Halo sobat yayuarundina.com - Hari ini, aku kembali merasakan emosi yang
spesial itu. Emosi yang muncul sebagai bagian dari tugas wali kelas. Inilah
catatan perjalanan wali kelas.
![]() |
| Perjalanan Wali Kelas |
Menjadi wali kelas adalah tugas terberat yang harus kulakukan sebagai guru. Sangat menguras emosi, jiwa dan pikiran. Terkadang juga harta. Kita bisa ikut tertawa, bahagia bahkan menangis ketika menjalankan tugas dewa ini. Sebagai wali kelas, kita biasanya diamanahi satu kelas khusus untuk dikelola dari beragam aspek. Penataan kelas, perilaku, masalah, mengisi rapor dan se-abreg tugas lainnya.
Walau kini ada
peran guru wali, bagiku kedua peran guru ini sama saja sih. Malah mungkin
sekarang jadi tumpang tindih. Menurutku lebih efektif menjadi wali kelas dengan
satu kelas khusus daripada memegang banyak siswa dari beragam kelas. Apalagi,
jika kita tidak masuk kelas. Lebih sulit lagi. Biarlah guru BP/BK yang seperti
itu, mengikuti anak.
Tugasku Sebagai Wali
Kelas: Sebuah Catatan Perjalanan
Perjalanan
menjadi wali kelas ini dimulai sejak tahun 1997. Tahun pertama ketika aku mulai
memasuki dunia sekolah, dunia guru. Setelah mengirimkan lamaran ke sana ke
mari, akhirnya, aku bisa bekerja di SMA Pasundan 3 Cimahi. Di sinilah, aku
mulai mengenal dunia guru seutuhnya.
Untuk pertama
kalinya, aku diberi tugas sebagai guru dan wali kelas. Aduh sayang, entah kelas
apa yang kupegang sebagai wali kelas pertamaku. Yang pasti, aku menerima semua
tugas yang diberikan oleh kepala sekolah. Rasanya sangat bahagia dan bangga
bisa menjadi guru. Bisa berada di sebuah sekolah setelah perjuangan melamar
pekerjaan ke sana ke mari.
![]() |
| Pertemuan Wali Kelas dengan Orang Tua Siswa |
Menjadi wali
kelas ternyata menjadi tugas yang super berat. Lebih berat daripada tugas guru.
Dengan penguasaan materi yang lebih dari cukup, aku dengan mudah bisa
menjalankan peran sebagai guru Bahasa Indonesia. Namun, sebagai wali kelas, wow
ampun deh.
Memasuki dunia
wali kelas, banyak hal yang masih gelap, belum punya pengalaman. Menjadi wali
kelas itu sama dengan menjadi orang tua bagi siswa, pengganti orang tua di
sekolah. Bayangkan, seorang guru muda menjadi orang tua. Mulai dari super
bengong karena banyak hal yang tidak kuketahui ketika pertama kali menjadi wali
kelas. Menjadi penasihat perkawinan. Menjadi pendengar setia. Mengenal siswa
seutuhnya, di luar dunia belajar.
Dunia wali kelas
itu bagai ombak. Kadang tenang, kadang bergelombang dahsyat. Akan sangat
bahagia bila mendapatkan siswa baik-baik saja. Akan sangat emosi bila siswa
terlibat kenakalan remaja. Akan ikut menangis mendengar kasus-kasus yang
menyedihkan. Akan ikut prihatin dengan segala nasib yang menimpa siswa. Begitu
banyak emosi yang terkuras. Begitu banyak pelajaran hidup yang didapatkan.
Menjadi wali
kelas juga berarti mengasah rasa, mengasah pengalaman, menantang kedewasaan.
Dengan beragam kasus yang dihadapi, wali kelas harus pandai-pandai menjaga
perasaan. Terkadang, kita harus mampu bersikap dewasa, sabar, bijaksana, tegas,
kooperatif. Terkadang, kita harus mampu memberikan nasihat, solusi terbaik,
jalan tengah. Bahkan, kita pun harus bisa menjadi hakim. Begitulah dunia wali
kelas. Tidak monokrom, banyak warna.
Pernah suatu waktu,
saya menangis sesenggukan di rapat kenaikan kelas, ketika menceritakan kembali
kronologis masalah siswa. Sang ayah yang berpamitan akan memancing pada suatu
pagi. Tiba-tiba pulang dalam kondisi terbujur kaku pada sore hari. Ibu dan anak
yang ditinggalkan begitu kelabakan dengan kondisi yang tak terduga.
Pernah pula saya
ikut kecewa ketika siswa yang menggeluti dunia modeling tidak lulus ujian.
Saya pun pernah marah
besar ketika siswa minta dibelikan motor padahal ibunya hanya seorang buruh
cuci baju.
Rasa prihatin
juga sering muncul melihat dan mendengar nasib siswa yang hidup di bawah garis
kemiskinan. Ah, miris sekali. Seandainya, aku jadi konglomerat, akan kubiayai
mereka agar bisa bersekolah sampai tuntas.
Sering, saya
juga miris dengan beragam kasus perkawinan yang melanda orang tua siswa. Ada
yang bercerai baik-baik saja. Banyak pula yang bercerai dengan beragam masalah
kompleks. Kawin lari. Suami kabur. Dikejar debt collector atau penagih
utang.
Banyak juga yang
menginspirasi. The power of Emak-Emak. Banyak kisah inspiratif para
wanita, ibu yang berjuang keras demi kesuksesan anak-anaknya.
Menjadi wali
kelas juga berarti menjadi motivator. “Bu, aku cape dan kurang tidur karena
banyak tugas!” keluh siswa.
“Memang, ada
hidup yang tidak cape?” tanyaku balik.
“Mengerjakan
tugas itu berlangsung seumur hidup, dalam beragam kondisi. Selesai tugas
sekolah. Ada tugas kantor. Ada tugas ayah. Ada tugas ibu rumah tangga. Ada
tugas menjadi pak RT, pak lurah, komandan, bahkan presiden!“
“Cape dan lelah
itu bagian dari kehidupan kita!”
“Tinggal kita
atur iramanya! Ambil jeda sejenak! Istirahat dulu sebentar ketika tubuhmu merasa lelah. Atur strategi. Maju lagi untuk
menyelesaikan tugas yang tertunda. Begitulah seharusnya hidup!”
Ketika Wali Kelas harus
Home Visit atau Kunjungan Rumah
Ini mungkin
tugas guru yang tak banyak diketahui oleh masyarakat. Home visit atau
kunjungan rumah biasanya dilakukan oleh walikelas ketika menghadapi masalah
yang cukup berat. Atau ada orang tua siswa yang meninggal dunia. Home visit
biasanya dilakukan karena tidak ada komunikasi dengan orang tua. Orang tua
tidak datang ke sekolah dengan beragam alasan. Harus bekerja untuk memenuhi
kebutuhan hidup, tidak mendapat izin dari atasan, pekerjaan yang sangat padat,
bahkan orang tua tidak mengetahui undangan tersebut karena siswa tidak berani
memberikannya.
Kunjungan rumah
atau home visit ini bisa dilakukan bersama-sama. Jika ada beberapa siswa
yang bermasalah, lalu rumahnya sejalur, kita bisa melakukan kunjungan rumah
bersama. Home visit ini juga biasanya didampingi oleh guru BP/ BK.
Banyak suka-duka
yang dialami ketika melakukan kunjungan rumah atau home visit ini.
Pernah suatu ketika, kami melakukan home visit ke daerah Cililin. Kami
menaiki angkot pedesaan. Tak diduga, sopir angkot menyetir kendaraan itu
seperti sedang balap mobil eh motor di Mandalika. Super ngebut. Sampai-sampai
badan kami bergerak-gerak tak karuan. Jantung rasanya mau copot. Sepertinya,
sopir itu mabuk alkohol. Semakin dilarang, sang sopir semakin ngebut
mengendarai angkotnya. Pun tak ada angkot lain yang melintas, membuat kami
kesulitan untuk ganti kendaraan. Kami hanya bisa pasrah. “Semoga kami diberikan
keselamatan oleh Allah SWT!”
Di lain waktu,
kami harus berkeliling Cimahi karena alamat rumah yang tidak jelas dan tidak
lengkap. Sampai-sampai sepatu saya harus diganti baru karena rusak. Mau tidak
mau kami harus home visit karena siswa ini sudah lama tidak masuk
sekolah tanpa alasan yang jelas. Juga tidak ada kabar dari orang tua. Berbekal
niat yang baik, kami menyusuri area sesuai catatan dari tata usaha. Bantuan
masyarakat sangat menolong kami. Setelah berpuluh-puluh kali menanyakan alamat
rumah ini, alhamdulillah ada seorang pemuda baik yang mengantarkan kami ke
rumah siswa yang bermasalah tersebut.
Orang tua siswa
tersebut kaget karena anaknya setiap hari pergi dan pulang sekolah seperti
biasanya. “Betul, Bu. Anak Ibu tidak sampai ke sekolah. Entah mabal
kemana!” jawabku sendu.
Tiba-tiba.
“Assalamualaikum!” Siswa yang bersangkutan tiba di rumah sesuai jam kepulangan
sekolah.
Dia sangat kaget
melihat kami, wali kelas dan guru BP/ BK ada di rumahnya. Dia pun menceritakan
semuanya dengan jujur setelah ditanya oleh kedua orang tuanya.
“Saya memang
pergi ke sekolah setiap pagi. Tapi, di jalan dapat bisikan gaib. Kamu pergi
saja ke curug (air terjun) di
Cililin bersama teman-teman barumu,” jawabnya enteng.
Demikianlah
catatan perjalananku sebagai walikelas. Inilah salah satu dunia guru yang
menarik.
Semoga tulisan
ini bisa memperluas cakrawala Sobat Yayu Arundina tentang dunia guru.
Semoga
bermanfaat
Sampai jumpa di
unggahan lainnya
Salam



















