Selasa, 09 Agustus 2016

COMIC : YES OR NO


          Nonton film Comic 8 ? Tentu boleh dong. Yes ! Film komedi yang dibintangi oleh para jebolan stand up komedi tersebut tentu sangat mampu membuat kita tertawa. Jadi, positif untuk menghalau galau yang melanda hati. Itung-itung di-betterin ala Raditya Dika. Sssst …. Tapi, jangan bawa anak kecil, ya !
Pembiasaan Karakter Membaca

            Namun, postingan saya kali ini jauh dari film. Lho ? Yup. Tulisan ini terinspirasi dari kegiatan baru yang ada di sekolah mulai minggu kemarin. Apaan tuh ? Pembiasaan karakter membaca.


Baca, yuk !

FAKTA MINAT BACA DI INDONESIA
            Rendahnya budaya baca di kalangan masyarakat kita adalah lagu lama. Latar belakang inilah yang memunculkan program baca tersebut. Tak percaya ? Ini beberapa faktanya :
1.     Badan Pusat Statistik : Penduduk Indonesia yang mendapatkan informasi dengan membaca hanya sekitar 23,5 %.
2.     Laporan Bank Dunia : tingkat membaca siswa SD kelas VI hanya mencapai nilai 51,7. Indonesia masih kalah oleh Filiphina, Thailand an Singapura.
3.     UNESCO : indeks minat baca masyarakat  Indonesia adalah 0,001. Itu berarti baru satu orang yang baca dari setiap 1.000 orang penduduk Indonesia.
4.     PISA (Programme for International Student Assessment ) : sebuah penelitian menyatakan budaya literasi di Indonesia menjadi kedua terburuk dari 65 negara. Minat baca siswa Indonesia berada di urutan ke-57 dari 65 negara.
Fakta ini diperoleh dari sahabat guru dan badanbahasa.

BUDAYA BACA
Baca, yuk

Baca dan Baca

            Membaca sekarang ini sudah seharusnya menjadi kebutuhan. Derasnya informasi memang harus diimbangi oleh budaya baca. Oleh karena itu, tahun 2016 ini menjadi tonggak budaya literasi. Kegiatan ini akan dimulai dari siswa SD. Gerakan ini menjadi salah satu program dari Badan Bahasa. Rencana sekitar bulan November akan diadakan Olimpiade Literasi sebagai upaya tindak lanjut dari program ini.
            Gerakan ini juga menjadi salah satu perwujudan Permendikbud no 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Terkait dengan budaya baca, setiap siswa diberi waktu sekitar 15 menit untuk membaca. Kebiasaan ini sudah dilakukan oleh Jepang selama 30 tahun. Jepang menumbuhkan minat baca dari bangku sekolah. Salah satu cara untuk menumbuhkan minat baca tersebut adalah dengan komik. Itulah salah satu faktor penentu kemajuan Negara Jepang yang sangat pesat.

AYO MEMBACA
            Menindaklanjuti kebijaksanaan dan program tersebut, kini siswa di sekolahku juga mulai membiasakan diri untuk membaca. Kegiatan itu dilakukan dua kali seminggu, yaitu setiap hari Selasa dan Kamis. Berselang dengan pembiasaan karakter yang lainnya.
NO
HARI
PEMBIASAAN KARAKTER
1
SENIN
UPACARA
2
SELASA
MEMBACA
3
RABU
PIDATO
4
KAMIS
MEMBACA
5
JUMAT
BACA AL QURAN


Buku asyik 

Aku dan buku

POJOK BACA
Ini bukuku

            Terkait dengan kebiasaan tersebut, setiap siswa diwajibkan untuk membawa buku. Siswa banyak yang membawa buku sendiri, ada juga yang meminjamnya dari perpustakaan sekolah.  ( Hmmm… ada juga yang amnesia, lho !  ). Rencananya buku tersebut akan disimpan pada sebuah rak kecil di sudut sekolah. Namun, sementara raknya belum ada, jadi kami memanfaatkan loker yang ada di kelas. ( Warisan RSBI ).

BAHAN BACAAN
Komik Pengetahuan

Aneka komik

            Yang menarik dari kegiatan ini adalah sebuah pertanyaan yang selalu muncul ( bahkan sebelum ada pembiasaan ini ) :
“Boleh membaca komik ?”
( Sssst… Comic hanya kamuflase aza. Yang benar adalah Komik. Yes ! )
            Dan jawabanku selalu sama :
“Tidak Boleh !”
“No… No … No … “
            Yaaahhh, kok gitu sih ? Sebagian orang mungkin saja tidak setuju. Betul ?
Dari segi keterbacaan, komik terlalu sangat mudah. Terlalu singkat. Itu yang menjadi kendalanya.
“Keterbacaan yang tinggi lebih baik untuk meningkatkan kemampuan membaca.”
Apalagi, jika dikaitkan dengan target membaca bagi siswa SMP, yaitu mampu membaca hingga 250 kata per menit (kpm). Jujur, target ini sangat sulit untuk dicapai bahkan dengan bacaan yang sudah familiar sekalipun. Butuh latihan. Latihan. Latihan. Latihan. Dan Latihan. Juga Pembiasaan !
Oleh karena itu, lebih baik membaca dengan bahan bacaan yang lebih banyak tulisannya daripada gambar. Bukankah semenjak kecil, mereka telah kenyang dengan Picture Book ? Jadi, biarlah komik di masa remaja ini menjadi bahan bacaan selingan bukan yang utama !
Yang perlu juga dibiasakan dalam gerakan membaca ini adalah memvariasikan bacaan dari berbagai segi. Keterbacaan : mudah, sedang, sulit. Isi bacaan : pengembangan diri, hobi, agama, cerita, pengetahuan dan sebagainya. Jenis bacaan : Koran, majalah, tabloid, buku, kamus, ensiklopedi dan lain sebagainya. Teknik membaca : cepat, zig zag, intensif, kritis. Tebal bacaan : tipis dan tebal.
Nah, itulah poin penting dari postingan kali ini. Semoga budaya literasi di Indonesia, khususnya di kalangan pelajar bisa tumbuh semakin baik, berakar dan berjejak. Mari selalu membaca di manapun, kapanpun, dengan siapapun ! Setuju ?



 
Ayo gempakan budaya baca

3 komentar:

  1. Kalau saya sih YES pada komik, Teh. Sekarang banyak komik ilmu pegetahuan. Menyampaikan ilmu pegetahuan yang rumit dalam bentuk komik. Seperti WHY Series. Materi yang rumit jadi lebih mudah dipahami. Oya, komik ibadah juga banyak.

    Sepertinya sih mesti kembali lagi pada tujuan membacanya, ya. Membaca tidak hanya untuk belajar serius tapi juga untuk refreshing, pengayaan batin, hiburan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, setuju, Mbak. Saya juga suka komik. happy banget deh kalau udah baca komik hehehe...

      Komik yang NO itu jika dihubungkan dengan tujuan meningkatkan kemampuan dan keterampilan membaca, misalnya tes efektif membaca. Sumbangan pada ketercapaian target membaca 250 kata per menit tampaknya kurang bagus.
      Menarik kayaknya kalau ini menjadi bahan penelitian hehehe...

      Hapus
  2. biasanya harus membaca dulu agar seseorang tertarik untuk membaca
    OBAT BATUK ANAK HERBAL

    BalasHapus