Rabu, 02 Januari 2013

PERJALANAN


Catatan harian
WAKTU MENINGGALKAN JEJAK
Hai, kawan ! Ada yang berbeda hari ini. Cerita menarik yang akan kukisahkan padamu. Banyak kutemukan pesona dan inspirasi hidup hari ini.
Perjalananku dimulai setelah dering telepon genggamku berbunyi.  Muncul sebuah pesan ajakan. “Ayo kawan, kita berburu foto hari ini !” ajak seorang kawan akrabku. Sudah lama, aku tak berjumpa dengannya. Ini adalah ajakan yang telah lama kunantikan sejak lama. Segera , aku bergegas mempersiapkan diri. Setelah itu, aku berangkat seorang diri.
Dengan berjalan, kumulai perjalanan pertamaku hari itu. Matahari belum ganas menyinari bumi. Sinarnya terasa hangat di tubuhku. Jam di tangan baru menunjuk ke angka tujuh. Kehidupan di sepanjang jalan yang kulewati telah mulai ramai. Aku mengamati dan menikmati keadaan sekeliling. Tiba-tiba, bunyi itu datang kembali. Segera, aku membaca pesan kedua. “Aku sudah sampai di tempat,” tulis kawan akrabku. “Ok, aku sudah jalan,” balasku cepat. Aku memperlebar langkahku. Aku berjalan panjang-panjang.  Ingin rasanya cepat berjumpa dengan kawan lamaku itu. Nafasku memburu. Tersengal-sengal. Akhirnya, aku sampai di sebuah terminal.
Aku melihat-lihat keadaan sekitar. Parkir motor. Warung. Kios-kios. Orang-orang yang sedang berbelanja. Pedagang. Tukang delman. Petugas terminal. Anak jalanan. Namun, tak tampak wajah yang kucari. Kriiing … Aku menelepon kawanku itu. “Di mana ?” tanyaku. “Aku ada di depan,” jawabnya. “Sebelah mana ? Aku sudah ada di terminal,” kataku memberikan informasi. Klik. Putus. Hah ?! Aku celingukan. Kulangkahkan kakiku menyebrangi jalan. Mataku menatap awas. Mencari wajah yang kukenal. Tiba-tiba, aku melihatnya agak jauh di depan. Aku melambaikan tangan.  Ia tersenyum padaku. Begitu berhadapan, kami bersalaman, berpelukan melepas rindu. “Apa kabar? Kemana aja?” sapanya. Senyum khasnya tersungging di bibir. Bahagianya hatiku. Kami segera memulai perjalanan penting ini.
Aku dan kawanku mengawalinya dengan sarapan bubur di depan terminal. Sambil ngobrol ngalor- ngidul. Ia mengeluarkan kameranya. Jepret. Dua orang perempuan yang ada di depan ditangkap kameranya. Ah, sayang ada bayang-bayang laki-laki menghalanginya ! Ia beraksi kembali. Jepret. Kena kau ! Seorang pembeli bubur dan pedagang bubur berdiri agak berjauhan di depan roda jualannya. Mantap. Ia terus bercerita tentang fotografi. Benda-benda di sekitar kami menjadi sasaran kameranya. Barang bekas di bawah meja menjadi objek foto yang menarik. Tak kusangka seindah itu. Ajaib !  Tas merahku pun menjadi sasarannya.  Nuansanya sungguh berbeda dengan aslinya. Foto-foto itupun mulai bercerita.
Perjalanan pun berlanjut. Kami menyusuri jalanan kembali. Untuk pertama kalinya, aku lebih intens memperhatikan kehidupan jalanan. Ia membawaku pada objek foto yang dianggapnya menarik. Gambar-gambar berwarna di dinding. Ia menangkap momen. Kilatan cahaya membentuk sebuah objek gambar yang menarik. Setelah itu, Ia pun menyebrangi jalan. Aku memperhatikannya. Jepret. Rombongan anak laki-laki berjalan melintasi gambar dinding tadi. Indah sekali. Aku pun mencoba menangkap objek. Tidak memuaskan. Terjadi tumpukan gambar. Objek foto terlewat begitu saja. Uuughh… sayaaang !  “Tingkatkan kecepatan, simpan  tanganmu ditombol !” perintahnya. Aku membidik lagi. Dia ada di belakangku. “Ya, tekan !” instruksinya. Sukses. Aku mendapatkan gambar yang menarik. “Jika kau melihat latar yang menarik, bersiaplah. Tunggulah dengan sabar objek fotomu datang. Lalu, jepret! “ katanya memberi arahan. Aku semakin bersemangat.  “Jadi fotografer itu harus sabar dan tekun,” pikirku. Kami kembali menyusuri jalanan. Kearah pasar.
Dalam perjalananku itu, tiba-tiba bermunculan obyek-obyek foto yang menarik. Ibu-ibu yang berjalan menggandeng anaknya. Lumut di dinding. Karung bekas yang tersandar di tembok. Wanita muda yang sedang berdiri di persimpangan. Becak yang berjejer rapi. Bangunan tua. Semuanya bercerita banyak pada kami.
Langkah-langkah kami terus menyusuri trotoar. Jepret sana. Jepret sini. Delman dengan kusirnya. Orang-orang yang bertemu dan ngobrol di jalanan. Dua orang nenek-nenek yang sedang duduk. Wanita yang membeli asin. Toko pakaian. Tukang buah. Warna-warni kehidupan yang indah.
Perjalanan belum berakhir. Kami menuju sebuah bangunan tua. Unik katanya. Kami memandanginya beberapa saat. Jepret. Lalu, kami duduk santai di seberangnya. Di depan bangunan tua itu ada dua orang pencari nafkah. Satu sebagai penjual pigura. Yang seorang lagi tukang jahit. Betapa mereka bekerja keras dan tekun demi sesuap nasi. “Dengan memotret, sebenarnya kita mengasah hati,” ujarnya. “Coba perhatikan tukang jahit itu memasang benang. Objek foto yang menarik. Namun, hanya sesaat. Setelah itu hilang.” Tiba-tiba, ia mengambil gambar. Seorang bapak bercelana pendek keluar dari pintu gedung itu. Menarik. Kau tahu kawan, apa yang selanjutnya terjadi ? Hanya dalam hitungan detik, Si Bapak menghilang di balik pintu. Pintu itu tertutup rapat. Ceritapun berganti. Betapa waktu sangat berharga ! Waktu meninggalkan jejak. Mungkin takkan kembali. Di saat itulah, kita harus memanfaatkan kesempatan. Menangkap jejak yang hanya sekian detik itu. Hidup terasa lebih bermakna.
perjalanan waktu memang tak terasa 

Rabu, 2 Januari 2013
Kisah perjalananku bersama Mbak Vivera di awal tahun baru menyusuri kota kelahiranku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar