Senin, 11 Januari 2016

DONGENG PAGI

Pagi ini, awan sedikit menghitam. Apakah itu kabut asap seperti berita-berita yang sedang trend belakangan ini ? Entahlah. Yang jelas, pagi ini di saat musim kemarau, tapi cuaca seperti ada di musim penghujan. Matahari yang biasa garang menyengat tampak melunak. Pagi yang biasa terang terlihat seperti mendung.  Apakah awanpun menangisi kondisi alam yang sudah rusak parah akibat ulah dan keserakahan manusia ? Apakah awanpun menangisi para korban kabut asap yang mulai berjatuhan satu per satu, mulai dari balita ?
Entahlah. Yang jelas, burung-burung pagi ini masih bernyanyi riang. Bercengkrama dengan sahabat-sahabatnya di atas rentangan kabel listrik dan telepon yang ada di kotaku. Sebagian lagi, beterbangan menyambut awan yang sedang berduka, mendung. Kulihat burungpun tak seriang tahun lalu. Kulihat mereka menanggung beban kesedihan. Kicauannya tak seriang tahun-tahun sebelumnya. Parau. Mungkinkah mereka sama dengan  awan ?
 Entahlah. Yang jelas jalanan pagi ini sedikit sepi. Tak seramai dan sepadat kemarin, ketika banyak warga merayakan kemenangan Persib. Mobil hanya lewat satu-satu dengan kondisi kosong atau hanya satu, dua penumpang. Tak sepadat tahun-tahun sebelumnya. Jalannya pun tak secepat tahun lalu, seolah-olah mereka takut mengotori awan yang sedang berduka. Enggan menambah kabut gelap dari tubuhnya. Namun, mereka harus tetap berjalan demi memenuhi hajat tuannya. Dilemakah mereka ?
Entahlah. Yang jelas orang-orangpun tak sebahagia dulu.  Biasanya mereka menyambut pagi dengan riang. Mengelilingi tukang bubur untuk mengisi perut mereka yang kosong. Celotehan tukang bubur yang berkumis tebal itu membuat pagi dipenuhi gelak tawa dan canda ria. Namun, kini, keriangan itu menguap berganti dengan sepi yang tak berujung. Melukiskan kesedihan tukang bubur yang kehilangan pelanggan. Melukiskan pelanggan yang meratapi kekosongan kantong baju mereka. Recehpun susah didapatkannya. Apakah mereka sesedih awan ? Entahlah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar