Kamis, 20 Juni 2013

WISATA KULINER DI RM RIUNG PANYAUNGAN



Wisata kuliner mulai populer sejak acara ini dipandu oleh Pak Bondan. Berbagai macam tempat dan makanan telah banyak disajikan dalam acara tersebut. Nah, sekarang, saya ingin juga menyampaikan info wisata kuliner yang terletak di daerah Soreang, Kabupaten Bandung. Nama tempatnya adalah rumah makan Riung Panyaungan.
               
Jika diterjemahkan secara bebas, Riung Panyaungan berarti kumpulan saung. Kata saung merupakan kata dasar dari panyaungan.  Hal ini saya lihat dari beberapa saung sebagai tempat makan yang tersebar mulai dari depan hingga ke belakang. Saung ini dapat dimanfaatkan oleh keluarga atau rombongan untuk menikmati makanan. Makna lainnya adalah tempat yang teduh. Memang di sekitar tempat makan ini berjejer pohon-pohon besar yang cukup menyejukkan, terutama di pinggir jalan.
                Lokasi tempat makan ini berada di jalan raya Banjaran-Soreang km 2,2. Jika dari Bandung, Anda bisa ke lokasi ini dengan menyusuri jalan Kopo ke arah Banjaran. Jika dari Cimahi, Anda bisa berkendaraan melalui jalan Nanjung ke arah Soreang. Tempat ini bisa di jangkau sekitar 20 – 30 menit dari pusat pemerintahan Kabupaten Bandung. Lokasinya mudah ditemukan karena berada di pinggir jalan. Jika Anda akan berwisata ke Ciwidey, sebelumnya atau sesudahnya bisa mengisi perut di lokasi ini. Lokasinya cocok untuk tempat beristirahat sambil mencuci mata. Pemandangan alam khas priangan dapat anda nikmati sambil menunggu pesanan datang. Rasanya segar dan nyaman. Anda juga dapat melihat kolam-kolam ikan yang berwarna-warni. Bagi yang suka narsis, tempat ini cocok juga untuk berfoto-foto dengan latar alam yang indah.



                Makanan dan minuman yang bisa dinikmati juga sangat beragam. Pada umumnya menu khas Sunda. Ada nasi timbel dengan berbagai macam variasinya. Menu ikan dengan berbagai ukuran dan rasa. Ikan bakar, sop gurame, asam manis, pepes dan sebagainya.  Ada pula karedok, aneka tumis atau cah. Kangkung, jamur, brokoli dan masih banyak lagi. Bagi anda yang suka seafood, tersedia pula cumi bumbu singapur yang pedas. Teman saya menyarankan untuk memilih ikan gurame dengan berbagai variasinya, sup, bakar, asam manis dan lain-lain. “Gurame di sini enak !” sarannya. Jika memilih sop gurame, satu porsi cukup untuk banyak orang. Tinggal pilih ukuran : kecil, sedang, special hingga seharga Rp 85.000,-. Dijamin puas dan kenyang.
                Selain makanan, banyak pula jenis minuman yang dapat dinikmati. Bandrek, capucino, aneka juice, lemon squash, alpukat float, es cocktail, es kelapa muda atau yoghurt. Anda bisa memesan minuman tersebut sesuai dengan selera masing-masing. Di samping itu, kitapun diberi minum air teh hangat.   
                Kabar gembira lainnya adalah harga makanan dan minuman di sini cukup terjangkau, kurang dari seratus ribu. Kalau tidak salah, harga termahal  adalah ikan gurame seharga Rp 85.000,-. Harga yang lainnya bahkan kurang dari lima puluh ribu rupiah per porsinya. Walaupun rame-rame datang ke tempat ini, Anda tidak akan menguras kantong terlalu dalam. Selamat berwisata kuliner dan menikmati makanan khas Sunda!

Sabtu, 08 Juni 2013

CeritaCeritaku



BEEEEEEEUUUU
                Hari ini rasanya aku ingin kembali ke masa lalu. Mengenang keindahan dan kesenangan yang pernah ada. Menikmati segala hal yang pernah kulakukan bersama sahabat-sahabatku. Kembali ke masa-masa yang telah banyak menorehkan jejak-jejak kehidupan.  Lalu, kubuat sebuah keputusan. Tinggalkan modernisasi kembali ke zaman purba !
                Dulu, sepulang sekolah, kami selalu bersama-sama menyusuri jalanan dengan langkah-langkah penuh tawa. Kami berjalan diantara  pohon-pohon yang berbatang kokoh. Berdaun rimbun. Meneduhkan.  Udara segar senantiasa kuhirup dengan nyaman setiap pagi. Burung-burung bernyanyi riang menyambut pagi. Orang-orang berlalu lalang menuju pasar. Kendaraan melaju tenang di jalanan beraspal. Harmonis sekali. Semua berada sesuai dengan relnya masing-masing dengan irama kenikmatan hidup yang mempesona. Indah sekali.
                Kali ini, aku ingin mengulangnya kembali. Aku ingin menikmati pembangunan kota yang sering kusaksikan hampir setiap saat. Sejak saat itu, wajah kotaku mengalami banyak perubahan. Tak ada lagi jalanan becek berlumpur coklat. Kesemrawutan itu telah sirna berganti dengan kecerahan khas perkotaan. Wajah kotaku telah banyak mengalami proses make over. 
                Siang itu, kembali kutelusuri jalanan kotaku menuju pondok. Ada sebuah kelegaan yang menyelusup. Bayang-bayang masa lalu berputar kembali dalam pikiranku. Tawa-riang itu kembali kurasakan. Perjalanan kali ini serasa kembali bersama dengan sahabat-sahabat tercinta. Aku melangkah dengan ringan. Aku menikmati kembali jalanan kota ini. Kutelusuri kembali jalanan beraspal. Kupandangi lagi wajah kotaku.Tanah keras yang biasa kupijak dulu telah berubah menjadi trotoar tinggi di atas jalan beraspal.  Aku berjalan di trotoar yang telah terpoles dan terpasang cantik. Inilah wajah baru kotaku. Di dalam hati, aku mengagumi hasil karya itu. Aku tersenyum simpul. Kotaku ah kotaku.
                Sekitar satu jam perjalanan, aku mulai menemukan kejanggalan. “Gempa mungkin,”pikirku. Aku berasa bergoyang saat berjalan. Hal itu kualami beberapa kali. Aku menghentikan langkahku. Kupandangi sekeliling. Tak ada yang bergoyang. Gedung perkantoran, rumah-rumah, dan tiang listrik tetap berdiri tegak. Aku berjalan kembali. Bergoyang lagi. Aku heran. Kuamati trotoir itu. Ah, aku menemukan penyakitnya. Aku pun kembali melanjutkan perjalanan itu dengan hati-hati. Aku harus memilih trotoar yang bagus. Setelah goyangan itu, aku menemukan trotoar yang sudah hancur. Jalanan bolong di tengah. Jika saja, aku berjalan sambil bercanda seperti dulu, pasti terperosok. Untung aku berjalan sendirian sehingga  bisa melewati bahaya itu.
                Aku mulai sedikit merasakan ketidaknyamanan. Namun, aku ingin menuntaskan perjalanan ini. Kembali kutelusuri trotoar yang masih cukup panjang itu. Sekitar dua meter di depanku, trotoar akan terpotong oleh jalanan beraspal yang mengarah ke tengah kota. Aku mengamati kembali trotoar ini. Sedikit miring. Pikiranku melayang pada sebuah acara permainan jepang di televisi. Aku berjalan di sisi miring itu. Aku menjadi pemenangnya. Selamat tidak jatuh ke dalam air ! Aku berhasil menapaki kembali  trotoar yang  lurus. Hehehe… Namun, tiba-tiba …suit…suit…suit…brem…brem…breeeng….. beberapa motor  melaju di sisi kiri dan kananku bergantian. Kendaraan  beroda dua itu tanpa perasaan berdosa melintas dari trotoar miring menuju jalan beraspal ke tengah kota. Aku dibiarkan kebingungan dengan kengerian yang luar biasa. Jalan beraspal macet total. Beberapa motor lain melaju di sisi jalan, samping trotoar. Sedangkan motor-motor sialan itu lebih memilih trotoar  yang ada pejalan kakinya demi melewati kemacetan itu. Beeeuuuu… Teganya…teganya…teganya. Mereka melewatiku dengan cueknya. Aduuh ! Zaman telah benar-benar berubah. Tak ada lagi kenyamanan bagi pejalan kaki. Apakah materi lebih utama dan lebih berharga daripada nyawa seorang manusia yang ingin berjalan kaki ?