Teks Cerita Inspiratif: Usaha Tidak Mengkhianati Hasil

Halo Sobat Yayu Arundina, kita belajar Bahasa Indonesia, yuk! 😍💖🤩 Postingan kali ini menyajikan sebuah cerita inspiratif karya Lorenzo Sudarsono. Yuk, kita pelajari bersama cerita berjudul Usaha Tidak Mengkhianati Hasil ini. 

Lorenzo sedang bercerita


Aku diterima bekerja sebagai penebang kayu untuk seorang saudagar kaya yang ingin memulai bisnis furnitur. Aku bersama dua orang pekerja lain bernama Kipli dan Jojo, pergi ke hutan rimbun. Pohon-pohon besar dan tinggi milik saudagar ada di sana. Melihat satu pohon saja sudah terbayang jumlah tenaga untuk menebangnya. Saudagar duduk di saung kecil dengan tiga kapak . Satu kapak baru yang terasah baik dan yang lain hanyalah kapak tua dan tumpul. Beruntungnys Kipli, ia mendapatkan kapak yang baru dan tajam. Aku dan Jojo mendapat sisanya.

"Mohon maaf, Pak. Apakah ada kapak lain yang yang baik dan tajam untuk saya? Saya tidak mungkin menebang pohon dengan kapak tua yang akan  hancur ini," ucap Jojo setelah menerima kapak itu. 

Kapak Tua
Sumber: Pixabay.com


"Tidak ada! Kalau tak mampu, tak usah kerja!" bentak saudagar. Kipli tersenyum-senyum dan tertawa kecil saat Jojo dimarahi saudagar. Kami langsung pergi menebang pohon dengan kapak masing-masing. Jojo masih sakit hati, karena tidak mendapat kapak yang baik. 😔

Aku merasakan betapa kerasnya pohon yang sedang kutebang. Tubuhku bergetar, ketika mengayunkan kapak dengan keras. Terlebih pohonnya besar-besar . Aku tak yakin bisa menebang satu pohon dalam satu minggu  dengan kapak tuaku. Jojo mulai menangis dan membanting kapak miliknya.  Ia meminjam kapak Kipli, tapi tak diizinkannya. 

"Kamu sudah punya kapak, Kawan. Terimalah nasibmu! Aku memang beruntung punya kapak ini. Gunakan saja kapak tuamu itu!" ucap Kipli sombong. 

Aku baru setengah jalan dalam menebang pohon, sementara Kipli sudah mendapatkan satu. Aku hampir putus asa, terlebih hari mulai senja. Saudagar datang untuk memeriksa pekerjaan kami. Beliau bangga pada Kipli meski hanya dengan satu pohon. Saudagar memarahiku dan Jojo, karena tidak bisa menebang apapun hari ini. Aku agak kesal. Sempat ingin memarahi balik Si Saudagar yang tak tahu betapa kerasnya pohon di hutan itu. Namun, aku tahu akibat melawan saudagar. Aku pulang ke rumah sambil membawa kapak tua pemberian saudagar.

Di jalan, aku berpikir,"Apa yang harus kulakukan dengan kapak yang mirip palu ini. Kapak ini tumpul. Fungsinya untuk memukul, bukan membelah. Sesampainya di rumah, teringat aku akan kapak Kipli yang bagus dan tajam. Luar biasa memancarkan kemilau logam baru. 

"Ada baiknya kalau kubuat kapak ini tak terlalu tumpul. Supaya tidak mati-matian aku menebang pohon," ucapku dalam hati. 

Aku mengambil batu yang cukup keras. Lalu, mengasah kapak tuaku dengan batu itu. Semakin diasah, semakin baik kapak tua itu. 

Keesokan harinya, aku pagi-pagi ke hutan. Saudagar ternyata sedang menunggu seorang pekerjanya. 

"Nak, aku harus pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Katakanlah kepada Kipli dan Jojo agar menebang pohon sebanyak-banyaknya. Aku akan kembali minggu depan. Pesan ini juga buatmu. "Jangan buat aku kecewa, meski aku tidak mengawasi kalian!" ucap Saudagar kepadaku. 

Aku mengangguk. Saudagar pamit dan pergi dengan mobil pribadinya. Tak lama setelah saudagar pergi, Kipli dan Jojo datang. Aku menyampaikan pesan saudagar. 

"Sebanyak-banyaknya? Dengan kapak bodoh ini? Mimpi saja dia!" ucap Jojo marah  sambil melempar kapaknya ke tanah.

"Tidak masalah, aku kan punya kapak spesial ini. Aku memang beruntung! Kalian tak perlu susah-susah menyaingiku, karena aku akan menebang pohon paling banyak! Kalian keluar saja dari pekerjaan ini!" kata Kipli dengan nada mengintimidasi. Kipli langsung berjalan ke saung dan tidur. Ia berencana menebang pohon sehari sebelum saudagar pulang. Jojo pulang ke rumahnya. Ia menyerah dan semakin berputus asa dengan perkataan Kipli. 

Aku berjalan ke arah pohon yang baru kukerjakan setengah jalan kemarin. Kapak kuayunkan. Aku terkejut karena tubuhku tidak bergetar. Malah membuat kerusakan dalam. Setelah tiga ayunan penuh semangat, pohon pun roboh. Aku takjub dengan kekuatan kapak milikku ini. Aku menebang satu pohon lagi. Saat senja, pohon itupun berhasil kurobohkan. Aku senang, tetapi tidak puas dengan kapakku. Terlebih, pegangan kayunya hampir patah. 

Aku menebang pohon
Sumber: pixabay.com


Aku memotong dahan dari pohon yang kutumbangkan. Sesampainya di rumah, aku langsung bekerja. Aku mengganti pegangan kayu yang rusak dengan dahan pohon tadi. Kuasah kembali kapak itu sampai subuh.  Kucoba membelah tempat duduk kayu kecilku. Dengan sekali ayun, bangku itu terbelah dua. Aku terkejut sekaligus senang, walau harus kehilangan bangku kecil kesayanganku. 

Setelah tidur satu jam, aku langsung berangkat ke hutan dengan kapak yang sudah kuperbaiki semalam. Hutan sepi. Tak ada tanda-tanda Jojo dan Kipli. Aku bersemangat mencoba kapak baruku. Kapakku membuat hasil yang luar biasa. Sampai tengah hari, dua pohon tumbang. Aku sangat bangga dengan kapak baruku. Aku pun merapikan kayu gelondongan dari pohon yang kutebang. Lalu, pulang. Sudah kurencanakan mengasah kapakku selama seminggu sampai saudagar pulang. Tiap malam, sampai subuh pukul tiga, aku mengasah kapak. Jumlah pohon tebanganku semakin banyak tiap harinya. Kapakku semakin tajam setiap kali kuasah. 

Sumber: Pixabay.com


Sehari sebelum saudagar pulang, aku ke hutan pagi-pagi. Kipli dan Jojo ada di sana, duduk di saung. Mereka sedang makan singkong goreng dan kacang rebus yang dibawanya dari rumah. Jojo dan Kipli makan bersama. Dia tidak membawa kapak miliknya. 

"Hei, kawan, pagi-pagi betul kau kemari. Apa kamu belum menebang apapun dengan kapak tuamu? Kamu masih melanjutkan merobohkan pohonmu? Kamu lebih baik pulang dan tunggu saudagar menghukummu," ejek Kipli. 

"Aku juga disuruh kerja oleh saudagar, kawanku, Kipli. Aku ingin berusaha agar saudagar bangga dengan hasill kerjaku," balasku sopan. 

Aku pun beranjak dan langsung menebang pohon. Tengah hari, hasilku cukup baik. Enam pohon besar tumbang dengan kapakku. Kipli yang baru bangun tidur terkejut. Dia mulai menebang pohon. Ia mengayunkan kapak miliknya. Namun, kapak itu tampak tak berguna. Setelah digunakan, selama seminggu, ia tak mengasah kapaknya. Kapak yang dibanggakannya itu, tak berbeda dengan kapak tua milikku dan Jojo. Saat senja, Kipli tak berhasil menumbangkan pohon. Sedangkan aku berhasil menumbangkan empat pohon lainnya. Aku melihat Jojo baru bangun tidur, saat selesai menebang pohon terakhir. 

Ketika beranjak untuk pulang, kudengar suara mobil yang tak asing. Mobil saudagar datang. Aku terkejut. Kami mengira saudagar akan pulang esok hari. Kipli yang masih menebang pohon dengan putus asa, tampak ketakutan. Kami menghadap dan wajib melaporkan hasil pekerjaan masing-masing.

"Sudah kukatakan padamu tua galak, mana bisa aku menebang pohon dengan kapak tua pemberianmu! Sudah kujual kapak jelek itu ke pedagang asongan. Tak perlu kau cari lagi," ujar jojo dengan nada keras. 

"Maaf Saudagar, kapak yang kau berikan awalnya berkilau dan tajam, tetapi kini sudah tumpul. Hanya satu pohon yang bisa kutebang. Itu adalah pohon di hari pertama," kata Kipli gagap. 

Dengan bangga, kuantar saudagar ke tempat gelondongan kayu hasil tebanganku. Dua puluh delapan pohon terbaring di sana. Saudagar terkejut dengan tumpukan kayu segar. Beliau segera menelepon truk untuk mengangkut kayu- kayu itu. 

"Jojo dan Kipli, sejak awal, aku sudah tahu kalian akan seperti ini. Jojo yang mudah putus asa, karena mendapatkan kapak tumpul. Kipli yang sombong dengan barang bagus. Kalian tidak terlalu pintar. Mengapa tidak mengasah kapak yang kalian punya? Lihat bocah ini! Kapaknya seperti baru, padahal hanya diganti pegangannya dan diasah tiap hari," ujar saudagar.

Jojo dan Kipli tidak dibayar sepeser pun. Malah mereka harus membayar kapak yang tidak dijaganya dengan baik. Mereka kewalahan mendapatkan hutang baru. Saudagar mengajakku masuk ke mobilnya. Mengantarku ke rumah sederhana tapi lengkap. Ia membelikan rumah itu untukku. Aku jadi penebang pohon tetapnya. 

Beberapa waktu kemudian, aku mendengar usaha furnitur saudagar sukses. Aku bertugas menebang lima puluh pohon setiap hari. Ia menyewa beberapa pekerjanya. Memberinya kapak baru. Aku mengajarkan mereka untuk mengasah kapak tiap malam. Setiap hari, jumlah pohon yang kami tebang, semakin banyak. Setelah sebulan, kami bisa melampaui target. Sekarang, saudagar makin kaya raya. Aku menjadi pemimpin  tim penebang pohon. Ke hutan manapun, kami dikirim, sebesar apapun pohon yang harus ditumbangkan, kami selalu sukses besar. 

Tidak semua orang mendapatkan kehidupan yang mudah dengan banyak harta, bakat dan kemampuan. Tidak sedikit yang mendapatkan kehidupan dengan keadaan miskin dan bakat yang buruk. Jika kita mendapatkan hal baik dalam hidup, seperti bakat, kembangkanlah bakat itu agar semakin baik. Kemampuan harus terus diasah, seperti kapak tua yang semakin bagus. Kemampuan janganlah disombongkan. Jika tidak diasah terus, kemampuan akan hilang dan hidup akan semakin sulit. Jika memiliki kekurangan, janganlah marah dan menyalahkan Tuhan, yang mengatur nasib orang.  Tetaplah semangat berusaha. Mengatasi kekurangan. Memperbaiki keadaan. Mengasah bakat dan kemampuan yang dimiliki. Usaha tidak akan mengkhianati hasil. 


Bahan pembelajaran untuk AKtv, Rabu 31 Maret 2020

Materi pelajaran Bahasa Indonesia: Struktur dan Kebahasaan Teks Cerita Inspirasi


💖✅  ***Analisislah teks ini berdasarkan struktur dan kebahasaannya!***


2 komentar

  1. Kece banget ini ceritanya. Bermakna juga. Lanjutkan ya, semoga kelak bisa mengedukasi adik2 lain.

    BalasHapus