Jumat, 08 Desember 2017

SUKSES MENULIS PTK

Buku Pengayaan bahasa Indonesia dari PTK


Tantangan guru zaman now adalah melakukan dan menulis Penelitian Tindakan Kelas atau PTK. Namun, menulis karya tulis ilmiah tersebut ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak aral merintang yang menghadang. Halangan yang membuat kita mandeg atau bahkan tak bisa menghasilkan PTK satupun. Padahal, PTK ini menjadi salah satu syarat untuk kenaikan pangkat. Setiap golongan memiliki jumlah PTK yang berbeda sebagai syarat kelulusannya.
Sebagai guru professional, kita memang harus bisa menaklukkan halangan-halangan tersebut. Guru harus mampu menulis PTK, minimal satu selama masa karirnya. Ini mengikuti petuah Asma Nadia, agar kita bisa menulis minimal satu buku selama hidup sebagai kenang-kenangan.
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang
MakaGuru wafat meninggalkan karya, berupa ( PTK ).

PTK yang pernah kebuat

Senin, 27 November 2017

WHIZLIZ CARA PRAKTIS BELANJA PERHIASAN

Booth Whizliz di Poppins Bazar

Belanja Online          
Dunia digital memang semakin berkembang dan menguasai dunia. Apapun di dunia sekarang ini tak lepas dari peran digital ini. Termasuk hal berbelanja. Siapakah diantara kita yang tak mengenal belanja online (daring) ? Rasanya mustahil yah ? Banyak juga toko-toko online yang sudah dikenal oleh masyarakat luas. Nah, kalau urusan belanja perhiasan, kamu bisa mengunjungi whizliz.id di media sosial Instagram atau web Whizliz. Tentunya, hal ini adalah sebuah perubahan zaman yang memang menuntut kepraktisan dan kemudahan dalam berbagai macam hal. Dengan cara digital tersebut, kita tinggal memilih perhiasan yang diinginkan, pilih dan langkah terakhir tinggal duduk manis menunggu barang pesanan datang ke rumah kita.

Salah satu cincin yang sempat kucoba

Selasa, 21 November 2017

MENGENAL DUNIA FOTOGRAFI DENGAN UNPUBLISHED KOMPAS


Rangkaian Acara Festival Fotografi Kompas Bandung

               Minggu, 19  November 2017, kami berkesempatan hadir di acara Festival Fotografi Kompas. Begitu memasuki gedung PLN Distribusi Jawa Barat, pandangan mata langsung disuguhi oleh berbagai macam foto yang dipamerkan. Berbagai rasa tumpah ruah. Takjub. Bangga. Kagum. Senang dan juga sedih. Kami terbawa alur cerita dalam foto-foto yang tak dipublikasikan tersebut. Ada beberapa foto yang berkesan. Pertama, Foto puncak gunung Merapi yang di depannya ada pesawat Dakota. Anak-anak yang dengan riang berloncatan di (sungai) kota. Bangunan bekas kebakaran yang unik dan penuh warna. Juga anak kecil korban tsunami yang dibawa sukarelawan. Benar-benar luar biasa karya-karya foto tersebut.
                Di hari terakhir pelaksanaan acara tersebut, kami berniat menghadiri tiga acara. Pertama, talk show buku “Literasi Visual di  Zaman Digital.”  Kedua, Workshop Foto Produk bersama Herry Tjiang. Ketiga, Talk show Jurnalistik bersama Arbain Rambey, Danu Kusworo dan Johny TG.

Jumat, 17 November 2017

PEMBELAJARAN HIDUP DARI RINA NOSE


Kabar yang datang memang sangat mengejutkan. Saya mengira itu bukan hal yang serius. Sama kagetnya seperti saat melihat sebuah acara di televisi, beliau terlihat cantik dan anggun dengan jilbabnya.
Berita yang menggemparkan itu semakin nyata setelah saya menyimak video wawancara eksklusif UCWeb dengan Rina Nose. Acara itu dipandu oleh Deddy Corbuzier Berbagai macam hal dibahas dan diobrolkan selama kurang lebih dua puluh tiga menit. Satu hal yang bikin saya penasaran tingkat dewa adalah alasan Rina Nose melepas hijabnya yang hanya dijawab secara tertulis dan Dedypun enggan mengungkapkannya. Gara-gara ini, tidur saya malam ini kayaknya gakkkan bisa nyenyak deh. Penasaran abis hehehe.... Yah, apapun alasannya, kita hanya bisa melihat fakta yang sudah terjadi.

Rabu, 08 November 2017

CBN DUKUNG LITERASI DIGITAL

Sabtu, 28 Oktober 2017, CBN atau PT Cyberindo Aditama  meluncurkan program bertajuk CBN DIGITAL NATION 2017. Acara tersebut berlangsung di Pusat Perbelanjaan 23 Paskal, jalan Pasirkaliki Bandung.  Intinya acara ini menjadi gong pertama bagi warga Bandung khususnya dan warga Negara Indonesia pada umumnya untuk memasuki dunia digital lebih intens lagi. Kemeriahan acara terlihat sejak awal. Para gamers, bloggers, vlogger, dan unsur media memenuhi atrium 23 Paskal. Semakin sore, acara semakin heboh dengan adanya pengumuman pemenang dan lomba games.  Mencari cap wajib dari berbagai stand pendukung seperti JB.ID, NVIDIA, Lenovo, Seagate dan lain sebagainya. Antri untuk mencoba berbagai macam games. Foto-foto bareng para pemakai costplay. Wah, pokoknya acara ini benar-benar penuh warna.

CBN Resmi Mewarnai Jagat Digital Indonesia

Rampak Gendang menambah kemeriahan acara

Kamis, 26 Oktober 2017

Papandayan: Makna Sebuah Perjalanan



Salah Satu Kawasan Gunung Papandayan
Semua orang pastinya suka melakukan perjalanan. Betul. kan ? Perjalanan itu pastinya dilakukan dengan berbagai tujuan. Bisnis. Belanja. Liburan. Mencari sesuatu. Perjalanan budaya. Study Tour dan lain sebagainya. Namun, pernahkan seseorang merenung atau memikirkan apa makna atau manfaat sebuah perjalanan bagi kehidupan atau bagi dirinya sendiri ?
Nah, baru-baru ini, saya bersama dengan beberapa kawan dari komunitas Sabuki (Satubumikita) melakukan perjalanan singkat selama dua hari ke gunung Papandayan Garut, Jawa Barat. Tak dinyana, perjalanan itu ternyata memiliki makna yang luar biasa indah sehingga saya tuangkan menjadi tulisan ini.
Terus terang, semula saya ragu dan takut untuk melakukan perjalanan ini. Mendaki gunung. Bayangkan, saya bukanlah pendaki gunung. Bukan pula pecinta olah raga. Diajak mendaki gunung Papandayan bagi saya bukan main-main. Bisa atau tidak ? Mampu atau tidak ? Ditambah nafas saya katanya sih pendek. Namun, sahabat saya meyakinkannya untuk mengikuti perjalanan ini. Orang Sabuki bisa diandalkan. Akhirnya, dengan nekad, penasaran dan sedang suntuk pula, maka sayapun bergabung dalam perjalanan itu. Kami berencana kemping semalam. Keraguan lain muncul. Hawa dingin merupakan musuh saya baru-baru ini. Kalau badan terasa dingin, pasti deh batuk-batuk. Nekad dan bujukan teman mengalahkan segalanya.

Arena Kemping

Perjalanan dimulai pada pagi hari dengan kendaraan dan sebuah sepeda motor. Lewat tengah hari, kami sampai di pos pertama. Kami langsung diminta menyelesaikan administrasi, lapor ke penjaga pos dan mengisi data. Setelah beres, kami mempersiapkan perbekalan. Ransel-ransel. Saya melihat sekeliling. Perasaan takut dan cemas masih ada di dada, tapi keindahan alam sekitar sedikit menghilangkannya. Tak berapa lama, kamipun mulai melangkah menapaki jalanan beraspal. Dalam hati berdoa, agar jalanan seperti ini terus sampai tempat berkemah dan puncak gunung. Ooo... harapan tinggal harapan. Memasuki kawasan kawah, aspalpun hilang berganti dengan jalanan tanah, tangga dan batu-batu. Ada pula jalur motor. Yang ini lebih berbatu. Nah, mulailah acara ngos-ngosan. Saya harus beberapa kali berhenti untuk mengatur nafas dan tenaga, terutama di jalanan yang menanjak. Namun, saya bersyukur banget bahwa dalam masa berat itu selalu saja ada kawan yang menemani.

Kawah Gunung Papandayan

Inilah makna perjalanan itu.
 Pertama. Kesetiakawanan. Secara bergantian, mereka menemani saya mengatur nafas dan tenaga sampai akhirnya tiba di tempat kemping.

Kedua, Kalahkan egomu. Dalam pendakian ini, semua harus saling memahami. Tak ada yang kalah dan menang. Semua wajib meredam ego masing-masing demi keselamatan dan kenyamanan bersama. Satu untuk semua.

Ketiga,Gotong Royong. Banyak hal yang dilakukan dalam perjalanan ini. Memasang tenda. Memasak misalnya. Jika dilakukan sendiri tentu akan terasa berat. Namun, jika dilakukan bersama-sama akan terasa ringan. Pembagian tugas dan kerja sama memungkinkan pekerjaan itu cepat selesai. Saling membantu adalah wujud nyata dari sebuah solidaritas dan kebersamaan. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Itulah peribahasa yang masih saya ingat dari pelajaran bahasa Indonesia dulu.

 Keempat, Komitmen dan Dukungan. Dari perjalanan ini, saya merasakan betul arti sebuah komitmen dan dukungan. Ini adalah dua hal yang mampu membangkitkan motivasi saya untuk menyelesaikan perjalanan ini sampai selesai. Tuntas. Tanpa dukungan dan komitmen teman-teman, saya mungkin hanya mengisi tenda kosong saja. Tak ada perjalanan yang bermakna.

Kelima, Mensyukuri nikmat. Inilah makna utama dari perjalanan ini. Allah SWT. Sang Maha Pencipta telah memberikan banyak kenikmatan pada umat manusia. Saya bersyukur dalam perjalanan ini cuaca sangat mendukung. Tidak turun hujan, Tak ada petir. Juga tak ada panas yang menyengat. Udara sangat nyaman. Paru-paru saya bisa diisi dengan udara segar yang sangat banyak, sehingga dada ini terasa lapang sekali. Alhamdulillah.
Selain itu, matapun mendapatkan panorama yang sangat indah. Sungguh sebuah anugrah yang luar biasa bisa menyaksikan keindahan alam ini. Maha Besar Allah SWT. Betapa Agungnya Beliau. Saya berharap keindahan ini akan abadi. Tak ada tangan-tangan jahil yang akan merusaknya. Itulah lima makna perjalanan yang saya dapatkan dari Papandayan.

Sebuah makna perjalanan akan terasa, karena kita sangat dekat dengan alam. Alam ternyata mampu memberikan banyak hal pada kita, termasuk makna hidup. Apalah artinya kita, manusia dibandingkan Sang Pencipta. Jika Beliau berkehendak, bisa saja, kawah yang kami lewati meletus tiba-tiba dan melenyapkan kami. Namun, Sang Pemberi Hidup masih memberikan kesempatan kepada kami untuk memaknai perjalanan ini. Merasakan nikmatnya pertemanan sejati dalam susah dan senang. Menikmati betapa luhurnya arti sebuah kesetiakawanan. Terima kasih Sabuki, Kang Hendri, Kang Firman, Eking, Dimas, Primas, Army, Devita dan Emir. Tanpa kalian, perjalananku sungguh tak bermakna.
Kalau kayak ginih nih, pastinya bakalan ketagihan ikut jalan lagi sama Sabuki dan Kang Firman Plus Kang Hendri nih hehehe.... Jaminan mutu deh. Pelayanannya juga prima 😄😍


CATATAN:

Sebagian isi artikel ini juga saya unggah di UCWEB News

Selasa, 24 Oktober 2017

FILM MY GENERATION : INSPIRASI CARA MENDIDIK DI ABAD MILENIUM




Empat orang sahabat gagal menikmati masa liburan  akibat kesalahan yang mereka buat. Zeke, Konji, Orly dan Luthesa membuat video tentang protes mereka terhadap orang tua, guru dan sekolah. Video itupun menjadi viral. Saat menjalani masa hukuman itu, ternyata mereka bisa menjadikan liburan itu dengan petualangan-petualangan hidup yang sangat berharga dan bermakna.


Perkembangan zaman telah banyak menjadikan perubahan dalam kehidupan manusia, baik fisik maupun psikis.  Dulu, mana berani kita memprotes guru, orang tua dan sekolah. Dulu, kita akan merasa bersalah jika seperti itu. Sekarang,  sudah biasa. Anak-anak atau para siswa itu akan merasa paling benar. Tak merasa bersalah. Luar biasa, ya ?
Dengan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan itu, akankah kita tetap mempertahankan tradisi mendidik yang masih kolot ? Kalau jawabannya, YA. Harus dipertahankan, maka generasi tua (guru, orang tua dan sekolah ) akan tergerus zaman. Bisa saja punah tak berbekas. Kurang uptodate. Wooow… jangan sampai kejadian deh!


Perlu diketahui bersama bahwa para remaja sekarang memiliki ruang kosong dalam jiwa mereka. Istilah Bunda Elly Risman adalah BLAST. Bored (bosan). Lonely (merasa sedirian tanpa teman). Angry/ Afraid (marah/takut). Stress (tertekan oleh lingkungan). Tired (lelah). Hal inilah yang menjadi salah satu faktor pemicu munculnya berbagai macam tindakan yang irasional, pemberontakan, protes dan lain sebagainya. Masalah yang dihadapi oleh generasi milenial ini sangat berbeda dengan geneasi terdahulu. Lebih kompleks.
So, tetapkah tradisi mendidik yang kolot itu akan tetap dipertahankan ? Kita akan memberikan perintah Tidak Boleh/ Jangan…. Orang tua menetapkan anak harus patuh dan nurut sama orang tua. Guru menekankan kepada para siswa untuk selalu menaati peraturan. Semua itu dilakukan tanpa ada kompromi, penjelasan dan tak ada bantah-bantahan. Titik.
Bagaimanakah cara seperti tadi mampu menghilangkan Blast ? Kalau menurut saya sih, hal seperti itu justru akan memperburuk dan memperparah BLAST. Lihatlah nanti di cerita My Generation. Kesenjangan cara pandang, cara mendidik, dan sebagainya menjadi konflik-konflik yang menarik dan memang nyata terjadi dalam kehidupan di zaman modern sekarang ini.
Mengapa nyata ? Karena sang sutradara melakukan riset social media listening selama dua tahun. Ide cerita dan beberapa dialognya juga diambil dari hasil riset yang intensif dengan mengamati komunikasi yang dilakukan oleh generasi milenial tersebut.


Dari film My Generation inilah, kita bisa mendapatkan satu sisi yang berbeda tentang dunia Kids Zaman Now. Cara pandang sang sutradara, mbak Upi yang kontroversial ini adalah sebuah pembelajaran dan inspirasi.
Kualitas mbak Upi di dunia perfilman tak diragukan lagi. Banyak film-film yang dihasilkannya sukses di pasaran. Apa saja ? My Stupid Bos. Radit dan Jani. 30 Hari Mencari Cinta. Beliau juga beberapa kali pernah masuk menjadi nominasi sutradara terbaik FFI. Pernah juga menjadi penulis skenario terbaik. Di film terbarunya ini mbak Upi kembali bekerja sama dengan IFI Sinema yang pernah menjadi produser film Coklat Stroberi, 3 Doa dan 3 Cinta, Serigala Terakhir dan sebagainya.


Yang juga menarik dari film My Generation ini adalah akan ada adu akting antara pemain yang lama dan baru. Seru deh kayaknya. Tio Pakusadewo, Surya Saputra, Joko Anwar, Ira Wibowo, Karina Suwandi, Indah Kalalo, dan Aida Nurmala akan berhadapan dengan Arya Vasco, Bryan Langelo, Alexsandra Kosasie dan Luthesa. Hmm, bagaimana hasilnya yah ?


Menurut Adi Sumarjono, produser Ifi Sinema, pemakaian para pemain baru ini diharapkan mampu memberikan wajah baru bagi dunia perfilman tanah air. Kesegaran sekaligus juga regenerasi. Akting para pemain muda juga bukan abal-abal. Kualitasnya sangat baik sehingga dari film My Generation ini, keempat pemain tersebut bisa menjadi rising star. Pemain baru dengan kualitas yang sangat baik. Dua harapan di masa depan untuk perfilman di tanah air.


Ah, rasanya tak sabar menanti tanggal rilis film ini, 9 November 2017. My Generation adalah film yang mampu menginspirasi, memberi hiburan sekaligus juga banyak pembelajaran di dalamnya. Jadi, kita tunggu saja kemunculannya, ya. Tak lama, sekitar tiga mingguan lagi lah. Ya, kan ?