Kamis, 25 April 2013

SISI LAIN SANG BINATANG JALANG



Siapakah sang ( si ) Binatang Jalang itu ? Tentu saja, Chairil Anwar. Adakah orang yang tidak mengenalnya ? Beliau merupakan seorang penyair angkatan 45 yang sangat monumental dalam dunia kesusastraan indonesia, khususnya perpuisian. Puisi-puisinya dianggap sebagai tonggak peralihan puisi modern Indonesia. Karyanya yang cukup terkenal adalah Aku. Dari sinilah lahir julukan Si Binatang Jalang.
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
                      
  Menurut penyair Afrizal Malna, Chairil Anwar sangat dekat dengan para perupa. Pelukis besar yang sangat dekat dengannya adalah Affandi, S. Sudjojono dan Nashar. Bahkan seorang Chairil mampu mengubahsikap hidup seorang pelukis, Nashar. Kritikan Chairil pada karyanya tentang gelandangan, membuat Nashar menempuh penderitaan untuk mendapatkan sensitifitasnya. Bukti lain kedekatan Chairil dengan para pelukis itu adalah adanya puisi yang ditulisnya untuk Affandi.
            Dan tangan ‘kan kaku, menulis berhenti
            Kecemasan derita, kecemasan mimpi
Berilah aku tempat di menara tinggi
            Dimana kau sendiri meninggi
                        Sosialisasi Chairil dengan para pelukis itu terlihat juga pada gramatika puisinya. Gramatika puisi Chairil mematahkan unsure linearitas bahasa melalui kerja “menatap” yang banyak dilakukan dalam puisi-puisinya.
I.                     Dan bara kagum menjadi api           
II.                  Berselempang semangat yang tak bisa mati
                        Dalam menganalisis puisi-puisi Chairil Anwar, Afrizal Malna berpendapat bahwa penyair 45 itu menggunakan faktor tubuh dalam penciptaan puisi-puisinya. Artinya, tubuh itu digunakan sedemikian rupa oleh Chairil untuk menangkap momen-momen dalam kehidupannya. Dengan demikian, muncul kata-kata yang bermakna dalam, sarat makna dan penafsiran. Sebuah kekayaan makna kata yang mampu memunculkan majas-majas yang luar biasa indah.
            Contoh I : Bara kagum menjadi api
            Contoh II :        Jika di Barat nanti menjadi gelap
Turut tenggelam sama sekali
Juga yang mengendap,
Di mukamu tinggal bermain Hidup dan Mati
                        Permainan rima antara gelap, tenggelam, mengendap merupakan cirri khas gaya Chairil Anwar membuat majas dalam puisinya. Gelap dan tenggelam menjadi visual ketika dimasukkan unsure mengendap dalam puisi itu. Mengendap menghasilkan gambaran antar kemanusiaan, kerawanan dan kecemasan sekaligus tetapi juga unsur gerak yang disembunyikan.
                        Faktor tubuh itu menjelaskan suasana kekelaman karena kolonialisme dan kekelaman modernisme dalam bayang-bayang perang dunia I dan II. Chairil membiarkan tubuhnya masuk pada kehidupan. Chairil pun memiliki kecerdasan tubuh yang berkesan mistis.
                       
Dalam pandangan Yasraf Amir Piliang, dosen FSRD ITB, puisi Chairil Anwar dibahas dari aspek humanitas dan Animalitas. Menurut beliau, puisi membuka cara baru untuk memahami dunia. Dunia ini bermakna luas bukan sekedar tempat bumi (tempat hidup) tapi juga cara berpikir, ideology, cara berkomunikasi dan lain sebagainya.
                        Pendapatnya yang cukup mengagetkan adalah ketika beliau memaknai bagian puisi Chairil yang berbeda dari yang sudah ada.
            Aku ini binatang jalang
            Dari kumpulannya yang terbuang
                        Beliau mengatakan bahwa melalui puisinya ini, Chairil Anwar ingin keluar dari dunia manusia dan ingin menjadi binatang. Anda heran dengan pernyataan ini ?
                        Jika kita, menelaah lebih jauh tentang kehidupan ini, binatang tampak lebih mulia dari manusia. Binatang tidak punya pikiran yang berbingkai. Binatang pikirannya lebih murni dari manusia. Mengapa ? Di zaman sekarang ini, manusia banyak sekali kehilangan makna dalam segala sendi kehidupan. Semua akar persoalan hidup manusia selalu berakar pada masalah materi (uang). Inilah faktor penyebabnya. Manusia menjadi serakah, menjadi predator, menjadi hilang kemanusiaannya. Banyak penyimpangan yang terjadi. Pun di zamannya. Seorang Chairil Anwar ingin keluar dari dunia hitam itu. Ia ingin hidup dalam sebuah kemurnian.
            Dalam kehidupan yang sudah kelam ini, Yasraf A. Piliang berharap puisilah yang akan mampu membuat pencerahan, dengan syarat dunia sastra harus bisa mengembangkan dirinya sendiri agar bisa bermakna bagi yang lain.
            Demikianlah pemikiran-pemikiran baru dari puisi Chairil Anwar. Pemikiran itu lahir dalam acara Seminar Nasional yang diselenggagarakan oleh Gelanggang UNPAD pada Rabu, 24 April 2013 di Balai Santika, kampus UNPAD Jatinangor. Seminar itu diadakan dalam rangka bulan sastra, berkaitan dengan hari wafatnya Sang Penyair, Chairil Anwar pada 28 April. Semoga bermanfaat dan mencerahkan kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar