Senin, 19 Desember 2011

Doa Ibuku


Mendung menggelayut di awan-awan putih. Udara cerah berubah kelabu. Cuaca gelap menjelang malam Kulihat bendera kuning di depan  pagar rumahku. “Akh, ada apakah yang terjadi?” tanyaku dalam hati. Aku mempercepat langkahku. “Kuning?!” “Siapakah yang meninggal” bisik batinku. Kutatap lekat bendera wajit itu. “Apakah Kakekku yang meninggal?” tanyaku semakin galau. Tadi pagi, beliau merasa demam saat kutinggal pergi. “Maafkan aku, Kek!” rintih hatiku penuh sesal. “Hari ini, aku ada ujian jadi tak bisa bolos kuliah” lanjutku lagi.
 “Aduh, mengapa kakiku semakin berat untuk melangkah?” “Aku ingin segera tahu, apa yang terjadi?” batinku geram dan galau. Kulihat banyak orang berkumpul di sekitar rumahku. Kutatap mereka dalam kegelapan. “Ah, banyak saudara yang kukenal” Mereka menatapku sambil tersenyum pahit. Hatiku semakin kacau balau. “Ada apa, Paman?” tanyaku pada orang yang pertama kulihat di pintu pagar rumahku. Beliau tersenyum tipis. “Masuk sajalah. Lihat ke dalam!” jawabnya sambil menepuk pundakku. Beliau tersenyum pahit.
 Hatiku semakin berdebar kencang. Kerumunan orang semakin merapat. Aku berusaha masuk. Mereka memberiku jalan. Kutengokkan kepalaku lewat kaca jendela. Deg! Hah?! Aku bergegas masuk ke ruang tengah. Sosok lelaki berbadan gemuk telah terbujur kaku di hadapanku. “Sabar, ya Neng!” ujar saudaraku. Kakekku tampak duduk dengan tenang mendampingi ibuku di seberang sana. Dia tersenyum seolah menguatkan diriku akan kenyataan pahit yang tak terduga ini. “Ayah!” batinku lirih. Aku menangis tersedu.
            Putaran waktu bergulir begitu cepat. Tiga minggu sudah ayah meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Suasana rumahku mulai sepi. Hanya satu dua orang saudara yang menjenguk kami. Kedukaan berganti kenyataan pahit. Kami harus hidup tanpa penopang kehidupan.
“Mah, aku harus membayar spp besok,” ujar adikku. “Ya!” jawab ibuku pendek. Wanita setengah baya itu membuka amplop besar. “Ini uangnya. Kamu bayarlah sppmu besok pagi!” perintahnya lembut. “Ongkosnya?” tanya adikku lagi. Beliau memberi tambahan selembar uang lagi. Ibuku menghela nafas panjang.
            Sejak kepergian ayah ke surga, ibuku menjadi kepala keluarga. Sosoknya sudah mulai keriput. Perawakannya kecil. Kulit hitam manis. Kecantikan masa lalunya masih mampu terlihat di usianya yang sudah mulai beranjak senja.
 Tak kulihat kedukaan mendalam di wajahnya. Sosoknya tegar, setegar karang menantang gelombang. Ibuku hanyalah seorang ibu rumah  tangga biasa yang secara tiba-tiba harus bergulat dengan derasnya arus kehidupan. Ia berusaha mengatur uang pensiun, warisan ayah untuk menghidupi kami. Kami empat bersaudara. Ayah pergi saat kami masih benar-benar membutuhkan biaya sekolah. Belum ada yang bekerja. Kakakku yang sulung masih kuliah di tingkat tiga. Aku kuliah kedokteran tingkat dua. Adikku masih bersekolah di SMA. Si Bungsu masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku menghela nafas berat. “Mampukah kami menjalankan hidup ini tanpa ayah?” batinku.
            Aku menimbang-nimbang keputusan. Bilang pada ibuku tentang kewajiban bayar spp ataukah tidak. Jika tidak? Tentunya aku tidak bisa melanjutkan kuliah. Jika mengatakannya,aku merasa kasihan pada ibuku yang tak berpenghasilan itu.
“Bagaimana ini, Kak?” anyaku pada Kakak meminta saran. “Kamu minta keringanan bebas spp aja ke fakultas. Dik!” jawab Kakakku. “Aduh,aku malu dong, Kak!” jawabku lagi. “Terserah kamu deh, kalau mau terus kuliah itu salah satu jalan terbaik!”jawab Kakakku tegas. Aku terdiam. “Tak ada cara lain lagi. Aku harus melakukannya,” bisikku pasrah.
 Keesokan harinya, aku segera mengurus pembebasan spp itu. Syukur aku mendapatkannya dengan mudah. Namun, tetap ada ganjalan dihatiku. Aku harus tetap membayar uang praktek walaupun hanya lima puluh persen saja. Aku masygul. Tetap, hidup perlu uang! “Ah, seandainya saja aku punya penghasilan sendiri!” ratapku dalam hati.
            Sepulang kuliah, aku menghadap ibuku. Beliau memberikan jawaban yang menenangkan. “Sabar ya, Nak. Nanti pasti akn ada jalan. Kuliahmu tidak akan terputus di tengah jalan,” jawabnya bijak.
Aku tahu uang duka pemberian sanak saudara dan handai tolan telah terpakai untuk kebutuhan sekolah. Aku tidak tahu bagaimana ibu akan mendapatkan uang. Aku gelisah. Namun, ibu tetap tenang bagai air di telaga. Aku pikir kepasrahan ibuku adalah kepasrahan tingkat tinggi. “Hebat benar keikhlasannya itu!” batinku. Setelah percakapan itu, ibu menjalankan rutinitasnya seperti biasa dan aku tetap pergi kuliah walau belum membayar uang praktek.
            Seminggu kemudian, ibu memanggilku,”Lin, sini! Ini bayar uang praktekmu!” katanya lembut sambil menyodorkan beberapa lembar uang kertas merah. Aku terperangah. “Darimana Ibu mendapatkan uang ini?” tanyaku kaget campur senang. Beliau tersenyum. “Tadi ada sahabat ayahmu datang. Beliau ingin bertemu dengan sahabat lamanya. Namun, sayang ayahmu sudah meninggal dunia. Sebagai tanda duka dan permohonan maaf, beliau memberikan amplop ini!” jelas ibuku panjang lebar.
Ajaib. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala penuh takjub. Rasanya tak percaya aku mengalami peristiwa tak terduga ini. Sekali lagi, aku salut pada ketabahan ibuku menghadapi cobaan berat ini.
            Di suatu senja aku duduk santai bersama ibuku di beranda. Dengan hati-hati, aku bertanya padanya, “Bu, apakah Ibu tidak sedih ditinggal ayah?” Beliau memandangku dan tersenyum. “Sedih pastilah ada. Ibu kehilangan belahan jiwa yang selama ini mendampingi  Ibu menjalani kehidupan ini. Tapi, Ibu memiliki cahaya hati yang menguatkan jiwa ibu,” jawabnya terus terang. “Cahaya hati, maksudnya?” tanyaku berkerut tak mengerti. “Ya, kamu, kakakmu dan adikmu. Itulah penguat jiwa bagi Ibu. Demi kalian, Ibu harus tetap kuat melakoni hidup ini. Susah dan senang,” jelasnya sambil tersenyum memandangku. “Ibu juga tak luput selalu berdoa agar Allah selalu memberikan kekuatan dan melimpahkan rejeki yang halal untuk kita agar bisa bertahan hidup,”lanjutnya.
Aku jadi ingat beberapa waktu lalu saat kudapati keadaan rumah yang sepi. Kucari-cari ibu, ternyata beliau sedang memanjatkan doa. Khusyuk sekali. Salah satu permintaannya adalah agar beliau diberi kesanggupan untuk membayar uang praktekku. Doanya dikabulkan oleh Sang Pemberi Rejeki dengan cepat minggu ini. “Ah, ibuku memang hebat! Kekuatan doanya adalah obor untuk kekuatan hidupnya!” kataku dalam hati. Aku memeluk ibuku erat. Betapa aku sangat mengayangi dan mengagumi beliau. Kukecup keningnya sebagai tanda baktiku. Senja pun beranjak pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar