Selasa, 21 Mei 2013

BAKU DAN TIDAK BAKU




 Pemakaian bahasa Indonesia dalam berbagai macam sendi kehidupan manusia, khususnya masyarakat Indonesia masih memiliki berbagai macam kerancuan atau tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia. Banyak kesalahan yang sering dilakukan oleh masyarakat. Kesalahan-kesalahan tersebut ada pada tataran ejaan, kata, kelompok kata bahkan kalimat. Perhatikan contoh penulisan bahasa berikut ini

NINA SALON
POTONG RAMBUT
FAISAL
KRIM BAD
CUCI BLOU

Apa pendapat Anda tentang hal tersebut ? Apakah Anda tertawa terbahak-bahak setelah membacanya ? Berdasarkan tulisan ini, bahasa bisa menjadi salah satu kekuatan komedi, Stand Up Comedy. Anda setuju dengan hal tersebut ?
                Inilah beberapa bentuk bahasa yang bisa dijadikan sebagai pengetahuan yang benar tentang bahasa Indonesia. Kita juga bisa memanfaatkan pengetahuan ini dalam kegiatan berbahasa Indonesia dalam beragam situasi.
1.     Padanan dalam bahasa Indonesia

daring
Online
Luring
offline
Pos-el
surel
e-mail
Situs web
website
laman
Homepage
pindai
scan

2.     Padanan dalam bahasa daerah

Nyeri ( Sunda )
Pain
Gambut ( Banjar )
peat
Mantan ( Basemah )
Ex
Ranah ( Minang )
domain
Unduh ( Jawa )
Download
Kedaluarsa ( Jawa )
expired

3.     Kata baku dan tidak baku

SALAH
BENAR
Resiko
risiko
sistim
sistem
Efektip
efektif
esselon
Eselon
metoda
Metode
praktek
Praktik
Prosentase
persentase
aktifitas
Aktivitas
Komplek
kompleks
analisa
Analisis
pasen
pasien
ramadhan
Ramadan
Meng-Indonesia-kan
Mengindonesiakan
kerjasama
Kerja sama
Menyhebar luaskan
Menyebarluaskan
Bertanggungjawab
Bertanggung jawab
beritahukan
Beri tahukan
Jalan2
Jalan-jalan
di-besar2-kan
Dibesar-besarkan
Me-nulis2
Menulis-nulis
walikota
Wali kota
bulutangkis
Bulu tangkis
Dimana
Di mana
Pada hal
Padahal
Dasa darma
Dasadarma
standarisasi
Standardisasi
Amandemen
amendemen
otoriti
Otoritas
respon
Respons
lembab
lembap
Seribu lima ratus
1500
12
Dua belas

4.     Akronim

                POLRI
Polri
abri
ABRI
PUSKESMAS, Puskesmas
puskesmas
Jika diikuti nama, menggunakan huruf capital
Puskesmas Leuwigajah
PT / P.T
PT.
DKK
dkk.
an
a.n.

                Selain bentuk bahasa tersebut, kita juga sering menggunakan kalimat-kalimat yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa. Kesalahan yang sering terjadi, biasanya disebabkan oleh ketaksaan  ( kekaburan, ambigu, ketidakjelasan pikiran ),  kesalahan diksi dan kesalahan ejaan. Berikut contoh-contoh kalimat yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia
1.       Bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk.
Kesalahan dalam kalimat itu adalah tidak adanya fungsi subyek, padahal kalimat dalam bahasa Indonesia minimal harus ada S – P.
Jadi kalimat yang benar adalah : Yang tidak berkepentingan dilarang masuk.

2.       Angel Lelga menceritakan tentang  masalah perkawinannya.
Kesalahannya ada pada fungsi predikat. Dalam kalimat ini, predikatnya berupa kata kerja transitif artinya harus ada obyek. Seharusnya tidak perlu ada konjungsi tentang karena hubungan antara menceritakan dengan masalah perkawinan sangat erat hubungannya.
Jadi,  kalimat yang benar : Angel Lelga menceritakan  masalah perkawinannya.

3.       Jalan tol ini tidak ada pungutan liar.
Kesalahannya kalimat ini memiliki dua buah subyek, yaitu jalan tol ini dan pungutan liar. Padahal bagian awal kalimat ini merupakan keterangan.
Jadi,  kalimat yang benar : Di jalan tol ini, tidak ada pungutan liar.

4.       Tertarik oleh imbauan kepala sekolah, saya akan berusaha menaati segala ketentuan yang berlaku di perguruan ini.
Kesalahannya : kalimat ini memiliki ciri kalimat majemuk yang tidak jelas. Dalam kalimat ini tidak memiliki penanda anak kalimat. Berdasarkan hubungan antarklausa, kalimat ini memiliki hubungan sebab akibat.
Jadi,  kalimat yang  benar : Karena tertarik oleh imbauan kepala sekolah, saya akan berusaha menaati segala ketentuan yang berlaku di perguaruan ini.

5.       Karena sering kebanjiran, pemimpin proyek tidak menyetujui lokasi perumahan yang baru itu.
Kesalahannya : 1. Anak kalimat tidak memiliki subyek, akibat kesalahan pelesapan kata-kata yang sama, lokasi perumahan yang baru itu. Padahal kata-kata yang sama itu berbeda fungsinya.
2. memiliki makna yang salah, yaitu  pemimpin proyeklah yang sering kebanjiran.
Jadi, kalimat yang benar :
1.       Karena lokasi perumahan itu sering kebanjiran, pemimpin proyek tidak menyetujui lokasi perumahan yang baru itu.
2.       Lokasi perumahan yang baru itu tidak disetujui oleh pemimpin proyek karena sering kebanjiran.
6.       Taat dan tunduk kepada Tuhan YME adalah merupakan kewajiban kita.
Kesalahannya : pleonasme ( menggunakan kata secara berlebihan )
Jadi, kalimat yang benar : Taat dan tunduk kepada Tuhan YME  merupakan kewajiban kita.
Demikianlah beberapa hasil dari kegiatan penyuluhan bahasa dan sastra Indonesia.
Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat telah melaksanakan salah satu tugas pokoknya yaitu memberikan penyuluhan kepada guru-guru bahasa Indonesia tingkat SMP pada Senin – Selasa, 20 –21 Mei 2013 di Hotel Endah Parahyangan Cibeureum.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar