Sabtu, 16 Agustus 2014

KURIKULUM 2013

Pada awal tahun pelajaran ini, 2014-2015 pemerintah mulai memberlakukan kurikulum baru yaitu kurikulum 2013 atau sering disingkat menjadi kurtilas, khususnya untuk siswa kelas I dan II (SMP kelas VII dan VIII, SMA kelas X dan XI). Pada intinya, kurikulum ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan proses pendidikan sebelumnya. Kurikulum ini menekankan pada tiga aspek yaitu : sikap ( karakter ), keterampilan dan pengetahuan. Pada proses pendidikan sebelumnya, aspek tersebut terkenal dengan istilah afektif, psikomotor dan kognitif. Menariknya, pada kurtilas, ketiga ranah itu menjadi penekanan khusus dalam pelaksanaannya atau dalam proses pembelajarannya. Menjadi gaung utama. Pada jenjang dasar, aspek karakter menjadi porsi terbesar dalam proses pembelajarannya.
            Ada budaya baru yang muncul dalam proses pembelajaran dengan kurikulum 2013 ini. Siswa menjadi subyek pendidikan. Maknanya siswa harus belajar secara aktif. Mereka bukan lagi sebagai objek atau sasaran pendidikan tetapi mereka bertindak sebagai pelaku utama. Siswa harus aktif dalam mencari materi pembelajaran. Mereka tidak hanya menggunakan satu sumber tapi bisa memakai berbagai macam sumber pembelajaran, contohnya: buku paket, buku pengayaan, koran, majalah, internet, para pakar dan lain sebagainya. Selama ini, siswa kita lebih cenderung pasif dalam belajar. Mereka sangat bergantung kepada guru. Guru dan buku paket adalah sumber belajar utama mereka. Selain itu, dalam pembelajaran di kelas, siswa tidak hanya sekedar diam mendengarkan penjelasan guru, tapi mereka harus benar-benar terlibat secara aktif  dalam proses pembelajaran. Mereka wajib melakukan hal-hal yang sudah dirancang oleh guru. Guru bukan lagi sebagai aktor utama dalam proses pembelajaran. Mereka adalah para fasilitator. Aktor utamanya adalah para siswa. Dengan demikian, kita akan jarang melihat siswa yang duduk manis, siswa sebagai penyimak atau bahkan yang terkantuk-kantuk di kursi belakang. Budaya seperti itu sudah seharusnya terkikis habis. Budaya yang seharusnya muncul dalam proses pembelajaran adalah siswa harus berani menyampaikan pendapat, berdebat, melakukan penelitian/ percobaan/ pengamatan, berdiskusi, mencoba sesuatu, mempraktekkan teori, membiasakan kebiasan tingkah laku yang positif, mencoba menyelesaikan kasus, berdemonstrasi, mengerjakan proyek dan selalu mengasah keterampilannya dari waktu ke waktu. Jadi, dalam proses pembelajaran mereka akan selalu aktif. Dengan keaktifan ini, siswa diharapkan akan menguasai ilmu secara lebih baik dan lebih abadi. Siswa tidak lagi akan tumbuh sebagai generasi hapalan. Namun, mereka akan menjadi penguasa-penguasa ilmu sejati dengan pemahaman yang komprehensif. Gagasan seperti ini juga sebenarnya bukan hal baru. Hal ini sejalan dengan konsep CBSA, yaitu cara belajar siswa aktif.
            Ada pendekatan khusus yang menjadi jiwa dalam proses pembelajaran kurikulum 2013 ini. Pendekatan tersebut adalah pendekatan saintifik ( Sciencetific approach ). Pendekatan tersebut terdiri atas 5 M, yaitu : Mengamati, Menanya, Mengumpulkan Data/ Informasi, Mengasosiasi dan Mengomunikasikan. Inilah yang menjadi ruh proses pembelajaran. Inilah yang mendasari siswa belajar secara aktif. Dalam proses belajar, siswa akan mengawalinya dengan kegiatan mengamati. Banyak hal yang bisa dilakukan, misalnya memperhatikan orang, membaca, menonton, dan sebagainya. Dengan hal ini, siswa tidak lagi membawa pikiran kosong ke dalam kelas tapi mereka telah memiliki pengetahuan siap sesuai dengan materi pembelajaran saat itu. Selanjutnya, siswa dibiasakan untuk berpikir secara kritis. Mereka harus merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi tersebut. Hal ini mirip dengan kebiasaan para penemu. Issac Newton bertanya-tanya tentang buah apel yang jatuh. “Mengapa buah apel ini terjatuh ?” Pertanyaan itulah yang menggiringnya pada penemuan teori hukum gravitasi. Pada tahap ketiga, siswa mulai untuk mencari jawaban dari pertanyaan tersebut. Satu satu mereka akan menemukan jawab dengan berbagai cara, seperti berdiskusi dengan teman, mencermati bacaan, melakukan sesuatu dan lain sebagainya. Setelah menemukan data-data atau informasi yang lengkap, mereka harus mengujicobakan pengetahuan tersebut. Mempraktekan atau meniru hal yang sama dengan cara yang berbeda. Mencoba membuat kalimat baru dari contoh yang sudah ada, misalnya. Itulah yang dimaksud dengan Mengasosiasi. Selanjutnya, mereka akan mengomunikasikan ilmu tersebut kepada yang lain baik lisan maupun tulisan, misalnya mempresentasikan materi yang sudah dipelajarinya tadi. Seperti itulah gambaran pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran kurtilas.
            Hal lain yang terjadi dalam proses pembelajaran dengan kurtilas ini adalah tahapan pembelajaran. Pada dasarnya, ada tiga tahapan pembelajaran yaitu: pemodelan, penyusunan bersama dan penyusunan secara mandiri. Gambaran lebih jelasnya misalnya dalam bidang studi Bahasa Indonesia. Siswa kelas VII mempelajari teks observasi.
Tahap Pemodelan.
Mereka akan mempelajari conteh teks observasi yang ada di buku paket. Mereka baca secara cermat. Mereka baca secara komprehensif contoh wacana tersebut. Mereka pelajari struktur teksnya. Mereka cermati bagian-bagian struktur itu pada tiap paragraf. Mereka pun mempelajara unsur kebahasaannya. Menjawab soal-soalnya.
Tahap Penyusunan Bersama.
Kerja sama menjadi karakter idaman dalam kurtilas. Proses pembelajaran pada kurikulum tersebut dititikberatkan pada kegiatan belajar secara berkelompok. Siswa belajar bersama.
Pada proses mempelajari teks observasi tadi. Siswa akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Pada umumnya, kelompok ini akan bersifat tetap sampai akhir semester. Siswa diharapkan mampu bekerja sama dengan teman-teman sekelompoknya. Mengenal karakter teman. Berbaur. Saling memahami. Menerima setiap kelebihan dan kekurangan teman-temannya. Mampu menyatukan perbedaan diantara mereka.
Pada proses membuat teks observasi secara bersama ini. Siswa akan berbagi tugas. Berdiskusi. Berbagi ide. Mengamati sesuatu, lingkungan sekolah misalnya. Lalu, menyusun teks observasi sesuai dengan struktur yang telah dipelajari sebelumnya. Setelah selesai, mereka akan mencermati tulisannya. Mengeditnya.
Tahap Penyusunan Secara Mandiri
Dengan bekal proses pembelajaran pada dua tahap sebelumnya, siswa diharapkan memiliki kesiapan untuk menyusun teks observasi secara mandiri. Siswa telah memiliki pengetahuan yang cukup untuk menyusun teks tersebut. Tahap berikutnya adalah mempraktekkan ilmu tersebut dalam bentuk membuat teks observasi secara mandiri sesuai dengan strukturnya.
Demikianlah, gambaran proses pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013. Peran guru akan lebih kecil daripada siswa. Namun, dengan hal tersebut tidak berarti tugas guru menjadi lebih ringan. Guru bukanlah penonton proses pembelajaran.  Tantangannya justru semakin berat dan kompleks.  Guru professional tidak hanya berperan dalam transfer ilmu, tapi juga dalam banyak aspek lainnya. Guru adalah arsitek proses pembelajaran. Guru adalah motivator. Guru adalah fasilitator. Guru adalah pengamat dan peneliti. Guru adalah penulis. Guru adalah penilai. Guru adalah ibu kedua dari generasi yang berkualitas. Guru dan siswa bisa bekerja sama untuk melahirkan kualitas pendidikan yang lebih baik. Semoga !


             




 

Rabu, 13 Agustus 2014

BELAJAR TENTANG PUISI

Tulisan yang ringkas, padat dan bermakna sangat dalam serta dituangkan dalam bentuk bait. Itulah puisi. Pada umumnya, puisi itu hemat kata-kata. Termasuk juga dalam puisi prosa. Ciri khas ini tidak akan hilang, karena seorang penyair akan mengkristalkan permasalahan yang dituangkan dalam puisinya sedemikian rupa. Kehematan kata itu menjadikan sebuah puisi demikian sangat padat dan bermakna dalam. Penyair ditantang untuk melakukan diksi atau pemilihan kata secara tepat.

Belajar tentang puisi, kita harus berani membuat puisi dan membiarkan diri kita terbuka dengan pemikiran orang lain. Mari, belajar dari para penulis perempuan berikut ini ! Simaklah, cermatilah dan kritisilah puisi-puisi mereka ! Perhatikan pula cara mereka meramu sebuah permasalahan hidup dalam bentuk puisi. Piawai menjalin kata, menciptakan makna dan frasa baru, juga begitu dalamnya mereka mengkristalkan momen-momen puitik itu. Simak pula komentar/ masukan/ tanggapan dari penyair ternama sebagai guru mereka, Kang Cecep Syamsul Hari.

Semoga puisi-puisi ini bisa segera dipublikasikan menjadi sebuah buku !

Puisi- Puisi Adelina
(1)Bulan Suci Itu
Jangan hadirkan Ramadhan, Tuhan
Bila ritual menjadi kebanggaan
Bila lebaran hanya kesenangan




 [NN1]Penggunaan kata yang disengaja sebagai pola repetitif cukup baik.

 (3) Di Atas Sungai
 Di atas sungai Seine dalam dekapan megahnya Eiffel
Mata kanakmu menyapu setiap butiran tanah
Melangkah tiada gontai

 [NN1]Biasanya orang berkata “menyungging senyum”. Jadi upaya pengungkapan baru “menyungging ujung bibir” dapat difahami sebagai langkah keluar dari klise atau dengan kata lain mencari ungkapan baru.
Aku, ibumu
Berbisik setengah daya, ”Adakah engkau disana?”[NN1] 

 [NN1]di sana, bukan disana


 [NN1]Lagi, penutup sajak yang elok. Keseluruhan sajak ini kontemplatif.
 (4) Cermin
Jasad kaku tanpa paras
Menatap setajam parang
Denyut lambat mengelebat
[NN1]  

 [NN1]Bait ini imajinatif. Oke!
(5) Pisau
Pisau tubuhmu bermandikan tuak
Tuak aren tanah batak
Menyehatkan sekaligus memabukkan
Membuatku berdarah-darah

*ada alusi ke dan referensi kepada kekayaan lokal

Melipat Februari dalam  sebuah keinginan yang terpenggal[NN1] 


 [NN1]Kalimat agak rancu dan dipaksakan.

Segera kukemas bayangmu[NN1] 

 [NN1]Baris ini asyik. Sangat imajinatif dan metaforis. Bagus.

Hingga kelak ku ‘kan menemukan jalan terang
Jalan menuju muara

Menjauhi mata airmu
Hingga air mata menjarak dari mata air
[NN1] 

 [NN1]Pemilihan kata (diksi) “muara” dan “mata air” di sini dibingkai oleh kesatuan makna gramatikal.


 [NN1]Judul oke euy. Sip!

Engkau pengembara sunyi.Aku pun harus sunyi.

 [NN1]Singkat, padat. Oke.

cinta seperti apa yang kau beri untukku
dan kamu tak pernah mengerti
cinta seperti apa yang kuberi untukmu
[NN1] 

 [NN1]Ungkapan yang sederhana tapi cukup kuat.

Puisi-puisi Xenny Fitriyani[NN1] 
(1)Terlambat[NN2] 
Maka kulerai segala selisih di dalam sini yang entah apa karena aku tak boleh lupa kalau kita mesti berpayung sama, langit pun lelangit.
Kita tak mungkin selamanya menimang rasa yang bernas, mesti sesekali diremukan[NN3]  saja sampai halus atau direndam dalam air hangat kuku lalu menikmatinya susut dan larut. Rasanya sangat konyol membiarkan terjadi yang semestinya tak terjadi. Seperti huruf H yang menguap karena penuh udara Seperti air yang ingin kusulap menjadi agar-agar Biar tak lari disela [NN4] jemari.

 [NN1]Catatan khusus untuk Xenny:  teruslah menulis sajak-sajak dengan gaya dan rancang bangun seperti ini. Tampaknya Xenny merasa nyaman dengan penulisan dengan gaya ini. Nanti jika suatu saat Xenny merasa perlu melakukan ekplorasi estetik lain,  terimalah sebagai fase penulisan sajak/eksplorasi estetik berikutnya.
 [NN2]Secara keseluruhan puisi ini cukup kuat. Diperlukan nafas panjang dan konsentrasi penuh untuk menulis sajak-sajak berkecenderungan prosais. Catatan ini juga berlaku untuk Farra Yanuar.
 [NN3]“diremukkan”, bukan “diremukan”.
 [NN4]“di sela jemari”, bukan “disela jemari”.

 
hadir bukan karena dirinya
tapi hadir karena-Nya

*kontemplatif

(9)LELAH
 Bila salahku menjelma
Karena…[NN1] 


 [NN1]Sebenarnya penggunaan terlau banyak kata/kalimat elips (ditandai dengan penggunaan titik-titik, tidak efektif dalam puisi.

Puisi-puisi Yayu Arundhina

Takdir hidupmu

 [NN1]Dua baris kalimat penutup ini oke.