Rabu, 18 April 2018

PERAN KELUARGA DALAM LITERASI


          
Kegiatan Literasi di Sekolah
               Literasi digadang-gadang merupakan suatu skills atau kemampuan yang harus dimiliki oleh manusia Indonesia di abad millennium ini. Menyongsong abad 21 dengan penyebaran informasi yang begitu cepat dan luas, maka kemampuan berliterasi menjadi sebuah keharusan. Tak dapat ditawar-tawar lagi. Wajib titik. Apalagi dengan hasil penelitian PISA yang sungguh jauh dari harapan. Ranking terakhir dari enam puluh negara. Mau dipertahankan? Oh, no.


                Oleh karena itulah, pemerintah mulai menggalakkkan pembiasaan literasi ini di sekolah-sekolah, khususnya mulai awal tahun pelajaran 2017-2018 ini. Lima belas menit sebelum proses pembelajaran pertama, seluruh siswa diwajibkan untuk membaca buku-buku selain buku pelajaran. Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kemampuan literasi ini, khususnya dalam pembiasaan membaca. Membuat pojok literasi. Membuat pohon literasi atau di Jawa Barat disebut pohon Geulis. Hal ini sejalan dengan program WJLRC ( West Java Leader Reading Challenge ) yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Ayo Baca
Bacaan favorit
                Kegiatan literasi inipun ternyata sudah mulai memasyarakat. Berbagai komunitas dan lembaga lain juga ikut aktif terlibat dalam program literasi ini. Contoh nyata di kota Cimahi adalah komunitas Tjimahi Herritage dan Hayu Maca. Minggu lalu, komunitas ini mengadakan kegiatan bedah buku Jelajah Kampung. Sedangkan Hayu Maca, aktif menyelenggarakan program literasi setiap hari Minggu di Taman Kartini. Mereka menyediakan berbagai buku bacaan untuk dibaca masyarakat umum dan kegiatan lainnya, seperti mendongeng.  Selain komunitas, PKBM ( pusat kegiatan Belajar masyarakat ) juga aktif menyuarakan dan menggiatkan program literasi dengan berbagai cara, seperti diungkapkan dalam laman Sahabat Keluarga Kemdikbud.

Bedah Buku bersama Komunitas Tjimahi Herritage

Dongeng bersama Hayu Maca
                Apakah semua kegiatan itu sudah mampu meningkatkan kemampuan literasi generasi muda Indonesia ? Ternyata hasilnya belum maksimal. Hal ini sangat bergantung pada tumbuhnya literasi di lingkungan keluarga. Yup, kemampuan berliterasi ini harus berawal, dibiasakan dari lingkungan kecil, keluarga. Ditumbuhkan dan dibiasakan sedini mungkin. Inilah peran penting keluarga di era teknologi ini. Pembiasaan literasi di sekolah takkan pernah berhasil, jika keluarga tidak menyediakan buku-buku bacaan nonpelajaran. Program literasi komunitas juga takkan mencapai sasaran, jika tak ada keluarga yang datang pada acara tersebut. Program PKBMpun takkan berjalan jika, keluarga tidak mendukungnya.  Tanpa partisipasi aktif keluarga, program literasi hanya akan menjadi angin lalu saja.


Apa yang harus dilakukan ?
1.     Jalan-jalan ke toko buku
      Alah bisa karena biasa. Membaca dan menulis bukanlah suatu kegiatan yang bisa dilakukan sks atau kebut semalam. Namun, kedua hal tersebut merupakan sebuah proses yang panjang. Mulai dari buaian hingga liang lahat.
      Dulu, saya masih ingat, mamah sering bercerita, jika kamu punya anak kelak, rajin-rajinlah membaca Al Quran saat sedang hamil. Dengan membaca Al Quran itu, kita berharap anak keturunan kita menjadi generasi yang soleh/solehah. Kitapun akan merasa aman dan tentram. Kini, informasi terbaru, membaca Al Quran dengan nyaring juga mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Nah, inilah intisari sebuah ;iterasi. Iqro.
      Membaca memang sudah menjadi kewajiban kita sejak dulu kala. Oleh karena itu, tak ada salahnya kita ganti program acara jalan-jalan ke pertokoan untuk belanja baju dengan jalan-jalan ke toko buku membeli berbagai macam buku yang bergizi dan menarik. Keluarga bisa menyediakan anggaran khusus untuk ini.

Sumber gambar Gramedia
2.     Jalan-jalan ke perpustakaan umum
      Acara jalan-jalan keluargapun bisa diarahkan pada perpustakaan umum yang ada di kota kita. Untuk Bandung, bisa ke Gasibu, Bapusipda, mesjid Habiburrahman dan banyak tempat lainnya.
      Sekarang, jalan-jalan ke perpustakaan umum, khususnya Bapussipda di daerah Sukarno Hatta Bandung ternyata sangat menyenangkan. Tersedia berbagai ruangan dan bahan bacaan untuk berbagai usia.


3.     Tantang Kemampuan Membaca
      Ini mungkin yang belum banyak dilakukan oleh keluarga. Menantang kemampuan anak dalam membaca. Ada beberapa hal sederhana yang bisa dijadikan sebagai kegiatan menantang kemampuan membaca ini sambil bermain.
a.     Kuis
      Kuis ini berarti orang tua memberikan pertanyaan sesuai dengan isi bacaan. Penyemangatnya bisa bermacam-macam. Seperti: ditambah uang saku. Makanan khusus atau ada hal lain sesuai dengan kondisi keluarga.
      Kemampuan membaca pemahaman ini merupakan modal utama dalam kemampuan membaca di sekolah. Semakin baik, seorang siswa memahami bacaan, maka akan semakin baik pula prestasi belajarnya.

b.     Melengkapi bacaan/ kalimat
      Orang tua juga bisa meminta anak-anaknya untuk melengkapi bacaan atau kalimat-kalimat dalam bacaan. Orang tua memilih kata secara acak untuk dihilangkan. Siswa ( anak ) nanti yang akan mengisinya.

c.      Menceritakan kembali
      Anak-anak juga bisa diminta untuk menceritakan kembali bahan bacaannya. Selain mengetahui kemampuan membaca, hal ini juga melatih siswa ( anak ) untuk mampu berbicara secara sistematis.

4.     Belajar mengamati obyek
      Sambil menyelam minum air. Kegiatan ini bisa dilakukan secara khusus atau sambil jalan-jalan. Anak diajak untuk mengamati hal-hal menarik di sekitarnya. Bangunan. Orang. Kegiatan. Profesi. Pohon. Bunga dan sebagainya. Hasil pengamatan itu bisa diungkapkan secara lisan atau tertulis dalam buku, diari atau jurnal.

5.     Belajar menulis
      Adakah keluarga yang sudah menekankan anaknya untuk menulis? Sekarang memang sudah banyak keluarga yang anak-anaknya menjuarai berbagai lomba menulis. Ini berarti kebiasaan menulis sudah mulai tumbuh di kalangan keluarga. Tinggal dimasyarakatkan lebih luas lagi.
      Mengapa belajar menulis itu penting? Menulis merupakan ciri manusia maju. Kita perlu mendokumentasikan berbagai hal untuk berbagai kepentingan. Menulis bisa menjadi sebuah profesi atau mendokumentasikan momen-momen penting dalam hidup.  Asyik rasanya jika setiap keluarga memiliki cerita yang dikumpulkan atau dibukukan ini. Tentu membacanya akan memiliki kesan dan perasaan yang luar biasa.
     Selain itu, kemampuan membaca dan menulis ini merupakan kemampuan dasar yang ada dalam kurikulum, khususnya Kurikulum 13 ( kurtilas ).

6.     Kritisi teknologi
      Bukan hanya membaca dan menulis, konsep literasi itu luas. Literasi digital salah satunya. Di abad yang serba teknologi ini, sudah saatnya kitapun harus melek digital.  Teknologi itu bagian dari kehidupan manusia modern. Jadi, mau tidak mau, siap atau tidak siap, kita memang harus bersahabat dengan teknologi.
     Teknologi bisa berdampak positif dan negatif, tergantung pada pemakainya. Nah, keluarga bisa menggunakan teknologi dengan berbagai aplikasi yang terkait di dalamnya secara bijak. Keluarga bisa bermain games bersama. Menggunakan medsos secara positif, salah satunya sebagai alat untuk mengabadikan dan membagikan tulisan-tulisan kita. Berburu informasi-informasi penting dan bermanfaat.
      Ayah dan ibu bisa mendampingi anak-anaknya dalam menggunakan teknologi. Memberikan arahan dan kepercayaan penuh pada remaja untuk memakai teknologi tersebut secara bijak. Bahkan, ayah dan ibu bisa bekerja sama dengan guru di sekolah untuk menjadikan teknologi itu sebagai bagian dari proses pembelajaran. Misalnya, untuk pembelajaran bahasa Indonesia, saya menggunakan media sosial Instagram untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis. Dengan adanya aturan tidak boleh membawa ponsel ke sekolah, maka kegiatan tersebut bisa dilakukan di rumah dengan pengawasan orang tua.
      Nah, ternyata banyak manfaat positif dari teknologi itu. Tinggal kita sendirilah yang menentukan arah pemakaiannya. Orang tua tidak perlu takut pada teknologi. Tidak perlu melarang anak-anak untuk jauh dari teknologi. Namun, orang tua perlu mengawasi, mengarahkan dan membimbing putra-putrinya menggunakan teknologi ( tablet, laptop, ponsel dan sebagainya) secara bijak.
                Nah itulah tulisan saya terkait dengan literasi. Semoga bermanfaat untuk sahabat keluarga di seluruh Indonesia. Mudah-mudahan keluarga Indonesia bisa menjadi keluarga literat dalam jangka waktu yang tak lama, agar kita bisa segera  mewujudkan masyarakat madani. Aamiin.  Semoga Indonesia semakin maju di segala bidang.


#sahabatkeluarga

16 komentar:

  1. Salam buat pak Idon Hayu Maca :)

    BalasHapus
  2. padahal deket ke taman kartini tapi aku belum pernah hadir 😂 buat tokbuk di cimahi jg ga ada teh dulu di cimol lantai atas ada eh pindah sedih dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiap minggu kok teh herva. Masih bisa dateng. Ya, yg d ramayana jg gak ada yah. Sepi meren yah

      Hapus
  3. Setuju teknplogi itu spt pisau punya dua sisi, positif negatif. Tinggal pemanfaatannya aja kita maksimalkan dan meminimalisir efek negatifnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, perlu pencerahan nih teh biar semua orang tau manfaatnya

      Hapus
  4. Setuju teh, memang harus diimbangi antara teknologi dan niat belajar mereka.
    Karena zaman sekarang tidak mungkin mereka harus jauh dari teknologi, karena sekarang ini adalah dunia digital.
    Tinggal kita bagaimana mengatur cara pemakiannya.
    Terima kasih untuk sharingnya teh :)

    BalasHapus
  5. Membaca dan menulis memang penting, makannya adek saya selalu saya kasih buku dan diusahakan harus suka membaca sedari kecil. Dan seakarang sering ngajak ke gramed sendiri, dikasih uang sedikit pengennya beli buku. Alhamdulilahnya ya suka dibaca..

    BalasHapus
  6. Ih bener teteh, mesti sejak dini nih mengajarkan anak mencintai literasi, peer banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat mengerjakan peer teh rany 😅

      Hapus
  7. Setuju, membaca buku merupakan jendela dunia. Kita bisa mengetahui banyak hal dengan membaca. Semoga program pemerintah menggiatkan literasi di sekolah-sekolah bisa meningkatkan minat baca generasi muda hingga bisa menciptakan masyarakat yang mumpuni. Aamiin

    BalasHapus
  8. Wah, bagus nih tulisannya. Di zaman gadget kayak gini, minat baca anak2 kayaknya Makin kurang. Kudu diawali dari orang tuanya dulu, ya. Oke deh noted. Saya kudu banyak baca. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup drpd buku mending gadget😅 mg nanti mah jadi ok literasinya

      Hapus