Halo sobat yayuarundina.com – Lagi-lagi sampah masih jadi masalah besar. Isu akhir-akhir ini, kotaku tercinta ini kekurangan tempat untuk membuang sampah warganya. Tak heran, jika beberapa lama sampah bertumpuk di mana-mana, mengotori lingkungan dan tata kota. Apakah sampah akan tetap dibiarkan menjadi masalah? Kini, saatnya sampah kita ubah menjadi Ekonomi Sirkular Indonesia.
![]() |
| Penyuluhan sampah tingkat RW oleh mahasiswa PPL |
Ternyata, sampah bisa bernilai ekonomi. Berawal dari sampah plastik yang diubah menjadi petasol, bahan bakar untuk kendaraan oleh Bank Sampah Melong Cimahi. Kini, Bank Sampah Induk Bersinar juga akan melakukan gerakan yang sama. Sampah akan menjadi Ekonomi Sirkular Indonesia. Tentu, ini upaya positif yang harus didukung oleh semua warga negara Indonesia, warga masyarakat dan para pembuat kebijakan.
Pengelolaan
sampah di era digital ini menjadi sebuah keharusan yang wajib segera dilakukan.
Tanpa pengelolaan sampah yang baik, kesehatan masyarakat dan tata kota akan
menjadi buruk. Pengelolaan sampah ini sebaiknya menjadi kerja terpadu antara
warga masyarakat, warga sekolah, anak-anak, orang dewasa, dan juga pejabat
pemerintah. Tak ketinggalan juga pihak-pihak swasta. Semua pihak bertanggung
jawab dalam mengatasi masalah sampah ini. Semua pihak wajib terjun dalam
pengelolaan sampah.
Gerakan ini
merupakan bagian dari upaya membangun Ekonomi Sirkular Indonesia melalui
Pentahelix Indonesia Bersinar.
Upaya Membangun Ekonomi
Sirkular Indonesia Bersama Bank Sampah Induk Bersinar
Bank Sampah
Induk Bersinar menyadari betapa pentingnya gerakan mengelola sampah ini
dilakukan. Kita perlu membangun sebuah ekosistem demi keberhasilan program ini.
Kita mulai dengan mengintegrasikan Bank Sampah Induk Bersinar, Local
Education, dan Lumbung Mandiri.
Yayasan Solusi
Bersinar Indonesia (YSBI) ingin mengembangkan model pemberdayaan masyarakat
yang menghubungkan pengelolaan sampah, pendidikan lingkungan, ketahanan pangan,
hingga pengembangan ekonomi lokal dalam satu kawasan terpadu.
Rencananya, YSBI
menargetkan pembentukan 100 Bank Sampah Unit (BSU). Inilah cikal bakal
penguatan gerakan ekonomi sirkular berbasis masyarakat. Program ini menjadi
fondasi pembangunan Living Laboratory Ekonomi Sirkular Indonesia yang akan dikembangkan di kawasan Oxbow,
kabupaten Bandung.
Program terpadu seperti
ini diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat dalam memperlakukan sampah.
Minimal masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan. Masyarakat tidak
lagi menganggap sampah adalah barang kotor yang harus disingkirkan. Namun,
masyarakat harus bisa mengelola sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis.
Tentu saja, hal ini nantinya akan berdampak positif bagi masyarakat itu sendiri
dan lingkungan.
Hal seperti itu
bagusnya dilakukan melalui tiga pilar pendidikan. Keluarga, sekolah, masyarakat
dan pemerintah. Pengelolaan sampah bisa dibiasakan sejak kecil dalam keluarga.
Minimal anak belajar untuk hidup bersih dan membuang sampah pada tempatnya. Di
sekolah, anak belajar lebih banyak mengelola sampah, melalui kegiatan P5
misalnya. Anak belajar memilah sampah dan mengolahnya menjadi sesuatu yang
lebih bermanfaat. Masyarakat juga bisa mulai membangun pengelolaan sampah berbasis
lingkungan masing-masing. Bahkan, sekarang banyak lingkungan RT/ RW yang sudah
mengelola sampah dan bernilai ekonomis. Semua berkolaborasi dan bersinergi
mengelola sampah.
Living Laboratory Ekonomi
Sirkular Indonesia di Oxbow
Proyek
percontohan terpadu pengelolaan sampah ini akan dilakukan di Oxbow, kabupaten
Bandung. YSBI berharap program strategis dalam membangun model ekonomi sirkular
ini bisa dipelajari dan direplikasi oleh daerah-daerah lainnya di Indonesia.
![]() |
| Mahasiswa STKIP Cimahi mengadakan penyuluhan sampah |
Kawasan master plan, Oxbow ini akan dilengkapi dengan beragam fasilitas pengelolaan sampah terpadu mulai dari area penerimaan, penimbangan, pemilahan, penyimpanan, hingga pengolahan sampah menggunakan berbagai teknologi pendukung.
Kawasan Oxbow
juga akan menjadi pusat edukasi, area demonstrasi, ruang kolaborasi, laboratorium
pembelajaran, serta fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah,
perguruan tinggi, sekolah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat umum.
Pengembangan
kawasan Oxbow ini sesuai dengan tiga pilar utama YSB:
1.
Bank Sampah Induk Bersinar sebagai pusat pengelolaan
sampah dan ekonomi sirkular berbasis masyarakat.
2.
Local Education sebagai pusat pendidikan lingkungan,
pelatihan masyarakat, seni budaya, workshop, dan pengembangan kapasitas
komunitas.
3.
Lumbung Mandiri sebagai pusat pengembangan pertanian,
peternakan, perikanan, dan perkebunan yang memanfaatkan hasil pengolahan sampah
organik menjadi kompos, pupuk organik, pakan ternak, dan berbagai produk lain
yang punya nilai tambah.
Jika kawasan
Oxbow ini sudah jadi, maka kelak para siswa dari beragam penjuru bisa belajar
langsung dari ahlinya tentang pengelolaan sampah yang bisa jadi Ekonomi Sirkular
Indonesia. Kegiatan P5 tentang sampah bisa lebih berdampak. Semoga.
Salam
Sampai jumpa di
tulisan berikutnya























