Jumat, 11 Maret 2016

CERPEN OLIN

OLIN DI NEGERI BATU
“ Olin !”
“Olin!”
“Olin, bangun !”
            Cecilia dan Kristin berusaha menyadarkan Olin, temannya. Olin mulai membuka mata. Terdiam sebentar. Lalu duduk. Dia memandang sekitarnya. “Dimanakah kita ?” tanyanya bingung.
“Entahlah, kami juga belum tahu,” jawab Cecilia dan Kristin berbarengan.
“Mungkin kita dilahirkan kembali di Negeri Batu,” balas Cecilia yang percaya reinkarnasi.
“Dilahirkan kembali ? Memangnya kita sudah mati ?” tanya Kristin agak kalap. “Aku belum mau mati !” ujarnya lagi. Kristin mulai histeris.
“Tenang, Kristin ! Tenanglah ! Kita masih hidup !” kata Olin sambil mencubit lengan Kristin.
“Auw… sakiiit !” jeritnya kesakitan.
“Tuh kan, masa orang mati bisa merasa sakit,” jawab Olin tenang.
Ketiganya terdiam. Mengamati sekitar. Mereka terdampar diantara dua buah batu besar. Yang sebelah kanan tinggi menjulang, sedangkan yang sebelah kiri lebih besar dan sangat lebar. Langit terlihat lebih kelabu. Mirip seperti sehari sebelum gerhana matahari total. Mereka bertiga bangkit. Lalu, berjalan sambil mengobservasi situasi. Tak ada seorangpun di sana. Hanya mereka bertiga. Mereka melangkah menuju sebuah ruangan kecil. Ada tulisannya di sana. Mushala.
“Wah, gawat ! Jam berapa ini ? Aku belum shalat ashar,” kata Olin kaget. Ia segera bergegas ke pancuran kecil yang ada di ujung mushala dan segera melaksanakan kewajiban muslimahnya. Kristin dan Cecilia menunggu di luar mushala.
“Kita duduk di sana, yuk !” ajak Kristin. Keduanya segera menghampiri dua bangku kecil yang terbuat dari batu. Mereka duduk di bawah pohon besar yang rindang. Cuaca terasa sejuk dan adem.
“Apa yang kamu rasakan sekarang, Lia ?” tanya Kristin pada Cecilia.
“Hmm, aku merasa nyaman di sini. Entahlah, tempat ini serasa dekat dengan diriku. Aku merasa tak asing dengan tempat ini. Seperti ada ikatan khusus. Entahlah ! Namun, aku tak tahu kita sedang berada di mana. Sepertinya, kita memiliki misi khusus di sini !” jelas Cecilia.
“Kamu sendiri bagaimana ?” Cecilia balik bertanya.
“Ya, aku juga seperti itu. Aku merasa aman di sini. Perasaanku mengatakan bahwa kita berada di sini, karena ada tugas khusus juga. Tapi, entahlah,” jawab Kristin sambil mengangkat kedua tangannya.
Mereka berdua terdiam. Kembali mengamati tempat mereka berada kini. Tak ada petunjuk.  Tak ada rumah. Hanya ada sebuah dinding panjang dengan tonjolan berbagai macam bentuk batu di depan mereka. Juga sebuah  lapangan mirip tempat main sepak bola yang ditumbuhi rumput hijau segar.
“Hai, kita mau kemana sekarang ? Mau tetap di sini ?” Tiba-tiba Olin datang.
“Sebaiknya, kita mencari tempat berlindung. Sebentar lagi malam. Kita tidak tahu cuaca atau bahaya yang ada di malam hari,” saran Kristin.
“Kita telusuri tempat itu, yuk!” ajak Olin.
Tiga sekawan itu mulai menjelajahi tempat baru mereka. Menyusuri tembok panjang. Berharap bisa bertemu dengan seseorang atau rumah penduduk.
“Hei, lihat ! Aneh ya, pohon dan batu itu. Keduanya kompak miring ke kiri !” tunjuk Olin. Kedua sahabatnya mengiyakan. Mereka melewati batu-batu besar lagi.
“Sepertinya, itu sebuah pintu gerbang, ya?” kata Olin lagi ragu. Mereka mendekatinya.
“Hei, itu sidik jari siapa ? Besar sekali !” ujar Cecilia sambil menunjuk ke atas. Klik. Olin dan Kristin menggeleng.

“Kita masuk  ke sana ?” tanya Kristin.
“Perasaanku mengatakan kita harus menyebrangi jembatan itu !” jawab Cecilia sambil melihat ke sebelah kiri.
Mereka segera belok kiri. Ada batu kotak besar dengan lingkaran-lingkaran aneh di atasnya. Mereka melewatinya dan segera bergegas menuju jembatan. Takut kegelapan menyergap mereka di tempat asing dan terbuka ini. Langit mulai memerah.
“Lingkaran tadi apa maksudnya, ya?” tanya Olin.
“Entahlah. Betapa banyak misteri di tempat ini, ya!” ujar Cecilia.
“Hei, lihat ada sebuah bangunan di depan sana  !” kata Kristin.
“Ah, akhirnya. Mudah-mudahan ada seseorang yang bisa membantu kita !” ujar mereka girang.
Dengan semangat, mereka menuju bangunan yang mirip seperti rumah panjang di Kalimantan. Hanya bangunan itu berdinding batu dan sebagian lagi lebih benderang. Mereka berkeliling mencari pintu. Ada sebuah ruang kecil dikelilingi tembok mirip kaca tebal. Di dalamnya ada pintu besar yang kokoh. Kuno tapi masih terawat dengan baik. Mirip pintu jati. Tiba-tiba pintu itu terbuka. Ketiganya terlonjak kaget dan mundur beberapa langkah ke belakang. Meeka bisa melihat ruang dalam yang terang dan hangat.
“Masuklah !” kata seseorang dengan suara yang berat.
Mereka bertiga ketakutan. Saling berangkulan. Kaki mereka terpaku dalam di tempat masing-masing.
“Jangan takut, Cicitku ! Masuklah Olin, Cecilia, Kristin !” kata suara itu lagi.
Ketiga sahabat itu saling berpandangan. Heran. Suara itu mengenali mereka.
“Ayo, masuklah ! Kedatangan kalian sudah ditunggu sejak lama. Masuklah ! Kalian aman di sini ! Tak ada bahaya di dalam ! Masuklah, jangan takut !” ujar suara itu lagi.
Olin, Kristin dan Cecilia saling dorong. Tak ada yang mau berjalan duluan. Karena hari sudah gelap, akhirnya, Cecilia memberanikan diri jalan paling depan. Langkah kakinya gemetar. Olin dan Kristin berjalan di belakangnya sambil memegangi bahu Lia, kiri dan kanan. Mereka melewati pintu besar itu. Seiring dengan kaki mereka yang sudah masuk ke dalam ruangan. Pintu itu perlahan tertutup. Ketiganya saling berpandangan. Bingung.
“Ayo, jangan takut, teruslah masuk ! Kalian lapar bukan ?” ujar suara itu lagi.
Mereka bertiga terus melangkah. Masuk ke sebuah ruangan mirip ruang makan. Ada meja panjang di sana. Di atasnya, sudah tersedia berbagai macam masakan. Menerbitkan air liur. Membuat perut mereka keroncongan. Di ujung meja panjang itu, duduk seseorang.
“Kemarilah, Cicitku!” ujar orang itu sambil melambaikan tangan.
Dengan ragu, ketiganya mendekati beliau. Betapa terkejutnya Cecilia setelah melihat wajah orang itu.
“Opa !” teriaknya. Dia berlari menghampirinya. Bersujud di depannya. Lalu, memeluk opanya. Olin dan Kristin mengamati lelaki bertopi itu. Wajahnya putih bersih. Tubuhnya tinggi besar. Kulitnya mulus segar. Mirip para biksu. Meneduhkan. Beliau tersenyum bahagia menyambut cicitnya.
“Mengapa kalian lama sekali sampai di sini ?” tanyanya. “Ah, nanti saja ceritanya. Kalian sudah melakukan perjalanan jauh. Bersihkan badan dulu di sana! Lalu, kita makan bersama. Perut kalian sudah ribut minta diisi makanan,” ujarnya ramah.
Ketiga sahabat itu segera melakukan perintah opa. Setelah itu, mereka duduk dan makan bersama. Setelah tenaga mereka pulih dan perut kenyang, Lia membuka pertanyaan.
“Kami ini, berada dimana, Opa ?” tanyanya.
Kalian berada di Altitude, negeri batu. Jutaan cahaya di atas bumi. Opa sengaja membawa kalian ke sini, karena ada tugas khusus yang harus kalian lakukan di bumi. “Ayo, kita pindah ruangan,” ajak Opa. Mereka berempat bangkit. Lalu, masuk ke sebuah ruangan yang terang. Kedua sisinya menyajikan pemandangan yang berbeda.
“Kedua pemandangan itu adalah gambaran bumi di masa depan. Jika manusia-manusia bumi serakah, tidak mau diatur, egois, maka pemandangan sebelah kirilah yang terjadi. Bumi hancur. Manusia kelaparan. Tak ada pohon. Gersang. Sampah menggunung dimana-mana.”
“Sebaliknya, jika manusia tetap taat pada Tuhannya, saling menghargai, kerja sama, toleransi. Penuh kasih sayang, maka bumi akan damai dan tentram !”
“Sayangnya, keseimbangan itu mulai terganggu sekarang. Manusia lebih cenderung materialistis. Melupakan sisi kemanusiaannya. Melupakan kebaikan. Melupakan kepentingan orang lain. Serakah. Mereka mengejar ketentraman dan kebahagiaan yang semu. Akibatnya, bumi mulai merana. Bumi akan hancur. Bencana akan datang.”
                        Hana nguni hana mangke
                        Tan Hana nguni tan hana mangke

“Nah, tugas kalianlah untuk mencegah hal itu. Kalian harus tetap mempertahankan keseimbangan di bumi ! Untuk itu, kalian akan beberapa lama tinggal di sini untuk diberikan bekal demi tugas suci itu. Setelah siap, kalian akan kembali ke bumi ! Besok, pembelajaran pertama akan dimulai. Sekarang, beristirahatlah.  Kamar kalian ada di sebelah kanan.” jelas Opa panjang lebar.
Keesokan harinya, ketiga sahabat itu sudah berada di ruangan besar dengan lemari-lemari buku. Koleksi bukunya sangat lengkap. Perpustakaan sekolah pasti kalah dengan ini. Di samping itu, ada beberapa komputer dengan bentuk yang lebih canggih dari komputer rumah Olin. Membuat mereka betah berjam-jam, bahkan berhari-hari berada di sana.
Setelah belajar keras, mereka akhirnya memiliki waktu rehat sejenak. Olin lebih memilih baca Quran terbitan Syamil Quran. Cecilia lebih senang membaca kumpulan Cerpen My Destiny terbitan Kaifa. Sedangkan Kristin lebih memilih berselancar di dunia maya.
Setelah menyelesaikan kewajibannya, Olin mengikuti jejak Kristin. Dia membutuhkan banyak informasi tentang berbagai macam hal untuk melakanakan tugasnya nanti. Tantangan berat baginya dan kedua sahabatnya. Namun, mereka bertiga harus siap !
“Hei, asyik yah berselancar di sini. Swing…swing…swing. Tak ada acara ngadat atau lola,” kata Kristin senang.
“Yup, betul. Wah, pantesan nih modemnya Smartfren 4G Lte !” jawab Olin sambil menunjuk benda hitam di samping komputernya.
“Kalau di bumi ada yang seperti ini, gak ya ? Eh, Lia, bilang pada Opa, kalau misi kita beres, aku mau dikasih hadiah ini !” ujar Olin semangat. Kristin mengiyakan. Cecilia tersenyum senang.
Tiba-tiba, opa datang. “Saatnya, kalian kembali ke bumi. Ayo, Opa antar ke gerbang !” katanya memutus kegembiraan ketiga sahabat itu.
“Gerbang ?” tanya Olin.
“Ya, kalian pernah melewatinya. Untung tak masuk ke sana !” jawab Opa.
Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di depan gerbang. Opa kembali mengingatkan misi ketiga belia tersebut. Olin dan para sahabatnya berjanji untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka ingin bumi aman, damai dan tentram. Opa menempelkan jempol tangannya. Hamparan air dengan susunan batu yang indah tampak di depan mereka. Saatnya berpisah. “Semoga sukses !” kata Opa mengakhiri pertemuan mereka.

                                    **********************************




Tidak ada komentar:

Posting Komentar