Rabu, 13 Agustus 2014

BELAJAR TENTANG PUISI

Tulisan yang ringkas, padat dan bermakna sangat dalam serta dituangkan dalam bentuk bait. Itulah puisi. Pada umumnya, puisi itu hemat kata-kata. Termasuk juga dalam puisi prosa. Ciri khas ini tidak akan hilang, karena seorang penyair akan mengkristalkan permasalahan yang dituangkan dalam puisinya sedemikian rupa. Kehematan kata itu menjadikan sebuah puisi demikian sangat padat dan bermakna dalam. Penyair ditantang untuk melakukan diksi atau pemilihan kata secara tepat.

Belajar tentang puisi, kita harus berani membuat puisi dan membiarkan diri kita terbuka dengan pemikiran orang lain. Mari, belajar dari para penulis perempuan berikut ini ! Simaklah, cermatilah dan kritisilah puisi-puisi mereka ! Perhatikan pula cara mereka meramu sebuah permasalahan hidup dalam bentuk puisi. Piawai menjalin kata, menciptakan makna dan frasa baru, juga begitu dalamnya mereka mengkristalkan momen-momen puitik itu. Simak pula komentar/ masukan/ tanggapan dari penyair ternama sebagai guru mereka, Kang Cecep Syamsul Hari.

Semoga puisi-puisi ini bisa segera dipublikasikan menjadi sebuah buku !

Puisi- Puisi Adelina
(1)Bulan Suci Itu
Jangan hadirkan Ramadhan, Tuhan
Bila ritual menjadi kebanggaan
Bila lebaran hanya kesenangan




 [NN1]Penggunaan kata yang disengaja sebagai pola repetitif cukup baik.

 (3) Di Atas Sungai
 Di atas sungai Seine dalam dekapan megahnya Eiffel
Mata kanakmu menyapu setiap butiran tanah
Melangkah tiada gontai

 [NN1]Biasanya orang berkata “menyungging senyum”. Jadi upaya pengungkapan baru “menyungging ujung bibir” dapat difahami sebagai langkah keluar dari klise atau dengan kata lain mencari ungkapan baru.
Aku, ibumu
Berbisik setengah daya, ”Adakah engkau disana?”[NN1] 

 [NN1]di sana, bukan disana


 [NN1]Lagi, penutup sajak yang elok. Keseluruhan sajak ini kontemplatif.
 (4) Cermin
Jasad kaku tanpa paras
Menatap setajam parang
Denyut lambat mengelebat
[NN1]  

 [NN1]Bait ini imajinatif. Oke!
(5) Pisau
Pisau tubuhmu bermandikan tuak
Tuak aren tanah batak
Menyehatkan sekaligus memabukkan
Membuatku berdarah-darah

*ada alusi ke dan referensi kepada kekayaan lokal

Melipat Februari dalam  sebuah keinginan yang terpenggal[NN1] 


 [NN1]Kalimat agak rancu dan dipaksakan.

Segera kukemas bayangmu[NN1] 

 [NN1]Baris ini asyik. Sangat imajinatif dan metaforis. Bagus.

Hingga kelak ku ‘kan menemukan jalan terang
Jalan menuju muara

Menjauhi mata airmu
Hingga air mata menjarak dari mata air
[NN1] 

 [NN1]Pemilihan kata (diksi) “muara” dan “mata air” di sini dibingkai oleh kesatuan makna gramatikal.


 [NN1]Judul oke euy. Sip!

Engkau pengembara sunyi.Aku pun harus sunyi.

 [NN1]Singkat, padat. Oke.

cinta seperti apa yang kau beri untukku
dan kamu tak pernah mengerti
cinta seperti apa yang kuberi untukmu
[NN1] 

 [NN1]Ungkapan yang sederhana tapi cukup kuat.

Puisi-puisi Xenny Fitriyani[NN1] 
(1)Terlambat[NN2] 
Maka kulerai segala selisih di dalam sini yang entah apa karena aku tak boleh lupa kalau kita mesti berpayung sama, langit pun lelangit.
Kita tak mungkin selamanya menimang rasa yang bernas, mesti sesekali diremukan[NN3]  saja sampai halus atau direndam dalam air hangat kuku lalu menikmatinya susut dan larut. Rasanya sangat konyol membiarkan terjadi yang semestinya tak terjadi. Seperti huruf H yang menguap karena penuh udara Seperti air yang ingin kusulap menjadi agar-agar Biar tak lari disela [NN4] jemari.

 [NN1]Catatan khusus untuk Xenny:  teruslah menulis sajak-sajak dengan gaya dan rancang bangun seperti ini. Tampaknya Xenny merasa nyaman dengan penulisan dengan gaya ini. Nanti jika suatu saat Xenny merasa perlu melakukan ekplorasi estetik lain,  terimalah sebagai fase penulisan sajak/eksplorasi estetik berikutnya.
 [NN2]Secara keseluruhan puisi ini cukup kuat. Diperlukan nafas panjang dan konsentrasi penuh untuk menulis sajak-sajak berkecenderungan prosais. Catatan ini juga berlaku untuk Farra Yanuar.
 [NN3]“diremukkan”, bukan “diremukan”.
 [NN4]“di sela jemari”, bukan “disela jemari”.

 
hadir bukan karena dirinya
tapi hadir karena-Nya

*kontemplatif

(9)LELAH
 Bila salahku menjelma
Karena…[NN1] 


 [NN1]Sebenarnya penggunaan terlau banyak kata/kalimat elips (ditandai dengan penggunaan titik-titik, tidak efektif dalam puisi.

Puisi-puisi Yayu Arundhina

Takdir hidupmu

 [NN1]Dua baris kalimat penutup ini oke.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar