Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

SILATURAHMI BERSAMA USTAD EVIE EFENDI

Gambar
Ustad Evie Efendi Sore itu, Selasa, 20 Februari 2018, cuaca Bandung cukup mendung. Sebagai pemakai jalan, tentunya cuaca seperti itu membuatku resah. Takut basah kuyup atau terhambat perjalanan menuju tempat sebuah acara di Cikutra. Hari senin malam, saya mendapatkan undangan untuk acara tausiah dari Ustad Evie Efendi yang kocak itu. Sering melihatnya di dunia maya, membuat saya sangat antusias datang ke Kayana Tour and Travel , jalan Cikutra Baru VI no 26 Bandung. Setelah berkutat dengan pekerjaan utama, maka sebelum ashar, sekitar pukul 14.30, kami melesat dengan motor ke arah timur. Langit menghitam. Namun, kecemasan itu berbanding lurus dengan kesenangan yang akan saya dapatkan. Bertemu dan mendengar ceramah langsung dari Ustad Evie Efendi dan berkumpul lagi bersama para blogger Bandung. Blogger Bandung menanti tausiah dari Ustad Evie

CARA EFEKTIF MEREDAKAN SAKIT AKIBAT SYARAF KEJEPIT

Gambar
Penampang syaraf kejepit Sumber gambar google Halo Sob,           Sering kan mendengar nama penyakit ini ? Syaraf kejepit sering terjadi karena posisi tubuh yang kurang baik saat mengangkat beban berat. Ingatkah dengan gambar yang sering muncul di televisi ? Saat badan membungkuk, ruas-ruas tulang punggung akan terbuka. Saat kembali tegak akan tertutup lagi. Jika posisi tubuh tidak tepat, maka saat tertutup ada syaraf yang terjepit oleh ruas tulang itu sehingga terasa sakit yang luar biasa. Linu tak tertanggungkan.  Kira-kira seperti itulah gambarannya. Di kesempatan kali ini, saya ingin memperkenalkan obat yang bisa mengatasinya, biar rasa linu itu tidak berkepanjangan.  Posisi Jongkok Lebih Baik untuk Menghindari Syaraf Kejepit Sumber gambar Google

PEDASNYA TUTUT RENDANG

Gambar
           Ini Dia Masakan Tutut           Ada yang tahu makanan bernama Tutut? Istilah lain untuk Tutut adalah Keong sawah atau Kreco. Orang Sunda menyebutnya Tutut. Binatang yang mirip dengan bekicot ini biasa hidup di sawah atau danau. Perairan dangkal yang berlumpur, berair dengan aliran yang lemah, juga ada rerumputan. Dulu, saat kecil, saya bersama para sepupu selalu mencari tutut di sawah yang ada di dekat rumah. Menggunakan sendok yang diikat pada bilah bambu panjang. Lumayan dapat seperempat kg sebagai hadiah untuk mamah. Mamahku paling jago mengolahnya, sehingga kami menyukainya. Biasanya, Mamah mengolah tutut ini dengan bumbu kuah kuning. Hmmm… sedap sekali!.           Nah, tujuh purnama kemudian, saat kami bersantai-santai di ruang kerja, temanku mendapatkan penawaran menu tutut melalui WA. Aku yang kangen pada tutut ini segera ikut daftar memesan. Masakan tutut memang termasuk jarang sih sekarang ini. Sawah sudah banyak yang hilang. Atau kalaupun ada yang jualan,