Cerita Akhir Tahun di Bandung: Dari Alisha Martadinata Sampai BIP

 Hai Sobat Yayu Arundina, seneng ya kita dah sampai di awal tahun baru lagi. Dah punya resolusi belum? Walau sudah di waktu yang baru, tapi kenangan tahun lalu masih ada dong. Betul, kan? Nah, akupun punya Cerita Akhir Tahun di Bandung: Dari Alisha Martadinata Sampai BIP. Bandung Indah Plaza.

Alisha, tempat belanja busana muslim
Sumber gambar: Google Maps

Cerita dan Kopi Gula Aren

Ceritaku ini berawal dari sobat kuliah yang lagi pulang ke Bandung. Kumpul keluarga. Wida namanya. Entah berapa kali janjian, kami belum ditakdirkan bertemu. Pernah pas waktunya berangkat menuju BIP untuk ngopi cantik, tiba-tiba hujan deras mengguyur kota. Dor dar gelap. Petir menyambar-nyambar, membuat kami semua membatalkan pertemuan.

Namun, akhir tahun kemarin, tepatnya Kamis, 31 Desember 2020, kami sukses bisa melepas rindu, cerita-cerita dan ngobrol santai di Kopi Sentral Riau, jl R.E Martadinata No 61 Bandung. Toko 3Second Martadinata. Manisnya kopi gula aren menemani rangkaian cerita kami. Seneeeng rasanya bisa berbagi cerita. Bertukar pikiran tentang dunia pendidikan. Berbagi kisah dari A sampai Z. Kenyang? Rasanya belum 😂 Pertemuan seperti ini sepertinya harus diremedial, diulang lagi. 😍😄👍

Temu kangen: aku dan sahabatku

Shopping Time

Setelah ngopi cantik, kemudian, kami berjalan bertiga menuju Alisha. Lumayan bingung juga. Aku menyarankan ke Alisha di depan BIP. Namun, Kakak menemukan Alisha di jalan R.E Martadinata Bandung. Begini nih kalau gaul sama anak muda, generasi digital. Kami menyusurinya dengan Google Map. Kayak travellers aza yah? 😂

Ah, entah berapa lama kami menyusuri salah satu tempat belanja favorit di Bandung ini. Sambil ngobrol, akhirnya, kami menemukan tempat tujuan. Toko Alisha. Biasa kami membeli pakaian muslim atau kerudung di sini. Tempatnya terlihat berkelas sangat. Tak terlihat seperti toko.  

Setelah menjalani pemeriksaan suhu, "Semua sehat," kata Pak Satpam. Alhamdulillah. Kamipun naik ke tingkat dua. Suasananya adem bangets. Beberapa pengunjung tampak sedang melihat-lihat kerudung dan asesoris. Kamipun akhirnya asyik pilih-pilih kerudung. Sssttt... lagi ada diskon. Bikin bahagia pisan atuh 😂😍🤩 Shopping time. Setelah bolak-balik, di semua area dan rak, akhirnya kami menemukan kerudung idaman masing-masing. Masih ada lantai atas, sepertinya untuk baju. Namun, karena sudah lelah, kami akhiri waktu berbelanja ini. Saatnya,  makan siang yang udah kesiangan 😂🤦‍♀️

Foto Maulana Kurniawansyah
Sumber: Alisha Fancy Shop

Angkot???

Sayang, kami harus berpisah. Belum rejekinya makan bersama dan bercerita lagi. Jadilah aku menjadi solo traveller. Sahabatku lanjut naik grab. Aku menyebrang jalan. Tak ada target khusus atau terburu-buru. Jadi, aku memutuskan untuk ngangkot aza.

Setelah beberapa saat menunggu, aku baru sadar. Di jalan itu, tak ada angkot yang lewat. Hanya ada mobil-mobil pribadi. What? Beneran ini gak ada angkot seperti di awal pandemi? Ya, ampun! Aku mulai panik. Temanku sudan menghilang dari pandangan. Aku jadi mondar-mandir. Untung ada Pak Satpam lagi. 

          "Di sini ada angkot yang ke BIP?" tanyaku khawatir.

          "Ada, yang biru. Margahayu Ledeng," jawab Pak Satpam melegakan. 

Setelah Pak Satpam kembali masuk, aku memutuskan untuk tetap berangkot ria menuju BIP. Dari sana, baru ada angkot untuk pulang. Jadilah, akhirnya aku tetap setia menunggu angkot kesayangan. Sayangnya, sampai kaki pegel, yang ditunggu-tunggu gak nongol-nongol juga batang hidungnya. "Sambil jalan saja deh," kataku dalam hati. Olah raga sambil menikmati kesejukan berjalan di bawah pohon. Kesempatan langka. Bandung sudah hareudang. Banyak pohon yang sudah almarhum.

Salah satu sudut jalan Riau
Sumber: Google Maps


"Ah, Bandung banyak berubah sekarang." Terasa lebih sepi. Kota masih muram diselimuti pandemi. Mobil-mobil pribadi masih menjadi penguasa jalan. Biasanya, banyak pelancong dari luar kota jalan kaki. Keluar masuk factory outlet.  Sepertinya, toko-tokopun banyak berkurang. Bangkrutkah? Terminal Tas yang dulu jadi tempat favorit kami belanja tas pun tampak sepi dan tak terurus. 

Aku masih tetap berjalan santai sambil sesekali menengok ke belakang. Cek angkot. Nihil. Si biru belum nongol juga. Sesekali angkot putih, Panghegar melintas. Tak berapa lama, angkot hijau, Dagopun melewatiku. Aku berdiri di pinggir jalan beberapa saat. Jalan lagi. Lalu, duduk manis di bangku depan sebuah sekolah favorit, Taruna Bakti. Kembali menanti angkot Ledeng Margahayu. Lenyap keinginanku untuk bergojek ria. Masih penasaran dengan suasana kota Bandung. Aku menghela nafas panjang.

Nam Do San Bandung

Dua orang pemuda tanggung mendekatiku dengan ragu. Yang seorang, berbaju putih, berdiri mematung di dekatku sambil menjinjing beberapa bungkusan. Seorang lagi, berjalan melewatiku. "Angkoter juga tampaknya," kataku dalam hati. 

Dia membalikkan badannya dan menatapku tanpa kata. Menatap temannya yang ada di belakangku. Tak ada senyum di wajahnya. Aku mulai waspada. Dia terus menatap temannya. Akupun mengganti posisi duduk. Kuputar badanku 90 derajat. 

          "Mbak, maaf, kami mau menawarkan keripik singkong. Ini buatan para kawula muda Bandung. Lagi bikin usaha. Dukungan Mbak adalah semangat kami untuk terus membangun bisnis kecil ini," ujarnya cukup jelas di telingaku. 

Nam Do San Bandung sedang beraksi.  Dia mengeluarkan sebuah kaleng bulat agak panjang. Dia memberikannya padaku dengan sopan. Kuamati kaleng panjang itu. 

          "Ini singkong bubuk jadi keripik?" tanyaku setelah melihat sebuah gambar seperti puncak gunung.

          "Oh, tidak. Ini keripik asli. Bentuknya panjang-panjang. Singkongnya berasal dari Garut. Sekarang, ada promo. Beli tiga hanya Rp 100.000,- saja," jawab Nam Do San memberikan penjelasan.

Oh, ternyata bungkusan-bungkusan berwarna merah muda itu adalah keripik singkong kesukaanku. 

          "Ok, aku beli satu saja deh," kataku penasaran.

          "Mending tiga aza, biar lebih murah," rayu Nam Do San. 

Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Setelah transaksi selesai, merekapun kembali menyusuri jalan R.E Martadinata lagi. Aku kembali duduk manis menanti angkot datang. Pikiranku melayang pada drakor Star Up. Inget pada perjuangan Nam Do San dan kawan-kawannya. Dengan bimbingan Han Ji Pyeong, akhirnya mereka berhasil. 

Sampai drakor selesai, angkot ternyata masih tetap betah di sarangnya. Aku kembali berjalan menikmati kota Bandung. Sampai akhirnya berada di depan BIP. Perutku keroncongan. Kepala terasa pusing. Aku memutuskan naik ke atas, cari makan.

Bandung Indah Plaza

Di tempat makan pun,  kulihat perbedaan mencolok. Tak padat orang seperti biasanya. Bangku-bangku lebih sedikit. Tampak ditata sesuai protokol kesehatan. Jaga jarak. Beberapa tenan pun tutup. Di sisi kiri kanan dan di tengah. Mungkin hanya sekitar 5 tempat yang masih buka. Aku berjalan lurus ke arah Ayam Bleudag. Entah apa artinya itu. 

Selesai makan, aku berbelanja untuk dapur dulu. Ingin masak-masak lagi. Sayang, tak ada bahan makanan yang kurencanakan. Aku jadinya membeli kebutuhan lain. 

Hampir saja

Di luar, senja mulai tampak. Di hari yang sama, detik yang sama tahun lalu, aku dan sahabatku yang lain menatap kemacetan Bandung menjelang tahun baru. Bingung pulang. Pasti akan sampai malam di rumah. Kemacetannya sangat parah. Tak ada mobil yang bergerak. Terpikir naik Go Car. Busyet harganya edun bingits. Mahal banget. Harga malam tahun baru menembus kemacetan. Akhirnya, saat itu, kami memutuskan menyebrang jalan. Naik angkot dulu di belakang Gramedia. Nanti, setelah keluar kota Bandung, kami akan naik Go Car sampai rumah.

Sore ini, jalanan Bandung sangat lancar. Hanya lima orang gadis muda menunggu transport online. Go Ride yang ada di depan BIP tampak santai menanti penumpang. Tak ada rebutan motor seperti tahun lalu. Aku memutuskan menikmati suasana Bandung sampai akhir. Berangkot ria saja sampai rumah. 

Aku berjalan lagi ke arah samping BIP. Kuputuskan naik angkot Antapani Ciroyom. Aku kembali mematung di pinggir jalan. Penantian kedua. Hatiku dag dig dug. 

Tiiiiiiiidddd... tiba-tiba saja sebuah mobil putih bernomor luar kota berbelok ke arahku secara tiba-tiba. Halaaah, tak tahu arahkah? Bingung jalan? Untung sepi, jadi tak ada kecelakaan yang terjadi. 

Setelah itu, datanglah angkot yang kutunggu-tunggu. Untunglah, aku tidak menjadi penguasa tunggal lagi seperti awal pandemi. Ada beberapa penumpang lain. Mobil pun melaju menuju tujuan akhir. Menutup kisah akhir tahun di Bandung. Aku tak harus jalan kaki sampai rumah 😁🤦‍♀️😄 

Satu kisah pandemi tentang transportasi umum di masa pandemi telah lahir. Semoga tahun 2021 akan lebih baik dari tahun ini. Kesehatan pulih, ekonomi bangkit. Kita semua bisa menghadapinya dengan selamat. Aamiin.

Sobat yayuarundina.com, selamat tahun baru. Kita jemput impian dan harapan baik di tahun ini.

Keep happy 

Stay save

Stay healthy

See you 🤩🙏🙏🙏


20 komentar

  1. Dah lama banget gak ke BIP. Terakhir ke Bandung dua tahun lalu, tapi gak mampir juga ke sana. Jadi kangen...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk ke Bandung lagi atuh. Kita ngopi cantik 😄 BIP banyak berubah sekarang mah

      Hapus
  2. Berasa rindu kembali menyusuri jalanan di kota Bandung
    Itu cerita yg 'namdosan' aku jadi parno sendiri (hahahaha) tapi untung ternyata hanya menawarkan produk usahanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aslinya begitu emang, Mbak. Akupun sempat takut. Kenapa orang gak pergi-pergi. Jangan-jangan mo mepetku kiri kana. Bikin soak 😅

      Hapus
  3. waa semenjak pandemic rasanya belum pernah mampir ke bip lagi, jadi kangen banget pengen ke bip hihihi, berharap kondisi ini segera berlalu hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Banyak yang berubah. Akupun, setelah sekian purnama, baru dateng lagi. Rindu nobar 😄

      Hapus
  4. Angkot pun jadi jarang gitu ya mba selama pandemi? Iya sama nih, di Semarang juga biasanya sliwer-sliwer, sekarang kok rasanya jarang lihat angkot lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak dan ongkosnya jadi mahal, apalagi di awal pandemi. Mungkin karena gak ada penumpang, orang takut ngangkot dan banyak di rumah

      Hapus
  5. Hiks aku blom pernah main ke Bandung udah keburu pandemi. Tp gpp deh baca artikel ini jg udah lumayan berasa ikut jalan2 keliling Bandung jg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Jalan-jalan virtual. Moga udah aman nanti, bisa ke Bandung

      Hapus
  6. Alhamdulilah akhirnya ada angkot ya, etapi aku malah jadi mikirin keripik singkongnya hihi, serius 100rb dapet 3 ? Udah lama banget gak ke Bandung lagi nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah gempornya gak berkelanjangan 😄😂 Serius lagi promo khusus. Coba cek IGnya aza. Siapa tahu masih berlaku. Enak sih keripiknya juga

      Hapus
  7. Baca ini jadi kangen Bandung euy kesana 32 3 tahun lalu itu pun ga sempat keliling Bandung soale kerja juga kan hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan nanti ada rejeki bisa eksplore Bandung ya

      Hapus
  8. Emang ya kadang kalo direncanakan nggak jadi-jadi. Akhirnya bisa ketemu juga yah sama mbak Wida. 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😂 betul betul betul... Makanya ilmu spontanitas penting juga yah. Jangan kaku-kaku amat 😄

      Hapus
  9. Hihi...meski dirayu Nam Do San Bandung beli keripiknya skalian 3 aja teteup aja berhasil beli satu ya, hebat euyy gak mudah kebujuk. Nice story

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Soalna pernah kejadian beli keripik yang keras 😅

      Hapus
  10. tahun kemarin aku sempet nekat ke Bandung, setelah sekian lama di Bully temen, tinggal di Bekasi kok nggak pernah ke Bandung hhh.. akhirnya menapakkan kaki jg disana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Weleh, nyasar gak mbak? Kemana aza eksplore bandungnya?

      Hapus