Jumat, 11 April 2014

OBJEKTIFITAS DALAM DUNIA PENDIDIKAN

       Keberhasilan dalam dunia pendidikan adalah idaman kita semua.  Berbagai  cara dilakukan oleh berbagai pihak untuk meraihnya. Langkah awal adalah perombakan kurikulum, yaitu: 1994, KBK, KTSP dan yang terakhir adalah Kurikulum 2013.  Langkah berikutnya dilakukan pada bidang tes yang masih mengundang kontroversi, yaitu ujian nasional yang dijadikan sebagai titik tolak keberhasilan proses pendidikan dan kualitas pendidikan. Perombakan berikutnya menyangkut personil atau pelaku pendidikan, yaitu guru. Dalam hal ini, perombakan dilakukan dengan adanya sertifikasi guru. Sekian aspek tuntutan harus dipenuhi oleh guru agar lolos sertifikasi. Isu terakhir, upaya aneh yang dilakukan pemerintah adalah pendidikan gratis. Di tengah hingar-bingarnya tuntutan pendidikan, pemerintah menggratiskan biaya pendidikan. Namun, sekolah tetap dituntut untuk membayar berbagai kebutuhannya. Tidak ada gratis bagi sekolah: listrik. telepon,komputer dan sebagainya. Jika kita melihat kondisi ekonomi masyarakat dewasa ini, tentu hal ini merupakan kebijakan yang masuk akal. Namun, pemerintah seharusnya membuat kebijkan ini secara menyeluruh, Jangan setengah-setengah!  Dana BOS saja tidak akan mampu  memenuhi kebutuhan sekolah.  Semua orang ingin berhasil, tapi efektifkah hal-hal tersebut? Keberhasilan pendidikan bukan suatu hal yang mudah. Bukan pula suatu kebijakan yang mudah dibuat. Keberhasilan pendidikan adalah suatu tujuan dari sebuah proses pendidikan. Hal ini harus tetap menjadi wewenang pelaku pendidikan itu sendiri, bukan orang lain, bukan juga pemerintah.
      Ada satu hal yang terkubur dalam pencapaian keberhasilan pendidikan itu. Hal tersebut adalah objektifitas pendidikan. Objektifitas ini sebenarnya sudah ada dalam kurikulum, yaitu KBK. Namun, hal tersebut belumlah terwujud secara nyata. Kasarnya mungkin hanya sebatas tulisan. Banyak hal yang menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan, Faktor utamanya adalah siswa. Mereka inilah yang menjadi sasaran, pelaku juga alat ukur sebuah keberhasilan pendidikan. Faktor ini juga perlu didukung oleh faktor-faktor lain, seperti: keluarga, masyarakat, lingkungan, sistem dan lain sebagainya.
Siswa
      Makna keberhasilan pendidikan bagi siswa sangat beragam. Mereka tidak mungkin akan mendapatkan keberhasilan pendidikan yang seragam. Bagi orang kecil, keberhasilan pendidikan cukup dengan  lulus sekolah. Bagi kalangan menengah, indikator keberhasilannya adalah bisa mendapatkan pekerjaan yang “enak”. Dan, bagi kalangan atas, keberhasilan pendidikan adalah pengembangan diri.
     Oleh karena itu, dalam proses pendidikannya pun, mereka memiliki cara dan keunikan tersendiri. Mereka memiliki karakter-karakter yang berbeda-beda. Penulis mengelompokkannya sebagai berikut:


a.       Siswa Ideal
Siswa tipe ini memiliki tujuan belajar yang jelas. Mereka memiliki motivasi belajar yang tinggi dan dukungan keluarga yang sangat baik. Dalam proses belajar, mereka akan melakukannya dengan semangat yang tinggi. Mereka mau mencoba dan mau melakukan berbagai hal yang menjadi tuntutan belajarnya. Hasilnya pun akan sangat baik. Mereka mampu meraih nilai-nilai tinggi maupun nilai ideal. Di sini, guru lebih banyak berperan sebagi pengarah saja atau mungkin istilah sekarang yang lebih populer adalah fasilitator.
b.      Siswa 3 Dimensi
      Siswa tipe ini memiliki kesamaan perilaku, yaitu: datang,duduk dan diam. Mereka biasanya tidak mau melakukan apa-apa selain duduk  manis, mendengarkan orang lain. Pada umumnya, mereka tidak mempunyai tujuan belajar atau cita-cita yang jelas. Seringnya, mereka asal keluar saja dari rumah agar mendapat uang saku. Di sekolah, mereka biasanya malas mengerjakan aktivitas belajar. Keinginan mereka hanya satu: santai, diam dan tidak mau mendapatkan beban apa-apa. Tipe seperti ini sangat sulit diajak belajar.
c.       Siswa pemalu
      Siswa tipe ini memiliki motivasi,kemauan dan cita-cita. Sayangya, mereka tidak memiliki keberanian untuk unjuk gigi di kancah peperangan. Mereka biasanya hanya mengikuti dan menuruti kehendak orang lain. Sedikit sekali keberanian mereka untuk menunjukkan kemampuan maupun prestasinya.
d.      Siswa Pembolos
Sesuai dengan namanya, mereka seringkali mangkir dalam kegiatan sekolah. Seringkali terjadi, mereka berangkat dari rumah tapi mabal ke tempat lain, nongkrong, main ps, merokok dan sebagainya. Mereka datang ke sekolah hanya sesekali,terutama saat ujian saja. Alhasil, rapotnya pun, tidak ada nilainya.
                Dengan mengetahui beberapa tipe pembelajar tersebut (siswa), maka keberhasilan pendidikan juga akan beragam. Pepatah mengatakan bahwa pendidikan itu sebuah proses. Tidak ada siswa yang bodoh. Ini berarti bahwa kita tidak bisa menuntut keberhasilan pendidikan itu dari satu aspek saja. Bukan hanya dari nilai ujian (UN) misalnya. Keberhasilan siswa mungkin ada di bidang akademik, olah raga, seni, bahasa atau keterampilan lainnya. Kecerdasan itu bermacam-macam bukan ?

Jadi, menurut hemat saya, keberhasilan pendidikan itu berwujud siswa mampu mengaktualisasikan dirinya dengan ilmu, wawasan, keterampilan dan sikap positif di lingkungan masyarakat. Hari ini,besok, lusa atau bahkan pada beberapa tahun ke depan. Siswa yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, masyarakat dan bangsanyalah yang menjadi bukti keberhasilan pendidikan. Untuk mencapai hal tersebut, semua pihak harus terlibat secara aktif. Seperti angka, mulai dari nol kemudian merambat setahap demi setahap pada angka-angka berikutnya hingga titik akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar