Senin, 14 Maret 2016

BELAJAR MENULIS DARI SEBUAH RUMAH

Raja Lubis withAnggota baru FFBComm 
                 Kamu pasti tak asing dengan Festival Film Bandung (FFB), bukan ? Nah, Sabtu kemarin, kami – Blogger Bandung – berkesempatan mengunjungi sekretariatnya di jalan Zamrud 21, Buah Batu Bandung. Ada apa gerangan ? Menurut salah seorang pegiatnya, Raja Lubis, FFB bermaksud mengembangkan komunitasnya. Dengan tergabung dalam komunitas ini, ada banyak manfaat yang bisa kalian dapatkan. Kamu bisa menjadi tamu khusus di FFB, menjadi sukarelawan, mendapatkan banyak pelatihan: menulis scenario, pemeranan dan masih banyak lagi hal positif lainnya. Jadi, rugi rasanya, kalau kamu tak ikut aktif dalam komunitas ini. Sayang, jika begitu banyak kesempatan emas dilewatkan begitu saja. Jadi, mari kita bersama-sama bersenang-senang di komunitas Festival Film Bandung ( FFBComm ). Kalau ingin bergabung, ke sini aza !
            Nah, entah disengaja atau tidak, kunjungan pertama itu sejalan dengan pelatihan menulis yang diberikan oleh Agus Safari. Beliau ini sudah aktif di FFB sejak tahun 2007. Beliau juga merupakan penulis buku berjudul Dongeng dari Negeri Kerdil. Yeaayyy… di akhir pelatihan, kami mendapatkan buku ini ! Asyiikk, kaaan ?
Pak agus memberikan materi pelatihan
            Siang itu, para Blogger Bandung diberikan pelatihan menulis dengan tema Mengenal Jati Diri Melalui Tulisan. Dalam pelatihannya ini, kami diajak untuk menjelajahi sebuah rumah. Unik, bukan ? Bagi saya, ini sebuah pelatihan dengan gaya baru. Pertama-tama, kami diajak untuk membuka pintu pagar. Lalu, pintu rumah inti. Selanjutnya, ketika sudah berada di dalam rumah, ternyata banyak pintu-pintu lain yang harus dibuka juga. Semakin banyak pintu, maka kreatifitas kita semakin ditantang.
Blogger Bandung, peserta pelatihan
            Langkah awal yang harus kami lakukan adalah menceritakan pengalaman yang berbahagia kepada pasangan kita melalui sebuah permainan. Lalu, menuliskan kegiatan dan pengalaman yang kita lakukan hari itu. Mulai dari bangun tidur sampai jelang pelatihan di jalan Zamrud tersebut. Kami melakukan hal tersebut dalam jangka waktu yang cukup singkat, kurang dari sepuluh menit.Seolah-olah, saat itu, saya dan teman-teman berada pada pelatihan ESQ. Kami diajak untuk melakukan Inner Journey ( perjalanan ke dalam diri sendiri ).
Serius dan asyik, kan 
            Dari kegiatan-kegiatan tersebut, sebenarnya kami diarahkan untuk menjadi penulis sejati. Seorang penulis harus mengenal dirinya sendiri secara baik. Dengan itu, kita bisa menuangkan tulisan secara jujur, bermanfaat dan menyenangkan, walaupun hal yang harus disampaikan itu pahit. Penulis harus smooth ( halus = antonim dari kasar ). Selain jujur, tulisanpun harus jelas, singkat, dan aneka ragam. Dengan cara seperti itu pulalah, kita bisa menggunakan bahasa yang akamiah, biasa, wajar dan sederhana.
            Penulis juga harus cerdas. Ada yang tahu maksudnya ? Kita harus mengubah paradigma berpikir ! Biasakan untuk menyampaikan ide itu secara bernas, mulai dari kesimpulan, alasan dan pendapat. Bukan sebaliknya ! Selain itu, tulisan  juga harus disertai dengan data, fakta dan kreatifitas. Perbandingannya data dan fakta ( 50% ), kreatifitas ( 50% ). Itu minimal, lho ! Selanjutnya ? Terserah Anda ! Boleh 10% - 90%. Ini berarti kita menggabungkan kemampuan otak kiri dan otak kanan. Keren, kan ?
            Nah, sebagai penutup, ingat ini, yuk ! Penulis itu wajib mengembangkan kepekaan sosial dan membuka daya bukan gaya. Daya juang dan daya kreatifitas. Jika demikian, maka penulis akan terus mencari ide-ide kreatif untuk tulisan-tulisan berikutnya sepanjang hayat di kandung badan.

            

Jumat, 11 Maret 2016

CERPEN OLIN

OLIN DI NEGERI BATU
“ Olin !”
“Olin!”
“Olin, bangun !”
            Cecilia dan Kristin berusaha menyadarkan Olin, temannya. Olin mulai membuka mata. Terdiam sebentar. Lalu duduk. Dia memandang sekitarnya. “Dimanakah kita ?” tanyanya bingung.
“Entahlah, kami juga belum tahu,” jawab Cecilia dan Kristin berbarengan.
“Mungkin kita dilahirkan kembali di Negeri Batu,” balas Cecilia yang percaya reinkarnasi.
“Dilahirkan kembali ? Memangnya kita sudah mati ?” tanya Kristin agak kalap. “Aku belum mau mati !” ujarnya lagi. Kristin mulai histeris.
“Tenang, Kristin ! Tenanglah ! Kita masih hidup !” kata Olin sambil mencubit lengan Kristin.
“Auw… sakiiit !” jeritnya kesakitan.
“Tuh kan, masa orang mati bisa merasa sakit,” jawab Olin tenang.
Ketiganya terdiam. Mengamati sekitar. Mereka terdampar diantara dua buah batu besar. Yang sebelah kanan tinggi menjulang, sedangkan yang sebelah kiri lebih besar dan sangat lebar. Langit terlihat lebih kelabu. Mirip seperti sehari sebelum gerhana matahari total. Mereka bertiga bangkit. Lalu, berjalan sambil mengobservasi situasi. Tak ada seorangpun di sana. Hanya mereka bertiga. Mereka melangkah menuju sebuah ruangan kecil. Ada tulisannya di sana. Mushala.
“Wah, gawat ! Jam berapa ini ? Aku belum shalat ashar,” kata Olin kaget. Ia segera bergegas ke pancuran kecil yang ada di ujung mushala dan segera melaksanakan kewajiban muslimahnya. Kristin dan Cecilia menunggu di luar mushala.
“Kita duduk di sana, yuk !” ajak Kristin. Keduanya segera menghampiri dua bangku kecil yang terbuat dari batu. Mereka duduk di bawah pohon besar yang rindang. Cuaca terasa sejuk dan adem.
“Apa yang kamu rasakan sekarang, Lia ?” tanya Kristin pada Cecilia.
“Hmm, aku merasa nyaman di sini. Entahlah, tempat ini serasa dekat dengan diriku. Aku merasa tak asing dengan tempat ini. Seperti ada ikatan khusus. Entahlah ! Namun, aku tak tahu kita sedang berada di mana. Sepertinya, kita memiliki misi khusus di sini !” jelas Cecilia.
“Kamu sendiri bagaimana ?” Cecilia balik bertanya.
“Ya, aku juga seperti itu. Aku merasa aman di sini. Perasaanku mengatakan bahwa kita berada di sini, karena ada tugas khusus juga. Tapi, entahlah,” jawab Kristin sambil mengangkat kedua tangannya.
Mereka berdua terdiam. Kembali mengamati tempat mereka berada kini. Tak ada petunjuk.  Tak ada rumah. Hanya ada sebuah dinding panjang dengan tonjolan berbagai macam bentuk batu di depan mereka. Juga sebuah  lapangan mirip tempat main sepak bola yang ditumbuhi rumput hijau segar.
“Hai, kita mau kemana sekarang ? Mau tetap di sini ?” Tiba-tiba Olin datang.
“Sebaiknya, kita mencari tempat berlindung. Sebentar lagi malam. Kita tidak tahu cuaca atau bahaya yang ada di malam hari,” saran Kristin.
“Kita telusuri tempat itu, yuk!” ajak Olin.
Tiga sekawan itu mulai menjelajahi tempat baru mereka. Menyusuri tembok panjang. Berharap bisa bertemu dengan seseorang atau rumah penduduk.
“Hei, lihat ! Aneh ya, pohon dan batu itu. Keduanya kompak miring ke kiri !” tunjuk Olin. Kedua sahabatnya mengiyakan. Mereka melewati batu-batu besar lagi.
“Sepertinya, itu sebuah pintu gerbang, ya?” kata Olin lagi ragu. Mereka mendekatinya.
“Hei, itu sidik jari siapa ? Besar sekali !” ujar Cecilia sambil menunjuk ke atas. Klik. Olin dan Kristin menggeleng.

“Kita masuk  ke sana ?” tanya Kristin.
“Perasaanku mengatakan kita harus menyebrangi jembatan itu !” jawab Cecilia sambil melihat ke sebelah kiri.
Mereka segera belok kiri. Ada batu kotak besar dengan lingkaran-lingkaran aneh di atasnya. Mereka melewatinya dan segera bergegas menuju jembatan. Takut kegelapan menyergap mereka di tempat asing dan terbuka ini. Langit mulai memerah.
“Lingkaran tadi apa maksudnya, ya?” tanya Olin.
“Entahlah. Betapa banyak misteri di tempat ini, ya!” ujar Cecilia.
“Hei, lihat ada sebuah bangunan di depan sana  !” kata Kristin.
“Ah, akhirnya. Mudah-mudahan ada seseorang yang bisa membantu kita !” ujar mereka girang.
Dengan semangat, mereka menuju bangunan yang mirip seperti rumah panjang di Kalimantan. Hanya bangunan itu berdinding batu dan sebagian lagi lebih benderang. Mereka berkeliling mencari pintu. Ada sebuah ruang kecil dikelilingi tembok mirip kaca tebal. Di dalamnya ada pintu besar yang kokoh. Kuno tapi masih terawat dengan baik. Mirip pintu jati. Tiba-tiba pintu itu terbuka. Ketiganya terlonjak kaget dan mundur beberapa langkah ke belakang. Meeka bisa melihat ruang dalam yang terang dan hangat.
“Masuklah !” kata seseorang dengan suara yang berat.
Mereka bertiga ketakutan. Saling berangkulan. Kaki mereka terpaku dalam di tempat masing-masing.
“Jangan takut, Cicitku ! Masuklah Olin, Cecilia, Kristin !” kata suara itu lagi.
Ketiga sahabat itu saling berpandangan. Heran. Suara itu mengenali mereka.
“Ayo, masuklah ! Kedatangan kalian sudah ditunggu sejak lama. Masuklah ! Kalian aman di sini ! Tak ada bahaya di dalam ! Masuklah, jangan takut !” ujar suara itu lagi.
Olin, Kristin dan Cecilia saling dorong. Tak ada yang mau berjalan duluan. Karena hari sudah gelap, akhirnya, Cecilia memberanikan diri jalan paling depan. Langkah kakinya gemetar. Olin dan Kristin berjalan di belakangnya sambil memegangi bahu Lia, kiri dan kanan. Mereka melewati pintu besar itu. Seiring dengan kaki mereka yang sudah masuk ke dalam ruangan. Pintu itu perlahan tertutup. Ketiganya saling berpandangan. Bingung.
“Ayo, jangan takut, teruslah masuk ! Kalian lapar bukan ?” ujar suara itu lagi.
Mereka bertiga terus melangkah. Masuk ke sebuah ruangan mirip ruang makan. Ada meja panjang di sana. Di atasnya, sudah tersedia berbagai macam masakan. Menerbitkan air liur. Membuat perut mereka keroncongan. Di ujung meja panjang itu, duduk seseorang.
“Kemarilah, Cicitku!” ujar orang itu sambil melambaikan tangan.
Dengan ragu, ketiganya mendekati beliau. Betapa terkejutnya Cecilia setelah melihat wajah orang itu.
“Opa !” teriaknya. Dia berlari menghampirinya. Bersujud di depannya. Lalu, memeluk opanya. Olin dan Kristin mengamati lelaki bertopi itu. Wajahnya putih bersih. Tubuhnya tinggi besar. Kulitnya mulus segar. Mirip para biksu. Meneduhkan. Beliau tersenyum bahagia menyambut cicitnya.
“Mengapa kalian lama sekali sampai di sini ?” tanyanya. “Ah, nanti saja ceritanya. Kalian sudah melakukan perjalanan jauh. Bersihkan badan dulu di sana! Lalu, kita makan bersama. Perut kalian sudah ribut minta diisi makanan,” ujarnya ramah.
Ketiga sahabat itu segera melakukan perintah opa. Setelah itu, mereka duduk dan makan bersama. Setelah tenaga mereka pulih dan perut kenyang, Lia membuka pertanyaan.
“Kami ini, berada dimana, Opa ?” tanyanya.
Kalian berada di Altitude, negeri batu. Jutaan cahaya di atas bumi. Opa sengaja membawa kalian ke sini, karena ada tugas khusus yang harus kalian lakukan di bumi. “Ayo, kita pindah ruangan,” ajak Opa. Mereka berempat bangkit. Lalu, masuk ke sebuah ruangan yang terang. Kedua sisinya menyajikan pemandangan yang berbeda.
“Kedua pemandangan itu adalah gambaran bumi di masa depan. Jika manusia-manusia bumi serakah, tidak mau diatur, egois, maka pemandangan sebelah kirilah yang terjadi. Bumi hancur. Manusia kelaparan. Tak ada pohon. Gersang. Sampah menggunung dimana-mana.”
“Sebaliknya, jika manusia tetap taat pada Tuhannya, saling menghargai, kerja sama, toleransi. Penuh kasih sayang, maka bumi akan damai dan tentram !”
“Sayangnya, keseimbangan itu mulai terganggu sekarang. Manusia lebih cenderung materialistis. Melupakan sisi kemanusiaannya. Melupakan kebaikan. Melupakan kepentingan orang lain. Serakah. Mereka mengejar ketentraman dan kebahagiaan yang semu. Akibatnya, bumi mulai merana. Bumi akan hancur. Bencana akan datang.”
                        Hana nguni hana mangke
                        Tan Hana nguni tan hana mangke

“Nah, tugas kalianlah untuk mencegah hal itu. Kalian harus tetap mempertahankan keseimbangan di bumi ! Untuk itu, kalian akan beberapa lama tinggal di sini untuk diberikan bekal demi tugas suci itu. Setelah siap, kalian akan kembali ke bumi ! Besok, pembelajaran pertama akan dimulai. Sekarang, beristirahatlah.  Kamar kalian ada di sebelah kanan.” jelas Opa panjang lebar.
Keesokan harinya, ketiga sahabat itu sudah berada di ruangan besar dengan lemari-lemari buku. Koleksi bukunya sangat lengkap. Perpustakaan sekolah pasti kalah dengan ini. Di samping itu, ada beberapa komputer dengan bentuk yang lebih canggih dari komputer rumah Olin. Membuat mereka betah berjam-jam, bahkan berhari-hari berada di sana.
Setelah belajar keras, mereka akhirnya memiliki waktu rehat sejenak. Olin lebih memilih baca Quran terbitan Syamil Quran. Cecilia lebih senang membaca kumpulan Cerpen My Destiny terbitan Kaifa. Sedangkan Kristin lebih memilih berselancar di dunia maya.
Setelah menyelesaikan kewajibannya, Olin mengikuti jejak Kristin. Dia membutuhkan banyak informasi tentang berbagai macam hal untuk melakanakan tugasnya nanti. Tantangan berat baginya dan kedua sahabatnya. Namun, mereka bertiga harus siap !
“Hei, asyik yah berselancar di sini. Swing…swing…swing. Tak ada acara ngadat atau lola,” kata Kristin senang.
“Yup, betul. Wah, pantesan nih modemnya Smartfren 4G Lte !” jawab Olin sambil menunjuk benda hitam di samping komputernya.
“Kalau di bumi ada yang seperti ini, gak ya ? Eh, Lia, bilang pada Opa, kalau misi kita beres, aku mau dikasih hadiah ini !” ujar Olin semangat. Kristin mengiyakan. Cecilia tersenyum senang.
Tiba-tiba, opa datang. “Saatnya, kalian kembali ke bumi. Ayo, Opa antar ke gerbang !” katanya memutus kegembiraan ketiga sahabat itu.
“Gerbang ?” tanya Olin.
“Ya, kalian pernah melewatinya. Untung tak masuk ke sana !” jawab Opa.
Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di depan gerbang. Opa kembali mengingatkan misi ketiga belia tersebut. Olin dan para sahabatnya berjanji untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka ingin bumi aman, damai dan tentram. Opa menempelkan jempol tangannya. Hamparan air dengan susunan batu yang indah tampak di depan mereka. Saatnya berpisah. “Semoga sukses !” kata Opa mengakhiri pertemuan mereka.

                                    **********************************




Senin, 07 Maret 2016

NIGHT AT MUSEUM GEOLOGI BANDUNG

      Masih ingat dengan film jadul yang dibintangi oleh Ben Stiller dan Robin Wiliams ini ? Pastinya ya. Ini film pertama tentang museum yang saya tonton. Menariknya, setiap malam seluruh isi museum ini akan hidup sehingga merepotkan sang penjaga, Larry Dalley (Ben Stiller). Bahkan, Larry sempat dikejar-kejar seorang (sssttt… saya menyebutnya) polisi hutan sebagai sasaran tembaknya. Ah, pokoknya seru sampai akhir deh film ini ! Nah, karena itu, isi film ini sangat kuat melekat dalam pikiran saya, hingga tulisan ini dibuat. Gak percaya ?
            Sejak saat itu, pandangan saya terhadap museum berubah total. Semula, anggapan saya, museum itu sangat menjemukan, tidak menarik, lusuh dan citra buruk lainnya. Berkat film itu, museum berubah menjadi lebih positif. Bahkan, saya sempat bercita-cita ingin mengunjungi museum Louvre di Perancis (betulkan ?). Ingin melihat lukisan Monalisa (moga tercapai, ya!).
            Setelah itu, beberapa kali agenda jalan-jalan saya itu ke museum. Kebetulan pula beberapa acara dilaksanakan di sana, khususnya Museum Geologi, Bandung. Nah, terakhir pertengahan bulan ini, kami kembali ke museum Geologi. Sama persis napak tilas filmnya. Lho, memangnya ada apa ya ?
Mamooth

            Pada 13 Februari lalu, museum Geologi Bandung mendadak romantis. Apakah ini efek Valentine day ? Oh, no ! Kalau tidak salah, ya, menurut kepala museum Geologi, orang-orang Geologi itu memang romantis. Mengapa ? Sebab mereka sering terjun dan dekat dengan alam.
Salah satu Sudut museum
            Malam itu, suasana yang berbeda melingkupi museum Geologi. Temaram lampu. Rombongan pengunjung. Suasana Bandung. Memberikan satu nuansa yang berbeda. Romantis. Ya, setiap awal bulan, Sabtu pertama, museum Geologi memang dibuka malam hari. Mulai pukul 19.00 – 22.00. Kita bisa menikmati malam sambil melihat-lihat berbagai macam benda di tempat tersebut. Banyak koleksi baru. Mamot akan menyapa kita terlebih dahulu. Pemutaran film tentang bintang. Simulasi gempa dan tsunami. Juga koleksi lainnya, dapat kita telusuri satu per satu. Saya sempat membayangkan Ben Stiller juga akan kerepotan di sini.
            Khusus untuk bulan ini, acara Night at Museum Geologi Bandung diundur ke tanggal 13 Februari. Hal itu bertepatan dengan acara peluncuran buku. Salah satu bukunya ditulis oleh Kepala Museum Geologi, Bapak Oman Abdurahman. Judul buku yang diluncurkan adalah  Geokonservasi Indonesia dan Tujuh Gunung Berapi di Jawa Barat.



            Satu per satu para penulis itu memaparkan isi buku dan juga proses pembuatannya. Menariknya, pemaparan tersebut selalu dikaitkan dengan kebermanfaatannya untuk manusia. Praktis sekali. Kehidupan dan ilmu geologi yang terasa asing ternyata bisa begitu nyata. Lebih menarik lagi, ketika para penulis menampilkan foto-foto yang berwarna-warni. Indah sekali ! Selanjutnya, buku itu diulas oleh para pakarnya, termasuk Pak Hawe Setiawan, sang editor dan penerjemah. Mengapa ? Salah satu buku tersebut ditulis secara bilingual, dua bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Ok, mudah-mudahan tulisan selanjutnya tentang review salah satu buku tersebut ! Nah, habis ini, saya mo nyungsep dulu ya. Baca bukunya sampe tamat, sampe dapat ide buat review. Chaow ah !




            Sok ah mangga teraskeun jalan-jalannya di museum Geologi Bandung ! Night at Museum. Adios. Amigos. Permios.

BELAJAR KANKER DARI MAMAH

Pemutaran film I am Hope yang sedang ngetrend belakangan ini menjadi motivasi khusus untukku membuat tulisan ini. Entahlah, jari-jemariku seperti terkena magnet kuat untuk menekan huruf-huruf di keyboard. Merangkai kata menjadi cerita. Mengurai kenangan dalam rasa rindu yang tengah kurasakan.

            Selama kurang lebih dua tahun, mamahku menjadi survivor penyakit ganas tersebut. Sekitar Juni 2013, beliau merasakan sakit perut. Bolak balik ke belakang dengan pengeluaran yang sedikit. Sehari sampai 17 kali. Namun, bab-nya sedikit dan kecil-kecil disertai pendarahan. Ketika memeriksakan diri ke dokter, mamah dinyatakan ambeyen. “Penyakit lama kambuh kembali,” pikirku saat itu.
            Setelah diobati ternyata tidak ada kesembuhan. Dulu, ketika ambeyen, setelah berobat akan kembali normal. Hingga kurang lebih empat bulan, gejala yang sama masih kerap terjadi. Mamahku sempat berkeinginan untuk mencoba berobat alternatif. Saat itu, kebetulan ada seorang temanku yang sedang sakit ambeyen dan menjalani pengobatan alternatif tersebut. Beliau menyarankan untuk memeriksakan mamah ke dokter penyakit dalam terlebih dahulu. Kita harus yakin bahwa penyakit yang dideritanya memang betul ambeyen. Jika sudah yakin dan benar, barulah menjalani pengobatan alternatif seperti beliau.
            Dengan bekal tersebut, saya kemudian membujuk mamah untuk memeriksakan diri ke dokter penyakit dalam. Beliau menolak keras. Beliau ingin tetap mengikuti pengobatan alternatif. “Aneh, tak biasanya beliau seperti itu,” kataku dalam hati. Akhirnya, setelah dibujuk adikku, belaiu mau juga dibawa berobat ke dokter penyakit dalam.
            Pada Sabtu malam di bulan Oktober, kami menyusuri kegelapan malam demi ibunda tercinta. Jalanan padat karena kami melewati sebuah gedung tempat pernikahan. Malam itu diantara duka ada suka. Gemerlap lampu di sebuah bangunan peninggalan kolonial sedikit memberikan harapan dan pencerahan diantara ketakutan kami. Sampai akhirnya, kami tiba di sebuah tempat praktek dokter. Ruangannya termasuk sederhana tapi bersih. Ruangannya cukup luas. Banyak kursi yang sudah terisi. Tinggal beberapa yang tersisa. Aku dan adikku segera ke meja pendaftaran. Tak dinyana, nomor yang kudapatkan adalah 50 ! Menurut suster, mamahku akan diperiksa dokter sekitar jam dua belas malam. Wow, kami harus menunggu selama lima jam !
            Adikku mempertimbangkan kondisi mamah dan dokter yang pasti akan kelelahan, sehingga diperkirakan akan sangat tidak efektif. Oleh karena itu, kami kembali menyususri kegelapan malam untuk mencari dokter lain. Kami melewati rumah sakit dan ternyata tutup. Melewati klinik lain yang ternyata tidak ada dokter penyakit dalam. Setelah sekitar satu jam, kami bisa menemukan dokter penyakit dalam. Setelah kurang lebih dua jam dan merayu mamah dengan aneka cara agar bertahan, akhirnya beliau diperiksa oleh dokter.
            Dokter memeriksa mamah dengan teliti. Tangannya bergerak di sekitar perut. Menekan. Meraba. Terdiam sejenak. Merasakan sesuatu.
   “Ada apa, Dok,” tanya Mamah.
   “Ada pohon di perut Ibu,” jawabnya kalem.
Beliau segera memberikan beberapa penjelasan pada adikku dan menyarankan agar mamah segera dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
   “Dokter menduga mamah menderita kanker di perut!,” jawab adikku dengan lesu.
Deg ! Mendadak suasana sekitarku ramai tak karuan. Sejuta rasa mendera. Benarkah ?
            Keesokan paginya, kami membawa Mamah ke sebuah rumah sakit terkenal di Bandung,  RS Santosa. Hari itu, beliau begitu pasrah. Sangat penurut. Kami masih merahasiakan kata-kata dokter. Beliau bersemangat berobat karena ingin sembuh. “Cape bolak-balik ke belakang terus !” ujar beliau.
            Tak lama, kami dipanggil perawat untuk bertemu dengan dokter. Kami mendapatkan penjelasan yang asyik tentang pengobatan tersebut. Dokter ini jujur tapi menenangkan. Ramah juga bodor, sehingga kami bisa bersikap lebih santai. Setelah obrolan itu, mamah di bawa ke ruangan khusus. Kami menunggu dengan harap-harap cemas. Waktu rasanya berjalan sangat lambat seperti siput ! Berbagai lintasan pikiran memasuki kepalaku. Mungkin saat itu, kepalaku menjadi biang kemacetan rutin setiap pagi di Bandung. Berjam-jam kami menunggu di luar, sedangkan mamah sedang menjalani rontgen perut dengan kontras barium.
            Rontgen perut dengan kontras barium itu adalah sebuah pemeiksaan radiografi untuk menggambarkan usus besar agar dapat memperlihatkan anatomo dan kelainan-kelainan yang terjadi. Pada tahap ini, mamah diperiksa oleh dr. Voltiano Forestin Dharmawan. Untuk menghindari resiko radiasi beliau mengenakan baju yang berat seperti akan maju ke medan perang. “Hehehe… lucu sih menurutku.” Pemeriksaan inilah yang pertama kali memperkuat dugaan adanya kanker di perut mamah.
            Deg ! Rasanya sulit dipercaya. Kanker yang begitu sangat jauh dan tak mungkin ada di sekitarku, sekarang sedang duduk manis dihadapanku. Di depan mataku. Sungguh tak menyangka dan sulit dipercaya ! Ketika kami ke dokter penyakit dalam sambil membawa hasil rontgen tersebut, beliau menyarankan untuk segera bergerak cepat. Mamah harus segera menjalani operasi. Kejutan luar biasa yang berikutnya !
            Oleh karena itu, adikku segera mencari informasi ke rumah sakit. Dengan berbagai macam pertimbangan, akhirnya kami lebih memilih Rumah Sakit Al Islam Bandung. Di sini, kami menemui dokter spesialis bedah digestive, Dr Tommy Ruchimat, SpBD.
            Setelah itu, mamah kembali menjalani berbagai serangkaian pemeriksaan. Kali ini ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Beliau menjalani Endoskopi dan CT Scan Abdomen. Pendarahan saluran pencernaan dan perubahan kebiasaan BAB-lah dan juga pertumbuhan dalam usus besar (pohon) yang menyebabkan dokter merekomendasikan pemeriksaan itu.
Endoskopi adalah prosedur nonbedah yang digunakan untuk memeriksa saluran pencernaan. Mungkin mamah menjalani yang namanya kolonoskopi, yaitu endoskopi yang dikirim lewat usus besar/ kolon melalui dubur untuk memeriksa daerah ini dari usus.
Sedangkan CT Scan Abdomen adalah jenis khusus X-ray yang dapat menampilkan gambar penampang area tertentu (perut) dari tubuh. Pemeriksaan ini akan memperjelas hasil pemeriksaan fisik. Alasan dokter melakukannya adalah perencanaan presurgery dan dugaan massa abdomen teraba (pohon). Tindakan ini juga dapat dilakukan untuk sakit perut, batu ginjal, infeksi, radang usus dan pembekuan darah.
Setelah melewati prosedur yang panjang dan bolak-balik ke berbagai rumah sakit, dugaan dokter semakin kuat dan nyata. Semua rumah sakit menyatakan hal yang sama. Mamah menderita kanker usus besar, khususnya kanker rectum dengan tipe yang mudah berdarah. Astagfirullahhaladzim ! Lutut inipun melunglai. Jantung berdegup kencang. Kenyataan yang harus dihadapi. Demi mamah, kami harus kuat !
Tanpa menunda waktu, kami segera menyetujui pelaksanaan operasi. Perayaan awal tahun baru yang unik. Awal Januari 2014, tak ada pesta kembang api. Yang terjadi adalah degup jantung yang semakin bertalu kencang melebihi bedug Idul Fitri. Keringat dingin. Perasaan yang nano-nano. Harapan baik dan harapan buruk datang silih berganti selama tiga jam menanti selesainya operasi. Panggilan nama keluarga setelah selesai operasi ibarat genderang duka atau suka. Kami tak sabar melihat kondisi mamah.
Dengan didorong oleh suster, mamah dibawa ke ruang pascaoperasi. Kami hanya bisa menemuinya sebentar saja. Kesadarannya belum pulih seratus persen. Ada buliran air di sudut matanya. Jejak sakit yang luar biasa. Namun, mamah masih tersenyum manis melihat kami berdua. “Sakit, Mah?” tanyaku. Dia menggeleng lemah sambil tersenyum. Mendamaikan ! Setelah itu penantian panjangpun kembali kujalani. H2c. Harap-harap cemas. Menanti mamah melewati masa kritis. Takut. Sedih. Galau. Melow. Saat itu, rasanya aku berada di lembah kesedihan yang paling curam. Mencoba pasrah dan ikhlas menerima segala ketentuan dari Sang Maha Kuasa. See you again or leave me forever !? Selamat atau selesai  di titik itu ! Dua hari yang benar-benar sangat mendebarkan. Pengalaman yang luar biasa dalam hidupku.
Alhamdulillah, mamah masih bisa kuat bertahan ! Selanjutnya, beliau masuk ke ruang pemulihan/ perawatan biasa. Senyumnya yang sumringah senantiasa menghiasi hari. Tak ada jejak kesakitan sedikitpun. Aneh ! Optimis. Doa. Kepasrahan dan keinginan yang kuat untuk sembuh menjadi motivasi hidupnya. Semangatnya luar biasa. Dokterpun menyampaikan hal yang sama.
Ketakutanku pascaoperasi bahwa mamah akan mengalami kondisi yang mengkhawatirkan lenyap tak berbekas. Awalnya, mamah masih takut keluar rumah karena merasa tidak percaya diri dengan kantong bawaannya. Ya, setelah operasi, banyak perubahan yang terjadi dan harus dilakukan ! Makanan salah satu hal wajibnya. Yang ini ada dalam tulisan yang lain yah !
Sekarang, mamah harus selalu menggunakan kantong khusus, bagcolostomy untuk menampung BAb-nya. Kalau bertemu orang lain, takut mereka mencium aroma tak sedap dari sana. Sejak operasi itu, aktivitas mamah berhenti total. Yang dilakukan beliau hanyalah berbaring, duduk, nonton televisi. Benar-benar menikmati masa tua dalam nuansa baru.
Namun, hal itu tak berlangsung lama. Sedikit demi sedikit kepercayaan mamah kembali pulih. Beliau banyak mendengar pengalaman yang sama. Tak menakutkan lagi. Setelah itu, sedikit-sedikit beliau mulai mengerjakan aktivitas lamanya, bekerja di dapur, berkebun dan jalan-jalan atau belanja ke warung. Semangat hidup dan optimisnya kembali bangkit ! Kami siap mendukungnya. Keceriaan kembali mewarnai kehidupan kami. Tak terasa hampir dua tahun !
Menjelang kontrol dokter untuk yang kedua kalinya, tiba-tiba datang kabar buruk.
“Teh, Ceuceu jatuh di jalan !” ujar saudaraku.
“Mamah tadi beli nasi kuning, kok !” balasku tak percaya.
“Ya, tadi jatuh di jalan. Berdarah. Sekarang, lukanya sedang dibersihkan oleh Neng, sepupuku, “ ujarnya menambahkan.
“Oh, ok, aku segera menyususl ke sana !” jawabku bingung.
Namun, baru melangkah keluar pintu, mamah dan sepupuku sudah tiba. Wajahnya tetap sumringah. Dagunya ditutup plester.
“Pusing, Mah ?” tanyaku cemas.
Heunteu! Mamah kabita mie ayam, terus titajong,” jawabnya dalam logat Sunda yang khas.  (“Tidak. Mamah Ingin mie ayam. Terus terantuk polisi tidur,”)
            Aku segera memeriksa lukanya. Pendarahan masih terus terjadi. Darah terus keluar dari dagu dan gusinya. Ada lubang bulat.Karena cemas dengan perutnya, kolostominya, kami membawanya lagi ke rumah sakit. Luka-lukanya mendapat beberapa jaitan. Alhamdulillah, perutnya tidak apa-apa. Keajaiban lagi untuk kesekian kalinya.
            Setelah itu, berturut-turut beberapa kabar duka datang. Beberapa saudaraku meninggal dalam waktu yang hampir berdekatan. Kabar itu rupanya mempengaruhi psikologis mamah. Kondisinya drastis menurun. Keceriaan berubah kemurungan. Mamah mogok makan dan tidak mau lagi minum obat-obatan alami yang biasanya disantap dengan senang hati. Koneng gede. Kuning putih. Propolis. Madu. Susu. Kami mulai kebingungan. Serba salah.

            Kekhawatiran kami bertambah parah, ketika suatu malam, mamah jatuh secara tiba-tiba dari kursi. Tak bertenaga. Tak berdaya. Kesadarannya mulai berkurang. Setelah tiga hari di rumah, adikku kembali memboyongnya ke rumah sakit. Mamah ditangani tiga dokter spesialis: penyakit dalam, syaraf dan urologi.
            Setelah hampir dua minggu, tak ada kemajuan berarti. Makanan tetap utuh tak tersentuh. Tenaga semakin berkurang. Yang paling pilu adalah mamah selalu kesakitan di sekitar perut. “Aduh…aduh…aduh,” erangnya beberapa kali sambil memegangi perutnya. Aku curiga pohon di perutnya mulai berulah lagi. Kuraba sebuah benjolan di sana. Tak ada yang bisa kami lakukan, selain mengusapnya dengan kayu putih dan doa. Pada saat operasi dulu, masa tumornya sudah menyebar ke rahim, jadi tak bisa diangkat. Dokter Tommy melakukan tindakan agar mamah bisa makan enak dan tidak bolak-balik lagi ke belakang. Upayanya berhasil.
            Namun, kuasa Allah SWT lebih berbicara. Maut tak bisa ditolak jika saatnya tiba. Setelah kembali dirawat di rumah, sehari setelah kontrol ke dokter urologi, kami harus rela melepas beliau untuk selama-lamanya. Kembali menghadap Sang Pencipta. Beliau menghembuskan nafas pada tanggal 2 Desember 2015, sekitar pukul 23.00.
            Semoga ibunda tersayangku dapat hidup berbahagia di sisi-Nya. Kami telah berusaha semaksimal mungkin. Namun, Allah lebih menyayangimu. Selamat jalan, bundaku ! Kami berharap segala upaya dan bakti anak-anak dapat membahagiakanmu. Maafkan segala salah, khilaf, dan alpha kami ! Rinduku untukmu selalu !

Referensi Tulisan :
1.      rudyday.blogspot.com
2.      www.mwebmd.com
3.      www.healthline.com


           


Selasa, 01 Maret 2016

ANTARA JOHN KIM DAN KANKER

Wah gawat nih, aku sudah ketularan virusnya Erri Andriyati ! Untungnya hanya virus untuk bersenang-senang hehehe…. Tahu kan TehErry Andriyati ? Kalau di dunia blogger, beliau sangat identik dengan korea. Tokoh korea eh artis korea, jalan-jalan korea, makanan korea. Semuanya serba korea deh ! Setelah beberapa teman ketularan masak masakan korea beberapa waktu lalu, kini giliranku. Nah, hari ini usaha teh Erri untuk menyebarkan virusnya padaku berhasil dengan sukses. Aku nonton film korea, mengagumi bahkan kesengsem sama artis koreanya dan ngisi blog ini juga tentang korea.
            Lha, apa hubungan antara kanker dengan film dan artis korea, yah ? Bukankah film tentang kanker itu berjudul I am Hope  yang dikerjakan oleh Wulan Guritno ? Betul sih. Tapi, di film korea yang ini juga disinggung masalah kanker dan sangat erat hubungannya dengan kanker.
http://www.wowkeren.com/seleb/so_ji_sub/

            Beneran deh. Filmnya berjudul My Venus, diperankan oleh So Ji Sub dan She Min A. Adakah yang pernah menonton filmnya juga ? Asyik nggak ? Pasti baper juga, kan ? So Ji Sub merupakan pria baik hati tetapi selalu hidup sendiri karena sejak kecil menderita Osteosarkoma, kanker tulang. Karena penyakitnya itu, ia harus berobat jauh dan panjang. Saat dia dirawat, ibunya meninggal dunia. Dia menjadi pria yang kesepian. Kemudian, dia menjadi pelatih olah raga yang sukses. Namun, terkena skandal. Akhirnya, kembali ke Korea dan bertemu dengan pengacara yang ingin menguruskan badannya akibat sakit hati. Pacarnya selingkuh. Namun, latihan-latihan dan masalah yang dihadapi oleh sang pengacara membuat mereka dekat dan jatuh hati. Sang pengacara mampu menghangatkan hati So Ji Sub alias John Kim alias Kim Hyung Young Ho.
            Dalam perjalanan kisah cinta itu, sang pengacara harus mengubah gaya hidup dan makannya. Olah raga secara teratur dan mengatur pola makan. Dia harus menghentikan makanan yang sangat disukainya: berlemak, berminyak dan berbumbu. Semua makanan yang lezat di lidah tapi tak sehat untuk tubuh. Ugghh… berat pastinya ! Makan bukan sekedar kenyang dan enak tapi harus baik untuk tubuh. Rawfood dan foodcombining menjadi nyata. John Kim sangat ketat mengatur dan menerapkan pola makannya. Kekasihnya harus sehat selalu. Semua itu berawal dari makanan yang sehat pula.
            Prinsip makan seperti itulah yang sangat terkait erat dengan penyakit kanker, khususnya kanker colon atau usus besar. Makanan yang tidak sehat, khususnya yang bersifat karsiogenik sangat berpotensi menyebabkan kanker usus.
            Setelah mamahku divonis kanker, otomatis masalah makanan menjadi prioritas perbaikan pertama dan utama. Sejak saat itu, masakan selalu tanpa penyedap rasa. Selalu mengandalkan penyedap alami. Gula putih atau gula merah dan garam. Lebih sehat gula merah, ya. Minyak goreng berganti jadi zaitun. Lebih banyak mengkonsumsi daging putih (ikan dan ayam kampung) daripada daging merah. Bahkan, daging merah lebih cenderung dihilangkan dari daftar menu ! No… no … no. Daging merah lebih mudah memicu kanker apalagi jika dibakar. Halah !

 Seperti John Kim ( So Ji Sub ), kita harus lebih banyak mengkonsumsi sayuran dan buah. Makanan berserat harus lebih diutamakan demi kesehatan usus.  Sama seperti menu makanan tokoh-tokoh dalam film My Venus. Ah, John Kim walaupun aturanmu sangat menyebalkan tapi demi efek yang positif bagi tubuh, kita harus ikhlas menerimanya. Setujukah teman-teman ?