Kamis, 18 Agustus 2016

SECANGKIR KOPI UNTUKMU

Kau telah mengubahku. Sangat drastis.
Tak percaya, langkah kaki kembali menggerakkanku ke tempat ini. Kedai kopi favorit kita. Aku kembali duduk di sudut kedai. Tak ada kamu di sini. Aku hanya memandangi halaman kedai yang cukup luas dan jalan kecil di tengah kota. Sesekali beberapa mobil dan motor melintas. Hujan cukup deras mengguyur Bandung. Entahlah, apa yang ditangisi oleh alam sore ini. Apakah hujan dan alam bisa membaca kesedihanku ?
            Keriuhan tiba-tiba mengusik lamunanku. Di belakangku, banyak orang berkerumun. Mereka mengelilingi sebuah meja. Seperti meja pesulap dengan peralatan perangnya. Tepuk tangan bergemuruh diiringi suitan dan tawa kekaguman. Aku mendekat. Penasaran. Seorang bartender sedang beraksi. Lelaki berkaos Giordano. Dialah juara peracik kopi. Badannya mungil. Berkumis. Tangannya dengan lincah mempermainkan peralatan perangnya demi secangkir kopi juara yang telah ditunggu para pelanggan. Kulihat sebuah V 60 menjadi media aksinya. Para penonton merasa penasaran dengan kopi yang bakal lahir nanti. Beberapa orang bahkan dengan antusias bertanya tentang ini dan itu, seputar kopi dan pengalamannya mengikuti lomba. Kaos Giordano yang dikenakannya semakin membius para penonton. Mengeluarkan aura ketampanan bak Reza Rahadian. Seri terbaru dari Giordano semakin menobatkan dirinya sebagai raja kopi di kedai ini. Keseruan terus berlanjut. Sejenak aku bisa melupakanmu.
            Tiba-tiba, sang bartender memberikan hasil racikan kopinya padaku. Diiringi kekecewaan penonton yang telah menanti kopi itu. Deg. Aku gelagapan menerimanya. Jantungku berdebur kencang laksana ombak di musim badai. Sesaat aku terpana. “Terima kasih,” kataku kemudian sambil berjalan kembali ke mejaku. Hujan di luar semakin deras. Halaman kedai terlihat berkabut suram. Kegersangannya disiram habis-habisan.
            Aku terpana menatap secangkir kopi murni. Asap tipis tampak mengepul panjang. Tiba-tiba, wajahmu ada di sana. Hatiku berdenyut sakit. Seolah ada yang menohok ulu hatiku. Kemarahanku yang memuncak saat itu berkelebat lagi.
 “Kamu jahaaaat !”
“Kamu jahat !”
“Kamu jahat !”
            Teriakanku menandingi deburan ombak. Ombak-ombak tinggi yang memecah karang. Ingin aku menggulungmu dengan ombak itu dan menghancurkan tubuhmu di batu karang.
            Alunan musik di kedai itu semakin menggundahkan rasa. Marah. Benci. Rindu. Syair dan nadanya adalah irama hatiku.
Tiap aku mendengar suara kamu, rasanya mau bilang iya
Maafkan kamu, Terima kamu kembali
Aku tahu kamu sangat menyesal
Akupun juga tak sempurna
Cerita kita tiada yang bisa gantikan
Namun ada satu yang terjadi, hatiku cinta kamu tapi tak bisa mau kembali lagi. Ulang semua
Aku tak mau lukai kamu
Tubuhku butuh kamu tapi tak bisa rasa seperti dulu
Rusak sudah aku
Kalau kuingat-ingat lagi, sayang
Hatiku berhenti di kamu
 Aku yang dulu rusak sudah aku
( Berhenti di Kamu, Anji )
 *****
“Kita memang pasangan ideal,” bisikmu saat itu.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Seperti biasa.
      Kita menelusuri kota Bandung sampai pegal kaki. Entah apa yang kita cari. Setiap jalan dan sudut kota tak ada yang terlewatkan. Kita berjalan hanya berdua saja. Tertawa bersama. Selalu demikian. Keluar masuk toko, tanpa tujuan pasti. Kalaupun membeli sesuatu pasti seragam. Entahlah. Selalu demikian. Terkadang hanya beda warna. Ada kebanggaan tersendiri, jika kita memakai barang yang sama, pada saat yang bersamaan. Kita hanya cekikikan senang sambil mengenang perjalanan-perjalanan itu. Tak kita pedulikan ejekan teman. Tak kita pedulikan tertawaan orang lain. Tak kita pedulikan komentar mereka. Satu kesenangan kita : hanya peduli pada benda sama yang kita pakai.
“Benarkah kita pasangan ideal ?”
      “Kamu yang salah !” ujarmu suatu pagi.
“Enak saja. Caramu tuh yang tidak up-to-date,” bantahku.
Seringkali juga kita berdebat. Seringkali kita melihat banyak masalah dari sudut pandang yang berbeda. Dan kita tak ada yang mau mengalah. Diam. Lalu, berbaikan lagi. Tertawa bersama lagi. Seperti anak kecil.
 “Ah, kau !”
 “Aku merindukannya !”
“Entah zaman mana, hal itu bisa terjadi lagi.”
            Waktu telah lama merenggangkan kita. Kesibukan telah jauh memisahkan kita. Namun, aku selalu merindukanmu. Selalu menanti candaanmu. Kopi inilah pengganti dirimu kini.
Masihkah kita menjadi pasangan ideal ?
Kini, aku duduk sendirian di sebuah meja tempat kita melepas lelah. Mengenyangkan perut. Melonggarkan penat dan pegal. Menatap secangkir kopi. Menghirupnya perlahan.
“Menak, kopi ini tetap terasa pahit kini. Malah semakin pahit. Rasa Caramel yang kusuka itu ikut lenyap bersama menghilangnya dirimu.”
            Ada rasa perih yang kembali melukaiku. Kopi ini seperti dua sisi mata uang. Bahagia dan pilu. Hanya kopi ini satu-satunya yang berhasil mempengaruhimu. Selain itu, aku tak pernah bisa melakukannya. Kopi ini yang telah berhasil menggeser teh pada setiap pagimu.
“Gara-gara kamu, aku jadi ketagihan kopi,” gerutumu suatu siang sambil memasukkan sepak besar kopi pilihanku pada kantong belanjamu.
“Yes !” ujarku bersorak girang.
Keras kepalamu ternyata mampu ditaklukkan sebungkus kopi. Aku tersenyum sendiri mengenang kembali momen langka itu.
“Nih, bawa kopinya. Enak, lho !” ujarku dengan ekspresi bak Claudya Cinthia Bela di Korea.
“Hei. Aku nggak suka kopi, tahu !” jawabmu ketus sambil mengambil sebungkus kopi itu dengan ragu.
“Aku selalu minum teh. Teh hangat. Teh manis. Atau teh lemon,” jawabmu lagi sambil menatap bungkus kopi itu.
Sejak belanja terakhir itu, kau tiba-tiba menghilang secara misterius. Sampai detik ini tanpa kabar. Rinduku semakin menggunung. Berharap kau ada di hadapanku.
“Hmmm… asap yang mengepul dari secangkir kopi ini seakan aroma wangi tubuhmu.”
“Kopi hitam ini selalu membuatmu lebih macho dan perkasa. Mendadak rasa percaya dirimu bangkit  seribu persen!”
“Sejak kau ikut meneguk kopi ini, kita semakin dekat. Kau selalu menjadi pelindungku. Tak ada lagi kekhawatiran seperti sebelum-sebelumnya. Perdebatan kita seolah berakhir.”
Aku menyesapnya perlahan. Menikmati rasa terdalam dari aroma kopi ini. Pikiranku tetap padamu. Wangi rambutmu yang baru keramas.
 Tusukkan sakit itu kembali menusuk dadaku. Sesak. Aku menarik nafas perlahan. Menatap lalu lalang kendaraan yang padat merayap dari jendela. Beberapa mobil dan motor memasuki halaman kedai. Bosan dengan kemacetan atau menghindari guyuran air hujan yang telah dicurahkan langit.
“Ah, sial. Kopinya habis !”
Aku mengepalkan tangan sambil menatap cangkir kosong itu. Geramku memuncak. Ingin rasanya kubanting cangkir itu sehancur-hancurnya. Teriak sekeras-kerasnya. Memaki-maki sepuasku. Untung otakku masih waras. Ini tempat umum. Perlahan kubersandar pada sofa sambil mataku tak lepas dari cangkir kosong itu. Kembali mengatur nafas perlahan. Masgul. Kecewa. Rindu. Marah. Bercampur dalam secangkir kopi terpahit dalam hidupku.
“Ini, kopi baru untuk, Mbak !” ujar seorang pelayan tiba-tiba.
“Dari siapa ?” tanyaku heran sekaligus kaget.
“Dariku,” jawab seseorang dari belakang. Aku mengenal suaranya.
Belum sempat kumenoleh. Dia telah berdiri dihadapanku. Lalu, duduk di depanku.
“Secangkir kopi sebagai tanda maaf dan terima kasihku,” jawabnya sambil tersenyum manis.
Aku terdiam. Lidahku kelu. Mulutku terkunci rapat.
“Kopimu selalu menjadi warna hidupku. Virus kopimu ternyata tak membawa maut bagiku, tapi membawa kebahagiaan,” ujarmu santai.
Wajahmu berbinar. Dia menatapku dengan ceria. Perasaanku masih tak menentu. Kami diam.
“Mengapa kamu menghilang ?” tanyaku ketus, memecah keheningan.
Jeda waktu sedikit menurunkan ketegangan urat syaraf dan amarahku.
 “Kehilangan dirimu, telah menumbuhkan sesuatu yang tak lazim pada jiwaku,” kataku.
Dia menarik nafas panjang. Wajahnya berubah sendu. Dia memperbaiki posisi duduknya. Seakan mengusir masa kelam agar tak datang lagi. Dia menelungkupkan tangannya di meja.
“Aku difitnah orang !” jawabnya perlahan. Menunduk. “Aku dituduh menggelapkan uang perusahaan. Tak tanggung-tanggung, milyaran. Semua bukti mengarah padaku. Aku tak berdaya untuk melawannya. Persekongkolan kejam dan sangat licik itu hanya memberikan dua pilihan untukku. Penjara atau mengundurkan diri dari perusahaan dengan segala konsekuensinya. Aku harus pergi sejauh-jauhnya. Konspirasi itu sengaja dibuat untuk menyingkirkanku secara halus dan rapi.”
“ Secara tiba-tiba, aku kehilangan segalanya. Kehilangan pekerjaan mapanku. Kehilangan tempat tinggal. Kehilangan harapan. Juga yang terberat adalah kehilanganmu.” lanjutnya. Raut kesedihan mendalam terlukis di wajahnya. Aura dendam, sakit hati terbaca di sana. Tangannya terkepal kuat. Matanya tampak berkaca-kaca. Ia berhenti bicara. Menarik nafas panjang. Kembali mengatur emosi.
 “Dalam kalutku, aku memutuskan pergi ke Toraja. Menyepi di pegunungan. Mewujudkan rencana perjalanan kita yang tertunda. Berwisata sambil menelusuri sejarah kopi. Akhirnya, aku melakukan perjalanan itu seorang diri. Kopi menjadi satu-satunya tujuan hidupku,” jelasmu. “Benda yang semula kubenci itu ternyata membawa banyak keberuntungan pada hidupku kini,” ujarmu merona bahagia.
“Apa yang kau lakukan sekarang ?” tanyaku hati-hati.
“Sesuai perkembangan zaman, bisnis kopi. Aku telah banyak mempelajari kopi. Ternyata, kopi Indonesia dulu pernah berjaya di dunia, lho,” ujarmu. “Nona kopi tahu itu ?” tanyamu menantangku sambil bercanda. Ciri khasmu.
Aku mendesah sebal. Dia tertawa.
“Sekarang, aku berencana membawamu pergi ke tempatku. Kamu mau ?” tanyanya.
Aku mendelik. “Maksudmu ?”
“Kita kan pasangan ideal,” jawabmu kalem sambil mengedipkan mata penuh arti.
Aku kembali menarik nafas. Melongo. Hanya itu yang bisa kulakukan. Bingung. Senang. Sedih. Bahagia. Rasanya menjadi semu seperti kopi dengan racikan yang asal-asalan. “Mungkinkah kita ….”
“Tenang, aku sudah mempersiapkan segalanya. Kalau kamu mau berkarir seperti sekarang, di sana ada kesempatan. Kalau mau menjadi rekan bisniskupun bisa. Kita kan sama-sama penggemar kopi. Banyak hal dari kopi ini yang masih menjadi peer buat kita. Banyak hal yang harus kita kembangkan. Kita bisa mewujudkan mimpi kita. Jalan-jalan ke perkebunan kopi di seluruh Indonesia. Mencari dan mempelajari keunggulan kopi Indonesia. Meraciknya dengan sempurna. Berinovasi dan menciptakan varian rasa baru. Juga menduniakannya kembali.”
“ Semuanya terserah padamu. Aku hanya sangat berharap, kamu mau ikut denganku. Kamu itu inspirasi hidupku. Virus kopimu telah banyak mengubah kehidupanku. Membuka jalan hidup baru untukku. Jujur, aku tak bisa melupakanmu sedetikpun. Kopi dan dirimu adalah jiwaku kini. Meninggalkanmu dan jauh darimu bagaikan neraka jahanam bagiku. Sakit sekali.”
“Kamu serius, Menak ?” tanyaku ragu.
“Yup. Pasti,” jawabmu mantap sambil mengangguk. Meyakinkan.
“Ayo kita buang segala masa lalu kita. kita tinggalkan rasa sakit karena lelaki jahanan itu.  Kita buka lembaran baru dalam hidup ini. Ayo, kita hidup dalam suka dan duka !”
“Tapi kita berdua ini kan sama-sama perempuan,” jawabku.
“Tak ada salahnya kan perempuan hidup bersama ?” jawabnya enteng.
Gelegar petir pun membahana.






Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory
Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.Com








4 komentar:

  1. Makasih bangeeettsss ya atas dukunganmu dan info lombanya. Moga dirimu makin sukses yah. AAmiiin. Lup yu Dyah Prameswarie

    BalasHapus
  2. Mak Yayu banget ini..
    sukses ya Mak ngontesnya..

    jadi mana kopi buatkuuuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe...
      Makasih yak mak Nchie Hanie
      Hayu atuh kita ngopi bareng

      Hapus