Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

9/05/2026

Catatan Perjalanan Wali Kelas

 

Halo sobat yayuarundina.com -  Hari ini, aku kembali merasakan emosi yang spesial itu. Emosi yang muncul sebagai bagian dari tugas wali kelas. Inilah catatan perjalanan wali kelas.


Wali kelas
Perjalanan Wali Kelas 

Menjadi wali kelas adalah tugas terberat yang harus kulakukan sebagai guru. Sangat menguras emosi, jiwa dan pikiran. Terkadang juga harta. Kita bisa ikut tertawa, bahagia bahkan menangis ketika menjalankan tugas dewa ini. Sebagai wali kelas, kita biasanya diamanahi satu kelas khusus untuk dikelola dari beragam aspek. Penataan kelas, perilaku,  masalah, mengisi rapor  dan se-abreg tugas lainnya.

Walau kini ada peran guru wali, bagiku kedua peran guru ini sama saja sih. Malah mungkin sekarang jadi tumpang tindih. Menurutku lebih efektif menjadi wali kelas dengan satu kelas khusus daripada memegang banyak siswa dari beragam kelas. Apalagi, jika kita tidak masuk kelas. Lebih sulit lagi. Biarlah guru BP/BK yang seperti itu, mengikuti anak.

Tugasku Sebagai Wali Kelas: Sebuah Catatan Perjalanan

Perjalanan menjadi wali kelas ini dimulai sejak tahun 1997. Tahun pertama ketika aku mulai memasuki dunia sekolah, dunia guru. Setelah mengirimkan lamaran ke sana ke mari, akhirnya, aku bisa bekerja di SMA Pasundan 3 Cimahi. Di sinilah, aku mulai mengenal dunia guru seutuhnya.

Untuk pertama kalinya, aku diberi tugas sebagai guru dan wali kelas. Aduh sayang, entah kelas apa yang kupegang sebagai wali kelas pertamaku. Yang pasti, aku menerima semua tugas yang diberikan oleh kepala sekolah. Rasanya sangat bahagia dan bangga bisa menjadi guru. Bisa berada di sebuah sekolah setelah perjuangan melamar pekerjaan ke sana ke mari.


Walikelas
Pertemuan Wali Kelas dengan Orang Tua Siswa


Menjadi wali kelas ternyata menjadi tugas yang super berat. Lebih berat daripada tugas guru. Dengan penguasaan materi yang lebih dari cukup, aku dengan mudah bisa menjalankan peran sebagai guru Bahasa Indonesia. Namun, sebagai wali kelas, wow ampun deh.

Memasuki dunia wali kelas, banyak hal yang masih gelap, belum punya pengalaman. Menjadi wali kelas itu sama dengan menjadi orang tua bagi siswa, pengganti orang tua di sekolah. Bayangkan, seorang guru muda menjadi orang tua. Mulai dari super bengong karena banyak hal yang tidak kuketahui ketika pertama kali menjadi wali kelas. Menjadi penasihat perkawinan. Menjadi pendengar setia. Mengenal siswa seutuhnya, di luar dunia belajar.

Dunia wali kelas itu bagai ombak. Kadang tenang, kadang bergelombang dahsyat. Akan sangat bahagia bila mendapatkan siswa baik-baik saja. Akan sangat emosi bila siswa terlibat kenakalan remaja. Akan ikut menangis mendengar kasus-kasus yang menyedihkan. Akan ikut prihatin dengan segala nasib yang menimpa siswa. Begitu banyak emosi yang terkuras. Begitu banyak pelajaran hidup yang didapatkan.

Menjadi wali kelas juga berarti mengasah rasa, mengasah pengalaman, menantang kedewasaan. Dengan beragam kasus yang dihadapi, wali kelas harus pandai-pandai menjaga perasaan. Terkadang, kita harus mampu bersikap dewasa, sabar, bijaksana, tegas, kooperatif. Terkadang, kita harus mampu memberikan nasihat, solusi terbaik, jalan tengah. Bahkan, kita pun harus bisa menjadi hakim. Begitulah dunia wali kelas. Tidak monokrom, banyak warna.

Pernah suatu waktu, saya menangis sesenggukan di rapat kenaikan kelas, ketika menceritakan kembali kronologis masalah siswa. Sang ayah yang berpamitan akan memancing pada suatu pagi. Tiba-tiba pulang dalam kondisi terbujur kaku pada sore hari. Ibu dan anak yang ditinggalkan begitu kelabakan dengan kondisi yang tak terduga.

Pernah pula saya ikut kecewa ketika siswa yang menggeluti dunia modeling tidak lulus ujian.

Saya pun pernah marah besar ketika siswa minta dibelikan motor padahal ibunya hanya seorang buruh cuci baju.

Rasa prihatin juga sering muncul melihat dan mendengar nasib siswa yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ah, miris sekali. Seandainya, aku jadi konglomerat, akan kubiayai mereka agar bisa bersekolah sampai tuntas.

Sering, saya juga miris dengan beragam kasus perkawinan yang melanda orang tua siswa. Ada yang bercerai baik-baik saja. Banyak pula yang bercerai dengan beragam masalah kompleks. Kawin lari. Suami kabur. Dikejar debt collector atau penagih utang.

Banyak juga yang menginspirasi. The power of Emak-Emak. Banyak kisah inspiratif para wanita, ibu yang berjuang keras demi kesuksesan anak-anaknya.

Menjadi wali kelas juga berarti menjadi motivator. “Bu, aku cape dan kurang tidur karena banyak tugas!” keluh siswa.

“Memang, ada hidup yang tidak cape?” tanyaku balik.

“Mengerjakan tugas itu berlangsung seumur hidup, dalam beragam kondisi. Selesai tugas sekolah. Ada tugas kantor. Ada tugas ayah. Ada tugas ibu rumah tangga. Ada tugas menjadi pak RT, pak lurah, komandan, bahkan presiden!“

“Cape dan lelah itu bagian dari kehidupan kita!”

“Tinggal kita atur iramanya! Ambil jeda sejenak! Istirahat dulu sebentar ketika tubuhmu  merasa lelah. Atur strategi. Maju lagi untuk menyelesaikan tugas yang tertunda. Begitulah seharusnya hidup!”

Ketika Wali Kelas harus Home Visit atau Kunjungan Rumah

Ini mungkin tugas guru yang tak banyak diketahui oleh masyarakat. Home visit atau kunjungan rumah biasanya dilakukan oleh walikelas ketika menghadapi masalah yang cukup berat. Atau ada orang tua siswa yang meninggal dunia. Home visit biasanya dilakukan karena tidak ada komunikasi dengan orang tua. Orang tua tidak datang ke sekolah dengan beragam alasan. Harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tidak mendapat izin dari atasan, pekerjaan yang sangat padat, bahkan orang tua tidak mengetahui undangan tersebut karena siswa tidak berani memberikannya.

Kunjungan rumah atau home visit ini bisa dilakukan bersama-sama. Jika ada beberapa siswa yang bermasalah, lalu rumahnya sejalur, kita bisa melakukan kunjungan rumah bersama. Home visit ini juga biasanya didampingi oleh guru BP/ BK.

Banyak suka-duka yang dialami ketika melakukan kunjungan rumah atau home visit ini. Pernah suatu ketika, kami melakukan home visit ke daerah Cililin. Kami menaiki angkot pedesaan. Tak diduga, sopir angkot menyetir kendaraan itu seperti sedang balap mobil eh motor di Mandalika. Super ngebut. Sampai-sampai badan kami bergerak-gerak tak karuan. Jantung rasanya mau copot. Sepertinya, sopir itu mabuk alkohol. Semakin dilarang, sang sopir semakin ngebut mengendarai angkotnya. Pun tak ada angkot lain yang melintas, membuat kami kesulitan untuk ganti kendaraan. Kami hanya bisa pasrah. “Semoga kami diberikan keselamatan oleh Allah SWT!”

Di lain waktu, kami harus berkeliling Cimahi karena alamat rumah yang tidak jelas dan tidak lengkap. Sampai-sampai sepatu saya harus diganti baru karena rusak. Mau tidak mau kami harus home visit karena siswa ini sudah lama tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas. Juga tidak ada kabar dari orang tua. Berbekal niat yang baik, kami menyusuri area sesuai catatan dari tata usaha. Bantuan masyarakat sangat menolong kami. Setelah berpuluh-puluh kali menanyakan alamat rumah ini, alhamdulillah ada seorang pemuda baik yang mengantarkan kami ke rumah siswa yang bermasalah tersebut.

Orang tua siswa tersebut kaget karena anaknya setiap hari pergi dan pulang sekolah seperti biasanya. “Betul, Bu. Anak Ibu tidak sampai ke sekolah. Entah mabal kemana!” jawabku sendu.

Tiba-tiba. “Assalamualaikum!” Siswa yang bersangkutan tiba di rumah sesuai jam kepulangan sekolah.

Dia sangat kaget melihat kami, wali kelas dan guru BP/ BK ada di rumahnya. Dia pun menceritakan semuanya dengan jujur setelah ditanya oleh kedua orang tuanya.

“Saya memang pergi ke sekolah setiap pagi. Tapi, di jalan dapat bisikan gaib. Kamu pergi saja ke curug  (air terjun) di Cililin bersama teman-teman barumu,” jawabnya enteng.

 

Demikianlah catatan perjalananku sebagai walikelas. Inilah salah satu dunia guru yang menarik.

Semoga tulisan ini bisa memperluas cakrawala Sobat Yayu Arundina tentang dunia guru.

Semoga bermanfaat

 

Sampai jumpa di unggahan lainnya

 

Salam

4/25/2026

Bersama Ashoka Training of Facilitators Guru Gaharu

 

Halo sobat yayuarundina.com – Setelah lama hiatus, akhirnya pekan ini aku berkesempatan mengikuti acara Bersama Ashoka Training of Facilitators Guru Gaharu. Pelatihan ini dilaksanakan selama tiga hari di hotel Luminor Metro Indah Mall Bandung pada Jumat-Minggu, 17-19 April 2026.

Pelatihan ini diikuti oleh para guru dan kepala sekolah dari berbagai kota yang ada di Jawa Barat. Purwakarta, Sukabumi, Bogor, Tasikmalaya, Depok, Sumedang, Jakarta dan sebagainya. Setiap sekolah diwakili oleh satu orang guru dan satu orang kepala sekolah atau dua orang guru.


Training Ashoka
Guru sebagai Co Facilitators 

Ashoka bekerja sama dengan Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) dan IGI. Pelatihan ini untuk pertama kali diadakan di Bandung. Di sini, saya dan sembilan orang teman lainnya memiliki peran baru sebagai co-facilitator. Kami membantu tim Ashoka untuk memberikan penjelasan dan membimbing para peserta.

Ashoka everyone a Changemaker. Time for Change. Mengubah dunia dari ruang kelas. Pelatihan ini bertujuan mengubah mindset guru dan kepala sekolah agar tidak seperti judul lagu Dian Pieshesa, Aku masih Seperti yang Dulu. Dunia pendidikan harus berubah ke arah yang lebih baik, lebih berkualitas.

Guru Sebagai Agen Perubahan

Dunia pendidikan dinilai lambat dalam menerima berbagai perubahan. Padahal, dunia sekarang ini banyak mengalami perubahan. Perubahan iklim, teknologi, alam, dan juga perubahan masyarakat. Jika kita tidak mau berubah, apa kata dunia? Time for Change.


ashoka
Pelatihan Guru Gaharu

Time for Change, saatnya mengubah dunia dari ruang kelas. Saatnya berubah. Kita, para guru bisa melakukan beragam inovasi untuk melakukan perubahan. Bukan hanya pandai berceramah, tapi juga bisa memvariasikan beragam metode dan model pembelajaran. Bukan hanya kapur dan papan tulis, tapi juga beragam media pembelajaran. Semuanya dilakukan untuk mengubah kualitas pembelajaran.

Sekarang, bukan saatnya untuk melaksanakan pembelajaran sebagai sebuah formalitas belaka. Asal dilakukan saja. No... No... No! Sekarang, saatnya kita melakukan pembelajaran yang bermakna dan berdampak pada murid. Sulit memang, tapi kita harus mulai melakukannya. Sekarang, saatnya bagi kita, para guru profesional meningkatkan kualitas pembelajaran. Ayo, jadikan diri kita sebagai agen perubahan!


agen perubahan
Guru mengubah dunia dari Ruang Kelas

Tugas kita, para guru adalah mencerdaskan anak bangsa. Melahirkan kaum-kaum intelektual yang sehat lahir batin. Membentuk generasi muda yang aktif, kreatif, dan inovatif demi kemajuan bangsa. Saatnya bagi guru menjadi agen perubahan. Saatnya bagi guru melahirkan agen-agen perubahan di kalangan generasi muda. Ashoka everyone a changemaker.

Metode 5 R Sebagai Langkah Awal Perubahan

Ashoka menekankan  perubahan berdasarkan kekuatan diri dan kolektif. Kita harus membangun ekosistem yang mampu bersama-sama bergerak untuk melakukan perubahan-perubahan itu. Perubahan ke arah yang lebih baik dan lebih positif. Perubahan kualitas pembelajaran dan kualitas sekolah. Inilah kunci perubahan di dunia pendidikan.

Salah satu metode yang bisa kita gunakan adalah 5 R. Rasa, Raih, Rancang, Rencana, dan Rawat. Berawal dari pengenalan diri. Apa kekuatan positif yang ada pada diri kita? Apa kekuatan kolektif yang bisa menggerakkan perubahan?

Dari jawaban-jawaban tersebut kita bangun impian-impian, vision board. Sebuah cita-cita ideal tentang proses pembelajaran. Lingkungan sekolah yang ideal dan lain sebagainya. Lalu, kita buat sebuah rancangan melalui pohon masalah dan pohon solusi. Apa masalah yang kita temukan dalam proses pembelajaran? Apa masalah yang ada di lingkungan sekolah? Mari kita cari solusinya bersama-sama! Ayo, buat rencana untuk memperbaiki hal tersebut! Buatlah program-program yang bisa menjadi solusi bagi masalah tersebut! Terakhir, mari kita rawat program perubahan itu agar bisa berdampak.

Ashoka Membangun Ekosistem Perubahan

Ashoka merupakan sebuah lembaga yang digagas oleh Bill Dayton pada tahun 1981.  Awalnya bergerak di bidang kewirausahaan sosial. Ashoka berusaha untuk mengatasi masalah sosial dan lingkungan melalui beragam perubahan. Kini, ada sekitar 4.000 Ashoka Fellows dari sekitar 93 negara, termasuk 205 orang dari Indonesia.


Guru sebagai agen perubahan

Visi Ashoka adalah Everyone A Changemaker, setiap orang adalah agen perubahan. Masyarakat yang merespon tantangan secara cepat dan efektif. Setiap orang memiliki kebebasan, kepercayaan diri, dan dukungan untuk menjawab setiap permasalahan.

Oleh karena itu, Ashoka memiliki gerakan perubahan sebagai berikut:

Ø  Kewirausahaan Sosial

Ø  Empati dan Generasi Muda dalam Mewujudkan Perubahan

Ø  Mengorganisasi Perubahan

Ø  Memperkuat Upaya Perubahan

Gerakan tersebut diaplikasikan dalam program-program Ashoka ini diantaranya adalah

1.      Ashoka Venture and Fellowship

Jaringan wirausahawan sosial yang terkemuka dan terbesar di dunia. Mereka berkomitmen untuk melakukan beragam kebaikan sosial.

 

2.      Ashoka Young Changemaker

Jaringan global anak muda sebagai agen perubahan yang berpengaruh dalam menciptakan dunia dan membuat beragam perubahan bagi lingkungannya. Anak muda yang penuh inisiatif, mampu menjadi pemimpin dan memersuasi orang lain sebagai agen perubahan.

 

3.      Gaharu Keluarga

Perubahan pun bisa berawal dari keluarga. Gaharu Keluarga adalah keluarga Indonesia yang tangguh, kreatif, punya kepedulian sosial dan inovatif dalam menghadapi beragam perubahan dunia yang cepat.

 

4.      Gaharu Muda

Gaharu muda adalah upaya kolektif dalam ekosistem pemuda sebagai agen perubahan. Mereka ditantang untuk memecahkan masalah sosial demi kebaikan bersama.

 

5.      Layar Gaharu

Ashoka menyediakan beragam film yang mengisahkan perjuangan dan petualangan para pembaharu dalam membuat perubahan. Film-film keren yang menginspirasi.

Perubahan ini memang harus dimulai sekarang juga. Perubahan dari segala aspek, segala sudut, dan semua lembaga agar bisa berbuah manis. Kita tak bisa diam menunggu. Perubahan itu abadi. Jadi, saatnya kita bergerak bersama menuju perubahan yang positif. Saatnya guru, siswa, dan sekolah menjadi agen perubahan.

Nah, sobat yayuarundina.com, tertarik menjadi agen perubahan? Mari terus bergerak bersama Ashoka. Ayo, menjadi Guru Gaharu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kualitas pendidikan Indonesia. Everyone A Changemaker. Saatnya kita berubah dan mengubah dunia pendidikan.

 

Salam perubahan

Panjang Umur Perjuangan

 

3/21/2026

Idulfitri Saatnya Meraih Kemenangan Pendidikan

 

Halo sobat yayuarundina.com –  Fajar Idulfitri 1447 H kembali menyapa. Idulfitri ini saatnya meraih kemenangan pendidikan. Kita kembali kepada fitrah manusia. Kembali suci lahir dan batin.


pendidikan
Idulfitri saatnya meraih kemenangan

Ucapan Selamat Idulfitri mohon maaf lahir dan batin sudah sering kita sampaikan saat berjumpa dengan saudara, tetangga, handai tolan dalam suasana lebaran. Setelah selesai salat Id, kita akan menjumpai banyak orang untuk meminta maaf atas segala salah, khilaf dan alfa. Idulfitri saatnya meraih kemenangan.

Tak ada salahnya, jika di momen Idulfitri kali ini, kita merenungkan sejenak tentang kemenangan di dunia pendidikan. Idulfitri saatnya meraih kemenangan pendidikan. Yes, Ramadan dan Idulfitri adalah kawah candradimuka tentang karakter. Selama sebulan penuh, kita dilatih untuk menahan segala hawa nafsu yang ada pada diri manusia. Menahan lapar dan haus. Menahan syahwat. Menahan agar tidak bergosip. Menahan agar tidak berpikiran buruk. Banyak hal yang kita lakukan, pengendalian diri. Kita berusaha menjadi pemenang.

Idulfitri Saatnya Meraih Kemenangan Pendidikan

Lantas bagaimana konsep Idulfitri sebagai saat yang tepat untuk meraih kemenangan pendidikan? Pendidikan adalah sebuah proses  untuk menumbuhkan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran atau kekuatan intelektual dan kemampuan fisik untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Dalam Islam, kesempurnaan hidup bisa berarti sehat jiwa dan raganya. Tak punya cacat secara fisik dan tidak menderita sakit mental. Manusia yang sehat jiwa dan raganya bisa berkiprah dalam kehidupan secara baik dan benar.

Manusia memiliki dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Mental dan fisik. Sering, kesehatan mental terabaikan oleh banyak orang. Kita beranggapan orang yang sehat itu sebatas fisik saja. Namun, belakangan, kesehatan mental juga menjadi perhatian penuh di dunia pendidikan. Tentunya, kesehatan mental ini tak boleh ditinggalkan, karena sejatinya, pendidikan pada dasarnya adalah proses mental.

Pendidikan adalah membangun rasa, karsa, dan karya setiap insan, para murid. Keseimbangan cerdas lahir dan batin agar mereka bisa meraih hidup bahagia. Sukses dunia akhirat. Jika terjadi ketimpangan, kita tak akan bisa melahirkan manusia Indonesia yang berkualitas. Kita sulit membentuk generasi bangsa yang berkualitas.

Kemenangan di dunia pendidikan saat Idulfitri adalah  lahirnya kemampuan mengendalikan diri. Meredam hal negatif dan meningkatkan hal-hal baik. Kemenangan itu adalah lahirnya manusia-manusia yang beriman dan bertakwa dengan penuh kesadaran diri. Manusia paripurna yang siap menjadi khalifah di bumi dengan membawa kedamaian dan menghindari kerusakan.

Kemenangan di dunia pendidikan saat Idulfitri berarti lahirnya generasi muda yang siap menjadi pemimpin ideal untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Siap memakmurkan rakyat Indonesia dengan segala kebijaksanaannya. Lahirnya para pemimpin yang amanah dan warga negara yang berkualitas.

Sebuah tujuan akhir dari cita-cita para pendiri bangsa dan diperkuat dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Inilah kutipan tujuan pendidikan nasional selengkapnya.

“Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Bentuk-bentuk Kemenangan Pendidikan

Ada beberapa hal yang bisa menjadi ciri kemenangan pendidikan. Inilah bentuk-bentuk  atau ciri kemenangan pendidikan itu.


IDUL FITRI


1.      Bertakwa dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa

Inilah esensi penting dari sebuah proses pendidikan. Manusia yang beriman dan bertakwa adalah cita-cita ideal yang bisa kita wujudkan sedini mungkin. Sesuai dengan fitrah manusia lahir di bumi.

 

2.      Perubahan sikap

Perubahan sikap adalah inti dari sebuah proses pendidikan. Dari yang tidak tahu menjadi tahu. Dari berbuat salah jadi sering berbuat baik. Dari malas jadi rajin. Intinya, kita senantiasa berusaha untuk selalu lebih baik.

 

3.      Bertambah ilmu dan wawasan

Inilah hal penting dari setiap proses pembelajaran. Materi-materi yang dipelajari itu hendaknya mampu memperkaya diri dengan ilmu dan wawasan. Beragam bidang studi, beragam ilmu pula yang kita dapatkan.

Ayo, kita jadikan ilmu-ilmu itu mengisi otak, jiwa dan fisik kita! Ayo, kita isi jiwa kita dengan beragam ilmu yang bermanfaat!

 

4.      Bertambah keahlian atau skills

Bertambahnya keahlian atau skills menjadi bukti penguasaan ilmu yang kita pelajari. Ilmu atau materi pelajaran itu bukan sekedar hapalan teori saja. Marilah kita lakukan deep learning, pembelajaran secara mendalam! Pelajari materi hingga ke akarnya. Diulik.

 

5.      Mampu berpikir kritis

Mereka yang berilmu dan berwawasan akan mampu berpikir kritis. Mampu menyampaikan kritikan yang membangun untuk kemajuan bangsa dan negara.

Mereka-mereka ini mampu menyelesaikan berbagai permasalahan hidup dengan ilmu, wawasan, dan pengalaman  yang dimilikinya.

 

6.      Mampu bersikap secara bijak, jujur, mandiri, dan bertanggung jawab

Manusia yang berilmu adalah manusia yang beradab. Manusia-manusia yang bisa bersikap bijak, jujur, mandiri dan bertanggung jawab.  Mampu mengembangkan karakter positif.

 

7.      Mampu berkarya dan berinovasi

Dengan ilmu pula, para generasi muda ini harus bisa membuat inovasi-inovasi baru. Produktif berkarya. Mampu berkreasi.

Mari kita kikis kebiasaan mencontek, niron atau copy paste! Percayalah pada kemampuan masing-masing karena setiap manusia dianugerahi akal dan pikiran!

 

8.      Mampu meningkatkan harkat dan martabat negara Indonesia di mata dunia

Inilah tanggung jawab besar kita sebagai warga negara Indonesia. Kita mampu meningkatkan harkat dan martabat negara Indonesia di mata dunia dengan cara masing-masing. Dengan karya dan prestasi yang bisa kita lakukan.

Diakuinya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di sidang umum PBB menjadi langkah awal untuk naiknya harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Marilah  menjadi manusia Indonesia yang berkualitas!

Kapan Kita Meraih Kemenangan Pendidikan?

Proses pendidikan itu harus berjejak. Sebuah proses pembelajaran yang bermakna. Ini yang harus kita targetkan sejak sekarang. Tercapainya kemenangan pendidikan itu bisa jangka pendek, menengah dan jangka panjang.

Jangka pendek seharusnya bisa dicapai dalam hitungan bulan dan tahun. Kemenangan pendidikan itu bisa dicicil dalam setiap proses pendidikan. Dalam satu tahun, kemenangan apa yang sudah kita raih dalam proses pembelajaran tersebut.

Jangka menengah bisa identik dengan tahapan atau jenjang pendidikan. Apa yang sudah diraih pada masa pendidikan dasar? Di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama? Apa yang sudah diraih setelah selesai sekolah menengah atas dan pendidikan tinggi? Di setiap jenjang pendidikan itu, ada oleh-oleh yang bisa kita bawa untuk kehidupan yang lebih baik.

Jangka panjang adalah lahirnya manusia Indonesia yang berkualitas, sehat lahir batin. Siap membangun bangsa dan negara. Inilah inti pendidikan seumur hidup. Long life education.

Nah, sobat yayuarundina.com – Inilah renungan kemenangan di hari nan fitri. Mari kita meraih kemenangan di dunia pendidikan saat Idulfitri!

Selamat Idulfitri 1447 H

Semoga amal ibadah kita, puasa kita selama bulan Ramadan ini diterima oleh Allah SWT. Mendapatkan pahala untuk bekal kehidupan akhirat nanti.

Sumber Rujukan

https://uis.ac.id/apa-itu-pendidikan-begini-menurut-para-ahli/

https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan

https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-pendidikan/#google_vignette

 

 

1/09/2026

5 Kebiasaan Kecil Yang Bisa Membuat Boros Pengeluaran

 

Sebagian dari kita kadang merasa pengeluaran bulanan sangat boros. Padahal, tidak ada pengeluaran berlebihan dan kebiasaan finansialpun terlihat seperti biasanya dan cukup terkendali. Namun ketika ditelusuri lebih jauh, total pengeluaran sering kali tidak sejalan dengan budget biasanya.

 


Penyebabnya bisa saja kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara rutin. Pengeluaran dengan nominal kecil memang sering dianggap tidak terlalu penting, sehingga jarang dicatat atau dievaluasi. Padahal, jika terjadi terus-menerus, dampaknya bisa cukup besar terhadap kondisi keuangan.

 

Yuk kita bahas kebiasaan-kebiasaan kecil yang sekilas tampak wajar, tetapi berpotensi membuat pengeluaran menjadi lebih boros!

Kebiasaan Kecil yang Tanpa Disadari Membuat Pengeluaran Boros

Sebagian besar pemborosan tidak terjadi karena satu keputusan besar, melainkan akumulasi dari kebiasaan kecil yang dilakukan hampir setiap hari. Karena nilainya terlihat tidak signifikan, kebiasaan ini sering luput dari perhatian dan jarang dievaluasi. Padahal, jika dibiarkan terus-menerus, dampaknya bisa cukup besar terhadap kestabilan keuangan dalam jangka panjang.

Berikut beberapa kebiasaan kecil yang umum terjadi dan tanpa disadari dapat membuat pengeluaran menjadi semakin boros.

Sering Membeli Sesuatu karena “Kelihatannya Murah”

Harga murah sering memberi kesan bahwa sebuah pembelian tidak akan berdampak besar pada keuangan. Akibatnya, keputusan membeli terasa ringan dan jarang dipikirkan secara mendalam. 

Padahal, jika dikumpulkan, totalnya bisa mendekati pengeluaran besar yang biasanya dianalisis secara matang, seperti pembelian elektronik utama, furnitur, atau saat mempertimbangkan harga genset untuk kebutuhan tertentu.

Selain itu, barang yang dibeli karena murah sering kali tidak digunakan dalam jangka panjang. Banyak di antaranya hanya berakhir tersimpan atau bahkan terlupakan, tanpa memberikan manfaat yang sebanding dengan uang yang dikeluarkan.

Tidak Mencatat Pengeluaran Harian

Pengeluaran kecil yang tidak dicatat mudah dianggap remeh dan cepat terlupakan. Tanpa pencatatan, sulit untuk mengetahui pola pengeluaran yang sebenarnya terjadi setiap hari. Kondisi ini membuat pengeluaran terasa aman, padahal jumlah totalnya bisa cukup besar.

Ketiadaan catatan juga menyulitkan proses evaluasi keuangan. Tanpa data yang jelas, pemborosan sering baru disadari ketika kondisi keuangan sudah mulai terasa ketat.

Langganan (Subscription) yang Jarang Digunakan

Layanan berlangganan sering dipilih karena menawarkan kemudahan dan harga yang terlihat terjangkau. Namun, seiring waktu, tidak semua layanan tersebut benar-benar digunakan secara optimal. Biaya yang terus berjalan setiap bulan akhirnya menjadi pengeluaran rutin yang kurang disadari.

Jika tidak pernah ditinjau ulang, langganan yang jarang digunakan dapat menghabiskan anggaran tanpa memberikan manfaat nyata. Dalam jangka panjang, akumulasi biaya ini dapat cukup membebani keuangan.

Terlalu Sering Jajan atau Membeli Makanan di Luar

Pengeluaran untuk makanan dan minuman sering dianggap wajar karena berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari. Namun, kebiasaan jajan atau membeli makanan di luar tanpa perencanaan dapat meningkatkan pengeluaran secara signifikan. 

Terlebih jika dilakukan hampir setiap hari. Pengeluaran kecil seperti kopi, camilan sering tidak terasa di awal, tetapi dampaknya jelas terlihat ketika dihitung secara keseluruhan.

Belanja Impulsif karena Promo

Meskipun terasa menghemat karena harga lebih murah, belanja impulsif justru menambah pengeluaran yang seharusnya bisa dihindari. Promo dan diskon sering menciptakan rasa urgensi untuk segera membeli. 

Keputusan yang diambil secara spontan ini kerap didorong oleh FOMO, rasa takut melewatkan kesempatan. Jadi tidak didorong oleh kebutuhan nyata. Barang yang dibeli kemudian tidak terpakai.

Cara Menghindari Kebiasaan Boros dalam Pengeluaran Sehari-hari

Menyadari kebiasaan yang membuat pengeluaran membengkak adalah langkah awal, tetapi perubahan nyata baru terjadi ketika diikuti dengan tindakan yang konsisten. 

Menghindari pemborosan bukan berarti membatasi diri secara berlebihan, melainkan mengelola pengeluaran dengan lebih sadar dan terencana. Dengan pendekatan yang tepat, kebiasaan kecil yang merugikan dapat digantikan dengan pola keuangan yang lebih sehat.

Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dan menghindari kebiasaan boros dalam kehidupan sehari-hari.

Membuat Batasan Pengeluaran yang Jelas

Menentukan batas pengeluaran membantu memberi kontrol terhadap keputusan finansial. Dengan adanya batasan, setiap pengeluaran menjadi lebih terukur dan tidak dilakukan secara impulsif. Hal ini juga memudahkan evaluasi ketika pengeluaran mulai mendekati atau melewati anggaran yang telah ditetapkan.

Batasan ini tidak harus kaku, tetapi cukup realistis agar mudah diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.

Membiasakan Diri Mencatat Pengeluaran

Mencatat pengeluaran, sekecil apa pun nilainya, membantu menciptakan kesadaran terhadap pola belanja. Dari catatan tersebut, terlihat dengan jelas ke mana uang digunakan dan pos mana yang paling sering menyedot anggaran.

Dengan data yang konkret, keputusan keuangan dapat diambil berdasarkan fakta, bukan sekadar perkiraan. Kebiasaan ini juga memudahkan penyesuaian anggaran di bulan-bulan berikutnya.

Meninjau Kembali Pengeluaran Rutin Secara Berkala

Pengeluaran rutin sering berjalan otomatis dan jarang diperhatikan. Meluangkan waktu untuk meninjau kembali pengeluaran ini membantu memastikan bahwa setiap biaya masih relevan dan memberikan manfaat.

Evaluasi berkala memungkinkan pengurangan atau penghentian pengeluaran yang sudah tidak dibutuhkan, sehingga anggaran dapat dialihkan ke hal yang lebih prioritas.

Memberi Waktu Sebelum Mengambil Keputusan Membeli

Memberi jeda sebelum membeli sesuatu membantu mengurangi keputusan impulsif. Dengan waktu untuk berpikir, kebutuhan dan manfaat barang dapat dipertimbangkan secara lebih objektif.

Dalam banyak kasus, keinginan membeli akan berkurang setelah jeda singkat. Kebiasaan ini membantu memisahkan antara kebutuhan nyata dan keinginan sesaat.

Mengutamakan Perencanaan daripada Spontanitas

Perencanaan membuat pengeluaran lebih terarah dan sesuai dengan tujuan keuangan. Dengan rencana yang jelas, keputusan belanja tidak lagi didorong oleh situasi atau emosi sesaat.

Ketika perencanaan menjadi kebiasaan, pengeluaran cenderung lebih terkendali dan risiko pemborosan dapat diminimalkan secara alami.

Penutup: Menjadi Lebih Sadar dalam Mengelola Pengeluaran

Setiap keputusan finansial, sekecil apa pun, mencerminkan cara seseorang memandang nilai, prioritas, dan tujuan jangka panjangnya. Ketika kebiasaan sehari-hari mulai diselaraskan dengan pemahaman tersebut, pengelolaan uang terasa lebih ringan dan rasional.

Perubahan dalam keuangan jarang terjadi secara instan. Namun, melalui pemahaman yang konsisten dan evaluasi yang berkelanjutan, pengeluaran dapat diarahkan agar lebih sejalan dengan kebutuhan nyata dan rencana ke depan.

 

Tulisan ini adalah guest posting kedelapan dari mbak Arumka Video ID

11/22/2025

XLSMART Membumikan Literasi Digital di Pesantren Qamarul Huda Lombok

 

Halo sobat yayuarundina.com – Pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru dan sekolah saja. Sebuah karya nyata diwujudkan dalam kolaborasi apik antara XLSMART, Daarut Tauhid Peduli, (DT Peduli), dan komunitas Bloggercrony Indonesia (BCC). Sinergi lintas sektor seperti ini tentu akan lebih berdampak  luas dan membuka kesempatan pada semua komunitas secara merata. Tanggung jawab ini diinisiasi oleh XLSMART dalam membumikan literasi digital di pesantren Qamarul huda Lombok.


XLSMART
Pesantren Digital XLSMART

XLSMART berupaya untuk menguatkan ekosistem pendidikan pesantren dengan pelatihan literasi digital dan AI. XLSMART membumikan literasi digital di pondok pesantren Qamarul Huda, Bagu, Pringgarata, kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Acara ini berlangsung pada 12 November 2025. Kegiatan ini diikuti sekitar 600 santri, santriwati, siswa/i MTs, MA, SMK, dan mahasiswa/i.

Program ini merupakan komitmen PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk dalam mewujudkan Tri Karsa XLSMART. Program ini diharapkan mampu memperluas akses terhadap pendidikan digital, pemanfaatan teknologi, mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kompetensi di era digital.

 

Pelatihan Literasi Digital yang Digagas XLSMART Di Lombok

XLSMART sepertinya akan makin membuat saya terkagum-kagum pada para santri. Kekaguman saya pertama kali  pada para santri ini terjadi saat nonton film Negeri 5 Menara. Para santri tersebut memiliki daya juang tinggi dengan Man Jadda Wajadda-nya. Sebuah karakter penting untuk meraih mimpi, mewujudkan cita-cita dan membuat kualitas diri yang semakin maju. Melanglang buana ke berbagai negara demi ilmu, wawasan dan pengalaman baru. Catatan pentingnya, mereka ini belajar agama bukan sekedar salat dan mengaji saja. Namun, mereka berusaha untuk membumikan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Pelatihan yang digagas oleh XLSMART kali ini akan membuat para santri berada semakin di depan seperti Yamaha. Para santri mampu beradaptasi dengan teknologi terbaru dan bisa memanfaatkan teknologi tersebut untuk kepentingan dakwah. Bayangkan, mereka mampu memanfaatkan AI sebagai sebuah upaya menjawab tantangan zaman, era digital. Keren bangets.

“Pemanfaatan AI secara tepat di lingkungan pesantren akan memperkaya metode belajar, memperluas jangkauan dakwah, dan membuka peluang ekonomi kreatif.”

Dalam program pesantren digital yang digagas oleh XLSMART ini, para santri mempelajari beragam materi. Mereka belajar tentang materi AI untuk konten media sosial di pesantren.  Konten dakwah digital bisa lebih menarik. Para santri juga bisa menduniakan produk-produk UMKM milik Yayasan Pondok pesantren Qamarul Huda. Juga bisa mempromosikan program pesantren secara menarik.  

Sang mentor, Sudarmadji, S.Pd memaparkan tentang definisi literasi digital dan kaitannya dengan AI, digital skill, digital culture, digital safety, dan digital ethics. Para santri juga mendapatkan penjelasan tentang beragam platform AI dan keunikan masing-masing. Juga materi yang menjadi kunci sukses AI, yaitu PROMPT. Para santri harus mampu memberikan instruksi atau kalimat perintah yang tepat kepada AI untuk membuat konten-konten tersebut.


XLSMART
Pemaparan Materi Literasi Digital XLSMART

Upaya Nyata XLSMART dalam Pemerataan Akses Digital

Apalah arti teori jika tanpa aksi. Selain pelatihan literasi digital, XLSMART juga memiliki upaya nyata dalam pemerataan akses digital. XLSMART juga memberikan donasi kuota internet serta perangkat pendukung kepada pondok pesantren Qamarul Huda, Bagu, Pringgarata, kabupaten Lombok Tengah sebagai bentuk komitmennya dalam mendukung pendidikan.

Dukungan ini merupakan program Gerakan Donasi Kuota (GDK) dari XLSMART. Program ini telah dilaksanakan secara nasional. Program tersebut juga diharapkan mampu mendorong literasi digital di kalangan pelajar dan tenaga pendidik, khususnya di wilayah yang memiliki keterbatasan akses internet.

XLSMART juga memberikan sim card nomor XLSMART dengan paket data sebesar 270 Gb setiap bulan selama satu tahun untuk kelancaran komunikasi dan koordinasi tim manajemen pondok pesantren Qamarul Huda.

Hal menarik lainnya adalah para karyawan XLSMART juga turut serta dalam program CSR Pesantren Digital ini. Mereka mendonasikan zakat karyawan yang dikelola oleh Majelis Taklim XLSMART. Zakat itu dimanfaatkan untuk santri, santriwati, siswa dan siswi yatim piatu dan dhuafa yang bersekolah di Yayasan Pondok Pesantren Qamarul Huda, Bagu, Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Mengenal Tri Karsa CSR XLSMART

Dukungan nyata XLSMART dalam pesantren digital ini tak lepas dari Tri Karsa CSR XLSMART. Landasan utama program tanggung jawab sosial  perusahaan diwujudkan dalam Tri Karsa CSR XLSMART.

Tri Karsa CSR XLSMART  yaitu:

         I.            Philantrophy, kepedulian sosial, XLSMART Peduli.  Program ini fokus pada bantuan kemanusiaan, kesehatan, dan dukungan bagi penyandang disabilitas.

 

       II.            Women Empowerment, fokus untuk meningkatkan kapasitas literasi digital, dan peran strategis perempuan dalam pembangunan, pencapaian SDGs di bidang kesetaraan gender, inklusi sosial, dan pemberdayaan ekonomi. Programnya adalah Sisternet, seperti, Female Future Leader, Shelnspire, dan Bunda Pintar.

 

     III.            Education. Fokusnya adalah memperluas akses pendidikan digital, meningkatkan literasi teknologi, dan mencetak sumber daya manusia yang kompeten di era digital, sejalan dengan SDGs terkait pendidikan berkualitas dan pengurangan kesenjangan. Program pentingnya antara lain Teman Pintar Indonesia, meliputi Gerakan Donasi Kuota, Content Creator Academy, Pesantren Digital, Kelas Cerdas Digital,serta pemberdayaan Teman UMKM.

 

Semoga program Tri Karsa CSR XLSMART, yaitu Philantrophy, Women Empowerment, dan education  akan terus bersinar dan bermanfaat  sepanjang masa untuk memajukan bangsa, khususnya pendidikan Indonesia.

 

 

 

Featured Post

AI Mantra Pelaris Produk UMKM

  Halo sobat yayuarundina.com – Siapa pun saat ini, sangat akrab dengan AI, termasuk para pelaku UMKM. AI bisa jadi mantra ampuh pelaris pr...