Kamis, 17 Agustus 2017

TIGA TEMPAT IBADAH UNIK DI CIMAHI-BANDUNG

        
Mesjid Kapal Baros
Aih, kalau sudah acara jalan-jalan itu pasti hati ini super senang. Di atas kepalaku pasti muncul bintang-bintang dan lope-lope hehehe…. Yah, setelah sekian lama terjebak pada rutinitas yang menyita waktu. Akhirnya, Minggu, 6 Agustus 2017, aku dan teman-teman bisa jalan bareng lagi. Acara kali ini bergabung dengan komunitas Lembang Heritage yang digawangi Teh Malia Alibina dan komunitas Tjimahi Herritage yang diketuai oleh Kang Makhmud Mubarok.
            Ada tiga tempat yang kami datangi. Pertama, Pameran filateli dunia di Hotel Trans Luxury Hotel ( TSM ). Dua lokasi lainnya terletak di Cimahi, yaitu mesjid Kapal dan gereja Ignatius. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampau.
            Saat di TSM, kami melihat berbagai macam jenis perangko koleksi beberapa filatelis. Konon kabarnya, perangko-perangko itu juga dilombakan. Ada aneka gambar dan bentuk. Yang paling menarik dan kaya warna adalah perangko-perangko dari Indonesia, lho. Bangga deh jadinya. Ehm. Bocoran dari panitia, acara ini digelar tiap tahun. 
            Hmmm, tapi yang ingin saya abadikan dalam tulisan kali ini adalah tiga buah tempat ibadah yang unik. Ini yang paling menarik dari acara hari itu.
1.      Mesjid Kapal
Pertama kali mesjid ini mulai di kenal masyarakat sekitar dua tahun lalu. Bentuknya sangat unik, berupa sebuah kapal raksasa. Yup, selama ini, saya belum pernah melihat bentuk kapal seperti itu. Awalnya, tak percaya. Masa sih mesjid berbentuk kapal ? Bagaimana kita shalat ? Memang bisa yah ? Itulah beberapa pikiran yang terlintas di benak saat pertama kali mendengar informasi tentang mesjid unik ini.
Ini adalah kali kedua saya menyambanginya. Pertama kali hanya selintas saja. Meyakinkan diri bentuk mesjid yang benar-benar seperti sebuah kapal. Bayangan saya mah Titanic ( halah ini mah ngefans sama Leonardo de Caprio ).
Nah, pada kesempatan kedua kemarin. Terkuaklah kapal yang diwujudkan menjadi mesjid tersebut. Ternyata kapal yang menjadi mesjid tersebut adalah kapal Kerinci. Karena pemilik mesjid tersebut adalah kapten kapalnya, Pak Budiono alm.
Miniatur kapal Kerinci
Mesjid kapal ini sengaja dibuat oleh keluarganya, anak dan istrinya sebagai persembahan khusus untuk beliau.  Sebuah bentuk cinta dan bakti yang tulus. Sekaligus juga untuk mengenang beliau. Arsitek mesjid ini adalah salah seorang anak pak Budi. Mesjid ini dipersembahkan untuk masyarakat Baros dan sekitarnya, karena keluarga pak Budi ini tinggal di Jakarta.
Untuk kegiatan ibadah seperti shalat, kita bisa masuk ke bagian bawah. Ada kamar kecil dan toilet yang sangat terjaga kebersihannya. Wangi lagi. Di ruangan lainnya adalah tempat menjalankan ibadah. Terbagi dua, untuk laki-laki dan perempuan. Katanya, mesjid ini mampu menampung seratus jemaah.
Setelah selesai melaksanakan shalat ashar, kami naik ke bagian atas untuk merasakan sensasi berada di atas kapal. Banyak spot yang menarik untuk swafoto dan foto beramai-ramai. Kalau berani, bisa juga mencapai puncak tertinggi. Dari atas ini, kita bisa menikmati panorama indah yang melingkupi kota Cimahi.
Puncak Kapal
Mesjid kapal ini bernama masjid Jami Al Baakhirah. Terletak di jalan Bapak Ampi Baros. Tak jauh dari pintu tol keluar Baros Cimahi. Tinggal cari Warung timbel. Nah sebelahnya persis adalah jalan Bapak Ampi.

2.      Gereja Santo Ignatius
Para anggota Komunitas Tjimahi Herritage bersiap difoto
Persis di sebrang jalan Bapak Ampi, kita bisa menemukan salah satu saksi bisu sejarah penjajahan Belanda di kota Cimahi. Sejak dulu, Cimahi memang lekat dengan interniran. Banyak tentara Belanda yang ada di Cimahi dan mereka membutuhkan dukungan spiritual. Daerah Baros merupakan tempat tinggal para perwira Belanda. Oleh karena itulah gereja ini dibangun.
Asal-usul gereja paroki ini berasal dari gereja Cirebon. Menurut Suyanto ( dalam Tribun Jabar ), peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Pastor Jacobus van Santeri dan Pastur Mauritius Timmers. Sedangkan arsiteknya adalah Fermont Cuypers. Di masa perang, gereja ini sempat dijadikan markas dan gudang senjata.
Foto Gereja zaman dulu
Walaupun sudah berusia 109 tahun, gereja ini masih terlihat kokoh, bersih dan terjaga dengan baik. Interiornyapun semakin lengkap. Kaca-kaca patri dan kursi-kursinya masih berasal dari masa lalu. Sesepuh gereja menginginkan keaslian bangunan gereja tertua di kota Cimahi ini tetap dipertahankan.
Sampai sekarang, gereja ini masih aktif. Seringkali di hari Minggu, gereja ini terlihat ramai didatangi para jamaah.

3.      Mesjid Agung Trans
Mesjid Agung Trans
Saat pertama kali kaki melangkah memasuki pelataran mesjid ini, hatiku dag dig dug tak karuan. Ada sesuatu yang berbeda dengan mesjid ini. Kerinduan yang sangat dalam, seperti Emak ingin Naik Haji. Apalagi saat temanku berkata-kata. Kosa kata yang keluar dari mulutnya itu bagaikan jarum-jarum kecil yang semakin meletupkan rindu yang terpendam itu.
Saat berada di bagian bawah untuk berfoto-foto, seakan aku terbang ke tempat suci yang selama ini menjadi kiblat shalatku. Dengan memegang pintu besar berwarna hitam itu, serasa aku berada di depan Kabah di Mekah.
Ya, konon katanya, mesjid Agung Trans ini, memang miniatur mesjid Nabawi di Madinah Saudi Arabia. Mesjid ini dibuat untuk mengobati kerinduan sang pemilik, Akbar Tanjung pada mesjid Nabawi yang kharismatik itu. Karena lokasinya yang jauh, maka dibuatlah mesjid ini.

Sesuai dengan suasana di lokasi TSM, begitu memasuki bagian dalam mesjid, keagungan yang maha agung terpancar dari interiornya. Warna-warna emas menghiasi dinding mesjid. Tiang-tiang kokoh menopang kemegahannya. Indah tiada tara. Mengundang rindu yang makin tak terbendung.

10 komentar:

  1. wah yang mesjid kapal itu unik pisan ya teh, padahal sering bolak balik ke daerah cimahi tapi belum pernah liat ada mesjid bentuk kapal hehe. kapan2 kesana ah, tfs ya teh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup betul. Asyek jg bisa shalat di sini. Serasa berada di kapal Titanic hehehe....

      Hapus
  2. mba yang mesjid kapal baru tau sebagai orang Cimahi jadi merasa kudet hahahaha ;p kalau dari Baso Mymo ke mana mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah sesama Cimahi geuning 😄😍 kl dari jaln cibeber/ baros sebelum mymo.lebih dekat dari sebrang gereja Ignatius. Langsung keliatan mesjidnya

      Hapus
  3. Baru tau ada mesjid kapal, teh. Keren juga yaa idenya si pemilik. Trus eta gereja teh meni syahdu ya foto jadoelnya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup betul. Kepikiran gituh yah hehehe...

      Hapus
  4. Acara mengunjungi tempat ibadah ini unik banget ya, semoga masyarakat bisa tetap menjaga persatuan walau berbeda keyakinan. Saya sendiri walau non-muslim tetap ngga bisa berhenti kagum kalau melihat Mesjid Agung Trans -- dan sering banget foto-foto di sana, hehehe...

    BalasHapus
  5. Yup. Perbedaan bukan masalah ya mbak noniq

    BalasHapus
  6. gereja yang ke dua itu bagus bangeeeettt! Favoriiit! pas ke Jogja kemarin ada gereja dengan nama yang sama, Teh. Santo Ignatius juga namanya. Bentuk2nya juga mirip.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sodaraan mungkin yah atau satu paroki gituh yah. Ya, tuh gereja usia udah ratusan tapi tetep cantik dan terawat

      Hapus