Selasa, 21 November 2017

MENGENAL DUNIA FOTOGRAFI DENGAN UNPUBLISHED KOMPAS


Rangkaian Acara Festival Fotografi Kompas Bandung

               Minggu, 19  November 2017, kami berkesempatan hadir di acara Festival Fotografi Kompas. Begitu memasuki gedung PLN Distribusi Jawa Barat, pandangan mata langsung disuguhi oleh berbagai macam foto yang dipamerkan. Berbagai rasa tumpah ruah. Takjub. Bangga. Kagum. Senang dan juga sedih. Kami terbawa alur cerita dalam foto-foto yang tak dipublikasikan tersebut. Ada beberapa foto yang berkesan. Pertama, Foto puncak gunung Merapi yang di depannya ada pesawat Dakota. Anak-anak yang dengan riang berloncatan di (sungai) kota. Bangunan bekas kebakaran yang unik dan penuh warna. Juga anak kecil korban tsunami yang dibawa sukarelawan. Benar-benar luar biasa karya-karya foto tersebut.
                Di hari terakhir pelaksanaan acara tersebut, kami berniat menghadiri tiga acara. Pertama, talk show buku “Literasi Visual di  Zaman Digital.”  Kedua, Workshop Foto Produk bersama Herry Tjiang. Ketiga, Talk show Jurnalistik bersama Arbain Rambey, Danu Kusworo dan Johny TG.



Literasi Visual di Zaman Digital
                Sesi ini menceritakan suka duka perpustakaan keliling memperkenalkan buku fotografi ke berbagai daerah. Mereka ingin masyarakat luas mengenal, menyenangi dan membeli buku kumpulan foto karya-karya mereka.  Selama ini, photobook hanya menjadi bagian dari para fotografer saja. Dengan membawa beberapa buku-buku foto tersebut Kang Wahyu berkeliling ke berbagai tempat, membuka lapak Perpustakaan Keliling. Perpustakaan ini berusia satu tahun. Dalam pemaparannya itu, ada foto-foto kegiatan dan juga video wawancara. Tanggapan masyarakat cukup positif dan responsive.
                Berikutnya, adalah proses membuat photobook. Lumayan lier ini teorinya. Perwakilan dari Bungkus ( aduh aku lupa namanya eh asa gak ada sesi kenalan dulu kayaknya nih ) menjelaskan proses pembuatan foto buku sampai detil. Elemen dan strukturnya. Penataan foto, diskusi sampai dummy. Seru juga pokoknya membuat buku foto-foto ini. Jadi keidean membuat photobook untuk karya-karya isengku yang sudah pabalatak.
                Literasi visual ini adalah kegiatan membaca dan menulis visual. Kalau menurut saya, juga termasuk mendokumentasikan karya-karya foto dan berusaha menangkap cerita melalui foto tersebut. (jadi inget sama guru fotografi saya, Vivera Siregar. Materi foto berceritanya sangat kami sukai, me and my student ). Membaca dan memahami photobook.

Workshop Foto Produk
                Ini pertama kalinya, saya mengetahui seluk-beluk dunia fotografer, khususnya untuk foto produk. Mulai dari perlengkapannya dengan harga yang aduhai.  Keahlian yang harus dikuasai. Proses pembuatan sebuah foto produk. Pengenalan profesi walau hanya sekilas. Juga bayarannya yang membuat saya merasa wow deh. Ada pernyataan dari Herry Tjiang yang sangat berkesan.
“Hargai dirimu dengan harga yang pantas. Jangan dengan harga murah ! Kamu boleh memberikan gratisan, tapi cukup sekali saja. Selanjutnya tentukan harganya. Kamu pantas dihargai orang.”
                Setelah foto produk secara umum, di sesi terakhir, kami mendapatkan ilmu tentang foodfotografi sesuai dengan keahlian sang narasumber, Herry Tjiang. Wah, yang ini seru juga dan bikin kami kutap ketap bin ngacay. Foto-foto yang sangat menggugah selera. Menambah riuhnya bunyi di perut, karena tetap bertahan di dalam gedung demi acara yang asyek ini. Tambah asyek, saat praktek foodfotografi dengan makanan berkuah yang mengepulkan asap, Ramen.

Talkshow Jurnalistik Kompas
                Inilah acara yang paling dipadati peserta, sampai duduk ngampar. Daya tariknya pasti sang fotografer terkenal, sekaligus tokoh Kompas, Arbain Rambey. Dengan kocaknya, beliau bercerita banyak tentang foto-foto Unpublished Kompas. Berbagai macam alasan yang membuat karya-karya jurnalistik itu tidak naik cetak. Kekerasan. Politik. Sara. Belum ada konfirmasi dari sumber dan lain sebagainya. Yang paling menghebohkan adalah foto Gayus Tambunan yang tertangkap kamera sedang menonton tenis di Bali. Kalian ingat kan peristiwa ini ? Nah, redaksi sempat bersitegang saat foto ini akan naik cetak. Kompas sangat menjaga kepercayaan. Foto tersebut harus mendapatkan konfirmasi tentang kebenarannya dari sang tokoh. Sebagai jurnalis yang berpengalaman, mereka mencoba mencari kecocokan foto itu dengan foto terakhir Gayus. Mendatangi dokter gigi juga untuk mengidentifikasi dan membenarkan foto tersebut. Sungguh ada cara yang unik di sini. Benar-benar perlu strategi jitu, kecerdasan sosial demi keberhasilan misi ini.   
                Arbain Rambey bertrio dengan editor Kompas beda generasi, yaitu: Johny TG dan Danu Kusworo. Seccara bergantian mereka menyampaikan hal-hal dan foto berbeda yang unpublished. Atau bahkan bertik-tok untuk menambah ramai suasana. Sungguh, talkshow jurnalistik yang menarik dan sangat berkesan. Terlebih, saat Arbain Rambey bertemu dengan keluarga (cucu) dari subyek fotonya yang sudah almarhum. Foto seorang kakek dari Medan diunggahnya di medi sosial Facebook. Ternyata dikomentari oleh cucunya. Pada akhirnya foto itu menjadi dokumentasi keluarga. Berbagai cerita-cerita unpublished itu membuat kami tak sadar waktu. Sampai tak terasa, roda waktupun bergulir begitu cepat dan acara itupun berakhir dengan meninggalkan senyum untuk semua.
                Diantara acara-acara itu ada juga pemberian hadiah untuk para pemenang hunting foto dan penghargaan juga untuk para sponsor.

                Festival Fotografi Kompas ini dilakukan di tiga kota, yaitu Yogyakarta, Surabaya dan terakhir Bandung. Acara berlangsung selama lima hari, mulai dari  15-19 November 2017. Banyak acara dan kegiatan yang diadakan oleh Kompas. Pameran foto unpublished. Talkshow oleh Photo’s Peak. Workshop sinematografi. Talkshow wildfotografi. Talkshow oleh PAF Bandung.Workshop Sony videography. Bedah buku. Juga hunting foto.
                Menurut saya sih kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi Kompas terhadap karya-karya foto yang tak pernah muncul di halaman Koran. Foto-foto itu dibuat oleh para pewarta  Kompas. Walau tak dipublikasikan, foto-foto itu tetap disimpan secara apik. Sayang, kalau foto-foto itu hanya berada di dalam dunia gelap.
                Mudah-mudahan tahun depan acaranya akan lebih seru, lebih menarik dan makin heboh dari yang sekarang. Bocorannya sih tema tahun depan adalah sport. Ok, sampai jumpa di acara tahun depan yah. Bye bye.


10 komentar:

  1. Menarik acaranya ya,Mak. Saya pengagum karya Arbain Rambey dan pembaca setia Kompas sudah hampir tiga dekade. eaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow keren. Asyek banget mbak. Pak Arbain kocak bangets 😅

      Hapus
  2. Seru ya menghadiri festival seperti ini, banyak foto - foto keren pastinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes seru pisan dan bikin betah seharian di sana 😍

      Hapus
  3. menarik acaranya ya teh, aku fokeus sama foto yg unpublished bahkan untuk naik cetak aja mesti konfirmasi terlebih dahulu ke pihak terkait :) mantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, diskusi untuk muat foto itu ternyata luar biasa

      Hapus
  4. waah suka kabita kalo ada acar fotografi gini teh, pingin bisa foto juga hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup betul. Lika likunya asyek juga. Nyesel kenapa gak dari dulu kenal dan hobi fotografi 😉😄

      Hapus
  5. Keren dan menarik banget acaranya. Banyak ilmu yang bisa diserap ya, Teh.

    Ngomong-ngomong tentang Madam Vivera, saya suka gaya fotografi beliau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. keren pake bingits. Yup, akupun demikian. Bikin greget juga, kapan aku bisa bikin foto-foto seindah dan sebagus itu hehehe

      Hapus