Sabtu, 14 Januari 2012

MENGGUGAT INDONESIA


ULASAN PEMENTASAN TEATER W.S RENDRA : MASTODON DAN BURUNG KONDOR
MENGGUGAT INDONESIA
                        Setelah hampir 67 tahun Indonesia merdeka, ternyata masih banyak persoalan bangsa yang belum terselesaikan atau bahkan semakin parah. Kemiskinan, korupsi, konflik, provokator, kualitas pendidikan yang belum memuaskan dan lain sebagainya.
            Sungguh suatu ironi, Negara kita kaya tapi rakyatnya hidup miskin, semakin banyak yang hidup miskin. Banyak rakyat Indonesia yang bekerja tapi tidak memakmurkan. Kesejahteraan tampaknya hanyalah sebuah angan-angan. Bak burung kondor yang terbang ke langit, kesejahteraan itu semakin jauh bagi mereka yang tak punya pekerjaan. Semakin ironi saat kita memperhatikan, warga negara asinglah yang hidup makmur dengan kekayaan Indonesia. Ada apakah dengan Indonesia ?
            Pembangunan yang sudah berlangsung bertahun-tahun tidak membawa kemakmuran, tidak membawa perbaikan, tidak membawa perubahan apa-apa.  Korupsi semakin hebat, provokator yang tak berwujud semakin banyak, berbagai macam konflikpun semakin hebat. Banyak hal yang harus diperbaiki. Banyak hal yang harus dibenahi. Banyak hal juga yang harus diurus dengan penuh kesadaran dan kesungguhan agar Indonesia bisa lebih baik lagi di masa depan. Rakyatnya lebih makmur. Pemerintahannya semakin baik. Pengelolaan kekayaannya semakin professional.
            Pendidikan harus menciptakan manusia-manusia Indonesia yang berdaya. Berdaya memakmurkan diri, lingkungan,  bangsa dan negaranya. Pendidikan merupakan modal utama untuk Indonesia yang semakin maju. Negara membutuhkan sumber daya manusia yang baik, berkualitas, berilmu, cinta tanah air. Memang benar, Rakyat Indonesia harus dibangunkan. Dibangunkan dari kemiskinan. Dibangunkan dari kebodohan, Dibangunkan dari kemalasan. Dibangunkan dari ketidakberdayaan. Pendidikkanlah yang menjadi motor-motor penggeraknya. Pendidikan jangan sampai mematikan jiwa-jiwa manusia. Namun, sistemnya harus mampu menciptakan manusia-manusia Indonesia yang penuh daya. Berkualitas lahir dan batin.
            Pertunjukkan yang berlangsung selama tiga jam di Aula Sanusi Hardjadinata Universitas Padjajaran itu adalah sebuah hal yang menggugah kesadaran berbangsa dan bernegara. Menonton pementasan teater Mastodon dan Burung Kondor karya W.S Rendra adalah sebuah keberuntungan besar. Banyak inspirasi yang bermanfaat. Pementasan itu telah mampu membangunkan saya (mudah-mudahan juga banyak orang) untuk semakin teguh memberikan yang terbaik untuk Indonesia. Indonesia doesn'n need the world but the world need Indonesia ! Itulah pr untuk kita bersama.
                                                                                                Bandung, Jumat, 13 Januari 2012

SAM, KAU BUKAN KEKASIHKU


SAM, KAU BUKAN KEKASIHKU
                                                            KARYA : ARUNDINA

Auramu busuk
Di tubuhmu
 belatung berpesta pora
Pandangmu tak sedap
Menusuk mata
Mengecapmu
Memuakkan
Pergilah Sam !
Kau bukan kekasihku

NESYA


PUISI
NESYA
                                                            BY ARUNDINA

NASIBMU
TAK SECANTIK RUPAMU
ANAK-ANAK
MENGGEROGOTI DIRIMU
BAGAI VIRUS KANKER DALAM TUBUHMU
INVASI
KOMPLIKASI
AKANKAH KAU MATI,  NESYA ??!!
BERTAHANLAH
BERJUANGLAH
KAU, SEKUAT BAJA !!!

Senin, 02 Januari 2012

BELAJAR DARI KOREA


BELAJAR DARI KOREA
BY ARUNDINA
            Menarik menonton film psikopat ala Korea. Film itu berjudul Psychic. Film ini berkisah tentang tokoh Kyu Nam Lim atau Manager Lim yang berusaha melawan seorang psikopat. Tidak seperti psikopat ala barat yang identik dengan pembunuhan sadis. Film Korea ini lebih mengedepankan kekuatan pikiran untuk mempengaruhi orang, sehingga orang-orang itu beraksi sesuai dengan keinginan sang psikopat. Bunuh diri, menangkap Kyu Nam Lim, menghalangi Kyu Nam Lim menghampiri sang psikopat dan lain sebagainya. Orang-orang yang dilihat oleh sang psikopat bagai kerbau dicocok hidung, terpedaya dalam pengaruh pikiran sang psikopat. Kyu Nam Lim berusaha keras untuk mencegah aksi-aksi tersebut.
            Bukan isi cerita yang menjadi bahan pembelajaran. Yang terpenting adalah rasa percaya diri bangsa Korea. Dalam film tersebut ada dua orang sahabat Kyu Nam Lim yang berasal dari luar negeri. Al Shavari dari Turki dan Bubba Evobonsha dari Ghana. Kedua tokoh sahabat ini menggunakan bahasa Korea secara fasih dalam melafalkan dialog-dialognya. Inilah pembelajarannya. Biasanya orang asing menggunakan bahasa Inggris dalam berdialog. Termasuk juga para pemain lainnya. Mereka beradaptasi dengan bahasa internasional tersebut. Namun, dalam film ini semuanya menggunakan bahasa Korea. Sungguh suatu keberanian dan kepercayaan diri yang sangat luar biasa ! Perlu kita tiru ! Dengan film, bangsa korea mampu menduniakan bahasa dan budaya korea. Terjadilah demam korea.
            Dengan film, bangsa Indonesia pun bisa menduniakan bahasa dan budaya Indonesia. Kita bisa membuat film-film bagus dengan latar budaya Indonesia dari sabang sampai merauke. Di samping itu, bahasanyapun tetap Bahasa Indonesia. Dengan film, kita bisa menunjukkan kekayaan budaya dan bahasa Indonesia. Kekayaan itu tidak akan berarti kalau hanya disimpan atau dibiarkan punah begitu saja. Film termasuk hal ( hiburan ) yang diminati oleh banyak orang di seluruh dunia. Ini pendapat saya lho ! Mungkin bisa dibuat survey untuk hal ini agar lebih terpecaya buktinya ! Film tidak mengenal batas wilayah. Film yang bagus bisa melanglang buana ke mana-mana. Tentunya hal ini harus pula ditunjang oleh promosi yang baik. Film Indonesia yang bagus bisa diikutsertakan dalam berbagai festifal film yang diselenggarakan oleh orang-orang di luar negeri, seperti Cannes, Dubai dan lain sebagainya. Kalau tidak salah, film Laskar Pelangi dan Negeri di bawah Kabut  pernah memenangkan penghargaan itu. Ini merupakan modal awal yang bagus betapa film-film Indonesia telah diapresiasi oleh pihak luar dengan sangat baik. Kini, bangsa Indonesia sendirilah yang harus menindaklanjuti kemenangan tersebut agar menjadi lebih mengglobal.
            Kita bisa belajar dari Korea. Kita bisa  mengenalkan, mengembangkan, melestarikan dan memberdayakan bahasa, budaya, music dan nilai-nilai yang ada di Indonesia ini melalui film. Pemberdayaan yang bernilai ekonomis tersebut akan membentuk kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kekayaan budayanya. Ternyata budaya dan bahasa Indonesiapun bernilai jual, mampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Inilah salah satu factor penghalang ( pengantisipasi ) musnahnya budaya Indonesia. Melalui film, kita bisa menyebarluaskan kekayaan budaya Indonesia itu agar dikenal oleh masyarakat Indonesia dan dunia. Dengan demikian, kita bisa mencegah terulangnya pengakuan budaya Indonesia oleh negara lain. Dengan film juga, mudah-mudahan akan semakin banyak kekayaan budaya Indonesia yang diakui oleh dunia Internasional dan dipatenkan sebagai milik bangsa Indonesia! Semoga film-film bertema dan berlatar budaya Indonesia semakin berjaya di dunia internasional!