Selasa, 28 Juli 2015

RIMBA DAGO



Jalan Dago

Pernah nggak kamu merasa kebingungan di rimba kota ? Gak tahu mau kemana. Mau ngapain. Secara tak disengaja, saya pernah tuh ngalamin kayak gitu. Ibarat komputer yang lagi jalan, tiba-tiba ngehank. Hoalaaah… pake majas perbandingan segala ya. He… he…he…. Gak pa-pa ya, seni bahasa dikit.
            Suatu hari, saya and the girls -gank saya- janjian tuh di sebuah tempat makan pasta yang ada di deket kampus ikonnya Bandung. Hayo, tahu gak nama kampusnya ? Eh, seratus deh untuk pengetahuan kamu ! Yup, kamu benar, kampus Institut Teknologi Bandung alias ITB. Kampusnya presiden RI pertama, lho. Sayangnya, saya telat datang disertai gangguan transportasi yang parah. Macet dan ngetem yang super lama. Alhasil, merekapun keburu bubar dan saya sudah tanggung menuju tujuan. Bingung, kan ?
Pikir punya pikir, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan deh. Untungnya, ada hal lain yang pernah membuat saya penasaran ketika berjalan bersama gank yang lain. Berkah banyak temen, banyak gank. (  Namun, bukan gangster yang menyeramkan ato geng motor yang kriminal itu, ya. Hehehe…. ) Alhasil, hari itu, saya bertekad untuk menuntaskan rasa penasaran itu. Ketika mobil sampai di tempat tujuan, saya melanjutkan perjalanan tanpa henti. Tujuan baru saya adalah daerah atas. Ada yang tahu gak, kira-kira kemana ? Satu… Dua… Tiga… Waktunya habis ! Daerah yang kumaksudkan adalah Dago, tepatnya Simpang Dago. Saat itu juga, saya membuat planning baru. Pertama, menyusuri daerah simpang dago sambil mencari makan siang. Kedua, belanja di Yogya Junction. Ketiga, pulang ke rumah tentunya.
Kuliner di Simpang Dago
Siang itu, saya jelajahi kembali Simpang Dago. Nostalgia. Dulu, bersama sahabat-sahabat saya, kami sengaja datang ke sana demi semangkok es durian yang super nikmat. Ternyata, tempat itu masih ada. Dekat dengan sekolah Darul Hikam. Masih sama seperti tujuh tahun yang lalu. Hah, waktu cepat sekali bergulir. Bangku panjang tempat kami ngerumpies masih belum berganti rupa. Di situlah kenikmatan es durian berpadu dengan manisnya persahabatan. Tambah legit. Sayangnya, saat itu terpaksa melambaikan tangan perpisahan pada es durian, karena batuk.  
Di sebelahnya, ada baso solo yang mengundang selera. Saya pesan semangkok baso, spesial basonya aja kesukaanku. Sambil sekalian mencari keteduhan dari panas mentari dan  beristirahat sejenak.
Setelah agak redup dan pegal kaki hilang, perjalananpun berlanjut. Saya nikmati keramahan dan keramaian simpang dago. Ternyata, sekarang sudah banyak perubahan. Lebih banyak usaha bermunculan. Banyak juga tempat makan yang harganya ringan di kantong. Tempat dulu, kami menikmati makan malam sambil duduk lesehan menikmati seafood juga belum berubah banyak. Ah, seandainya dia mentraktirku lagi ! Dadah seafood ! Kakiku terus melangkah menuruni jalan. Eits… ada tempat minum kopi juga nih. Tempatnya mungil. Dipenuhi kaum adam. Lewat lagi ah, saat ini kopi belum bersahabat dengan perutku ini, walaupun sangat menggoda. Tak terasa, keramaian mulai menghilang. Ada sekolah lagi di sana, namun menjorok ke dalam. Baru kuingat, jalan ini akan tembus ke taman makam pahlawan cikutra. Mau ke sana ? Tidak ah, balik lagi aza !
Perut mulai keroncongan. Heem… enaknya makan apa, ya ? Ah, bebek. Aku merindukannya. Kulangkahkan kakiku kembali menuju simpang dago. Tadi kulihat tempat makan bebek yang sederhana tapi mengundang selera. Hmm… aku harus menyebrang jalan nih. Aku mendatangi rumah makan yang panjang itu. Ada tempat seperti teras, sayangnya terlalu di pinggir jalan. Jadi kuputuskan duduk di dalam saja. Ah, keberuntungan belum berpihak padaku ! Bebek yang kuidamkan sudah laris manis terjual. Yang ada adalah menu ayam dan lele goreng.  Akhirnya, lele goreng komplit menjadi menu makan siangku. Nikmat sekali ! Sambalnya pas. Lalabnya segar. Lele gorengnya renyah. Harganya ringan di kantong. Kenikmatan yang berlipat ganda. Makan di sini seperti zaman mahasiswa dulu. Mencari yang murmer hahaha…. Setelah makan, saatnya menjelajahi tujuan yang kedua. Cuaca sore itu di Bandung sangat bersahabat. Adem. Sayang kalau harus naik angkot. Apa langkah selanjutnya, teman ?

Asyiknya Jalan Kaki
Ya, sore itu, kuputuskan menikmati jalanan dago untuk sampai di Yogya Junction dengan berjalan kaki saja. Menurutku dengan berjalan kaki, kita bisa menikmati suasana Dago dengan seutuhnya.
Aku kembali menikmati suasana kota. Wow ternyata di sini, ada klinik juga, walaupun tempatnya agak masuk ke dalam. Terhalang bangunan lainnya. Ada toko pakaian. Dan sepertinya pasar tradisional juga, jika kita menuruni tangga. Wah ada batagor juga di sini. Sayangnya, perut sudah kenyang. Jadi, batagor bandung yang enak itu hanya kutatap dengan penuh rindu dan sendu. Ternyata simpang dago menyediakan aneka kebutuhan. Makanan berat. Cemilan. Buah-buahan. Pakaian. Asesoris dan lain-lain. Mangga yang mau shopping !
Setelah keramaian itu, saatnya menyusuri the real jalanan dago. Angkot yang ngetem mencari penumpangpun, kulewati. Tekadku sudah bulat. Tetap jalan kaki. Kutapaki trotoar yang berada di bawah keteduhan pohon. Rasanya seperti berada di jalan setapak sebuah hutan. Kuhirup udara segar sedalam-dalamnya. Asyiiikk….
 Sayangnya, kau tak ada di sisiku ! Biasanya, kita berdua asyik menjelajahi kenyamanan kota Bandung. Menyusuri jalan kota yang tertata apik. Atau menyusuri rel kereta api atau jalan-jalan tikus yang kau hapal dengan baik. Kali ini, hanya kunikmati sendiri. Ah, ternyata kukeliru ! Tampaknya cukup banyak juga wisatawan. Ada yang sekeluarga. Backpacker. Berpasangan. Sambil berjalan, mereka juga mengabadikan momen alias selfie dan narsis. Sepertinya, mereka juga bosan berkendaraan, ya? Apalagi kawasan ini identik dengan kemacetan, terutama pada musim liburan.
Kawasan ini terkenal sebagai tempat tujuan wisata belanja. Sepanjang jalan dago atau nama resminya adalah jalan Ir. H. Juanda terdapat banyak factory outlet ( FO ) yang sering menjadi sasaran para wisatawan dari dalam maupun luar kota. Saat musim libur, halaman parkirnya, banyak diisi kendaraan berlabel B. FO-FO itu juga melambai-lambai padaku. Namun, jalan kaki lebih menarik daripada berbelanja sehingga tempat itu kulewati tanpa hati yang masgul. Godaan belanja tersingkirkan sudah, Kakiku kembali menyusuri trotoar dago yang enak sebagai arena berjalan kaki. Hati ini rasanya lapang dan senang sekali.
Wisata Belanja



Godaan tetaplah godaan. Keteguhanku runtuh juga ketika melihat sebuah toko baru, hijab store. Hipnotisnya dengan ampuh menggiring langkahku untuk memasukinya. Tempat dan suasananya enak. Iringan lagu Hadad Alwi menemaniku melihat-lihat koleksi Samaya, nama toko itu. Toko ini cukup luas dan unik. Dalam satu toko ini ada beberapa merk. Tinggal pilih aza sesuai selera dan isi kantong. Lalu, bayar deh di kasir (xixixi…emang mo kabur kemana yah ? ).
 Sayangnya, perjalananku belum bisa berlanjut. Di luar hujan cukup deras. Eh, untung juga aku masuk ke toko ini, ya ! Aku duduk-duduk di bangku yang ada dekat pintu keluar. Kenikmatan lain yang kurasakan saat itu. Mengamati cucuran hujan ternyata juga menyenangkan. Merilekskkan tubuh dan pikiran. Namun, hujan berlangsung cukup lama, udara mulai dingin. Aku kembali menikmati pesona isi toko dan akhirnya membawa oleh-oleh juga. Rejeki mereka kali, ya !
Nah, habis beli baju, hujanpun mereda. Saatnya belanja kebutuhan dapur. Kita bisa shopping di Yogya Junction Jalan R.E Martadinata. Di samping produk lokal, ada juga produk impor. Barang-barang di sini, menurut saya punya kualitas yang berbeda. Lebih fresh sehingga makin mantap dan menambah selera saat kita makan. Seringkali, saya merasa puas berbelanja di sinih. Jadi berasa seperti chef Marinka nantinya. Ups, barang bawaan saya udah banyak nih, ya tinggal pulang aza deh hehehe…
Hari ini, banyak manfaat yang terasa. Baju baru. Kerudung baru. Bahan masakan yang fresh dan berolah raga. Mantaap tenan jjs kali ini. Semakin mantap dengan kutipan ini. Biasa manfaatin jasanya Mbah Google. Simak ya !
Manfaat Jalan Kaki
Aha, ternyata acara setengah hari di Dago itu besar manfaatnya, lho ! Katanya ya, jika kita berjalan kaki dengan rasa senang, maka kita akan jadi orang yang kreatif dan inovatif. Jalan kaki ternyata menjadi fondasi hidup sehat yang murah meriah. Mau, kan ? Ckckckck… masih banyak juga manfaat jalan kaki itu. Nah, supaya kamu termotivasi jalan kaki terus, aku tuliskan kembali manfaat-manfaatnya di sinih yaa :
1. mencegah osteoporosis
2. menyehatkan jantung
3. menjaga kebugaran
4. meningkatkan sistem pernafasan
5. menjaga kestabilan tekanan darah
6. mencegah dimensia
7. meningkatkan kekebalan tubuh
8. meningkatkan vitamin D di dalam tubuh
9. membuat kita bisa tidur lebih nyenyak
10. Jika kita berjalan kaki tanpa alas, hal itu dapat menjadi media refleksi dan yoga kaki
11. menjalin ikatan social
12. menjelajahi lingkungan sekitar.
Tips Jalan Kaki
Di samping manfaatnya, kalian juga bisa menggunakan beberapa tips berikut ini agar berjalan kaki bisa menyenangkan dan menyehatkan mental.
1.      Berjalanlah bersama temanmu.
2.      Berjalan dengan hewan peliharaan.
3.      Pilih lokasi dengan pemandangan yang indah dan menyejukkan mata, serta mudah diakses.
4.      Mulailah berjalan secara santai, lalu secara bertahap tingkatkan kecepatannya.
5.      Pilihlah lokasi yang menanjak juga.
Nah, teman-teman lengkap sudah jjs kita kali ini. Semoga bermanfaat, ya ! Selamat menjalankan sepuluh ribu langkah setiap harinya ! Siap ? Ayo, kita mulai melangkah !

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar