Minggu, 12 Agustus 2012


Manajemen Pendidikan
OPTIMALISASI FUNGSI KELAS

        Dalam forum pendidikan yang diadakan oleh LPP Salman pada Sabtu, 11 Agustus 2012 yang lalu, Riswana Adhi mengungkapkan gagasan tentang Manajemen Sukses Pendidikan Berbasis Kelas ( MSPBK ). Beliau berpendapat bahwa kelas sebagai kelompok belajar memiliki potensi yang baik untuk ditata demi kesuksesan sebuah proses pendidikan, khususnya proses pembelajaran. Para siswa memiliki waktu yang cukup lama di kelas, yaitu sekitar satu tahun pelajaran. Sayang jika waktu tersebut terbuang secara percuma. Kelas memiliki tujuan bersama untuk mendukung tujuan individu, memiliki sumberdaya potensial, kelas sebagai keluarga, wahana ibadah, karya belajar dan prestasi. Kelas sebagai satuan sosial terkecil di sekolah harus menjadi fokus dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Jadi, guru dan walikelas harus mengoptimalkan fungsi kelas tersebut dengan baik.
            Modal utama kesuksesan tersebut adalah pelayanan prima dari guru dan walikelas. Ujung tombak pendidikan ini harus memiliki kemauan kuat untuk memajukan dunia pendidikan. Mereka harus memiliki pengaruh dan kendali yang sangat kuat dalam proses pendidikan di kelas. Dengan demikian, mereka memiliki kunci dalam menentukan baik buruknya kualitas pendidikan. Ada beberapa hal yang darus dilakukan yaitu: optimalisasi peran serta fungsi guru dan walikelas, empowering siswa, kemitraan dengan orang tua, sinergi dengan semua pemangku kebijakan di sekolah khususnya dan pemangku kebijakan pendidikan pada umumnya, secara terus menerus melakukan perbaikan-perbaikan,  secara kontinyu meningkatkan kualitas, melakukan semua hal tersebut berlandaskan motivasi ibadah ( ikhlas).
            Kita bisa menggunakan beberapa alat untuk manajemen Sukses Pendidikan Berbasis Kelas ini. Di awal tahun pelajaran, guru/ walikelas bisa membuat sebuah kontrak kegiatan. Di dalamnya tertulis tujuan atau ha-hal, karya, dan  prestasi yang ingin dicapai selama satu tahun tersebut.          Di samping itu, setiap siswa wajib memiliki diary yang salah satunya berisi mimpi-mimpi mereka yang menjadi target sasaran hidup mereka. Setelah itu, walikelas bisa membuat laporan kepada orang tua tentang kemajuan yang diraih oleh siswa atau hal-hal yang menjadi kekurangan mereka. Alat-alat lainnya adalah dream book siswa, buku proyek sukses belajar, buku agenda walikelas, agenda guru, agenda siswa, peta kehidupan siswa dan buku koneksi.
            Dengan manajemen yang baik tersebut, insya allah kita bisa meraih lima dimensi sukses pendidikan secara holistik, yaitu: sukses di kelas/ sekolah, sukses di keluarga, sukses di masyarakat, sukses di berbagai tempat dan sukses di akherat. Kriteria sukses di kelas adalah: siswa memiliki semangat bekajar, berni bertanyam supel bergaul dan berprestasi. Ciri sukses di keluarga adalah hormat pada orang tua, betah di rumah dan akur dengan saudara. Kriteria sukses di masyarakat adalah mampu beradaptasi, memiliki life skill, dan juga mampu bergaul. Siswa yang berprestasi mampu bertindak aktif dan partisipatif, terlibat pada berbagai kegiatan dan mengenal lingkungan dengan baik. Pada akhirnya semua kesuksesan itu dilandasi oleh kesuksesan akherat, yaitu: faham terhadap agamanya, mengamalkan ajaran agamanya, mampu bersabar dan bersyukur, bekerja karena ALLAH dan juga mengharapkan pahala. Kesuksesan ini tentunya menjadi target kualitas pendidikan Indonesia. Semoga !
           
                                                                                                                                                                        Disarikan kembali oleh ARUNDINA
                                                                                                                                                                        Bandung, 12 Agustus 2012




Sabtu, 04 Agustus 2012

matahari tersenyum simpul
menandai pagi baru
harapan baru
 misteri baru
jalinan asa, rasa dan usaha
perjuangan yang takkan pernah berakhir

Sabtu, 19 Mei 2012

CULTURE


THE DAY OF FISHERMAN
                I have a friend. She worked in Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Indonesia.  One day, she invited me and friends for visit her in there. She will show the day of fisherman. A few days later, we came to Pelabuhan Ratu.  We arrived in Palabuan Ratu at five p.m.
                The day after tomorow,  we go to field.   In there, we look ceremony day of fisherman. It's celebrate every April 6th. We saw the many people. It's so crowded. I saw the major. I saw a bride and bridegroom, false bride. They come from to Senior high school in Pelabuhan Ratu. I saw the snake too. After that, the major, the bride and many people walk to the beach. It's parade. They will do a ceremony of  culture. The people call that is Larung Laut . Larung Laut is sacrifice to Nyi Roro Kidul, The Queen of South Beach.  My friend suggest us to go first. So, we do it. We walk fast.
                15 minutes later, we arrived in beach. We go to fish market. But, we get surprise. That place was close. We late. It's very crowded. I and my friends have spirit to look that traditional ceremony. So, we try to solve the poblem. We walk around that place and get idea. We roll under  the stage.  We cross that stage. So, we can get in an area of ceremony. So many media came to Palabuan Ratu. They will shoot that ceremony. I saw indosiar,TPI, RCTI etc. I hope we shooted by them.
                                In the fish market, I saw traditional dance for welcome ceremony for the major. There is Lengser too. He is directing the major to his place. A few  minute later, he opened the ceremony. The custom leader bring many things for sacrifice, such as the head of buffalo, many kinds of flower, traditional cake such as : apem, bugis etc. It's full color. They used many winnowing tray (tampah or nyiru). Then, the custom leader bring all to the  beach. They get in sail boat.  The media get in the boat. We want to follow them, but we don't have sail boat. My friend call her student.
                                Finally, we get the sail boat . This is the first time for me on the sea. The local people have a myth. It's forbiden to wear green clothes, because it used by Nyai Roro Kidul. If, we wearing that’s cloths we must get trouble , accident or die. Do you believe that ? My friend says that we from Bandung, so we don't get trouble.
                                It's about one hour we sailing the sea. I feel scare. I saw the big wave . We float on the center of the sea. But, we can not see Larung Laut because the others sail boat run so fast. They left us. We just look the beautiful view. In the far distance we can see Australia. One day, we want to go the whole world.
                                 After ceremony of Larung Laut finished, In the afternoon, at  five p.m, we go to cave of bat. We saw so many bat came out from it. That's amazing ! We saw the bats fly like soldiers. They will looking for some food. The bats going away from the cave. One bat falling down near my leg. Someone took it. He open wide the wings. We saw it. When I saw the face, I remembered to vampire. That face look like vampire. Scared !
                                                                                                                                                                                                
                                                                                                                                                                                                 20 April 2012
                                                                                                                                                                                                  ARUNDINA

Minggu, 25 Maret 2012

AGEN NASKAH


BERKENALAN DENGAN AGEN NASKAH
                Agen naskah merupakan hal baru bagiku. Apa ya ? Yang ada itu agen penjualan berbagai macam barang bernilai ekonomi atau artis dan modeling. Terdorong oleh rasa penasaran itu, saya akhirnya mengikuti Workshop Agen Penerbitan Naskah yang diselenggarakan oleh Grup Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN). Acara itu berlangsung pada Sabtu, 24 Maret 2012, mulai pukul 10.30 sampai 13.00.
            Teh Indari Mastuti mengatakan bahwa agen naskah belum populer di Indonesia. Oleh karena itu, usaha ini merupakan usaha yang unik. Dengan perusahaannya bernama Indscript Creative, Teh Indari mencoba mengembangkan bisnisnya. Bisnis ini berusaha untuk menjembatani penulis dengan penerbit. Indscript Creative telah bekerjasama dengan tiga puluh penerbit. Mulai dari penerbit besar seperti Gramedia dan penerbit kecil. Usaha ini dirintis sejak tahun 2007. Banyak buku yang telah masuk dalam rak buku laris atau best seller. Buku-buku itu antara lain: For The Love of Mom, Lucky Backpacker, 99 usaha bisnis, Storycake for Amazing Mom dan lain sebagainya.
            Penulis yang akan bergabung dengan agen naslah ini bertugas untuk menulis.  Setelah itu memasukkan naskah atau kerangka tulisan ke agen tersebut. Agen akan menawarkannya ke penerbit. Jika disetujui, maka tulisan itu akan dicetak menjadi buku serta dilempar ke pasaran. Setelah itu, buku tersebut juga akan dipromosikan. Penulis juga harus gencar mempromosikan buku-buku tersebut.
            Jika penulis menjadi bagian dari agen naskah tersebut, Indscript Creative khususnya, maka ia akan menandatangani kontrak. Ada tiga pihak yang terlibat, yaitu: penulis, agen dan penerbit. Penulis tidak terikat secara eksklusif dengan Indscript Creative. Penulis bisa juga bekerja sama dengan pihak lain. Namun, penulis perlu memperhatikan etika. Nilai atitude  (sikap ) ini memiliki peran yang sangat penting dalam keberlangsungan bisnis penerbitan buku ini.
            Agen naskah akan membantu penulis dalam berbagai hal. Pertama, menawarkan buku ke penerbit. Ini yang utama. Kedua, mempromosikan produk (buku yang telah naik cetak). Ketiga, membranded penulis. Dalam upaya melejitkan nama penulis ini, agen bisa melaksanakan berbagai upaya, misalnya: memperkenalkan penulis pada media, terutama yang menjalin kerjasama dengan Indscript/ IIDN, menjadi trainer dan lain sebagainya.  Keempat, mengatur masalah pembayaran. Agen akan menyarankan jual putus (flat free) untuk penulis pemula dan royalti untuk penulis yang sudah produktif.
            Bekerjasama dengan agen naskah memiliki kekurangan dan kelebihan. Kelebihannya kita banyak dibantu untuk menerbitkan buku dan mengibarkan bendera penulis. Kelemahannya kita harus berbagi pendapatan dengan agen tersebut. Perbandingannya 3 % untuk agen dan 7 % untuk penulis. Pembagian dengan agen, sebenarnya juga merupakan usaha agen untuk menjadikan tulisan kita menjadi sebuah buku. Menerbitkan buku merupakan sebuah perjuangan.
            Jadi, agen naskah membawa angin segar bagi penulis. Penulis tidak akan pontang- panting mengejar penerbit. Penulis tidak akan kebingungan untuk menerbitkan buku. Penulis dapat mengembangkan sayapnya dengan tenang. Berbagai macam masalah bisa diselesaikan bersama dengan agen naskah. Bukankah kerjasama adalah salah satu faktor penunjang keberhasilan ? Itulah makna agen naskah. Siapkah kita menjadi penulis profesional ? Mari bergabung dengan agen penerbitan naskah !
                                               
                                                                                                                  Cimahi, 24 Maret 2012                                                                                                                                     
                                                                                                                        ARUNDINA

Minggu, 11 Maret 2012

GENDER


TINJAUAN GENDER DALAM BUKU PELAJARAN

JUDUL BUKU         :  BAHASA INDONESIA UNTUK SMP/MTS KELAS VII
PENGARANG         :  ATIKAH ANINDYARINI DAN SRI NINGSIH
PENERBIT               :  PUSAT PERBUKUAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN                                                         NASIONAL
TAHUN TERBIT     :  2008

            Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Gender merupakan sebuah nomina ( kata Benda ) yang bermakna kelamin atau seks. Beberapa waktu ini, gender menjadi topik pembicaraan yang menghangat. Isu gender yang mengemuka akhir-akhir ini adalah adanya eksistensi pria dan wanita dalam suatu lembaga, termasuk sekolah. Apakah sekolah sudah merespon masalah gender ini dalam setiap aktivitas dan kegiatannya ? Apakah sekolah lebih mengutamakan eksistensi pria ataukah wanita ? Sekolah yang responsif terhadap masalah gender ini berarti telah menyeimbangkan eksistensi pria dan wanita dalam setiap aspek kegiatannya atau kebijakannya. Sekolah berarti telah mengakui dan memfasilitasi pegawai wanita dan laki-laki dengan baik. Sekolah menghargai perbedaan cara kerja laki-laki dan wanita. Budaya sekolah harus menghindari peilaku yang diskriminatif. Sekolah tidak menganaktirikan salah satu jenis kelamin itu.
            Salah satu aspek kegiatan di sekolah adalah kurikulum. Bidang kurikulum menitikberatkan kegiatan pada proses belajar mengajar. Buku pelajaran menjadi bagian dari aspek kurikulum, khususnya bagian dari proses belajar mengajar. Buku pelajaran merupakan pegangan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Buku pelajaran merupakan salah satu sumber pengetahuan bagi siswa. Apakah buku pelajaran sudah responsif terhadap masalah gender ini ?
            Tinjauan gender dalam buku pelajaran ini lebih dititikberatkan pada gambar. Gambar lebih mudah untuk diamati jenis kelaminnya. Dalam buku pelajaran, gambar digunakan untuk  melengkapi, memperjelas informasi ataupun sebagai aspek estetis ( memperindah buku). Setelah mengamati buku pelajaran Bahasa Indonesia, penulis menyimpulkan bahwa buku ini belum respomsif terhadap masalah gender.  Dalam buku tersebut, gambar yang digunakan lebih menitikberatkan pada jenis kelamin laki-laki. Gambar anak laki-laki dengan berbagai macam gaya menjadi simbol untuk berbagai kegiatan belajar, seperti: tugas, rangkuman, rehat sejenak dan uji kompetensi. Di samping itu, gambar laki-laki juga lebih mendominasi dalam setiap pelajaran ( bab ). Tema pelajaran lebih diperjelas dengan kegiatan yang dilakukan oleh laki-laki. Contohnya dalam pelajaran empat, halaman 43. Tema memperbaiki Moral Remaja diperjelas dengan gambar remaja laki-laki yang sedang berolahraga. Apakah remaja putri tidak boleh berolahraga ? Apakah remaja putri tidak terlibat dalam kegiatan memperbaiki moral remaja ? Demikian pula dalam pelajaran 7, halaman 91, tentang pahlawan nasional. Ilustrasi pertempuran yang dilkukan oleh kaum adam. Termasuk juga insert pahlawan nasional, Pangeran Dipenogoro. Mengapa pahlawan wanita tidak diikutsertakan dalam tema tersebut? Demikian pula dalam bidang pemerintahan di pelajaran 9, halaman 117.
            Gambar laki-laki juga lebih menonjol dalam materi pelajaran. Ada dua tokoh laki-laki dalam materi pelajaran. Pertama, Dr. Mohammad Hatta dalam materi tokoh idola dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam materi  Mengungkapkan Hal-hal yang dapat Diteladani dari Buku Biografi.
            Gambar wanita hanya ada di dua kesempatan, yaitu: pertama, pada pelajaran 3 dengan tema Perkembangan Sarana Komunikasi. Gambar tersebut ada di halaman 29. Kedua, pelajaran 5, halaman 57. Wanita digunakan untuk memperjelas tema Pentingnya Menjaga Kesehatan.
            Satu-satunya gambar yang responsif terhadap masalah gender ada di halaman77. Gambar itu ada di pelajaran 6 tentang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Kegiatan menabung di bank menggunakan wanita sebagai teller dan laki-laki sebagai nasabahnya.
            Perempuan dan laki-laki memang berbeda tetapi tidak untuk dibeda-bedakan. Prinsip ini bisa kita kembangkan di kalangan generasi muda. Pengetahuan ini bisa disosialisasikan melalui buku pelajaran. Wanita dan pria merupakan makhluk ciptaan Allah SWT. Allah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Namun, perbedaan itu berfungsi untuk saling melengkapi dan bekerja sama. Tidak untuk mengistimewakan salah satunya. Semuanya memiliki kedudukan yang sama, derajat ketakwaannyalah yang membedakannya.
           


Daftar Pustaka
Modul Manajemen Sekolah Responsif Gender, IAPBE 2005

Sabtu, 11 Februari 2012

NARSIS


SELEBRITIS DAN PENULIS
By ARUNDINA

            Rasanya tak asing bagi kita mendengar istilah selebritis dan penulis. Maknanya pun dengan mudah kita pahami. Penulis menjadi selebritis adalah hal yang sudah sering terjadi. Lihat saja Raditya Dika, misalnya. Dari seorang penulis blog, menjadi penulis novel yang membooming dan akhirnya menjadi pemain film, khususnya untuk film yang diangkat dari tulisan-tulisannya, seperti Kambing Jantan.
            Hal yang mirip terjadi juga padaku saat udara agak mendung melanda Bandung pada Selasa, 31 Januari 2012. Untuk pertama kalinya, aku merasakan menjadi penulis dan model tingkat rt. Menjelang kumandang adzan dhzuhur, aku dan temanku, teh Nancy tiba di sebuah rumah makan khas Sunda, Ampera yang terletak di Jalan Sukarno Hatta. Di sana, sudah hadir ketua korwil IIDN Bandung dan mantan korwil, yaitu Mbak Vivera dan Mbak Dydie. Sambil menunggu kedatangan teman-teman yang lain, kami ngobrol ngalor-ngidul. Tak lama setelah itu, Mbak Vivera memesan makanan kecil berupa dua buah tahu goreng dan sebuah pisang. Perpaduan menu yang unik tentunya. Sambil menikmati camilan itu, kami melanjutkan obrolan yang tertunda.
            Setengah jam kemudian, muncul Mbak Irma dari Garut sambil menggendong dan menggandeng dua buah hatinya yang lucu. Lalu, Mbak Asri pun datang dengan tas berisi kaos-kaos merah menyala berlogo IIDN. Kemudian, satu persatu anggota IIDN pun bermunculan, termasuk sang pupuhu, Indari Mastuti. Sementara, sang pupuhu didampingi markom IIDN, Lygia berbincang dengan wartawan kompas, kami, para anggota menyerbu kaos merah tersebut. Seragam wajib untuk pemotretan hari itu. Mau tak mau, akupun menyerbu dagangan tersebut. Tapi ternyata telah laris manis. Akhirnya, aku dipinjami kaos merah polos untuk acara hari itu. Yang penting seragam dan ada nuansa kebersamaan. Maka, hari itu jadilah aku berpakaian merah ditimpa merah. Beberapa waktu kemudian, urusan kaos selesai dan kami menikmati makan siang.
            Setelah menikmati aneka hidangan sesuai dengan selera masing-masing, tibalah acara menjadi selebritis atau lebih tepatnya menjadi model dadakan. Rencananya hari itu, Kompas akan mengadakan liputan tentang komunitas kami, grup Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN). Sebuah komunitas yang beranggotakan para ibu rumah tangga atau para wanita yang memiliki kegiatan atau hobi di dunia tulis menulis. Beberapa diantaranya telah produktif menerbitkan karya berupa buku-buku dengan tema yang beragam, seperti: bacaan anak, bisnis, kehidupan wanita dan lain sebagainya.
            Sebelum pemotretan, kami menyatukan beberapa meja makan menjadi sebuah meja perundingan raksasa mirip meja Konferensi Asia Afrika. Semua perlengkapan makan disingkirkan dengan rapi. Setelah itu, kami menata diri, duduk mengelilingi meja raksasa tersebut. Beberapa ibu mengeluarkan alat andalan modern untuk menulis, yaitu laptop. Aku dan ibu- ibu yang lain mengeluarkan buku-buku yang telah kami siapkan sebelumnya. Buku diatur di atas meja. Disensor ! Yang berlogo IIDN harus menjadi bintang utama. Lalu, kami diinstruksikan untuk berdiskusi, berunding, ngobrol, nulis layaknya komunitas penulis sejati. Tanpa merasa kesulitan, kami memenuhi syarat tersebut. Wong, anggota komunitas sudah pada kenal dan akrab yaa ?! Jepret…jepret…jepret. Kilatan-kilatan blitz bertaburan seperti bintang." Benarkah wajah-wajah ayu kami tertangkap kamera ataukah hanya laptop-laptopnya saja ?"  Pikiran iseng melayang begitu saja di kepalaku. Kami tertawa kecil menanggapinya. Sedangkan sang wartawan kompas tetap sibuk menangkap sudut-sudut menarik dari komunitas kami. Isi laptop tentang IIDN pun tak luput dari jepretannya. Setelah merasa cukup mendapatkan data, kami melanjutkan pemotretan di luar ruangan. Di halaman depan, dengan disinari cahaya matahari yang meredup, kami beraksi kembali. Mengatur barisan, bergaya dengan buku-buku dan cheese… tersenyum manis pada sang pemotret. Sukses ! Pemotretanpun berjalan sempurna. Saatnya, kami meluncur ke tempat tujuan yang kedua, Kantor Redaksi harian umum Pikiran Rakyat.
            Dengan menggunakan dua jenis kendaraan, mobil dan motor, kami meluncur ke kantor redaksi Pikiran Rakyat. Jarak yang cukup dekat, kami tempuh hanya dalam hitungan menit. Sekitar pukul dua siang, kami telah tiba di halaman  kantor itu. Sebagian anggota IIDN melaksanakan shalat Dzhuhur terlebih dahulu, sedangkan anggota lainnya langsung memasuki aula kantor redaksi Pikiran Rakyat. Saat melangkah masuk, kami merasa menjadi anggota DPR/MPR. Ruangan tertata rapi dan bersih. Ruangan didominasi warna coklat. Di atas meja terpasang mikropon-mikropon kecil seperti di gedung wakil rakyat. Di sampingnya, ada dus makanan ringan dan segelas air putih. Sambil menunggu anggota yang melaksanakan shalat, kami kembali berbincang-bincang dengan anggota yang baru datang dari luar kota. Mereka datang dari Cirebon dan Jakarta. Selain itu, kami pun mengisi daftar hadir. Tak lama setelah itu, muncul seorang bapak tampan, tinggi, bersih, dan berwibawa, mirip artis keturunan Belanda. Beliau mencari Lygia Pecanduhujan. Ngacung, Mbak! Mereka berkenalan dan Bapak tampan tadi memperkenalkan dua perwakilannya dari Redaksi Pikiran Rakyat, seorang perempuan dan seorang laki-laki. Beliau juga menginstruksikan untuk segera memulai acara. Setelah itu, sang artis Belanda pun  meninggalkan ruangan. Jadilah, ketiga narasumber (mohon maaf tidak hapal nama) menempati kursi di podium kehormatan. Mbak Lygia bersiap menjadi moderator, mendampingi perwakilan PR. Tak lama kemudian, Mbak Indari memasuki ruangan dan begabung dengan ketiga orang tersebut.  
            Tepat pada pukul 14.15 menit acara kunjungan ke kantor redaksi Pikiran Rakyat pun dimulai. Setelah dibuka oleh sang moderator,  mbak Indari bercerita tentang latar belakang kami terdampar di kantor PR. Awal pertemuan ini terjadi saat Mbak Indari bertemu Pak Januar Ruswita (Gegeden PR) dalam Lomba Wira Usaha Muda Mandiri di Jakarta.  Atas ijinnya, kami bisa melakukan kegiatan ini. Sayangnya, hari itu Bapak Januar Ruswita sedang tidak berada di tempat. Lalu, pembicaraan pun berlanjut pada dunia tulis menulis di harian umum Pikiran Rakyat. Kedua perwakilan PR menyampaikannya secara singkat dan padat. Mereka menginformasikan rubrik-rubrik yang disediakan PR untuk kami isi dengan tulisan, seperti : lembaran Khasanah, Cakrawala, Geulis, Hiburan, Forum Guru, Opini dan sebagainya. Terakhir, kegiatan dilengkapi dengan acara tanya jawab sampai pukul 16.00. Selama dua jam acara tersebut, banyak ilmu kepenulisan yang kudapatkan. Wawasan baru. Suasana baru. Dunia penulis ternyata memiliki lika-liku tersendiri. Dunia penulis juga memiliki persaingan tersendiri. Aku menghadapi tantangan baru. Diriku semakin dimantapkan untuk terus membaca, menambah ilmu agar bisa menjadi penulis yang berkualitas. Untuk menjadi sukses, memang membutuhkan proses, kesabaran, perjuangan, kerja keras, semangat pantang mundur, tekad yang kuat dan tentu saja komunitas yang mampu mendukung keprofesionalan tugas kita. Semoga grup Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) menjadi wadah yang tepat untuk itu ! Semoga para anggotanya semakin solid, berkembang dan bersama-sama menjadi penulis andalan dalam suasana persaingan yang sehat ! Ayo, ibu-ibu tetaplah hiasi dunia dengan tulisan-tulisan terbaik kita ! Tetap semangat dan jangan lupa tersenyum manis ( semanis gula aren yang senantiasa dikerubungi semut hitam … hehehe… lebay teu-nya ?!) ! Cheese … selebriti dan penulis adalah perpaduan yang sempurna !


                                                                                                            Cimahi, 1 Februari 2012
                                     ( Renungan malam saat menikmati perjalanan menjadi penulis pemula )