Sabtu, 21 Mei 2016

WISATA KULINER : KAMPUNG CIREUNDEU CIMAHI

           

            Cimahi selain sebagai kota militer, selama beberapa tahun belakangan ini juga memiliki tempat wisata yang unik. Di sudut selatannya terdapat sebuah kampung yang sering menjadi tempat kunjungan khusus. Kampung itu adalah Cireundeu yang terletak di daerah Leuwigajah ( jalan Kerkof ) Cibeber Cimahi Selatan. Tempat ini terasa unik karena masyarakat adatnya (bukan kampung adat, ya).
            Masyarakat adat Cireundeu memiliki kebiasaan yang unik, yaitu makanan pokoknya adalah singkong ( Sampeu = Bahasa Sunda ). Singkong tersebut dijadikan beras . Mereka menyebutnya sebagai Rasi ( Beras Singkong ). Jadi, sehari-hari masyarakat adat kampung Cireundeu itu selalu memakan beras singkong sebagai makanan pokoknya. Salah seorang tokoh muda di sana, Kang Yana mengatakan bahwa ia tidak tahu rasa beras padi. Karena kemanapun dia pergi, selalu memakan beras singkong. Teman saya yang orang Jawa bilang, katanya mirip tiwul, hanya rasanya tawar. Itulah keunikan kampung Cireundeu. Rasi ini bisa dipadukan dengan lauk-pauk yang lainnya. Hmmm maknyusnya !

            Rasi atau beras singkong tersebut terbuat dari singkong kerikil atau Sampeu Pait. Singkong tersebut tahan terhadap berbagai macam hama, termasuk babi hutan. Untuk menjadi beras, singkong tersebut diparut. Dulu masih dilakukan dengan parut tradisional, kalau sekarang sudah menggunakan mesin. Untuk menghilangkan racunnya, parutan singkong tersebut harus dicucui beberapa kali dengan air bersih dan disaring dengan kain. Di tahap ini perlu feeling yang kuat, lho supaya pas. Racunnya hilang, kadar airnya tepat dan kadar aci ( tepung kanjinya) tidak terlalu banyak. Setelah itu, parutan tersebut wajib dijemur. Jika cuaca bagus, biasanya memakan waktu sekitar tiga hari. Setelah itu, tahap berikutnya adalah ditumbuk dan diayak. Proses ini adalah memisahkan bagian tepung yang kasar dan halus. Tepung yang kasar dijual ke pasar sedangkan yang halus diolah menjadi rasi.

Hasil ayakan inilah yang kemudian diolah menjadi beras dengan cara dikukus. Tepung tersebut bisa disimpan sekitar tiga bulan. Jadi, masyarakat adat Cireundeu tinggal mengolahnya saja. Yang unik, proses tersebut harus dilakukan oleh kaum wanita. Oleh karena itu, beras singkong ini disebut juga Kersa Nyai.
Tepung yang semakin halus itu bisa diolah kembali untuk dijadikan berbagai jenis makanan yang enak dan renyah. Saat rombongan Tjimahi Herritage melakukan kunjungan ke Cireundeu, para peserta banyak yang memborong berbagai macam cemilan. Ada cireng, simping, opak bumbu, pastel, aneka kue kering, dendeng singkong dan masih banyak lagi jenis cemilan lainnya. Bahkan beberapa ibu-ibu ingin memesan brownis untuk lebaran nanti. Rombongan ini pun masih penasaran dengan rasi karena telah diborong oleh rombongan yang lainnya. Rasi ini sama seperti beras padi juga dijual dalam kemasan kiloan. 



Kampung Cireundeu bisa menjadi salah satu tujuan wisata kuliner yang unik dan lebih sehat. Katanya singkong itu bisa menyembuhkan kanker dan gula darahnya lebih baik daripada beras padi, hasil penelitiannya itu nol. Namun, sayangnya belum tersedia restoran yang bisa dijadikan tempat makan secara langsung di sana. Jadi, Anda bisa jalan-jalan di sana, mendapatkan kisah tentang kampung ini dan pulang membawa oleh-oleh berupa berbagai macam olahan singkong.
Oh ya, kalau berniat pergi ke sana bisa membawa kendaraan atau motor sendiri. Jalannya cukup luas. Hanya belum ada tempat parkir yang memadai. Ingin praktis ? Kalian harus sampai dulu di Pasar Antri Cimahi, ya ! Di sekitar itu atau di terminalnya, ada dua pilihan angkot. Cimahi-Cibeber dan Cimahi-Cangkorah. Jika naik angkot kuning jurusan Cimahi-Cibeber. Kamu bisa jalan-jalan dulu di makam bersejarah, yaitu Ereveld Leuwigajah ( makam Kerkof ). Turun pas belokan jalan Kerkof (makam Kerkof). Lalu disambung naik mobil berwarna biru muda. Cimahi-Cangkorah. Jika dari Pasar Antri, memilih jurusan Cimahi-Cangkorah, maka kalian turun di jalan menuju Kampung Cireundeu. Minta aza sama sopir angkotnya, ya ! Dari sana bisa berjalan kaki kurang dari setengah jam (itu ukuran saya yang bukan ahli olah raga ). Tapi, jalanannya naik, lho.  Alternatif lainnya, di sekitar jalan itu bisa naik ojeg. Nah, selamat menikmati keunikan kampung Cireundeu, ya !

  

4 komentar:

  1. pisan kang iyan. lebih asyik kalo disuguhan parasmanan hehehe...

    BalasHapus
  2. betul mbak.... beras itu mengandung gula yg tinggi
    kebanyakan org yg kena diabetes hrs mengurangi makan nasi
    jadi makan beras singkong itu jg sehat ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, betul mbak Avy. hasil penelitian jg mendukung itu

      Hapus