Kamis, 28 Desember 2017

CINTA IBU SEPANJANG ZAMAN

Hai sob,
Aku mo nostalgia nih.
                Masih di bulan Desember. Kalau di awal Desember, kita pernah mengenang jasa dan perjuangan tokoh emansipasi wanita dari Jawa Barat, Ibu Dewi Sartika. Nah, di akhir Desember ini, kitapun masih tetap memperingati hari penting terkait dengan wanita, yaitu hari Ibu.
                Apa sih yang terpikirkan di benak kita jika ingat pada hari Ibu ini ? Bunga dan coklat ? Kalau yang ini bukan kesukaan mamaku, lebih baik aku memberikan kue sus untuknya. Pelukan ? Yup, ini yang paling kusuka. Seringkali aku memeluk mamaku, rasanya damai banget di hati. Perasaan yang sedang galau melowpun jadi hilang seketika. Inilah salah satu anugrah terindah dalam hidup, memiliki Ibu yang selalu menyayangiku sepanjang zaman. Kalian juga, kan ?
                Yah, cinta itulah mungkin kata yang paling tepat untuk ibu kita. Selalu ada cinta di hati bunda. Sebandel apapun kita, beliau tetap cinta nomor satu. Eh, beliau selalu mencintai kita lebih dari apapun juga, bahkan lebih dari menyayangi dirinya sendiri. Ibu akan selalu siap berkorban untuk kita. Doa-doanya selalu mengalir untuk mengiringi perjalanan hidup kita. Keberhasilan kitapun kini, tentu karena doa-doanya pada Sang Maha Pengatur, Allah SWT. Inilah penafsiran saya tentang surga ada di telapak kaki ibu. Surga itu merupakan lambang kebahagiaan sejati dan abadi. Cinta dan doa ibulah yang selalu memberikan rasa bahagia itu. Murni 24 karat. Asli dan tak pernah dibuat-buat. I love you, Mama.


                Banyak cara yang ibu lakukan untuk menyayangi anaknya. Termasuk hal-hal yang tak terduga. Kalau aku berbuat salah, mamahku akan diam seribu bahasa. Cemberut cantik. Beliau berharap agar aku tak melakukan kesalahan itu lagi. Untuk bekal hidupku, beliau juga sering mengajakku untuk membuat kue lebaran atau memasak untuk makan sehari-hari. Nah, ini yang paling menarik. Kami semua akan berkumpul untuk membuat kue. Ada yang bagian membuat adonan. Mencetak. Mempanir. Mengoles. Dan mamaku bagian memanggang. Selalu riuh di dapur kalau menjelang lebaran. Selalu banyak pesanan kue dari kami, orang-orang yang dicintainya. Nah, kalau masak, apalagi yang harus ada bumbu halus, semua pada lari. Jadi, mamaku yang ngulek bumbu dengan mutu andalannya dan aku yang menumisnya. Aku paling jago memberikan bumbu tanpa dirasa. Begitu kata beliau. Nah, itulah bentuk kecintaannya pada kami. Cara mencintainya memang unik. Terkadang membuat kita kesal dan sebal, tapi itulah cinta. Pahit itu obat.
                Dulu, saat saya masih kecil, sambil pergi dan pulang sekolah, beliau banyak memberikan ilmunya juga dengan cinta. Cara menyebrang, mengenalkan berbagai macam tumbuhan yang ada di sepanjang jalan. Termasuk juga sabar menungguku, saat aku kepincut tanaman putri malu. Kamu tahu kan tanaman itu ? Daun-daunnya akan menguncup saat disentuh. Aku paling suka dengan tanaman itu. Bisa diam lama, kalau di jalan menemukan putri malu. Sentuh, diamkan. Sentuh, diamkan. Begitulah sampai aku bosan. Dan mamaku dengan penuh cinta, sabar membiarkanku bermain dengan tanaman perdu itu. Itulah kenangan manis bersama mamaku.

Cucu Kesayangan

                Rasa cinta mamaku ternyata tak hanya selesai di anaknya saja. Cintanya tak pernah putus. Dicurahkannya juga pada cucunya. Walau sempat mengatakan tidak mau repot mengasuh cucu, tapi saat keadaan mendesak, beliau mau juga terjun mengasuh cucunya. Ketika itu, adikku melahirkan anaknya yang kedua. Maka, anaknya yang pertama sementara tinggal bersama kami. Entah karena cemburu dapat adik baru atau apalah alasannya, ponakanku itu membuka jendela mobil selebar-lebanya. Saat pulang dari rumah sakit. Hari sudah malam. Angin malam yang dingin dengan garang menerpa kami. Semua menyuruhnya untuk menutup jendela, termasuk mamaku. Namun, cucunya itu membandel. Alhasil, sampai di rumah, ponakanku itu muntah-muntah. Badannya panas. Wajahnya memerah. Aku panik dong. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada ponakanku itu. Dengan tenang, mamaku mengompres cucu kesayangannya itu. Begitulah, beliau mencurahkan cintanya saat aku sakit dulu. Dan, kini beliau berikan cintanya pada Ariq, cucunya.
Ah, Bunda engkau adalah pahlawanku. Kasih sayang dan cintamu akan kukenang sepanjang masa. Pun dalam tulisanku ini. Semoga engkau bahagia di alam sana !
Saat itu, akupun menelepon. Minta saran saudaraku. Beliau menganjurkan untuk memberikan obat penurun panas. Malam itu, Tempra Syrup mampu menghilangkan ketakutanku. Panasnya menurun.  Itulah untuk pertama kalinya, aku mengenal Tempra.

Tempra Syrup andalan penurun panas

               
Selanjutnya, sering pula kulihat di iklan-iklan televisi. Ternyata, banyak juga temanku yang menggunakan Tempra Syrup untuk mengobati anaknya, khususnya menurunkan panas. Dengan dosis yang tepat, tempra syrup mampu meredakan panas anak-anak. Tempra selembut kasih ibu. Membuat para ibu tak dilanda panik saat buah hati tercintanya sakit panas. Tempra aman untuk lambung. Tidak perlu dikocok, langsung larut 100%. Kemasannyapun apik dan menarik. Tertutup rapat, tak khawatir terkontaminasi. Jadi, tempra syrup benar-benar dewa penolong nih.

Anak sehat, liburanpun ceria

Gemesin yah anaknya
                Bagaimana kawan-kawan ? Nah, itulah sekelumit nostalgiaku bersama mama tercinta. Bersama Tempra Syrup, aku curahkan kembali cara ibu mencurahkan cintanya. Begitu banyak dan dahsyat. Luar biasa cintanya untuk buah hatinya. Sampai saat ini, aku tak mampu membalas semua kebaikan beliau. Hanya doa yang bisa kurapalkan. Semoga Allah SWT menempatkan mamaku di tempat terbaik, surga. Semoga beliau bisa hidup tenang dan bahagia bersama bapakku ! Aamiin. Semoga tulisan ini bisa menjadi salah satu caraku berterima kasih padanya. Juga terima kasih untuk semua Ibu yang ada di dunia. We love you, mom !





Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.

                

4 komentar:

  1. Memang ya mba seorang ibu itu besar banget pengaruhnya bagi perjalanan kita menuju kedewasaan..Bahkan sampai kita punya anak, Ibu tetap memberikan kasih yg berlimpah pada cucu2nya.

    Membalas kebaikan mereka selain dengan doa, adalah dengan memberikan sesuatu yang dia suka. Mungkin itu "sederhana" .

    Untuk Tempra, dulu menjadi persediaan wajib di rumah sewaktu anakku masih balita.

    BalasHapus
  2. Siapaun memilih tempra ya, Tempra pilihan tepat ibu bijak

    BalasHapus