Kamis, 26 Oktober 2017

Papandayan: Makna Sebuah Perjalanan



Salah Satu Kawasan Gunung Papandayan
Semua orang pastinya suka melakukan perjalanan. Betul. kan ? Perjalanan itu pastinya dilakukan dengan berbagai tujuan. Bisnis. Belanja. Liburan. Mencari sesuatu. Perjalanan budaya. Study Tour dan lain sebagainya. Namun, pernahkan seseorang merenung atau memikirkan apa makna atau manfaat sebuah perjalanan bagi kehidupan atau bagi dirinya sendiri ?
Nah, baru-baru ini, saya bersama dengan beberapa kawan dari komunitas Sabuki (Satubumikita) melakukan perjalanan singkat selama dua hari ke gunung Papandayan Garut, Jawa Barat. Tak dinyana, perjalanan itu ternyata memiliki makna yang luar biasa indah sehingga saya tuangkan menjadi tulisan ini.
Terus terang, semula saya ragu dan takut untuk melakukan perjalanan ini. Mendaki gunung. Bayangkan, saya bukanlah pendaki gunung. Bukan pula pecinta olah raga. Diajak mendaki gunung Papandayan bagi saya bukan main-main. Bisa atau tidak ? Mampu atau tidak ? Ditambah nafas saya katanya sih pendek. Namun, sahabat saya meyakinkannya untuk mengikuti perjalanan ini. Orang Sabuki bisa diandalkan. Akhirnya, dengan nekad, penasaran dan sedang suntuk pula, maka sayapun bergabung dalam perjalanan itu. Kami berencana kemping semalam. Keraguan lain muncul. Hawa dingin merupakan musuh saya baru-baru ini. Kalau badan terasa dingin, pasti deh batuk-batuk. Nekad dan bujukan teman mengalahkan segalanya.

Arena Kemping

Perjalanan dimulai pada pagi hari dengan kendaraan dan sebuah sepeda motor. Lewat tengah hari, kami sampai di pos pertama. Kami langsung diminta menyelesaikan administrasi, lapor ke penjaga pos dan mengisi data. Setelah beres, kami mempersiapkan perbekalan. Ransel-ransel. Saya melihat sekeliling. Perasaan takut dan cemas masih ada di dada, tapi keindahan alam sekitar sedikit menghilangkannya. Tak berapa lama, kamipun mulai melangkah menapaki jalanan beraspal. Dalam hati berdoa, agar jalanan seperti ini terus sampai tempat berkemah dan puncak gunung. Ooo... harapan tinggal harapan. Memasuki kawasan kawah, aspalpun hilang berganti dengan jalanan tanah, tangga dan batu-batu. Ada pula jalur motor. Yang ini lebih berbatu. Nah, mulailah acara ngos-ngosan. Saya harus beberapa kali berhenti untuk mengatur nafas dan tenaga, terutama di jalanan yang menanjak. Namun, saya bersyukur banget bahwa dalam masa berat itu selalu saja ada kawan yang menemani.

Kawah Gunung Papandayan

Inilah makna perjalanan itu.
 Pertama. Kesetiakawanan. Secara bergantian, mereka menemani saya mengatur nafas dan tenaga sampai akhirnya tiba di tempat kemping.

Kedua, Kalahkan egomu. Dalam pendakian ini, semua harus saling memahami. Tak ada yang kalah dan menang. Semua wajib meredam ego masing-masing demi keselamatan dan kenyamanan bersama. Satu untuk semua.

Ketiga,Gotong Royong. Banyak hal yang dilakukan dalam perjalanan ini. Memasang tenda. Memasak misalnya. Jika dilakukan sendiri tentu akan terasa berat. Namun, jika dilakukan bersama-sama akan terasa ringan. Pembagian tugas dan kerja sama memungkinkan pekerjaan itu cepat selesai. Saling membantu adalah wujud nyata dari sebuah solidaritas dan kebersamaan. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Itulah peribahasa yang masih saya ingat dari pelajaran bahasa Indonesia dulu.

 Keempat, Komitmen dan Dukungan. Dari perjalanan ini, saya merasakan betul arti sebuah komitmen dan dukungan. Ini adalah dua hal yang mampu membangkitkan motivasi saya untuk menyelesaikan perjalanan ini sampai selesai. Tuntas. Tanpa dukungan dan komitmen teman-teman, saya mungkin hanya mengisi tenda kosong saja. Tak ada perjalanan yang bermakna.

Kelima, Mensyukuri nikmat. Inilah makna utama dari perjalanan ini. Allah SWT. Sang Maha Pencipta telah memberikan banyak kenikmatan pada umat manusia. Saya bersyukur dalam perjalanan ini cuaca sangat mendukung. Tidak turun hujan, Tak ada petir. Juga tak ada panas yang menyengat. Udara sangat nyaman. Paru-paru saya bisa diisi dengan udara segar yang sangat banyak, sehingga dada ini terasa lapang sekali. Alhamdulillah.
Selain itu, matapun mendapatkan panorama yang sangat indah. Sungguh sebuah anugrah yang luar biasa bisa menyaksikan keindahan alam ini. Maha Besar Allah SWT. Betapa Agungnya Beliau. Saya berharap keindahan ini akan abadi. Tak ada tangan-tangan jahil yang akan merusaknya. Itulah lima makna perjalanan yang saya dapatkan dari Papandayan.

Sebuah makna perjalanan akan terasa, karena kita sangat dekat dengan alam. Alam ternyata mampu memberikan banyak hal pada kita, termasuk makna hidup. Apalah artinya kita, manusia dibandingkan Sang Pencipta. Jika Beliau berkehendak, bisa saja, kawah yang kami lewati meletus tiba-tiba dan melenyapkan kami. Namun, Sang Pemberi Hidup masih memberikan kesempatan kepada kami untuk memaknai perjalanan ini. Merasakan nikmatnya pertemanan sejati dalam susah dan senang. Menikmati betapa luhurnya arti sebuah kesetiakawanan. Terima kasih Sabuki, Kang Hendri, Kang Firman, Eking, Dimas, Primas, Army, Devita dan Emir. Tanpa kalian, perjalananku sungguh tak bermakna.
Kalau kayak ginih nih, pastinya bakalan ketagihan ikut jalan lagi sama Sabuki dan Kang Firman Plus Kang Hendri nih hehehe.... Jaminan mutu deh. Pelayanannya juga prima 😄😍


CATATAN:

Sebagian isi artikel ini juga saya unggah di UCWEB News

Selasa, 24 Oktober 2017

FILM MY GENERATION : INSPIRASI CARA MENDIDIK DI ABAD MILENIUM




Empat orang sahabat gagal menikmati masa liburan  akibat kesalahan yang mereka buat. Zeke, Konji, Orly dan Luthesa membuat video tentang protes mereka terhadap orang tua, guru dan sekolah. Video itupun menjadi viral. Saat menjalani masa hukuman itu, ternyata mereka bisa menjadikan liburan itu dengan petualangan-petualangan hidup yang sangat berharga dan bermakna.


Perkembangan zaman telah banyak menjadikan perubahan dalam kehidupan manusia, baik fisik maupun psikis.  Dulu, mana berani kita memprotes guru, orang tua dan sekolah. Dulu, kita akan merasa bersalah jika seperti itu. Sekarang,  sudah biasa. Anak-anak atau para siswa itu akan merasa paling benar. Tak merasa bersalah. Luar biasa, ya ?
Dengan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan itu, akankah kita tetap mempertahankan tradisi mendidik yang masih kolot ? Kalau jawabannya, YA. Harus dipertahankan, maka generasi tua (guru, orang tua dan sekolah ) akan tergerus zaman. Bisa saja punah tak berbekas. Kurang uptodate. Wooow… jangan sampai kejadian deh!


Perlu diketahui bersama bahwa para remaja sekarang memiliki ruang kosong dalam jiwa mereka. Istilah Bunda Elly Risman adalah BLAST. Bored (bosan). Lonely (merasa sedirian tanpa teman). Angry/ Afraid (marah/takut). Stress (tertekan oleh lingkungan). Tired (lelah). Hal inilah yang menjadi salah satu faktor pemicu munculnya berbagai macam tindakan yang irasional, pemberontakan, protes dan lain sebagainya. Masalah yang dihadapi oleh generasi milenial ini sangat berbeda dengan geneasi terdahulu. Lebih kompleks.
So, tetapkah tradisi mendidik yang kolot itu akan tetap dipertahankan ? Kita akan memberikan perintah Tidak Boleh/ Jangan…. Orang tua menetapkan anak harus patuh dan nurut sama orang tua. Guru menekankan kepada para siswa untuk selalu menaati peraturan. Semua itu dilakukan tanpa ada kompromi, penjelasan dan tak ada bantah-bantahan. Titik.
Bagaimanakah cara seperti tadi mampu menghilangkan Blast ? Kalau menurut saya sih, hal seperti itu justru akan memperburuk dan memperparah BLAST. Lihatlah nanti di cerita My Generation. Kesenjangan cara pandang, cara mendidik, dan sebagainya menjadi konflik-konflik yang menarik dan memang nyata terjadi dalam kehidupan di zaman modern sekarang ini.
Mengapa nyata ? Karena sang sutradara melakukan riset social media listening selama dua tahun. Ide cerita dan beberapa dialognya juga diambil dari hasil riset yang intensif dengan mengamati komunikasi yang dilakukan oleh generasi milenial tersebut.


Dari film My Generation inilah, kita bisa mendapatkan satu sisi yang berbeda tentang dunia Kids Zaman Now. Cara pandang sang sutradara, mbak Upi yang kontroversial ini adalah sebuah pembelajaran dan inspirasi.
Kualitas mbak Upi di dunia perfilman tak diragukan lagi. Banyak film-film yang dihasilkannya sukses di pasaran. Apa saja ? My Stupid Bos. Radit dan Jani. 30 Hari Mencari Cinta. Beliau juga beberapa kali pernah masuk menjadi nominasi sutradara terbaik FFI. Pernah juga menjadi penulis skenario terbaik. Di film terbarunya ini mbak Upi kembali bekerja sama dengan IFI Sinema yang pernah menjadi produser film Coklat Stroberi, 3 Doa dan 3 Cinta, Serigala Terakhir dan sebagainya.


Yang juga menarik dari film My Generation ini adalah akan ada adu akting antara pemain yang lama dan baru. Seru deh kayaknya. Tio Pakusadewo, Surya Saputra, Joko Anwar, Ira Wibowo, Karina Suwandi, Indah Kalalo, dan Aida Nurmala akan berhadapan dengan Arya Vasco, Bryan Langelo, Alexsandra Kosasie dan Luthesa. Hmm, bagaimana hasilnya yah ?


Menurut Adi Sumarjono, produser Ifi Sinema, pemakaian para pemain baru ini diharapkan mampu memberikan wajah baru bagi dunia perfilman tanah air. Kesegaran sekaligus juga regenerasi. Akting para pemain muda juga bukan abal-abal. Kualitasnya sangat baik sehingga dari film My Generation ini, keempat pemain tersebut bisa menjadi rising star. Pemain baru dengan kualitas yang sangat baik. Dua harapan di masa depan untuk perfilman di tanah air.


Ah, rasanya tak sabar menanti tanggal rilis film ini, 9 November 2017. My Generation adalah film yang mampu menginspirasi, memberi hiburan sekaligus juga banyak pembelajaran di dalamnya. Jadi, kita tunggu saja kemunculannya, ya. Tak lama, sekitar tiga mingguan lagi lah. Ya, kan ?



Kamis, 19 Oktober 2017

TETAP SEHAT DI MASA PENSIUN

“Masa Ibu akan pensiun sekarang ? Masih muda,” ujar petugas kepegawaian.
“Wah, Neng, Usia Ibu sudah 60 tahun di bulan Agustus lalu,” jawab bu Nina.
“Ah masa ? Ibu belum pantas untuk pensiun sekarang,” balasnya lagi.
Mendengar cerita itu, kami semua tertawa sekaligus bangga. Yah, teman, guru sekaligus seniorku di kantor ini akan menjalani masa pensiun. Yang kuingat dari diri beliau adalah penampilannya yang berbeda 180 derajat saat berada di rumah. Kesan pertama saat membuka pintu rumahnya untuk kami adalah abegeh. Ya, bu Nina ini termasuk temanku yang awet muda, baik penampilan ataupun gaya bicara. Tak pernah ada petuah-petuah seperti senior lainnya. Beliau selalu memposisikan diri sebagai teman sejati, walau dulu beliau adalah guru Bahasa Indonesiaku.

Selasa, 17 Oktober 2017

CINTA ALFAMART UNTUK PENGGEMAR STARWARS



             Siapa yang tak kenal film Starwars ? Kalau aku sih suka nonton, walaupun gak fanatic banget. Film tentang pertarungan antara kebaikan (Jedi) dan kejahatan. Luke Skywalker dan Putri Leila yang bertarung untuk melawan Darth Vader. Yang mengejutkan, ternyata Darth Vader adalah ayah mereka. Seorang jedi yang berubah menjadi jahat. Adegan yang paling kusuka adalah pertarungan antara Luke saat melawan Darth Vader. Dengan kalem dan tenang, ia melawan ayahnya  sendiri. Dengan semangat, ia mengajak ayahnya untuk kembali ke jalan yang lurus. Namun, takdir berkata lain.
                Seperti euforia film yang lainnya, peralatan yang ada di Starwars ini juga memiliki banyak penggemar. Ada medallion, pedang (light saber), topeng dan sebagainya. Orang rela mengeluarkan kocek demi hobinya ini. Nah, untuk para penggemar film Starwars ini, pada Sabtu, 15 Oktober 2017 yang lalu, Alfamart meluncurkan Medalion Starwars. Acara ini berlangsung di Kapulaga Indonesia Bistro, Jalan Dayang Sumbi no 3 Bandung, sekitar pukul 16.00. Alfamart mengundang  Blogger Bandung, awak media dan anggota (member) setianya. Euforianya luar biasa. 

Tari Jaipong

Musik


                Acaranya sederhana tapi menarik. Diawali dengan penampilan tari tradisional Jaipong Wedangan. Juga penampilan lagu-lagu yang bikin kita, para blogger dan tamu undangan lainnya baper. Sambil mendukung persiapan acara, lagu-lagupun meluncur dari seorang penyanyi cantik dan grup bandnya. Tak lupa, ia juga menerima permintaan lagu dari para tamu yang hadir. Seorang blogger Bandung, Tian Lustiana meminta lagu Armada, Asal Kau Bahagia yang dipersembahkan untuk sahabatnya, Efi Fitriyah. Tentu saja, permintaan lagu ini disambut gembira oleh anggota komunitas Blogger Bandung. Suasana menjadi ramai.

Marketing Communication Alfamart
                Memasuki acara inti, Marketing Communication Alfamart, Rani Wijaya memberikan beberapa penjelasan. Bandung menjadi tempat pertama untuk peluncuran medallion Starwars ini. Promosi medallion starwars ini dilakukan selama periode September sampai Desember. Jika habis, akan diproduksi kembali untuk memuaskan para pecinta film Starwars. Baik banget yah Alfamart. Medalion Starwars ini merupakan salah satu upaya untuk menarik konsumen laki-laki, karena Alfamart didominasi oleh konsumen ibu-ibu. Medalion Starwars ini dijual seharga Rp 15.000,- per tiga medali. Ayo, pecinta film Starwars segera serbu medalion yang lucu-lucu ini. Ada 35 buah desain yang bisa dipilih. Rugi lho kalau kehabisan.
Aneka Medallion

Medallion Starwars

                Acara berikutnya adalah lelang dua buah Medalion Strarwars edisi khusus. Hanya ada tiga buah. Yang dilelang kemarin di Bandung, tinggal dua. Lelang pertama dimenangkan oleh seorang bapak dari Bogor, seharga Rp 1.750.000,- dan lelang kedua seharga Rp 1.500.000,-. Hmmm… ini sih kayak lelang di film-film atau Balai Lelang Christie’s Singapura.

Medallion Edisi Khusus

Acara Lelang

Para Pemenang Lelang

                Di akhir acara, dilakukan pemotretan, swafoto dan ramah tamah. Kamipun kemudian bubar setelah melaksanakan shalat magrib di mushala café. Ah, selalu banyak hal menarik dari sebuah film. 


Para Tamu Undangan
 


Jumat, 13 Oktober 2017

TIPS MENUMBUHKAN REMAJA YANG BERKUALITAS

LAHIRKAN GENERASI YANG BERKUALITAS
JANGAN SEKEDAR KUANTITAS


            Ada yang kangen dengan masa remaja, gak ? Masa-masa yang pastinya banyak kenangan indah seperti Galih dan Ratna. Atau kenangan buruk yang ingin dilupakan. Semuanya pasti ada, menyatu seperti es cmpur yang sedap di lidah. Betul ? Bagi yang sudah melewati suka duka masa remaja seperti itulah adanya.
          Remaja merupakan salah satu fase perkembangan manusia yang berada di kisaran usia sekitar 11-21 tahun. Masa yang penuh dengan perubahan fisik dan psikis. Masa penuh dengan gejolak, emosi, rasa ingin tahu, kesetiakawanan sosial, dan setumpuk hal lainnya. Seringkali masa ini disebut juga sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak yang manis menuju masa dewasa yang penuh beban.
          Ya, banyak orang tua yang seringkali merasa heran dan syok dengan perubahan yang terjadi.
“Mengapa anak mama yang dulu manis, sekarang menjadi pembangkang ?”