghasilan sendiri!” ratapku dalam hati.
            Sepulang kuliah, aku menghadap ibuku. Beliau memberikan jawaban yang menenangkan. “Sabar ya, Nak. Nanti pasti akn ada jalan. Kuliahmu tidak akan terputus di tengah jalan,” jawabnya bijak.
Aku tahu uang duka pemberian sanak saudara dan handai tolan telah terpakai untuk kebutuhan sekolah. Aku tidak tahu bagaimana ibu akan mendapatkan uang. Aku gelisah. Namun, ibu tetap tenang bagai air di telaga. Aku pikir kepasrahan ibuku adalah kepasrahan tingkat tinggi. “Hebat benar keikhlasannya itu!” batinku. Setelah percakapan itu, ibu menjalankan rutinitasnya seperti biasa dan aku tetap pergi kuliah walau belum membayar uang praktek.
            Seminggu kemudian, ibu memanggilku,”Lin, sini! Ini bayar uang praktekmu!” katanya lembut sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas merah. Aku terperangah. “Darimana Ibu mendapatkan uang ini?” tanyaku kaget campur senang. Beliau tersenyum. “Tadi ada sahabat ayahmu datang. Beliau ingin bertemu dengan sahabat lamanya. Namun, sayang ayahmu sudah meninggal dunia. Sebagai tanda duka dan permohonan maaf, beliau memberikan amplop ini!” jelas ibuku panjang lebar.
Ajaib. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala penuh takjub. Rasanya tak percaya aku mengalami peristiwa tak terduga ini. Sekali lagi, aku salut pada ketabahan ibuku menghadapi cobaan berat ini.
            Di suatu senja aku duduk santai bersama ibuku di beranda. Dengan hati-hati, aku bertanya padanya, “Bu, apakah Ibu tidak sedih ditinggal ayah?” Beliau memandangku dan tersenyum. “Sedih pastilah ada. Ibu kehilangan belahan jiwa yang selama ini mendampingi  Ibu menjalani kehidupan ini. Tapi, Ibu memiliki cahaya hati yang menguatkan jiwa ibu,” jawabnya terus terang. “Cahaya hati, maksudnya?” tanyaku berkerut tak mengerti. “Ya, kamu, kakakmu dan adikmu. Itulah penguat jiwa bagi Ibu. Demi kalian, Ibu harus tetap kuat melakoni hidup ini. Susah dan senang,” jelasnya sambil tersenyum memandangku. “Ibu juga tak luput selalu berdoa agar Allah selalu memberikan kekuatan dan melimpahkan rejeki yang halal untuk kita agar bisa bertahan hidup,”lanjutnya.
Aku jadi ingat beberapa waktu lalu saat kudapati keadaan rumah yang sepi. Kucari-cari ibu, ternyata beliau sedang memanjatkan doa. Khusyuk sekali. Salah satu permintaannya adalah agar beliau diberi kesanggupan untuk membayar uang praktekku. Doanya dikabulkan oleh Sang Pemberi Rejeki dengan cepat minggu ini. “Ah, ibuku memang hebat! Kekuatan doanya adalah obor untuk kekuatan hidupnya!” kataku dalam hati. Aku memeluk ibuku erat. Betapa aku sangat mengayangi dan mengagumi beliau. Kukecup keningnya sebagai tanda baktiku. Senja pun beranjak pergi.