Minggu, 11 Maret 2012

GENDER


TINJAUAN GENDER DALAM BUKU PELAJARAN

JUDUL BUKU         :  BAHASA INDONESIA UNTUK SMP/MTS KELAS VII
PENGARANG         :  ATIKAH ANINDYARINI DAN SRI NINGSIH
PENERBIT               :  PUSAT PERBUKUAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN                                                         NASIONAL
TAHUN TERBIT     :  2008

            Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Gender merupakan sebuah nomina ( kata Benda ) yang bermakna kelamin atau seks. Beberapa waktu ini, gender menjadi topik pembicaraan yang menghangat. Isu gender yang mengemuka akhir-akhir ini adalah adanya eksistensi pria dan wanita dalam suatu lembaga, termasuk sekolah. Apakah sekolah sudah merespon masalah gender ini dalam setiap aktivitas dan kegiatannya ? Apakah sekolah lebih mengutamakan eksistensi pria ataukah wanita ? Sekolah yang responsif terhadap masalah gender ini berarti telah menyeimbangkan eksistensi pria dan wanita dalam setiap aspek kegiatannya atau kebijakannya. Sekolah berarti telah mengakui dan memfasilitasi pegawai wanita dan laki-laki dengan baik. Sekolah menghargai perbedaan cara kerja laki-laki dan wanita. Budaya sekolah harus menghindari peilaku yang diskriminatif. Sekolah tidak menganaktirikan salah satu jenis kelamin itu.
            Salah satu aspek kegiatan di sekolah adalah kurikulum. Bidang kurikulum menitikberatkan kegiatan pada proses belajar mengajar. Buku pelajaran menjadi bagian dari aspek kurikulum, khususnya bagian dari proses belajar mengajar. Buku pelajaran merupakan pegangan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Buku pelajaran merupakan salah satu sumber pengetahuan bagi siswa. Apakah buku pelajaran sudah responsif terhadap masalah gender ini ?
            Tinjauan gender dalam buku pelajaran ini lebih dititikberatkan pada gambar. Gambar lebih mudah untuk diamati jenis kelaminnya. Dalam buku pelajaran, gambar digunakan untuk  melengkapi, memperjelas informasi ataupun sebagai aspek estetis ( memperindah buku). Setelah mengamati buku pelajaran Bahasa Indonesia, penulis menyimpulkan bahwa buku ini belum respomsif terhadap masalah gender.  Dalam buku tersebut, gambar yang digunakan lebih menitikberatkan pada jenis kelamin laki-laki. Gambar anak laki-laki dengan berbagai macam gaya menjadi simbol untuk berbagai kegiatan belajar, seperti: tugas, rangkuman, rehat sejenak dan uji kompetensi. Di samping itu, gambar laki-laki juga lebih mendominasi dalam setiap pelajaran ( bab ). Tema pelajaran lebih diperjelas dengan kegiatan yang dilakukan oleh laki-laki. Contohnya dalam pelajaran empat, halaman 43. Tema memperbaiki Moral Remaja diperjelas dengan gambar remaja laki-laki yang sedang berolahraga. Apakah remaja putri tidak boleh berolahraga ? Apakah remaja putri tidak terlibat dalam kegiatan memperbaiki moral remaja ? Demikian pula dalam pelajaran 7, halaman 91, tentang pahlawan nasional. Ilustrasi pertempuran yang dilkukan oleh kaum adam. Termasuk juga insert pahlawan nasional, Pangeran Dipenogoro. Mengapa pahlawan wanita tidak diikutsertakan dalam tema tersebut? Demikian pula dalam bidang pemerintahan di pelajaran 9, halaman 117.
            Gambar laki-laki juga lebih menonjol dalam materi pelajaran. Ada dua tokoh laki-laki dalam materi pelajaran. Pertama, Dr. Mohammad Hatta dalam materi tokoh idola dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam materi  Mengungkapkan Hal-hal yang dapat Diteladani dari Buku Biografi.
            Gambar wanita hanya ada di dua kesempatan, yaitu: pertama, pada pelajaran 3 dengan tema Perkembangan Sarana Komunikasi. Gambar tersebut ada di halaman 29. Kedua, pelajaran 5, halaman 57. Wanita digunakan untuk memperjelas tema Pentingnya Menjaga Kesehatan.
            Satu-satunya gambar yang responsif terhadap masalah gender ada di halaman77. Gambar itu ada di pelajaran 6 tentang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Kegiatan menabung di bank menggunakan wanita sebagai teller dan laki-laki sebagai nasabahnya.
            Perempuan dan laki-laki memang berbeda tetapi tidak untuk dibeda-bedakan. Prinsip ini bisa kita kembangkan di kalangan generasi muda. Pengetahuan ini bisa disosialisasikan melalui buku pelajaran. Wanita dan pria merupakan makhluk ciptaan Allah SWT. Allah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Namun, perbedaan itu berfungsi untuk saling melengkapi dan bekerja sama. Tidak untuk mengistimewakan salah satunya. Semuanya memiliki kedudukan yang sama, derajat ketakwaannyalah yang membedakannya.
           


Daftar Pustaka
Modul Manajemen Sekolah Responsif Gender, IAPBE 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar