Senin, 27 Oktober 2014

KEGALAUAN TIK



Era digitalisasi dan komputerisasi telah lama bergaung di sentero dunia. Oleh karena itu, secara otomatis hampir semua aspek kehidupan manusia mulai ditangani secara komputerisasi. Contohnya: ada e-ktp, pendaftaran siswa baru secara online, pendaftaran cpns, bpjs juga online, layanan perbankan, kantor dan perusahaanpun tak lepas dari komputerisasi ini. Tujuannya adalah mempermudah urusan manusia ? Benarkah ? Dengan situasi seperti itu, ada euforia komputer di segala lini kehidupan. Manusia menjadi sangat tergantung pada benda teknologi yang satu ini. Komputer dan segala sesuatunya menjadi booming. Kini, benda yang satu itu akan bisa kita temui dengan mudah dan murah. Persaingan di bidang inipun semakin tajam. 
 
Masyarakat umumpun butuh komputer
            Euforia itupun ternyata menular pada dunia pendidikan, khususnya sekolah. Banyak sekolah berusaha untuk menyediakan komputer. Lab komputer menjadi salah satu fasilitas sekolah. Bahkan, guru dan siswapun tak lepas dari jerat tersebut. Euforia ini semakin menjadi-jadi ketika pemerintah menetapkan salah satu mata pelajaran yang berhubungan dengan dunia tersebut, yaitu TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), sejak 2004. Kini, komputer merupakan kebutuhan mereka juga. Hampir semua kegiatan sekolah pasti menggunakan komputer, termasuk juga dalam proses belajar mengajar.
Siswa dan laptop

 Sejak tahap perencanaan, pelaksanaan sampai tahap evaluasi teknologi itu tak lepas dari proses tersebut. Semua serba komputer walau belum seratus persen. Komputer benar-benar menjadi fasilitas pendukung yang mempermudah proses belajar mengajar. Jika dulu, kita mengetik rencana pembelajaran dengan mesin tik, maka sekarang menggunakan komputer. Dulu, kita harus mengetik ulang secara keseluruhan, sekarang buka file lama lalu perbaharui tulisan yang akan diganti. Era komputerisasi ini juga ditandai dengan pertanyaan favorit dari para siswa, dari tahun ke tahun. “Bu, boleh menggunakan laptop ?” Ketika anggukan kepala menjadi jawaban, maka wajah sumringah siswa menjadi balasannya. Zaman sekarang, laptop di sekolah bukan hal aneh lagi. “Ma, beliin aku laptop dong !” Mungkin itulah rengekan anak sekarang, selain telepon genggam. Rengekan jajan atau baju baru mungkin sudah kurang mendominasi lagi.
Kini, siswa akan bersentuhan langsung atau tidak langsung dengan komputer dalam proses belajar mengajar. Secara terencana, guru memang mengarahkan siswa pada hal tersebut. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh mereka. Dengan dukungan fasilitas sekolah, siswa akan melakukan presentasi materi pembelajaran menggunakan teknologi tersebut. Siswa biasanya akan membuat power poin untuk ditayangkan di dalam kelas. Selain itu, tugas-tugas pun tak luput dari dukungan teknologi informasi dan komunikasi ini. Pembuatan makalah atau laporan juga didukung oleh fasilitas ini. Tulisan tangan menjadi langka. Bahkan cenderung dihindari oleh siswa. Pementasan dramapun diwarnai dengan pemakaian teknologi ini. Di manapun, kapanpun, dan siapapun pastilah komputer. Itulah mungkin semboyan yang tepat untuk situasi pembelajaran sekarang ( hehehe…). TIK sudah menjadi sahabat dan semangat belajarku, siswa masa kini. Siswa digital mungkin ya, istilah yang paling tepat. Mengapa ? Siswa sekarang lebih dikuasai oleh teknologi. Menanyakan pr, angkat telepon, facebook. Baca buku, e-book. Mencari bahan pembelajaran dan tugas-tugas, internet atau Mbah Google. Banyak hal selalu bersinggungan dengan teknologi informasi dan komunikasi.

Komputer dan Drama

Di pihak guru, teknologi informasi dan komunikasi ( TIK ) ini pun menjadi bagian dari profesionalisme mereka. Guru-guru sepuh yang tidak bisa menggunakan komputer ( secara terpaksa ) harus mempelajarinya. Situasi dan tuntutan profesi mengarahkan mereka pada hal tersebut. Guru-guru yang pernah dikirim ke luar negeri, menerapkan berbagai macam program bawaan dari tanah sebrang, contohnya Emudo, Think Quest. Banyak pula guru yang mempersiapkan proses mengajar dengan menggunakan komputer itu. Menyusun bahan ajar, misalnya tak lepas dari teknologi tersebut. Power Poin. Penyajian materi menjadi lebih menarik dengan hal tersebut, apalagi guru yang kreatif dan melek teknologi akan berusaha mencari informasi melalui internet untuk menunjang hal tersebut. Blogpun menjadi salah satu media untuk menyediakan bahan ajar. 
Komputer (TIK) pendukung profesionalisme guru

Sekarang, berkaitan dengan kurikulum 2013, penilaianpun tak lepas dari fasilitas teknologi informasi dan komunikasi. Ada program khusus untuk pengisian rapot. Guru sekarang harus mengisi angka-angka pada program khusus itu agar rapot siswa memiliki pendeskripsian. Dengan hal-hal tersebut, gurupun tak bisa lepas dari dunia yang satu ini, teknologi informasi dan komunikasi. Alhasil, TIK menjadi semboyan di manapaun, kapanpun dan siapapun tetap juara mewarnai kehidupan proses belajar mengajar.
Ironisnya, sejak berlakunya kurikulum baru, 2013, mata pelajaran TIK pun hilang dari peredaran, khususnya di tingkat sekolah menengah pertama. Berwujud abstrak. Di satu sisi, kita sedang menggalakkan melek teknologi. Namun, di sisi lain banyak kendala menghadang. Para siswa tidak lagi belajar ilmu TIK secara langsung. Konsistensi tampaknya harus mulai dibenahi. Kita ini akan dibawa kemana ? Di satu sisi, kita harus siap dengan gempuran arus globalisasi, komputerisasi. Di sisi lain, mata pelajaran yang merupakan jawaban terhadap tantangan zaman tersebut dihapus tanpa kejelasan. Nasib guru TIK jadi terombang-ambing tanpa arah tujuan yang pasti. Pembelajaran tentang ilmu teknologi informasi dan komunikasi masih perlu dilakukan secara berkesinambungan. Jika, guru TIK harus mendampingi siswa atau guru dalam waktu mengajar yang tidak jelas, tentu hasilnya tidak akan efektif. Di samping itu, kesiapan mental siswa dalam menghadapi era serba teknologi canggih ini perlu dibentuk dan ditumbuhkan. Siswa harus mampu bertanggung jawab dalam pemakaian teknologi tersebut. Jangan sampai terjadi, siswa menggunakan laptop untuk melihat hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama dan moral ! Para siswa masih harus banyak belajar tentang TIK ini, baik ilmunya yang cepat berubah, juga sikap mentalnya. Derasnya gempuran arus informasi ini, harus pula diseimbangkan dengan pembelajaran TIK yang positif. Kebebasan berteknologi tetap harus dilandasi oleh tanggung jawab keilmuan, tanggung jawab moral dan landasan agama yang kuat, sehingga siswa tidak akan menjadi korban teknologi. Pada akhirnya, TIK masih tetap dibutuhkan oleh guru dan siswa. Tentunya, dengan pengembangan pembelajaran yang lebih menarik dan berkualitas. Kita masih membutuhkan strategi untuk menangkal informasi yang berbahaya dan sering datang secara tiba-tiba, tanpa diminta. Kepada siapakah kita menggantungkan harapan ini jika bukan pada guru TIK ? Semoga segera ada kejelasan tentang mata pelajaran TIK ini, khususnya untuk tingkat SMP !