Selasa, 21 Mei 2013

BAKU DAN TIDAK BAKU




 Pemakaian bahasa Indonesia dalam berbagai macam sendi kehidupan manusia, khususnya masyarakat Indonesia masih memiliki berbagai macam kerancuan atau tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Banyak kesalahan yang sering dilakukan oleh masyarakat. Kesalahan-kesalahan tersebut ada pada tataran ejaan, kata, kelompok kata bahkan kalimat. Perhatikan contoh penulisan bahasa berikut ini

Jumat, 17 Mei 2013

ERROR



            facebook 
            Entah apa yang terjadi pada diriku hari ini. Aku merasa pikiranku saat ini berada di awang-awang, mengambang, entah berada di mana. Sangat tak jelas ! Yang kurasakan adalah kepalaku ibarat computer yang sedang ngehang, macet total, tak bisa berpikir. Jika boleh berimajinasi, dalam kepalaku ini ada jutaan cabang jalan yang berpotongan ke berbagai arah dan kendaraan yang melintasinya tertahan, tak bisa melaju karena saling berpotongan secara semrawut. Si Komo lewat alias macet total. Tak bergerak sedikit pun.
            Akupun tak bisa menangkap dan mengingat hasil presentasi yang disampaikan oleh beberapa orang, jika tidak menuliskannya dengan terpaksa. Blang ! Kata demi kata lewat begitu saja tanpa mampu kucerna dan kupahami maknanya. Melintas hampa !
            Parahnya lagi, saat berbicara aku merasa kata-kataku tak karuan. “Jangan pantang menyerah !” Sampai seseorang menegurku. “Masa ? Mungkin kita harus Jangan menyerah, jangan berputus asa, atau maju terus pantang mundur ! Betul, kan ? “ Aku terdiam beberapa saat. Mencerna tegurannya dengan susah payah sampai akhirnya berhasil memaknainya dan membetulkan pendapatnya. Jika teman-teman menghadapi masalah atau kendala dalam menghadapi masalah, haruskah jangan pantang menyerah ?  Kini, teman-teman tahu maksudku kan ?
            Pada saat berjalanpun, nampaknya kaki ini tak menapak jalan. Aku melayang terbawa angin menuju suatu tempat yang ingin kutuju. Ketika temanku memberikan sebuah permohonan. Aku menerimanya dengan gamang. Bebal rasanya otakku saat itu. Gengsi juga kalau harus menuliskan pesannya di buku catatan. Aku berusaha untuk  mengingatnya agar pesan itu dapat kulaksanakan dengan baik. Apakah aku berhasil ? Cobalah kalian tebak ! Yang pasti, pada akhirnya aku mengisi perutku yang sudah melilit perih, minum capucino kesukaanku. Rehat sejenak, menikmati pemandangan hijau di sekelilingku. Setelah itu, badanku segar, otakku agak mencair. Ringan untuk berpikir kembali. Haaaahhhhh …… error ….. error. Janganlah kau datang lagi padaku ya !

UJI KEMAHIRAN BERBAHASA INDONESIA ( UKBI )



                 Adakah yang sudah mengenal UKBI ? UKBI adalah Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia. Boleh dibilang UKBI ini mirip seperti tes TOEFL dalam bahasa Inggris. Siapapun yang ingin mengetahui kemampuannya atau kemahirannya dalam berbahasa Indonesia, baik lisan maupun tertulis, boleh diuji dengan UKBI ini. Anda merasa tertantang ?
            UKBI ini dilaksanakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, Jalan Sumbawa no 11 Bandung. Telepon (022) 4205468. Jadi, jika Anda berminat mengikutinya, silakan datang ke Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat untuk mendaftar menjadi peserta tes UKBI ! Selanjutnya, Anda bisa mengikuti tes tersebut di sana atau di tempat yang telah ditentukan bersama.
            Materi UKBI berupa penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai macam ranah komunikasi dan laras bahasa. Materi tersebut bersumber dari wacana lisan sehari-hari di masyarakat serta wacana tulis di tempat umum, media massa, buku acuan, dan sebagainya. Soal-soal UKBI ini terdiri atas  5 ( lima ) seksi. Susunannya seperti pada table berikut ini :
SEKSI
JUMLAH SOAL
ALOKASI WAKTU
Seksi    I   Mendengarkan
40 soal
25 menit
Seksi  II   Merespons Kaidah
25 soal
20 menit
Seksi III   Membaca
40 soal
45 menit
Seksi IV   Menulis
1 soal
30 menit
Seksi  V   Berbicara
1 soal
15 menit

            Setelah mengikuti tes, peserta akan memperoleh laporan hasil uji yang berupa sertifikat dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berdasarkan informasi pada sosialisasi UKBI di Hotel Endah Parahyangan pada Kamis, 16 Mei 2013, hasil UKBI ini akan diumumkan sekitar dua minggu kemudian.
             Ada beberapa peringkat hasil UKBI ini, yaitu :
1.      Istimewa ( 750 – 900 )
      Peringkat ini menggambarkan bahwa peserta memiliki kemahiran yang sempurna dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Bahkan, dalam berkomunikasi untuk keperluan keilmiahan yang kompleks pun, yang bersangkutan tidak mengalami kendala.

2.      Sangat Unggul ( 675 – 749 )
      Peringkat ini menunjukkan bahwa peserta memiliki kemahiran yang sangat tinggi dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tertulis. Dalam berkomunikasi yang bersifat keilmiahan dan keprofesian yang kompleks, yang bersangkutan tidak mengalami kendali. Namun, untuk kepentingan yang lain, peserta dianggap mampu.

3.      Unggul ( 525 – 674 )
      Peringkat ini mengungkapkan bahwa peserta memiliki kemahiran yang tinggi  dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dalam berkomunikasi untuk keilmiahan dan keprofesian yang kompleks, ia masih mengalami kendala.

4.      Madya ( 375 – 524 )
      Peringkat ini menunjukkan bahwa peserta uji memiliki kemahiran yang memadai dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahsa Indonesia, baik lisan maupun tulis. Dalam berkomunikasi untuk keperluan keprofesian yang kompleks, dia masih mengalami kendala dan akan semakin besar saat berkomunikasi untuk kepentingan keilmiahan.

5.      Semenjana ( 225 – 374 )
      Tingkat Semenjana berarti peserta memiliki kemahiran yang cukup dalam berbahasa Indonesia, baik lisan atau tulis. Peserta akan terkendala untuk forum keilmiahan, keperluan keprofesian, dan kemasyarakatan yang kompleks. Namun, peserta bisa berkomunikasi untuk kepentingan keprofesian dan kemasyarakatan yang tidak kompleks.

6.      Marginal ( 150 – 224 )
      Peringkat ini berarti peserta tidak memadai dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, lisan dan tulis. Namun, peserta masih mampu menggunakannya untuk hal-hal yang tidak kompleks, termasuk keperluan kesintasan. Semenjana juga menggambarkan bahwa peserta tidak siap untuk berkomunikasi untuk kepentingan keprofesian bahkan keilmiahan.

7.      Terbatas ( 0 – 149 )
      Tingkat ini bermakna peserta tidak sangat tidak memadai dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia, baik lisan dan tulis. Peserta hanya siap untuk kepentingan kesintasan. Namun, peserta memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan kemampuannya tersebut.


Sabtu, 11 Mei 2013

PENDIDIKAN ALA DEDDY MIZWAR



Melalui karya-karyanya,  seorang Dedy Mizwar telah mendidik anak bangsa bahkan semua lapisan masyarakat Indonesia. Karya-karyanya yang berkualitas merupakan upaya membangun karakter bangsa secara positif

Siapa yang tak kenal Dedy Mizwar ? Jika sering melihat dunia hiburan, pastilah kita akan melihat sosoknya. Si Naga Bonar ini sering menghiasi layar kaca ataupun layar lebar, baik sebagai aktor, pemain sinetron, sutradara, produser film, ataupun juri FFI. Lihat saja sinetron Para Pencari Tuhan, Lorong Waktu atau tengok pula filmnya yang berjudul Naga Bonar, Alangkah Lucunya Negeri Ini dan lain sebagainya.
Karya-karyanya tersebut sarat dengan pendidikan moral sebagai dasar dalam sebuah pembangunan karakter. Secara tidak langsung tanpa menggurui, kita digelitik tentang semangat kebangsaan, kesadaran tentang nilai-nilai moral, nilai keagamaan, cinta tanah air, kepedulian sosial, kemandirian, kreatifitas dan sebagainya.
Karya-karyanya tersebut banyak mengangkat permasalahan bangsa yang belum terselesaikan hingga kini bahkan mungkin itulah cerminan karakter bangsa yang telah berurat akar saat ini di negeri tercinta ini.
Dalam film Naga Bonar 2 sebenarnya kita digugah tentang semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Apakah materi atau kekayaan lebih dikedepankan daripada rasa cinta tanah air berupa tanah warisan leluhur ? Apakah kita akan selalu mengejar keuntungan dan kekayaan tanpa batas dengan mengorbankan segala hal ? Dalam kenyataan hidup, seringkali kita membaca dan melihat bangunan-bangunan bersejarah lebih sering dirobohkan demi kepentingan bisnis. Ironi bukan?
Dalam sinetron Para Pencari Tuhan, kita disadarkan akan pentingnya nilai-nilai keagamaan dalam hidup kita. Kepercayaan manusia kepada Tuhan secara mutlak wajib menghiasi kehidupan kita. Tanpa itu, hidup kita akan salah arah dan hampa. Apakah kita akan membantu orang miskin dengan merampok uang orang lain? Kepercayaan akan Tuhan juga akan memperkuat mental kita saat kita mengalami hal yang serupa dengan tokoh Pak Jalal. Kemiskinan yang datang secara tiba-tiba tentu saja akan membuat manusia frustasi, stress bahkan bunuh diri. Tapi kekuatan mental dan kepercayaan akan nasib baik dan buruk dalam hidup akan membuat manusia mampu melewatinya dengan baik. Di sini juga, kita sebenarnya diajarkan untuk menumbuhkan sikap peduli pada orang lain. Saat kita punya harta lebih, mari kita membantu orang lain ! Tak ada harta, perhatian atau tenaga kita pun dapat digunakan untuk menumbuhkan kepedulian sosial ini!
Di samping itu, dalam sinetron ini juga, Deddy Mizwar membukakan mata kita agar menjadi orang-orang kreatif dan mandiri. Tanpa hal tersebut kita akan menjadi orang miskin. Miskin ilmu, miskin kemauan dan miskin harta. Dengan bantuan dari baitul mal, para tokoh dalam PPT berusaha mendirikan usaha agar bisa memperbaiki kesejahteraannya. Dengan kemandirian dan kreatifitasnya mereka berusaha untuk mengembangkan bisnisnya tersebut. Hal seperti itulah yang harus dilakukan bangsa ini agar bisa keluar dari jerat kemiskinan.
Persoalan yang lebih menarik lagi, ada pada film berjudul Alangkah Lucunya ( Negeri Ini ). Melalui gambaran pendidikan para pencopet yang masih anak-anak dan remaja, proses pendidikan itu tidaklah mudah. Pendidikan berperan untuk memberikan cara pandang yang positif dan berusaha untuk mengubah paradigma para siswa. Pendidikan berperan memberikan ilmu yang bermanfaat dan dengan ilmu itulah para siswa akan menapaki jalan hidupnya menuju masa depan yang lebih baik. Pendidikan harus terjadi secara berkesinambungan dan harmonis antara pendidikan lahir dan bathin, juga antara pendidikan dunia dan akhirat. Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah  tapi  juga seluruh komponen bangsa. Pendidikan juga memberikan kebebasan secara demokratis pada siswa untuk memilih jalan hidupnya. Makna pendidikan demikian agung namun perwujudannya kembali pada manusia sebagai pelaksananya. Peran siswa, orang tua, guru, lingkungan masyarakat, pemerintah dan kebijaksanaanya, serta sistem pendidikan akan mewarnai hasil dan proses pendidikan itu nantinya. Tentunya, positif dan negatifnya wajah pendidikan Indonesia akan kembali kepada kita. Mendidik bukan upaya perorangan tapi merupakan upaya bersama yang saling berkesinambungan dan harmonis antarseluruh komponen bangsa.
Di samping itu, sudah saatnya bagi kita untuk mengembangkan berbagai jenis jalur pendidikan dan pemerataan pendidikan. Pendidikan jangan hanya bertumpu pada jalur formal saja, tapi juga harus mengembangkan jalur pendidikan nonformal dan informal. Manusia sukses bukan hanya butuh ilmu tapi juga butuh keahlian atau keterampilan hidup. Harmonisasi antara ilmu, akhlak dan keahlian akan menciptakan generasi penerus bangsa yang akan membangun negeri ini kea rah yang lebih maju lagi.
Mudah-mudahan karya-karya yang bermutu, sinetron atau film pada khususnya akan menyumbangkan peran positif dalam pembangunan karakter anak bangsa. Semoga dalam perannya yang baru nanti sebagai wakil gubernur Jawa Barat, akan ada lagi pencerahan-pencerahan lain demi kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia dan provinsi Jawa Barat khususnya  !

Kamis, 09 Mei 2013

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN



SEKOLAH                   : SMP NEGERI 1 CIMAHI
MATA PELAJARAN  :  BAHASA INDONESIA
KELAS / SEMESTER  :  VII /  2

Standar Kompetensi  : Menulis
                                               
Kompetensi Dasar     : 1.1 Menulis buku harian
Alokasi Waktu            : 2 x 40  Menit 

A. Tujuan Pembelajaran
Siswa dapat menuangkan gagasan/ pengalaman dalam buku harian dengan bahasa yang komunikatif dan jujur
B. Materi Pembelajaran
     a. Definisi Memo
     b. Bagian-bagian Memo
C. Metode Pembelajaran
1.       Tanya jawab
2.       Penugasan
3.       Inkuiri
D.Kegiatan Pembelajaran
Langkah-langkah kegiatan pembelajaran
1.       Kegiatan Awal
a.       Siswa dan guru bertanya jawab tentang memo
2.       Kegiatan Inti
a.       Siswa membaca materi memo dari buku sumber.
b.       Siswa menanyakan hal-hal yang belum dipahaminya tentang memo
c.        Siswa mempelajari contoh memo
d.       Siswa membuat memo secara  jujur dan komunikatif.
3.       Kegiatan Akhir
a.       Siswa dan guru mengadakan refleksi
b.       Penugasan : Siswa mempelajari puisi untuk pembelajaran berikutnya
E. Sumber Belajar
1.       Buku Bahasa Indonesia untuk SMP/MTS Kelas VII, pengarang: Atikah Anindyarini dan Sri Ningsih, Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional

F. Penilaian
1.       Teknik                     :  Tes tertulis
2.       Bentuk Instrumen   :  Tugas proyek (uraian)
3.       Soal / Instrumen     :

NO
INDIKATOR
SOAL

1






2









a.      



Pedoman Penskoran
Kegiatan
Skor
a.       A. Ketepatan Ragam bahasa
b.       B. Bahasa
c.        C. Isi Tulisan
30
30
40

Skor maksimal
100
                

Penilaian :
  A +  = 95 - 100
     A  = 90 – 94
     B  = 70 – 89
     C  = 50 – 69
     D  = KURANG DARI 50

www.kompasiana.com/arundina