Rabu, 17 Desember 2014

CERPEN CINTA DALAM DEGUNG



Pagi ini, matahari masih bersembunyi. Kehangatannya belum menyapa kami, walaupun jarum jam dinding berwarna biru itu sudah berada di angka delapan tiga puluh. Kota terlihat suram. Berselimut kabut. Bumi seolah-olah masih disiram oleh jarum-jarum abu letusan Kelud. Aku tak bisa menikmati keindahan panorama gunung di sebrang sana. Jika cuaca cerah, aku bisa memandangi gunung-gunung yang berbaris rapi seperti  sekompi tentara dibawah naungan langit biru yang jernih. Biasanya setiap pagi, barisan gunung yang berlapis itu akan menemaniku menikmati pagi sambil diiringi nyanyian burung-burung gorejra yang senantiasa terbang dan hinggap di sekitar tempat tinggalku  ini. Alam seolah-olah sedang berempati kepadaku.
Sejak subuh tadi, aku duduk di balkon ini. Berharap panorama indah di seberang bangunan sederhana ini akan mengobati kegalauanku. Aku tak bisa meninggalkan dunia yang sudah kutekuni sedari kecil. Sudah mendarah daging. Cinta sejatiku. Tanggung jawabku. Obsesiku. Haruskah kuikuti keinginannya memenuhi nafsu dunia yang tak pernah ada batasnya ?  Dilema.
Hatiku dag dig dug tak menentu. Jantung berdetak cepat. Badan terasa letih. Tak bertenaga. Pikiranku kembali melayang pada pertengkaran hebat itu. Aagghh …. Aku hanya mampu meninju kursi yang kududuki. Kursi tak berdosa itu terkulai layu. Jok busanya yang sudah dimakan usia, tak mampu menahan keperkasaanku. Busa-busa kuning kusampun berhamburan memenuhi balkon. Nafasku menderu. Rasanya, aku ingin memuntahkan segala materi vulkanik dari dalam kawah amarahku. Aku tak bisa menerima ucapannya yang sangat menusuk harga diriku. Meruntuhkan impianku. Wanita berparas ayu itu tak sesuai harapanku. Tapi, aku sangat mencintainya. Aku bertekuk lutut padanya. Masih adakah cinta itu di hatiku? Suasana telah berubah. Aku beralih ke ruang tengah. Menatap ruang yang suram ini. Pikiranku tenggelam pada masa lalu.
Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat duduk di sebuah teras pusat perbelanjaan, aku melihat seorang wanita muda berjalan dengan anggun. Berpakaian merah. Celana panjang yang dikenakannya mirip seperti celana Aladin dalam dongeng seribu satu malam. Gadis itu tertawa riang. Ia berjalan melewatiku bersama seorang  wanita lain. Masih muda. Dari penampilannya, kutaksir mereka mahasiswi. Mungkin teman seperjalanannya menceritakan sesuatu yang lucu.  Mereka tertawa cekikikan.
“Kita duduk-duduk dulu di sini, yuk !” ujar wanita muda itu. Mereka berhenti berjalan. Tak jauh dari tempatku. Keduanya mematung. Temannya langsung berhenti dan menatap berkeliling.
“Ayo, duduklah para gadis,” harapku.
“Wah, asyik juga tempatnya, nih,” balas temannya dengan hati riang. Mereka melangkah pelan. Mencari tempat duduk yang kosong dan nyaman. Suasana teras ini cukup ramai juga. Banyak orang yang sendirian sepertiku, berpasangan atau bersama keluarga menikmati santap siang. Seorang anak kecil berpakaian lusuh menyelinap dari bangku satu ke bangku lain untuk menawarkan tisu yang dibawanya. Aku mengabaikan tawarannya. Aku tak ingin kehilangan dirinya. Momen ini sangat penting untukku.
Permohonanku terkabul. Kedua gadis itu duduk di tenda payung, tak jauh dariku.
“Re, aku ingin memesan makanan. Perutku keroncongan. Sudah waktunya makan siang, nih”
“Mmmh… namanya Re,” ujarku dalam hati. Aku terus menguping obrolan mereka sambil terus memperhatikan Si Baju Merah tanpa aksi yang mencurigakan.
“Kamu mau makan apa ? balas Re. “ Aku juga lapar. Pizza enak. Ayam goreng juga enak. Kita pesan apa, ya Ma? tanya si Baju Merah sambil meminta persetujuan sahabatnya.
“Ayam goreng saja, yuk ! Aku ingin makan nasi nih,” balas wanita yang dipanggil Ma itu. Mereka segera bangkit untuk memesan makanan di kedai ayam goreng.
 Tadinya, aku akan beranjak pergi dari tempat ini. Acara makanku sudah selesai. Namun, gara-gara gadis berbaju merah itu, aku harus memperpanjang acara nongkrongku. Aku segera memesan kopi pada pelayan yang kebetulan lewat. Mataku tak bisa lepas darinya. Penampilan gadis berbaju merah itu menarik. Dia memakai kerudung modern ala gadis-gadis hijaber. Modis. Tubuhnya berisi. Tidak gemuk ataupun kurus. Sedikit lebih berat daripada peragawati. Dia memakai alas kaki dengan hak setinggi lima sentimeter, model wedges yang etnik. Penampilan yang proporsional. Aku menyukainya. Diam-diam, hatiku berbunga-bunga. Perburuan yang menarik.
Tak berapa lama kemudian, Re dan temannya kembali ke kursinya. Re duduk menghadapku. Anugrah. Pucuk dicinta ulampun tiba. Aku bisa memandangi wajahnya yang bercahaya. Rasa bahagia mengalir dalam darahku. Tubuhku lebih bersemangat. Aku menikmati kopi yang lebih terasa nikmat dan manis. Walaupun samar, aku menguping obrolan mereka sambil mengaduk-aduk kopi yang telah kutambahkan gula.
“Laki-laki itu, apa pendapatmu,” kata Ma.
Aku terperanjat.  “Apakah diriku yang sedang mereka bicarakan? tanyaku dalam hati.”Jangan-jangan aku ketahuan telah memperhatikan gadis bernama Re itu sejak tadi,” pikirku. Aku mengubah posisi dudukku. Menenangkan diri seperti maling yang ketahuan aksinya. Mencari alibi Aku segera menajamkan kupingku. Untung, suasana sudah mulai sepi. Hanya suara angin berdesir.
Sejenak, mereka serius. Lalu, tertawa berderai. .”Hatimu bagaimana ? Kamu naksir dia, kan?” tanyanya.
 “Ya, mungkin,Re,” jawab Ma. “Semalam, dia datang lagi ke rumahku. Berbicara dengan ibu. Aku tak tahu hal apa yang dibicarakan mereka. Tadi pagi, ibu menanyakan pendapatku tentangnya.”
“Kamu tahu sendiri kan bahwa dia masih beristri, walaupun katanya, istrinya sedang sakit parah. Diabetes Melitus. Tapi, tetap kan dia masih terikat perkawinan yang sah. Aku tak mungkin menikah dengannya. Aku tak mau,”
“Apa pendapat ibumu?” tanyanya lagi.
“Tampaknya ibu cocok dengan dia. Kalau dia memang jodohmu, siapapun takkan bisa menghalanginya,” balas Ma lagi.
“Wah, restu mertua sudah turun tuh,” jawab Re sambil tertawa renyah. Giginya yang berderet putih semakin menawan hatiku. Cantik.
 Re terus menggoda temannya. Ma melempar tubuh Re dengan bungkus kacang. Mereka kembali tertawa-tawa sampai orang di sekitarnya menatap ke arah bangku mereka. Bangku yang paling ribut. Menyadari sedang diperhatikan oleh orang banyak, kedua gadis itu menahan tawa sambil menutup mulut dengan telapak tangannya. Tak berapa lama kemudian, pesanan pun datang. Mereka terdiam. Kedua gadis muda itu makan dengan lahap. Aku suka cara makan Re. Anggun. Rapi.  Berkelas. Tambahan poin untuknya di mataku.
 Sejak kecil, aku memang selalu dibiasakan cara makan yang tertib. Tidak boleh ada nasi sebutirpun yang berceceran. Ibu akan langsung menegur jika hal itu terjadi. Keluargaku memang masih menaati aturan-aturan lama. Warisan nenek moyang. Tak boleh dilanggar. Itu kewajiban kami.
Re dan temannya telah selesai menyantap makan siang mereka. Keduanya langsung beranjak meninggalkan tempat. Aku terhenyak. Untung otakku cepat bekerja. Setelah membayar kopi, aku segera berjalan mengikuti mereka dengan lantip. Mereka berjalan mengitari pusat perbelanjaan itu. Khas perempuan, melihat dan membeli baju atau sepatu. Akhirnya, mereka memasuki sebuah toko buku yang berada di lantai dua. Kesempatan bagiku untuk berkenalan. Si gadis berbaju merah itu bernama  Raesita Puspitaningsih. Sejak itulah, aku dan Re resmi berpacaran.
Tak terasa  dua tahun hampir berlalu. Aku tak suka dengan gaya hidupnya yang berbiaya tinggi. Itu yang menjadi pemicu pertengkaran kami.
“Kamu harus cari jalan lain, Mas ! Kalau kita mengandalkan hidup pada kesenian tradisional itu, kita akan kelaparan. Uangnya tak seberapa. Hanya cukup untuk sekali makan !” kata Re dengan  bibir cemberut.
“Ini duniaku, Re. Ini kesenanganku,” balasku pendek.
“Kesenanganmu bukan kesenanganku !” balas Re ketus.
“Sabar saja sayang. Sekarang ini, permintaan orang pada kesenian degung memang sedang sepi. Nanti juga pasti ada rejeki lagi,” jawabku mencoba bersabar.
“Sampai kapan, kita harus bersabar, Mas ? Orang zaman sekarang lebih memilih hiburan dengan organ tunggal daripada degung. Apakah kita akan menunggu sampai organ tunggal punah dimakan waktu?” sindir Re dengan ketus.
Selama ini, degung memang  menjadi duniaku. Seni tradisional khas Jawa Barat yang diwariskan orang tuaku. Kini, akulah yang dilimpahi wewenang untuk meneruskan, melestarikan dan mempertahankan kesenian ini agar tidak tergerus zaman. Aku harus bertahan demi semua anggota kelompok sanggar yang dulu telah dibentuk oleh ayahku dengan susah payah. Mereka hanya mampu menggantungkan hidupnya pada kesenian ini. Tak ada degung, tak ada makan. Mempertahankan degung agar bisa menjadi sumber rejeki memang lebih sulit dewasa ini. Kalah bersaing dengan organ tunggal. Dulu, degung selalu ada pada setiap acara perkawinan. Sekarang, orang mulai beralih pada musik yang lebih modern. Lebih murah. Lebih bergengsi dan lebih menarik. Apalagi, jika para penyanyinya berpenampilan nyentrik. Urakan. Bergoyang bagai penari ular. Para tamupun, khususnya kaum adam akan ikut bergoyang sambil nyawer. Bang Rhoma Irama pasti akan mencela, jika beliau melihat hal itu. Seringkali, aku juga merasa miris dan malu jika harus melihat penampilan yang tak terjaga itu. Mereka lebih menjual body daripada suara. Sedangkan degung sebenarnya memiliki nilai-nilai luhur yang tak banyak disadari orang. Sayang, aku tak bisa mengumumkan hal itu pada dunia.
“Mas, dengar kata-kataku tidak ? Kita perlu uang untuk makan. Bayar uang kuliahku. Membeli kosmetikku. Membeli baju. Bahkan rumah yang lebih layak untuk tempat tinggal kita. Aku bosan berdiam diri di rumah terus. Skripsiku hampir selesai. Aku ingin jalan-jalan lagi seperti dulu. Sana, cari kerja yang lebih mapan lagi !,” bentak Re membuyarkan lamunanku.
“Aku sudah berusaha, Re !” jawabku datar.
“Usahamu kurang keras dan gigih. Cari pelanggan sebanyak-banyaknya dong! Jangan hanya satu atau dua orang yang menggunakan jasa degung kita! Pakai otak ! Mikir !” jawab Re lebih tajam.
Mendengar kata-katanya itu. Darahku serasa mendidih. Menggelegak dan menjalar cepat ke ubun-ubun. Ingin rasanya aku menampar mulut wanita itu. Namun, nuraniku masih mampu mengendalikan amarah. Sekarang, dia adalah istriku. Menyesal juga aku menikahinya. Hidupnya yang terbiasa enak, serba cukup dan mudah mendapatkan sesuatu berbalik seratus delapan puluh derajat sejak tinggal bersamaku. Wataknya yang biasa lembut juga berubah tiga ratus enam puluh derajat. Sekarang, dia bagi kucing garong yang manis. Apa-apa duit. Apa-apa duit. Batok kepalanya telah penuh diisi oleh uang dolar yang melambung tinggi, melebihi rupiah beberapa tingkat. Membuat kepalaku pusing tujuh keliling.
“Mas, laki-laki sejati itu harus bisa cari duit yang banyak, supaya anak istrinya bisa hidup enak. Jalan-jalan ke luar negeri seperti para artis. Liburan,” cerocosnya lagi.
“Ya, sabar sajalah, mudah-mudahan nanti, kita juga bisa seperti mereka!” jawabku.
“Jawabanmu sangat tidak kreatif. Sabar. Sabar. Sabaar…,” ujarnya sambil mencibir. Aku langsung membuang muka.
“Kepalamu itu, jangan hanya diisi dolar! Uang. Uang dan uang. Hidup itu jangan hanya mengejar uang! Masih banyak hal lain yang lebih bermanfaat. Kita harus bersyukur masih bisa makan dan memiliki rumah sederhana ini,” kataku gusar.
“Laki-laki itu harus kreatif kalau ingin sukses. Bagaimana akan maju kalau hanya diam di tempat saja? Tuh, contoh Saung Mang Ujo. Mereka bisa menjual seni tradisional sampai mendunia. Mereka menjual angklung pada bule-bule yang berduit banyak.  Mereka bisa pergi ke Amerika. Mereka bisa memberdayakan masyarakat sekitar. Hidup makmur. Pendapatan rutin. Itu hasil berpikir kreatif. Pakai otak cemerlang.” Dia terus mengoceh tak karuan. Menyepelekanku.
“Aku tidak memiliki teman bule. Bagaimana aku bisa menjadikan mereka menonton acaraku atau mengundang kelompok degungku?” jawabku frustasi.
“Mentalmu tempe, Mas! Belum apa-apa sudah menyerah duluan. Bagaimana akan maju kalau seperti itu terus? Kamu bisa menggunakan You Tube. Facebook. Atau kamu pergi saja ke. Saung Mang Ujo. Dapetin tuh bule-bule berkantong tebal! Berkenalan. Silaturahmi. Atau kamu temui bos Saung Mang Ujonya. Nanti, bisa bekerja sama. Teken kontrak,” sanggahnya kesal.
Goooong ….!!! Aku memukul waditra besar yang ada di dekatku.  Suaranya membahana memenuhi ruangan. Pelampiasan emosiku. Aku kesal pada istriku yang selalu menganggap sesuatu itu mudah didapatkan.
“Maaaassss … !”  istriku berteriak keras sambil menutup telinga. Suara gong itu menjadi jeda ocehannya. Aku mulai menata emosiku. Kuatur nafasku yang memburu penuh nafsu angkara murka. Seiring dengan melemahnya suara gong, amarahku mulai mereda. Walau rasa marah dan kesal itu masih tetap ada.
 Setelah itu, aku hanya duduk berdiam diri saja walau kuping dan hatiku masih terasa panas. Aku hanya bersandar pada dinding sambil menerawang jauh. Dinginnya dinding semakin mampu meredakan ketegangan urat sarafku. Mendinginkan hatiku. Aku menatap alat-alat degung yang sudah agak lama teronggok di ruangan ini. Sepi peminat. Bonang. Cempres. Panerus. Jengglong dan Goong hanya mampu duduk melamun seharian di ruang yang sempit dan pengap ini. Sepengap diriku saat ini. Pun para penabuhnya. Mereka sudah mulai frustasi. Sudah lama, asap dapur mereka tak mengepul. Aku tak berhasil mendapatkan orderan manggung. Satu per satu mereka mulai berpikir untuk beralih profesi pada pekerjaan yang bisa menghidupi mereka dengan layak.
“Lebih baik aku berdagang saja, pasti dapat uang untuk makan.”
“Aku lebih baik menjadi sopir pribadi. Dapat gaji bulanan. Penampilan necis. Bawa mobil. Kelihatan keren.”
“Aku lebih baik pulang kampung. Mengurus sawah dan kebun.”
Obrolan-obrolan seperti itu secara tak sengaja kudengar saat mereka duduk berkumpul sambil membersihkan waditra-waditra ini. Membuat hatiku miris. Jantungku seolah mendapat hantaman godam. Mereka tanggung jawabku. Aku tak ingin mereka bernasib naas seperti itu. Aku ingin mereka bisa hidup dari kesenian tradisional ini. Warisan dan budaya leluhur. Aku ingin degung menjadi sumber kekayaan untuk mereka, sekaya budaya di negri tercinta ini. Namun sayang, aku belum bisa membawa mereka ke arah itu. Nasib seni tradisional ini masih terseok-seok. Saat pikiranku melayang kepada nasib para penabuh waditra ini, istriku tetap berkoar-koar memekakkan telinga.
“Jangan menjual degung pada orang lokal yang kere, tak berduit. Tak mampu menghargai seni. Apa-apa inginnya murah. Barang berkualitaspun dihargai murah. Orang kita memang pelit. Apalagi untuk seni tradisional. Mereka pasti hanya memandangnya dengan sebelah mata. Itu masih untung. Bahkan mungkin lebih banyak yang sudah menutup mata, mengabaikannya. Mereka lebih senang memilih barang dan seni impor. Berapa jutapun pasti akan ditebak tanpa dipikir panjang. Kocek-kocek tebal mereka akan beterbangan melintasi pulau dan benua untuk menonton konser-konser musik dari luar negeri.. Mereka pasti rela duitnya habis untuk itu. Tapi, kalau untuk seni tradisional, waaah ampuuun deh,” ujarnya dengan nada menyindir.
Baru kali ini, aku menerima pendapatnya itu. Dia memang benar. Seni tradisional memang sudah tak dihargai. Seni tradisional telah tergilas seni modern. Seni tradisional hidup dengan lesu tak bertenaga. Hidup segan, mati tak mau.
 “Zaman sekarang, kalau ingin bisa menjual, ya harus berinovasi. Apalagi seni tradisional yang sudah banyak tak dianggap lagi oleh masyarakat kita itu. Tanpa inovasi, dia akan mati. Kamu benahi manajemennya. Pertunjukkannya. Ceritanya. Wawasanmu harus luas, Mas! Jangan hanya berkutat di masalah-masalah yang tradisional saja. Kamu harus mengetahui kebutuhan dan keinginan masyarakat modern sekarang. Kamu juga harus mengetahui segala hal yang mereka sukai. Dari situlah, kamu bisa menciptakan inovasi-inovasi baru. Mungkin kamu, bisa memadukan degung dengan musik modern. Atau, Mas bisa menyajikan pertunjukan degung dalam nuansa yang lebih modern sesuai selera pasar,” ujarnya bersemangat sambil menatapku tajam. Hening.
“Sini, Mas, ikut aku !” ajaknya sambil menarik lenganku dengan paksa. “Cepat bangkit ! Aku punya sesuatu yang bagus untukmu,” ujarnya gusar. Dengan langkai gontai, aku mengikuti dirinya ke dalam kamar. Dia membuka laptopnya.
“Aku baru ingat ini. Aku punya contoh-contoh inovasi itu. Kamu bisa belajar dari sini. Aku mendapatkannya saat mengikuti Konferensi dan Festival Budaya Internasional di Bali,” ujarnya dengan mata berbinar. Matanya bercahaya terang. Cahaya itu memasuki otakku yang membeku. Sesaat kemudian, kami berdua menikmati pertunjukkan gamelan Sunda dalam nuansa yang lain. Rasa marah di hati yang belum hilang, membuatku agak membuat jarak dengannya. Aku melihat Krakatau berkolaborasi dengan musisi Sunda untuk menghasilkan jenis musik Jazz Fussion. Lalu, sebuah grup gamelan degung bernama Degung Dedikasi menampilkan keberhasilan mereka dalam mengkreasikan lagu-lagu pop barat dengan gaya tabuhan gamelan degung dalam sistem tonal.
“Selesai! Bagaimana pendapatmu, Mas?” tanyanya penuh suka cita. Dia menatapku, berharap mendapatkan jawaban. Wajah dan suaranya yang tadi marah-marah berangsur-angsur mulai tenang. Aku tidak memberikan jawaban. Mulut kukunci rapat-rapat. Namun, diam-diam aku suka dengan ide-idenya. Aku balas tatapan matanya. Aku nikmati wajahnya yang ayu. Bola mataku tembus di bola matanya. Aku makin mencintai istriku. Cewek matre yang masih peduli pada seni tradisional. Hidupku. Aku beranjak mendekatinya. Aku memeluknya erat. Urat-urat syarafku mengalirkan rasa sayang yang luar biasa padanya. Istriku, sumber inspirasiku.
“Terima kasih, kau telah mencairkan kebuntuanku. Aku akan berusaha semaksimal mungkin. Aku berjanji akan membuatmu hidup senang. Doakan suamimu dan dukung aku terus, ya! Suamimu. Masmu. Bukan kamu-mu,” kataku lembut sambil sedikit meralat kata-kata terakhirnya. Aku membelai rambutnya. Aku merindukannya lagi.
“Engngng… maaf, Mas,” balasnya sambil mencubit pinggangku. Kemanjaannya muncul. Aku menyukai hal itu. Rasanya dunia ini hanya milik kami berdua.
Matahari berangsur-angsur menyinari rumah kami. Meneranginya dengan kehangatan cahaya yang lembut. Sehangat mentari pagi. Suasana rumah yang semula berkabut, sedikit demi sedikit mulai benderang. Memberikan satu harapan baru. Sebuah kebangkitan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar