Jumat, 19 September 2014

OKRA



Ada yang pernah mendengar kata dalam judul tulisan ini ? Okra. Ada yang tahu, apakah itu ?
Berawal dari hobi suvi alias suka nonton tivi, Di suatu siang, tanpa disengaja, saya memindah—mindahkan saluran televisi. Tepat pada saat klik, ada yang menarik, acara memasak. Bukan Rudy Choerudin. Bukan Billy Kalangi, Bukan Chef Marinka. Bukan pula Sarah Queen. Karena sekarang suka  memasak, maka acara itu saya pantau, walaupun hanya tinggal resep terakhir. Tumis-tumis. Masak-masak (yeee… iklan Bimoli teenaannn..). Sekilas, ada sayuran panjang, kecil berwarna hijau. Dipotong-potong serong memanjang. Bumbunya pun sangat mudah dan sederhana dan gampang bangeet. Cucok tenan dengan gaya memasakku. Sambil terheran-heran menonton acara itu, saya menanti dengan sabar seseorang akan menyebut resep masakan itu. Asli, baru kala itu saya melihat bahan masakan aneh tersebut. Setelah beberapa lama menanti, akhirnya keluarlah namanya. Okra atau Lady’s Fingers. Huaaalaahhh… opo ituu ? Pas lihat bentuk aslinya, rasa-rasanya saya pernah melihatnya di sebuah supermarket. Saya pernah menanyakannya pada teman, tapi tidak ada yang tahu. 

Alhasil, keesokan harinya, saya pun berburu okra di sebuah pasar swalayan tempat saya sering berbelanja. Woooww… sebungkus kecil okra harganya sekitar enam belas ribu. Busyeet deh.. mahaaal amaaat… ! Cuma lima biji isinya. Jadi, harga satuannya berapa yaa ? Namun, karena ingin mencoba menu baru, dengan agak berat hati, kukeluarkan juga kocek untuk membeli sayuran mini itu. Sayuran sebesar cabai hijau besar. Deg… ah, daripada jantungan, stress, masgul, galau dan sejenisnya, lupakan aza dech ! “Semoga Allah memberikan rejeki yang lebih banyak dari harga okra ini,” doaku dalam hati. Aslinya sih sumpah pengen menghibur hati aza hehehe… !
Singkat cerita, dengan sepenuh hati, aku potong-potong si jari lentik gadis penari bali itu. ( xixixi.. imajinasi bebas dari lady’s fingers). Potongannya cantik. Agak mirip bintang. Berwarna putih dan ada semacam biji. Lho, kok pisaunya agak lengket ? Aku juga menyiapkan bumbunya, yaitu irisan bawang putih, bawang merah plus bawang bombay, garam, lada dan gula putih. Berees. Saatnya menumis. Setelah minyak di wajan agak panas, kutumis segala macam bawang sampe layu, menyusul okra juga sampe leumpeuh kata orang sunda mah. Air kutuangkan sedikit. Tambahkan garam, lada dan gula putih. Tunggu sebentar. Aduk-aduk. Icip-icip. Pas banget sesuai rasa di lidah. Komporpun kumatikan. Aneh, mengapa ada lendir ? Ah, daripada berat memikirkan asal lendir itu, kutuangkan hasil masakanku pada sebuah mangkok sedang. Sendokpun berlendir. Panggilan perut udah gak nahan. Hap… aku memikmati sepiring nasi dengan tumis okra. Rasa yang aneh. Mungkin mirip oyong garing atau mmhh.. tau ah gelap… Silakan aza icip sendiri yaa !
Acara makan pun beres. Berikutnya adalah sosmed. Sungguh tepat tebakanmu, sobat ! Aku bercerita dan bertanya soal okra pada seorang kawan yang suka masak. Namun, hasilnya nihil. Gak ada yang tahu tentang okra. Dia baru dengar kata itu justru dariku saat itu. Besok dan besok harinya lagi, pencarian itu masih berlanjut. Sedikit ada gambaran. Okra ternyata bisa menjadi obat. Sayang seribu sayang, temanku itu terkena amnesia berat. Lupa khasiat okra.” Googling aza deh!” ujarnya menyerah kalah.
Akhirnya, Mbah Google menjadi andalanku. Wow, okra ternyata cukup populer di internet. Banyak link yang memuat tulisan tentang sayuran tersebut. Ada gambarnya pula. Sama dengan yang kubeli tempo hari. Perburuan informasipun berlanjut di internet.
Neng geulis, Okra ternyata termasuk keluarga kapas-kapasan (Malvaceae). Nama latinnya adalah Abelmoschus Esculentus. Tanaman ini termasuk pada genus Hibiscus dulunya. Awalnya, Okra ini berasal dari Afrika, khususnya Ethiopia. Kini Okra sudah menyebar dan terkenal ke berbagai benua, seperti Asia, Eropa dan Australia. Istilah lain okra adalah bendi, gumbo, bamia dan qiu kui.
Okra sangat baik bagi kesehatan karena memiliki beberapa kandungan gizi. Minyak biji Okra sangat kaya dengan asam lemak tak jenuh (asam eleat dan asam linoleat). Okra mengandung 3.9% protein. 2,05% lemak. 40 kkal/ 100 gram energy. 6,68% kalium. 0,77% fosfor dan okra itu sangat banyak mengandung serat. Oleh karena itu, okra sangat bermanfaat untuk mencegah kanker kolon (usus besar, diabetis, obesitas, konstipasi dan kolesterol tinggi. Dengan serat, fesespun akan lancar serta mengaburkan konsentrasi zat karsinogen. Demikian rangkuman informasi dari Wikipedia dan kupukupudanpelangi.blogspot.com.
Menurut Republika, getah okra dapat mengontrol kadar gula darah, karena okra kaya serat larut dan termasuk makanan rendah glycemic index, hanya 20. Anda penderita diabetes ? Inilah resep (suntik insulin) alami untuk Anda.
1.      Ambil dua buah okra, potong kedua ujungnya !
2.      Jangan dicuci, biarkan lendirnya keluar !
3.      Rendam dalam segelas air, tutup dan biarkan semalam !
4.      Pagi hari, ambil okra, lalu minumlah airnya !
Agar lebih menggugah selera, okra ternyata bisa diolah menjadi berbagai jenis masakan, seperti: kari, balado, tumis, campuran salad, dan panggang okra dengan mentega. Jika Anda ingin mendapatkan berbagai resep okra lainnya, Southern Living menyediakan 12 resep masakan okra, yaitu : friedpecan okra, pickled okra, okra and corn maque choux, fried okra salad, okra creole, okra rellenos, peppery grilled okra with lemon-basil dipping sauce, pickledand okra shrimp salad, shrimpand okra hush puppies, baked polenta with cheese and okra, smashed fried okra, skilled-roasted okra and shrimp. Mmmmhhh… tampak menggoda selera. Selamat berkreasi dengan okra !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar