Sabtu, 30 Januari 2016

IBU, JIWAKU HAMPA



Aku melangkah gontai seusai pulang sekolah. Bagiku, hidup di neraka akan berjalan. Bagiku, rumah adalah penjara bisu yang selalu mendekap erat. Kebisuan selalu terjadi. Kesepian menjadi hiasan abadi. Aku hanya seorang diri. Membuka kulkas. Menggoreng ayam atau telur. Memasak nasi atau mie. Makan sendiri di meja kayu yang luas.
            Ibu, kejadian ini selalu berulang. Aku tak pernah menemukanmu di sana. Aku tak pernah mendapatkan sambutan hangatmu setiap pulang sekolah. Tak ada pelukan hangat. Tak ada teguran sayang. Kekosongan dan kekosonganlah yang selalu setia menemani. Hutan beton inilah yang selalu menjadi sahabat sejatiku setiap hari.
            Ayah, ah engkau entah berada di mana. Dunia ini terlalu luas untuk kujelajahi. Entah berapa juta dolar yang kau cari. Kau selalu pergi meninggalkanku. Aku tak bisa menanyakan pr fisika atau matematika. Telepon genggammu selalu sibuk. Pesan singkatku sampaikah padamu ?
            Suatu hari, engkau membayar dosamu. Seusai sekolah, saat kubuka pintu, kutemukan sepucuk surat. Terinjak olehku. Amplopnya berwarna merah muda. Inikah kasih sayangmu ? Segera kuberlari menuju meja kayu yang luas itu. Aku membacanya sambil membayangkan ibu dan ayah mendampingiku. Berada di sisiku. Memelukku erat penuh kasih. Menampakkan senyum bahagia di wajahmu.
Nak, ayah punya sesuatu di kamarmu. Ini hadiah ulang tahun spesial dari ayah
dan ibumu. Dua hari yang lalu, kami berunding untuk memberikan kawan
baru untukmu.
Dan inilah yang akan menemanimu di saat ayah dan ibu larut dalam kesibukan.
Semoga kau selalu bahagia bersamanya !
Salam sayang,
Ayah & Ibu

            Bagai kilat, aku segera menuju kamar. Di balik pintu, kutemukan sahabat baruku. Komputer lengkap dengan asesorisnya. Juga beberapa video games. Dengan antusiasnya kunyalakan teman baruku. Dia tersenyum senang. Aku bahagia. Ayah, Ibu, aku punya kawan baru di rumah ini.
            Sejak keesokan hari dan minggu-minggu berikutnya, aku tak kesepian lagi. Aku menemukan kebahagiaanku. Sahabat baruku memang sangat peduli dan perhatian padaku. Dia memberikan segala yang kudambakan selama ini. Penghargaan, pertemanan, kegembiraan, keceriaan, tantangan, dan berbagai kesukaan lainnya. Segala pemberiannya itu kubalas dengan totalitas.
            Ayah. Ibu. Kalian selalu tak ada untukku. Namun, kawan baruku ini selalu menemaniku setiap waktu. Bahkan di saat jam tidur malamku. Aku tak bisa lepas darinya. Semakin hari, kami semakin lengket, seperti perangko. Kian lama, aku semakin tak tega meninggalkannya sendirian, membisu di kamarku. Aku bisa merasakan penderitaannya. Sama sepertiku dulu. 
            Ayah, Ibu, sejak detik itu, aku tak pernah sedetikpun meninggalkannya. Aku selalu ingin bersamanya. Kami selalu bermain bersama. Kami selalu bergembira bersama. Dia membawaku menjelajahi dunia lain, yang tak penah kukenal sebelumnya. Dunia itu sangat menyenangkan ! Membuatku terlena. Ayah, Ibu, aku tak ingin kehilangannya !
            24 jam aku selalu berdampingan dengan kawanku itu. Aku lupa dengan segala kecemasanku. Aku lupa dengan segala masalahku. Aku lupa dengan deritaku. Aku lupa dengan tugasku. Aku lupa dengan sekolahku. Aku lupa dengan segala kewajibanku. Aku lupa dengan segala kebutuhanku. Dia segala-galanya bagiku sekarang dan selamanya ! Games adalah hidupku ! Aku sangat mencintainya.
            Ayah, Ibu, kudengar kalian mencemaskanku ? Tak mungkin ! Kalian pasti tak punya waktu untuk itu. Materi adalah segalanya bagi kalian. Hal paling penting untuk kalian. Hal yang paling berharga untuk kalian. Materi itu adalah hidup kalian.
            Ayah, Ibu, katanya kalian membawaku berobat ? Mustahil ! Dulu, ketika aku sakit betulan, kalian menyuruh Si Mbok membawaku ke dokter. Kalian tak pernah ada untukku. Bahkan, di saat aku sangat membutuhkan kehadiran kalian !
            Ayah, Ibu katanya kalian takut aku mati ? Jangan pernah mencemaskanku ! Kawan baruku akan selalu memberikan seribu nyawa untukku ! Dia selalu siap sedia untuk menolongku. Bahkan, di dalam kondisi kritis sekalipun ! Ayah, Ibu berterimakasihlah padanya ! Dia telah mampu menggantikan peranmu mengasuhku ! Dia telah mampu membunuh semua kesepianku ! Dia telah mampu membahagiakanku !
            Ayah, Ibu mengapa kalian tersedu-sedu ? Mengapa kalian datang ke pusara baru ? Mengapa kalian mengelus-elus papan nama bertuliskan namaku ? Hah ?! Namaku ? M. Azzam Hasanudin bin Hanggoro Putro. Ayah, Ibu aku ada dimana sekarang ?

Ide Cerita :
 Kisah inspiratif dari Kang Mumu Kakatu dan Bunda Eli Risman pada Seminar Parenting : Kiat-kiat Memahami dan Melindungi Anak dari Bahaya dibalik Kecanduan Games
Kamis, 14 Januari 2016
Gedung FK UNPAD
Jalan Eykman no 38 Bandung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar