Kamis, 27 Agustus 2015

SISWA HARAM



Siswa Menulis

Bangsa yang maju adalah bangsa dengan masyarakat yang gemar menulis. Menulis menjadi budaya masyarakat yang telah berurat akar, menjadi kebiasaan setiap waktu. Dari sejarah, kita bisa menemukan bahwa negara kita, Indonesia sudah merintisnya sejak zaman dahulu kala. Yang paling diingat adalah tulisan di daun lontar dan batu. Berarti kita sudah maju dong ? Ya, kuharap demikian. Jadi, tugas kita sekarang adalah melestarikan budaya menulis itu. Kita bisa kembali menghidupkan kebiasaan menulis. Setuju, kan ? Ini mungkin yang melahirkan bermunculannya gerakan literasi dan GIMM ( gerakan Indonesia membaca dan menulis ).
Menulis itu gampang. Itu kata Arswendo Atmowiloto. Benarkah ? Namun, kenyataannya aktivitas menulis ternyata banyak dihindari orang. Ada banyak alasan. Tidak punya ide. Malas. Susah. Sudah ada ide dikepala tapi tidak bisa menuangkannya. Tidak punya waktu. Dan sejuta alasan lainnya. Sebagai bangsa yang sudah maju, sejuta alasan itu wajib kita hilangkan. Mari kita menulis lagi ! Mulai dari satu huruf. Satu kata. Satu kalimat. Satu paragraf. Satu karya. Hingga pada akhirnya nanti akan muncul jutaan karya lahir dari tangan kita. Artikel, buku, jurnal, makalah, cerpen, novel, puisi dan sebagainya.
Belajar Menulis
Sejalan dengan itu, maka siswa kuperintahkan membawa laptop. Ternyata mereka antusias. Senang. Rasanya seperti mendapat durian runtuh. Esoknya banyak juga yang memboyong laptop ke kelas. Deg-degan juga sih. Takut hilang. Rusak. Jatuh dan sebagainya. Namun, kutekankan mereka harus belajar bertanggung jawab. Setuju, kan ? Ada juga mirisnya. Ada orang tua yang hanya mengijinkan siswa menggunakan laptop di rumah saja. Wow deh ! Namun, laptop untuk menulis bukan segalanya. Back to nature aza. Kembali ke masa lalu. Siswa bisa menulis menggunakan kertas folio bergaris. Yang penting mereka menulis. Iya, kan ?
Belajar Kelompok
Apa yang harus mereka tulis ? Secara berkelompok, mereka akan membuat sebuah makalah tentang kebahasaan sebagai bahan presentasinya. Di awal kegiatan, sebelum membawa laptop, mereka harus membaca dan memilih satu materi kebahasaan. Sebelum menulis, ada penjelasan tentang sistematika makalah. Karena baru belajar, target kali ini adalah dua bab saja. Tetapi, ada kelompok yang menambahkan kesimpulan. Boleh deh !
Dengan kegiatan ini, siswa terdorong untuk membaca. Mereka terdorong untuk ke perpustakaan. Mereka membawa berbagai macam buku sumber. Lembaran materi dari internet, khususnya dari http://www.gerbangmatahari.blogspot.com.
Setelah beberapa waktu menulis, ada rupa-rupa tulisan. Yang paling lucu sekaligus memprihatinkan adalah munculnya korban copas (copy paste = menyalin). Para pembelajar sejati itu mencantumkan materi internet tanpa diolah kembali. Hasilnya rumusan tujuan seperti ini nih :
8.  … karena daerah terpencil sulit dan jauh dari jangkauan.
Tulisan ini membuat kami ngakak bersama. Bagaimana tidak ? Makalah tentang kebahasaan- konjungsi- nyasar ke daerah terpencil. Namun, inilah sebuah proses pembelajaran menulis. Berawal dari meniru ( copas ) untuk melahirkan sebuah karya original buatan sendiri. Dengan semakin seringnya membaca dan menulis, keterampilan berbahasa itu akan semakin baik. Informasi yang diperolehnya wajib diolah kembali sesuai dengan pemahaman dan kebutuhan tulisan.
      Para penulis professional selalu berkata, “Siswa, copas itu haram hukumnya !”
      “Jangan lupa, cantumkan sumber tulisan agar kalian tidak dicap sebagai plagiator (pencuri gagasan orang lain )”
      “ Tetap semangat dalam menulis ! Jangan menyerah sebelum kalian membuahkan karya !“


2 komentar:

  1. Ini keren sis. Pembiasaan menulis. Sekarang ini banyak yang bisa menulis, tapi tak menularkan ilmunya kepada orang lain. Padahal, kata ustadz, ilmu yang dibagikan akan lebih melekat kepada yang memberikannya. Tak akan pernah berkurang.

    BalasHapus
  2. yup. aku ingin mereka bisa kreatif, suka membaca dan menulis pada akhirnya. mudah2n menjadi kenyataan
    makasih kunjungannya ya, madame Vivera Siregar

    BalasHapus