Selasa, 29 September 2015

Cafe Coffe and Friends : Sensasi Pizza Volcano



Kita pasti senang berwisata kuliner, betulkan ? Namun, tak semua wisata itu berjalan mulus. Karena didera lapar, kita akan masuk ke sebuah tempat kuliner terdekat secara spontan saja. Seringkali kita sampai di restoran dengan makanan yang ternyata sangat mengecewakan. Tertipu harga. Bahkan berkali-kali mengelilingi sudut kota, karena tidak mengetahui tempat makan yang enak dan nyaman. Nah, hal itu akan sirna hanya dengan sentuhan jari saja. Klik. Kuliner yang mengundang selera bisa berada di depan mata. Caranya ? Kita hanya membutuhkan sahabat baru, yaitu Opensnap. Wah, apa tuh ?
            Opensnap merupakan sebuah aplikasi terbaru dari openrice. Dengan bantuan opensnap, kita bisa dengan mudah menemukan restoran terdekat, dan enak dengan mudah. Di Opensnap, kita bisa mendapatkan restoran-restoran yang digemari banyak orang, rasa yang enak atau suasana yang memanjakan mata. Kita tinggal klik saja hal-hal tersebut dalam aplikasi Opensnap. Mudah bukan ?
            Sekarang, ada lima rangkaian feature terbaru dari opensnap. Feature-feature tersebut semakin menjadikan opensnap menjadi referensi kuliner penting dalam keseharian kita. Kelima feature tersebut,  yaitu :
1.      Personalized Your Food App by Bookmark
Feature ini akan menginformasikan restoran, jenis masakan/ makanan yang semakin banyak digemari orang (foodies).  Kita bookmark restoran/ jenis masakan/ makanan favorit kita.
2.      Social visited
Ini sangat cocok untuk anak gaul. Dengan feature ini, kamu dapat melihat teman-teman yang sudah difollow berkunjung ke restoran mana saja. Dengan demikian, kalian akan mengetahui restoran yang paling digemari oleh teman-temanmu.
3.      Map View
Mirip dengan Googlemap, feature ini akan menuntunmu pada lokasi restoran terdekat dari keberadaanmu. Jadi, kamu tidak perlu mengelilingi sudut kota sampai pusing. Tinggal klik restorannya dan langsung meluncur menuju lokasi.

4.      Personalized Your Favorite Location
Di sini, kita dapat mengatur lokasi yang sering dikunjungi untuk menjadi laman terdepan.
5.      Everyone Tab
Feature ini memungkinkan kita di-updatedan terkoneksi oleh seluruh foodie yang berada di suatu kota (misalnya Bandung). Kita bisa mengetahui menu yang sedang mereka makan.
            Dari informasi itu, kita bisa melihat, betapa mudahnya melakukan wisata kuliner. Tinggal klik, cap cus deh ! Aha, kita pasti akan semakin senang berwisata kuliner di suatu kota bahkan lintas kota juga. Tak perlu takut dan bingung! Gunakan sahabat barumu, Opensnap ! Tinggal klik,beres !
            Nah setelah tahu tentang aplikasi review kuliner, saatnya kita bersenang-senang dan makan-makan. Sekarang, kita pergi ke Cimahi, yuk ! Ada satu tempat makan yang sudah lama membuat saya penasaran. Ini dia ceritanya !
            Suatu sore sepulang kerja, saya dan seorang sahabat ingin mencoba sebuah tempat makan yang sedang banyak dibicarakan orang di kota Cimahi. Tempat berkumpul, bersantai, bertukar pikiran sambil makan enak, khususnya pizza. Nama tempat ini adalah Café Coffee and Friends, jalan Encep Kartawirya/ Citeureup 165/47 Cimahi. Awalnya, tempat ini bernama Pizza Tungku. Tempatnya berada di tengah-tengah antara perempatan Sangkuriang – Polsek Cimahi, bersebelahan dengan SD Mawar.
Teman-teman saya sering memperbincangkan sebuah bentuk pizza yang berbeda dari biasanya. Mungkin sedikit aneh, ya ? Kebetulan sore itu, menu idaman tersebut masih ada. Maka, kami segera memesannya. Pizza Volcano isi tuna.
         
Pizza Volcano
  
Pizza Volcano ini bentuknya mirip dengan gunung Batok di kawasan wisata Bromo. Bulat. Di bagian atas, ditusukkan bendera kecil berisi pesanan menu kami. Saat pramuwisma sampai di meja kami, ia menceritakan bahwa pizza ini akan menampilkan suasana yang eksotis saat malam hari. Pizza ini akan mengeluarkan asap seperti saat gunung meletus. Hmm, sayang hari masih siang, jadi sensasi itu tidak bisa kami nikmati dengan kasat mata. Kabut asap terkalahkan cahaya sore yang masih terang.
           
Calzone
Saat itu juga, saya merasa was-was karena pizza volcano ini bisa disantap oleh lima orang. Waduh, kami hanya berdua dan sahabat saya juga telah memilih pizza lain, Calzone. Bentuknya mirip seperti kue pastel. Apa daya, life must go on ! Saya segera mengambil pisau. Ah, bingung harus memotong dimana ? Ada rasa sayang juga, gunungnya hancur. Akhirnya setelah menyingkirkan keraguan itu, saya menusukkan pisau dari tengah atas ke bawah. Kepulan asap tipis mengiringi pisau beraksi. Wah, ada kejutan kedua di sini ! Apa itu ? Cari tahu sendiri saja, ya ! Hehehe….
            Saat mengambil potongan dinding kawahnya, pizza itu terasa renyah. Enak. Gurih. Saat dicocolkan ke saus sambal, sensasi rasanya menjadi semakin mantap. Karena enak, saya ketagihan terus menghabisi dinding kawah itu sambil berbicara banyak hal dengan sahabat saya. Tak terasa, tinggal setengahnya. Stop ! Lalu, saya memotong bagian dasar kawahnya yang berwarna agak kemerahan, berpadu dengan kuning cerah. Bagian dasar ini lebih tipis dari pizza yang umum. Namun, rasanya mirip dengan yang lain. Hanya bumbunya sedikit lebih soft. Lebih Sedikit. Namun, tetap enak dan gurih. Entah, karena lapar sehabis kerja atau rindu pada sensasi pizza, makanan yang bisa buat berlima itu licin tandas juga. Rasanya yang enak dan gurih membuat saya susah melepasnya begitu saja. Selalu ingin hap… hap… hap. Makan, gigit, kunyah sampai habis ! Lebih nikmat lagi dengan kopi picacolonya. Hmmm… semakin susah move on. Makan lagi, yuk !
Healthy Juice

Kopi picacolo
Makan di sini tergolong ringan di kantong. Saat beranjak pulang, banyak anak muda,  mahasiswa berdatangan. Untuk di rumah, tadinya ingin membawa oleh-oleh donat yang menjadi menu baru di sini. Enak juga katanya, lho ! Sayang, donatnya habis diborong orang. Ini kali kesekian, donat pizza tungku belum berjodoh dengan saya. Nanti, ke sini lagi deh ! Selain pizza dan donat, ada juga menu lainnya, aneka pasta dan steak, juga minuman. Penasaran ? Marilah kemari, ke Café Coffee and Friends !
Suasana cafe dan pelayan yang ramahhttp://www.opensnap.com/en/bandung/editor/pizza-rasa-italia


Sabtu, 19 September 2015

PENDIDIKAN BERKUALITAS : PENDIDIKAN NOMOR 1



Pendidikan berkualitas tetap masih menjadi pembicaraan yang menarik. Pendidikan berkualitas masih menjadi tujuan dari proses pembelajaran di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan oleh banyak pihak, sekolah, swasta, maupun pemerintah.
              
Kadisdik Jabar
  Seperti apakah pendidikan yang berkualitas itu ? Banyak aspek yang bisa menjadi landasan pendidikan berkualitas itu. Menurut Kadisdik Provinsi Jawa Barat, Asep Hilman, ada empat hal yang bisa menjadikan pendidikan itu menjadi nomor satu. Keempat hal tersebut adalah :
1.       Proses Pembelajaran Harus Menjadi Suatu Gerakan Budaya
           Ini artinya belajar itu bukan sebuah keterpaksaan. Belajar itu adalah sebuah kebiasaan positif. Siswa belajar karena senang, karena merasa butuh. Siswa belajar berdasarkan hati. Sejatinya, pendidikan itu adalah mengasah hati manusia. Pendidikan itu tidak hanya berorientasi pada otak manusia, tapi juga hatinya. Jika ini terlaksana takkan ada istilah pinter keblinger. 
The Heart of School

          Kembangkan The Heart of School ! Jantung sekolah itu adalah mesjid dan perpustakaan. Pengembangan ini pada akhirnya akan memunculkan budaya literasi, gemar membaca dan menulis. Kedua hal ini merupakan tanda dari peradaban manusia yang sudah maju. Pendidikan memiliki sumbangsih besar pada peradaban manusia.

2.       Guru Profesional
          Kunci dari pendidikan yang berkualaitas itu ada pada guru yang profesional. Guru memiliki niat untuk memajukan pendidikan, memiliki komitmen dan integritas yang tinggi. Apapun yang terjadi, guru tetap memiliki semangat untuk melaksanakan tugasnya dengan baik.
          Ada empat tipe guru, yaitu :
a.       Pengamat analitik :
     Guru yang hanya mampu berkeluh kesah, mengkritik tetapi tidak memiliki kontribusi yang positif. Istilah awamnya adalah omdo ( omong doang ).
b.      Guru gagal :
     Guru seperti ini biasanya malas dan tidak bertanggung jawab,  sehingga sering meninggalkan kewajibannya dan tidak memiliki kontribusi positif pada dunia pendidikan.


c.       Guru yang tidak terarah :
     Guru seperti ini rajin, bertanggung jawab, loyal, tetapi tidak memiliki visi. Guru dengan tipe seperti ini dapat berkontribusi positif setelah diberi pengarahan atau pelatihan.
d.      Guru Ideal :
     Guru tipe ini merupakan pertemuan antara abstraksi  dan komitmen yang tinggi pula.

3.       Networking
Pendidikan yang berkualitas atau nomor satu itu takkan bisa terpisahkan dari sebuah                      jaringan, komunitas, pertemanan dan sejenisnya. Sekolah wajib bekerja sama dengan pihak lain untuk meningkatkan kualitasnya tersebut.
Kepala sekolah harus bisa menjadi dirigen angklung yang sukses. Hal tersebut bermakna bahwa seorang kepala sekolah itu harus mampu mengarahkan warga belajarnya yang berbeda-beda pada satu tujuan yang sama, yaitu keberhasilan pendidikan. Semua perbedaan itu diterima dan dikembangkan demi sebuah kemajuan dalam proses pembelajaran. 

4.       Kreatif
          Orang kreatif itu bagian dari sikap optimis. Orang yang optimis akan tetap bertahan dan berjuang pada rintangan yang menghadangnya. Sebaliknya, orang yang pesimis akan tetap berkeluh kesah sekalipun yang datang adalah peluang bagus.
          Banyak hal yang harus diciptakan, dikondisikan dan dilakukan untuk meraih pendidikan yang berkualitas itu. Orang bilang menjadi nomor satu itu pasti mengalami proses, perjalanan panjang dan perjuangan. Tak akan ada kesuksesan tanpa usaha keras di dalamnya. Pertanyaannya adalah : Siapkah kita menerima, melakoni dan memperjuangkannya sampai puncak keberhasilan ? Jika pendidikan ingin berhasil, harus ada kerja sama dari semua pihak. Setuju ? Yuk, kita mulai dengan perjalanan ini !

Senin, 14 September 2015

VELBEL DINNER

Hidup untuk makan atau makan untuk hidup ?
Rasanya konsep diskusi masalah kebahasaan beberapa tahun lalu ini masih relevan dengan realita kehidupan sekarang ini. Siapakah manusia yang tak makan sepanjang hidupnya ? Makan itu sebuah pilihan. Kita ingin makan segalanya atau memilih makanan tertentu ? Kita ingin asal makan atau ingin makan secara sehat ? Kita sendiri yang menentukannya atau lingkungan pun bisa mempengaruhi pola makan kita.
            Ada kecendeungan gaya makan dewasa ini mulai mengalami perubahan. Prinsip makan yang hanya sekedar kenyang, sekarang berubah menjadi pola makan yang sehat. Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat. Diet. Selektif memilih makanan. Mengkonsumsi produk tertentu yang berlabel sehat dan lain sebagainya. Gaya atau pola makan sehat ini mulai berkembang dan saling mempengaruhi. Penyebaran gambar melalui media sosial, obrolan antarteman, iklan dan sebagainya. Tampaknya sosialisasi dan proses membumikan pola makan sehat takkan pernah berhenti.
            Kini, di Bandung, ada tempat makan yang juga mengarah ke arah itu. Velbel Project berusaha untuk menyebarkan gaya makan sehat tersebut melalui sistem pesanan/ catering. Dengan dukungan ahli nutrisi dari Swedia dan keahlian Chef Mella Susantika, Velbel Project berusaha menyediakan menu-menu sehat yang tetap berasa di lidah. Makanan yang disajikan diolah tanpa digoreng dan dibumbui dengan rempah-rempah (herb) khusus.
            Saat dinner di Velbel Project, saya mencoba tiga menu makanan. Bagi saya, dinner saat itu benar-benar menjadi sebuah tantangan baru. Rasa yang tak biasa di lidah dan cara pengolahan yang agak berbeda lumayan memberikan sensasi khusus di lidah. Berbeda dengan masakan Indonesia yang kaya dengan bumbu, boleh dibilang sajian menu Verbel lebih menggunakan bumbu yang minimalis. Menurut kebiasaan makan, saya lebih senang dengan makanan yang digoreng. Rasanya maknyus bingits. Namun, dinner kali itu, tak ada satupun makanan yang digoreng. Walah ! Sempat ragu untuk mencicipi. Tapi, akhirnya, prinsip maju terus pantang mundur kuterapkan. Ajaib, lidah saya bisa menerima masakan yang berbeda dari keseharian saya itu. Tetap enak di lidah. Terasa ringan dan mengenyangkan. Mau tahu menunya ? Ini dia.
           
Pertama-tama, saya diberi suguhan appetizer berupa Smoked Salmon with sour cream and Fennel. Beberapa irisan ikan salmon yang terasa segar dengan rasa jeruk lemon diletakkan di atas roti gandum. Kemudian, diberi hiasan cream dan batang fennel.

            Kedua, sajian menu utama atau main course-nya berupa Tenderloin Steak Sheared and Fresh Herb and Carrot Puree. Kali ini, saya serasa jadi bule. Makan tanpa nasi. Hanya sepiring steak yang dimakan dengan wortel lembut. Gurih dan manis bercampur di lidah.

            Untuk menetralkannya, suguhan berikutnya berupa minuman bening bernama Virgin Mujito. Minuman ini kurang terasa jeruknya. Rasa soda lebih mendominasi.

            Sajian terakhir adalah, Strawberry Chocolate with Cream Cashew. Rasanya manis, asam dan gurih. Buah strawberry yang merah dibalut coklat yang masih meleleh. Disantap bersama  bread whole dan campuran cream, coconut oil, kacang mede bubuk dan daun mint yang halus sekali. Daun mint memberikan sensasi khusus yang menyegarkan dan memunculkan aroma yang menggoda.
           
Chef Mella Susantika
Sajian makan malam tersebut boleh dibilang sebagai upaya untuk menjaga kelangsingan tubuh, karena porsinya sedikit, mengandung serat dan tetap bervitamin. Hal ini mungkin sesuai dengan pengetahuan Chef Mela tentang cara makan yang sehat. Untuk sarapan sebaiknya berupa buah-buahan dan kacang-kacangan. Makan siang bisa lebih berat dan makan malam harus lebih ringan.
            Jadi, kalau Anda ingin makan sehat, Velbel Project bisa menjadi pilihan. Kelebihan lainnya, kita juga bisa mendapatkan konsultasi nutrisi untuk kebutuhan kita. Termasuk juga jika kita menderita penyakit khusus. Tim Verbel Project akan menyesuaikan menu dan kandungan nutrisi sesuai dengan anjuran dokter.

Informasi Tempat :
Velbel Project
Jalan Bagusrangin no 21 A Bandung, Indonesia 40135
Chef : Mella Susantika
mella@velbelproject.com
Web  : velbelproject.com


            

Senin, 07 September 2015

MISI ORANG TUA



Siang ini, secara tiba-tiba saja saya diajak berkunjung ke rumah teman. Karena kangen, kupenuhi  juga ajakan itu. Tak memakan waktu sampai satu jam, kami tiba di rumah tersebut. Banyak perubahan yang terjadi. Suasana rumah semakin membuat kami betah berada di sana, seperti sedang berlibur di sebuah villa. Kami asyik berbincang-bincang sambil menunggu kedatangan sahabat yang lainnya. Ah, keceriaan mewarnai siang yang terik itu.Semilir angin yang lembut menyejukkan tubuh kami yang kepanasan dalam perjalanan tadi.  Di sela-sela obrolan, muncullah sahabat yang ditunggu-tunggu itu. Beliau diantar oleh anaknya.
              
  Ada satu momen yang membuat saya ingin mengisi blog ini lagi. Detik itu, baru kusadari peran penting orang tua. Selama ini, orang tua hanyalah sebagai formalitas, sosok biasa dalam kehidupan anak atau keluarga, bahkan mungkin sebuah keterpaksaan akibat kecelakaan.  Namun, dalam obrolan siang itu, aku bisa menemukan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang juga ingin kubagikan di sini.
                Orang tua sebagai pendamping anak memang sudah biasa. Orang tua membesarkan anak-anaknya. Menyekolahkan anak-anaknya. Mendidik mereka. Menasihati mereka. Memberi makan. Memberikan pakaian. Dan sejuta kebutuhan lainnya. Hal-hal seperti itu sudah menjadi rutinitas orang tua bagi anaknya. Tak ada yang istimewa. Suka duka mereka lalui selama bertahun-tahun. Susah senang mereka lakoni untuk kehidupan anaknya. Sampai tiba akhir waktu mereka. Entah berapa lama.
                Setelah perjuangan yang panjang itu, apa hasil yang mereka dapatkan ? Kesepian di masa tua. Kebahagiaan di masa tua. Kesenangan hidup di masa tua. Penderitaan sampai akhir hayat. Begitu banyak nasib berbeda yang menimpa orang tua itu. Melegakan atau menyesakkan. Semua itu sebenarnya tergantung dari usaha mereka sejak awal.
                Menjadi orang tua memang tidak mudah. Ada misi khusus. Hal pertama yang harus ada dalam diri mereka adalah keikhlasan dan kebesaran hati. Inilah modal dasar yang wajib dimiliki. Tanpa ini, mereka mungkin akan frustasi di tengah jalan. Selain itu, orang tua juga membutuhkan ilmu. Membesarkan anak-anak perlu panduan yang jelas agar kelak terpetik buah yang manis.
                Perlu disadari oleh orang tua bahwa anak itu terdiri dari aspek fisik dan psikis. Jasmani dan rohani. Orang tua yang hanya mengedepankan aspek jasmani saja, boleh dibilang berada di jalur yang salah. Sebaliknya, orang tua yang hanya mengedepankan aspek rohani saja juga berada di rel yang tidak benar. Keduanya harus seimbang. Namun, orang tua perlu memberikan penekanan lebih pada sisi mental anak. Menurut saya, inilah kunci keberhasilan orang tua dalam membesarkan anak-anaknya. Mental merupakan roda penggerak kehidupan anak selanjutnya dan selamanya. Seperti pepatah lama : Di dalam fisik yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.
                Dalam obrolan antara anak dan ibu sore itu, ada bukti yang nyata. Sang ayah hanya mampu membiaya kuliah satu orang anaknya saja. Padahal orang tua itu dikaruniai tiga orang anak. Dua putra dan satu putri. Saat itu, ayah dan ibu memang memiliki keterbatasan ekonomi. Selama bersekolah, anak-anak mereka tidak dibekali uang jajan dan ongkos yang cukup. Alhasil, anak-anak itu harus pandai berstrategi dan melakukan penghematan abis-abisan. Namun, sang anak tetap bisa menerima keadaan tersebut. Selanjutnya, saat akan kuliah, salah satu anaknya berusaha mencari solusi sendiri. Berstrategi mencari sekolah yang dibiayai negara untuk meringankan orang tuanya. Dari sanalah awal kesuksesan itu dirajut.  
     “Si Ibu mah pelit sekali, Bu saat saya bersekolah dulu. Seringkali, saya tak punya cukup uang jajan,” kata sang anak kepada kami.
     “Eh, AA…  Ibu kan tidak mau memiliki banyak hutang. Ke sana. Ke sini. Jadi kita harus berhemat,” jawab sang Ibu.
Kami yang mendengar dialog-dialog itu tertawa menyaksikan dialog lucu kenangan ibu dan anak. Masa-masa merih kalau istilah dalam bahasa Sunda mah. Perjuangan yang membuahkan keberhasilan.
Kekurangan orang tua bisa disikapi secara bijak oleh anaknya. Menghadapi kesulitan keuangan itu, sang anak tidak berputus asa. Tidak marah-marah. Tidak mencari jalan pintas. Namun, berusaha mencari solusi yang terbaik. Hal seperti ini, membutuhkan mental yang luar biasa. Orang tua, memang harus memberikan pendidikan mental yang baik. Mental yang positif, akan melahirkan solusi yang positif pula.
Pendidikan mental harus dimulai sejak anak berada di dalam kandungan. Banyak cara yang bisa dilakukan. Diperdengarkan lantunan ayat suci. Diperdengarkan lagu-lagu klasik. Pada usia balita, diberikan contoh-contoh yang baik. Diberikan dongeng-dongeng yang menginspirasi. Pada masa anak-anak, dibekali dengan pendidikan agama yang bagus. Tunjukkan realitas kehidupan ! Di masa remaja,diberi tanggung jawab. Diajak berdiskusi menyelesaikan permasalahan. Dilatih menjadi pemimpin. Di saat dewasa, biarkan mereka yang menentukan nasibnya sendiri. Orang tua berada di belakang mereka sebagai penasehat atau pengamat.
Hidup itu memang tak mulus. Menjadi orang tua itu susah-susah gampang. Namun, keberhasilan tentunya menjadi tujuan utama dalam mendidik anak.Oleh karena itu, tugas orang tua  hanyalah memberikan yang terbaik pada buah hati kita. Orang tua perlu berstrategi. Orang tua harus objektif. Jauhkan egoisme dan pemaksaan kehendak. Ibarat layang-layang, orang tua harus pandai menarik dan mengulur benang agar layangan itu tak jatuh atau disambar orang.  Itulah sekelumit kisah misi penting orang tua dalam kehidupan anak-anaknya. Semoga bermanfaat !