Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

KATA ORANG

KATA ORANG BY ARUNDINA             "Enak ya jadi guru, banyak libur. Banyak uang. Gak cape !" ujar banyak orang padaku. Aku hanya tersenyum. Kalian tidak tahu betapa beratnya beban profesi guru itu. Kalau dilihat sekilas dan hanya satu aspek memang enak. Guru hanya masuk kelas. Mengajar. Selesai. Pulang. Dibalik itu ? Banyak orang yang tak tahu.             Jam kerja guru bisa mulai dari jam 6 pagi ( banyak juga yang pergi dari rumah jam 5 subuh ) sampai jam empat sore. Bahkan lebih. Mereka mulai dengan kegiatan pelajaran tambahan, pemantapan dan sejenisnya. Setelah itu, melaksanakan kewajiban seperti biasa. Mengajar di kelas. Berikutnya, guru sering mendapatkan tugas tambahan, seperti: panitia ulum, koperasi, ekskul, walikelas, iht, pelatihan dan lain sebagainya.             Menjelang pembagian rapot, karena keterbatasan waktu dan ketersediaan rapot yang mendadak,   banyak guru yang harus begadang saat mengisi rapot para siswa. Mengisi rapot butuh konsentrasi p

HAFALAN SHALAT DELISA

REVIEW FILM INDONESIA HAFALAN SHALAT DELISA Oleh : ARUNDINA                         Musibah memang selalu datang tak diundang, tak diminta dan tak pernah diduga. Musibah selalu menyisakan pilu, tangis, kehilangan dan derita.         Namun, musibah juga merupakan sebuah media pembelajaran dalam mengarungi kehidupan ini. Banyak hikmah yang dikandungnya. Keikhlasan, kesabaran, empati, kebersamaan, dan motivasi untuk bisa naik kelas dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.             Kita harus optimis menerimanya. Musibah tidak untuk ditangisi, diratapi ataupun dirutuki,   tapi harus dihadapi dan diselami. Itulah inti cerita film Hafalan Surat Delisa. Film ini dibintangi oleh : Nirina Zubir, Reza Rahadian , Chantiq Schagerl, dan Fathir Muchtar.             Film ini tidak mengobral tangis pilu atau derita akibat bencana tsunami. Namun, film ini sarat makna. Kehidupan Umi, Abi dan Delisa adalah sebuah symbol harmoni kehidupan. Manusia harus saling mengua

SPRING WALTZ

REVIEW FILM KOREA SPRING WALTZ                 Suhao ditelantarkan oleh ayahnya di desa leluhur. Ia bertemu dengan Yinying. Seorang gadis kecil yang sakit-sakitan. Yinying tinggal bersama ibunya. Akhirnya, di rumah itulah Suhao tinggal. Setelah sang   ayah meninggalkannya, Suhao berusaha untuk melarikan diri dari desa itu dan menyusul ayahnya ke kota.   Berkali-kali usahanya itu selalu menemui kegagalan. Petugas pelabuhan selalu memergokinya saat ia akan menyelundupkan diri ke atas kapal. Usahanya itu terhenti, saat Suhao melihat Yinying menangis, meratapi kepergiannya.   Sejak itulah, ia berdamai dengan keadaan. Hidup normal bersama keluarga Yinying.                   Tiba-tiba ayahnya datang kembali. Suhao sangat senang tinggal kembali bersama sang ayah. Namun, kebahagiaan itu tidak lama. Bualan sang ayah bahwa ia tinggal di Amerika membawa masalah. Teman-teman Suhao tidak mempercayai hal itu. Suhao akhirnya membuka identitas dirinya pada Yinying bahwa ia hanyalah seorang p

Doa Ibuku

Mendung menggelayut di awan-awan putih. Udara cerah berubah kelabu. Cuaca gelap menjelang malam Kulihat bendera kuning di depan   pagar rumahku. “Akh, ada apakah yang terjadi?” tanyaku dalam hati. Aku mempercepat langkahku. “Kuning?!” “Siapakah yang meninggal” bisik batinku. Kutatap lekat bendera wajit itu. “Apakah Kakekku yang meninggal?” tanyaku semakin galau. Tadi pagi, beliau merasa demam saat kutinggal pergi. “Maafkan aku, Kek!” rintih hatiku penuh sesal. “Hari ini, aku ada ujian jadi tak bisa bolos kuliah” lanjutku lagi.   “Aduh, mengapa kakiku semakin berat untuk melangkah?” “Aku ingin segera tahu, apa yang terjadi?” batinku geram dan galau. Kulihat banyak orang berkumpul di sekitar rumahku. Kutatap mereka dalam kegelapan. “Ah, banyak saudara yang kukenal” Mereka menatapku sambil tersenyum pahit. Hatiku semakin kacau balau. “Ada apa, Paman?” tanyaku pada orang yang pertama kulihat di pintu pagar rumahku. Beliau tersenyum tipis. “Masuk sajalah. Lihat ke dalam!” jawabnya sambil