6/18/2025

Penting, 3 Kunci Sukses Pendidikan Berkualitas ( Tulisan Berseri - Bagian Ketiga )

 

BAGIAN KETIGA

Setelah penjelasan peran penting keluarga dan sekolah sebagai 3 kunci sukses pendidikan berkualitas, saatnya mengetahui peran masyarakat dalam mewujudkan hal tersebut. 

Masyarakat Sebagai Kunci Sukses Ketiga Pendidikan Berkualitas

Pada akhirnya, masyarakat menjadi tempat terakhir bermuaranya semua ilmu yang telah dipelajari oleh para siswa. Masyarakat bisa menjadi sumber ilmu sekaligus juga pengaplikasian hasil pendidikan di sekolah.


Dunia kerja
Dunia kerja

Masyarakat menjadi dunia yang sangat penting dalam pembelajaran tentang karakter, dunia kerja, serta kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai salah satu pilar pendidikan yang sangat penting, ada tiga kategori masyarakat. Ketiga kategori tersebut adalah pemerintah, masyarakat umum, dan dunia kerja.

1.      Peran Pemerintah dalam Pendidikan Berkualitas

Pemerintah sangat berperan penting dalam proses pendidikan berkualitas. Peran utama pemerintah pusat hingga daerah adalah membuat kebijakan yang menumbuhkan terciptanya pendidikan yang berkualitas serta menciptakan sistem yang stabil mulai dari pusat hingga ke daerah pelosok.

Salah satu contoh kebijakan ini adalah keputusan kurikulum yang berlaku di Indonesia, seperti kurikulum merdeka, guru penggerak. Kebijakan ini harus bersifat langgeng agar ada hasil yang dirasakan oleh bangsa dan negara ini. Ganti menteri, ganti kurikulum sudah tak relevan lagi untuk zaman serba cepat ini.

Salah satu permasalahan pendidikan adalah kurikulum yang gonta-ganti terus. Belum semua paham tentang kurikulum baru, sudah ada kurikulum yang terbaru. Belum beres kurikulum tersebut dilakukan sudah ganti lagi. Belum ada hasil yang optimal dari kurikulum pendidikan Indonesia sudah ganti lagi. Begitu seterusnya. Jadi, kapan kurikulum ini akan mengalami kemajuan? Kapan akan tercapai pendidikan yang berkualitas?

Pemerintah, khususnya menteri pendidikan harus mulai membenahi hal ini.

Menurut Bukik Setiawan, masalah pendidikan bukan terletak pada guru.  Namun, Indonesia belum memiliki sistem yang ajeg. Sekarang, banyak guru yang berkualitas, banyak guru yang senang dan merasa butuh untuk belajar agar bisa memberikan pendidikan terbaik untuk siswa-siswinya. Hal ini harus didukung dengan sistem yang baik dan kondusif. Jangan membuat sistem yang mewajibkan guru untuk selalu patuh pada aturan dan atasan! Tetapi, ciptakan sistem yang memerdekakan guru untuk berkarya, menuangkan gagasan. Berikanlah kepercayaan dan ruang untuk bertumbuh dengan baik!

Selain itu, pemerintah juga bisa menjadi sumber belajar. Bagaimana menjadi pemimpin bangsa yang berkualitas dan amanah. Memimpin butuh keteladanan, keahlian, ilmu dan pengalaman. Dari para pemimpin bangsalah generasi muda bisa belajar.

2.      Peran Masyarakat Umum dalam Pendidikan Berkualitas

Masyarakat umum bisa menjadi tempat mengasah keahlian lebih tajam, bisa jadi sumber belajar dan juga memecahkan masalah dengan ilmu yang dimilikinya.

Dalam buku Sejarah Pendidikan Nasional Dari Klasik Hingga Modern dipaparkan bahwa sejak zaman dulu, kita selalu bisa belajar di masyarakat. Sudah menjadi tradisi bahwa masyarakat mampu mengelola pendidikan yang dipengaruhi oleh agama, kepercayaan, adat istiadat, bahkan budaya. Pesantren dan padepokan menjadi contohnya. 

Pendidikan sejak zaman purba tersebut bersifat statis, imitatif dan praktis. Pada umumnya, mereka belajar keterampilan untuk bertahan hidup. Berburu, menangkap ikan, menenun, masak dan sebagainya. 

Zaman sekarang, betapa banyak para ahli dalam beragam bidang. Mereka-mereka ini bisa menjadi sumber belajar. Bisa mewariskan ilmunya kepada para generasi muda. Agar bangsa Indonesia semakin maju.

Beragam komunitas yang tersebar di masyarakat juga bisa menjadi sumber belajar sekaligus mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya. Misalnya di Cimahi ada komunitas Tjimahi Heritage. Kita bisa mempelajari sejarah kota Cimahi sebagai kota militer di komunitas ini. Kita bisa mengenal beragam bangunan bersejarah di setiap sudut kota. Kang Mach yang lulusan sejarah UNPAD, juga bisa mengaplikasikan dan berbagi ilmunya di komunitas ini. Beliau adalah salah satu ahli cagar budaya yang dimiliki kota Cimahi.

BACA JUGA: KOMUNITAS SUMBER BELAJAR

Selain komunitas, generasi muda juga bisa mempelajari adat istiadat, warisan leluhurnya, seperti di Bali. Kekayaan budaya ini bisa jadi sumber penghasilan sebagai pesona budaya dalam kepariwisataan. Budaya khas Indonesia bisa mendatangkan turis asing.

 

3.      Peran Dunia Kerja dalam Pendidikan Berkualitas

Dunia kerja adalah akhir dari sebuah perjalanan pendidikan formal. Dengan ilmu yang dimilikinya, generasi muda menjadi produktif. Mengerjakan sesuatu berdasarkan hasil belajar. Namun, kesenjangan antara kebutuhan dunia kerja dengan pendidikan sepertinya masih harus diperbaiki. Link and match.


dunia kerja
Salah satu kesempatan kerja di Mutif

Di dunia kerja juga, mereka akan belajar hal-hal baru. Seringkali, para karyawan wajib mengikuti pelatihan, untuk kenaikan jabatan atau keperluan lainnya. Inilah salah satu wujud pendidikan seumur hidup. Kita tak cukup hanya menempuh pendidikan formal.

Jika ketiga pilar ini bisa berkolaborasi apik, betapa kayanya manusia-manusia Indonesia. Kaya dengan beragam ilmu dan keahlian. Sebuah modal penting untuk kemajuan bangsa dan negara. Oleh karena itu, kita butuh sistem yang bisa menjadikan kolaborasi apik ini bisa berjalan harmonis.

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Keberhasilan pendidikan dan pendidikan berkualitas ada di tangan tiga pilar pendidikan ini. Take and give

Kolaborasi apik antara tiga pilar pendidikan ini semoga semakin baik dari hari ke hari. Tumbuh kesadaran untuk membangun generasi muda Indonesia yang cerdas dan sehat lahir batin.

Sudah lama kita merdeka, kapan bisa mencapai pendidikan yang berkualitas? Yuk, mulai tancap gas dari sekarang. Mulai dari hal yang kecil sampai akhirnya bisa meluas dan berdampak positif.

Semoga semua punya keinginan yang sama. Bisa melangkah bersama-sama.

Panjang umur perjuangan pendidikan


Tamat


Salam

Sampai jumpa di postingan berikutnya

 

 

 



6/14/2025

Penting, 3 Kunci Sukses Pendidikan Berkualitas (Tulisan Berseri - Bagian Kedua)

 

BAGIAN KEDUA

Sekolah Sebagai Kunci Sukses Kedua Pendidikan Berkualitas

Setelah keluarga memainkan perannya dalam keberhasilan pendidikan. Saatnya anak-anak mengenal dunia luar. Mengenal keberagaman di dunia nyata, khususnya dunia kecil sekolah.


Sekolah
Saatnya menimba ilmu di sekolah

Pada usia sekolah, enam hingga dua puluh satu tahun, saatnya siswa menempuh pendidikan formal di sekolah. Mulai dari jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah hingga perguruan tinggi. Di beragam jenjang itu, mereka belajar dari para guru, dosen, buku, perpustakaan, internet dan beragam sumber belajar lainnya.

Orang tua wajib mengetahui budaya sekolah untuk lebih mengoptimalkan keberhasilan pendidikan di tahap ini. Salah satu kunci keberhasilan ini adalah kesesuaian karakter siswa dengan budaya sekolah, khususnya pada tingkat dasar. Ada sekolah yang santai, banyak tugas, banyak ekskul dan sebagainya. Sekolah manakah yang cocok dengan karakter anak? Lakukan juga komunikasi yang baik, diskusi dengan anak untuk pemilihan sekolah di tingkat atas/ tinggi. Pemaksaan kehendak orang tua biasanya terjadi di tahap ini. Perbedaan minat anak dan ambisi orang tua. Inilah salah satu hambatan dalam mencapai keberhasilan pendidikan di jenjang sekolah ini.

Sekolah menjadi wadah bagi para siswa untuk menerima beragam ilmu baru, ilmu lanjutan tentang karakter, bahasa, dan juga pengaplikasian ilmu dasar yang mereka terima di keluarga masing-masing. Bisa jadi mereka akan mendapatkan keahlian baru dari jenjang ini. Siswa bisa belajar dalam kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.


Basket
Salah satu kegiatan ekskul, basket

Sekolah menjadi tempat untuk menggali ilmu beragam bidang studi yang ada dalam kurikulum,  membangun jejaring sosial, belajar berorganisasi, menimba pengalaman, melatih keterampilan atau keahlian khusus.

Di tingkat yang lebih tinggi, para siswa disiapkan untuk masuk ke dunia kerja. Mereka wajib menguasai beragam kebutuhan dunia kerja, skill atau keahlian khusus sekaligus karakter atau attitude yang baik.

Penting dilakukan, jadilah siswa dan mahasiswa yang aktif, kreatif dan penuh inisiatif! Kembangkan dan praktikkankunci sukses pendidikan ala pak Dani Akhyar  ini.

Selanjutnya, bagaimana peran masyarakat dalam pendidikan berkualitas ini? Simak di  postingan berikutnya. Bagian Ketiga: Penting, 3 Kunci Sukses Pendidikan Berkualitas


Bersambung

6/12/2025

Penting, 3 Kunci Sukses Pendidikan Berkualitas (Tulisan Berseri - Bagian Pertama)

 

Pendidikan keluarga yang sukses adalah gerbang utama untuk mencapai keberhasilan pendidikan, pendidikan yang berkualitas

 

Halo sobat yayuarundina.com – Pendidikan berkualitas dibentuk oleh tiga hal penting. Inilah 3 kunci sukses pendidikan berkualitas. Mengacu kepada teori Ki Hajar Dewantara, 3 pilar pendidikan.

Tiga kunci sukses pendidikan itu merupakan kolaborasi apik dari tiga pilar pendidikan. Ki Hajar Dewantara mengungkapkan tiga pilar pendidikan itu adalah keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga pilar ini menjadi rangkaian penting dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya.

Siswa dan para mahasiswa akan selalu belajar dari tiga sumber ini. Tiga pilar pendidikan ini menjadi kawah candradimuka bagi para siswa dan mahasiswa untuk mendapatkan beragam ilmu dunia dan akhirat. Berawal dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Bagaimana ketiga pilar pendidikan itu menjadi kunci sukses pendidikan berkualitas? Inilah pentingnya 3 kunci sukses pendidikan berkualitas.

Karena tulisannya panjang, saya akan unggah menjadi tulisan berseri. Mulai dari pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan di masyarakat.


Keluarga Satu Pilar Pendidikan


BAGIAN PERTAMA

Keluarga Sebagai Kunci Sukses Pertama Pendidikan Berkualitas

Keluarga merupakan awal lahirnya seorang insan manusia ke bumi. Keluarga menjadi tempat belajar pertama bagi semua insan. Ibu sebagai madrasah pertama memiliki peran penting dalam mendidik putra - putrinya. Lebih keren lagi pendidikan itu merupakan kolaborasi apik antara ayah dan ibu, sejak awal sampai akhir. Orang tua adalah guru pertama mereka.


3 pilar pendidikan
Ibu sebagai madrasah pertama


Keluarga berperan sangat penting dalam pembentukan karakter, memahami nilai-nilai, pengembangan bakat dan minat siswa, belajar berbahasa atau berkomunikasi, juga pembentukan semangat belajar yang baik, pendidikan yang berkualitas.

Di awal hidupnya banyak hal yang harus dipelajari manusia. Belajar berjalan, belajar berkomunikasi, belajar makan dan sebagainya. Semua ini terjadi dalam keluarga. Bimbingan ayah dan ibu menjadi kunci keberhasilan pendidikan dasar tersebut.

1.     Keluarga Sebagai Tempat Belajar Berkomunikasi

Ayah dan ibu secara terus-menerus memberikan pelajaran bahasa agar anak bisa berkomunikasi. Belajar bahasa daerah dan belajar bahasa Indonesia. Sekarang ini, kesadaran orang tua untuk menggunakan bahasa daerah sebagai alat berkomunikasi dalam keluarga menjadi langka. Berdasarkan hasil wawancara kecil-kecilan, banyak keluarga muda yang takut anaknya tidak paham bahasa Indonesia saat bersekolah nanti sehingga menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama untuk anak-anaknya. Bahasa daerah menjadi terpinggirkan, diambang kepunahan.

Ayah dan ibu seharusnya membentuk anak-anak itu untuk menjadi dwibahasawan. Orang Indonesia minimal bisa berbahasa daerah dan berbahasa Indonesia. Inilah keistimewaan orang Indonesia. Bisa menguasai banyak bahasa. Dua bahasa penting, bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Lebih maksimal lagi jika belajar bahasa asing juga, khususnya bahasa Inggris. Inilah pondasi dasar keberhasilan pendidikan.

2.     Keluarga Sebagai Tempat Pembentukan Karakter Positif

Selain berkomunikasi, hal lain yang dibentuk dalam pendidikan keluarga adalah karakter. Tentu saja, ayah dan ibu berharap anak-anak mereka memiliki karakter yang baik. Berakhlak mulia. Jujur, mandiri, sopan, agamis, bertanggung jawab, rajin, cerdas, rendah hati, tidak mudah putus asa, bisa bekerja sama, punya rasa empati juga simpati, dan sebagainya.

Ayah dan ibu menentukan pembiasaan-pembiasaan positif yang berlaku dalam keluarga. Melalui pembiasaan-pembiasaan inilah siswa belajar. Karakter pun dibentuk. Dengan pembiasaan ini, karakter positif akan melekat pada diri siswa selamanya.

3.     Keluarga Sebagai Tempat Pengembangan Potensi dan Minat Anak

Seiring bertambahnya usia, makin banyak yang hal yang terjadi. Makin banyak hal yang harus dipelajari. Ayah dan ibu harus peka dengan segala potensi dan minat yang dimiliki anak-anaknya. Apakah mereka pandai bermain musik, tari, melukis, menyanyi, berhitung dan sejuta bakat lainnya? Jika perlu, ayah dan ibu bisa berkonsultasi dengan para psikolog atau guru BP/BK di sekolah.

Dari beragam prestasi yang didapatkan sekolah saya, SMP Negeri 1 Cimahi, keluarga menjadi bukti penting munculnya prestasi-prestasi tersebut. Anak-anak berprestasi itu ada yang mendapatkan bimbingan olimpiade Matematika, olimpiade IPS, menari, menyanyi, main gitar dari orang tua mereka atau dimasukkan ke sanggar sejak kecil.

Pengembangan potensi dan minat anak seharusnya menjadi bagian dari pendidikan keluarga. Bisa jadi potensi, minat, dan bakat anak ini menjadi kunci sukses hidupnya di kelak kemudian hari.

4.     Keluarga Sebagai Pondasi Peletakan Nilai-Nilai Hidup

Hidup memiliki nilai-nilai yang seharusnya menjadi panduan manusia. Ada norma agama, norma susila, norma hukum, dan norma kesopanan. Norma merupakan kaidah yang berlaku untuk mengatur setiap perbuatan manusia. Norma -norma tersebut bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis.

Keluarga hendaknya menjadi lembaga pertama yang harus mengenalkan beragam nilai atau norma-norma hidup ini. Anak dilatih untuk mengikuti atau melaksanakan aturan.

Pertama-tama, ayah dan ibu wajib mengenalkan norma agama kepada putra putrinya. Anak harus tahu yang benar dan yang salah sesuai aturan agama.  Hal-hal yang harus dilakukan dan hal-hal yang harus dijauhi.

Ayah dan ibu mewajibkan anak-anak untuk shalat lima waktu, belajar mengaji, pergi ke gereja atau aturan agama lainnya. Penanaman nilai-nilai agama ini diharapkan menjadi benteng pertahanan yang kokoh agar para siswa bisa hidup selamat sampai surga nanti. Anak-anak bisa hidup di jalur yang benar. Anak-anak bisa melawan hal-hal yang negatif.

Perlu ditekankan hal-hal yang prinsip. Anak-anak harus mengetahui hal yang salah dan hal-hal yang benar, sesuai aturan agama masing-masing. Pengetahuan ini menjadi pedoman jalan hidup mereka sampai akhir hayat nanti.

Selanjutnya, bagaimana peran sekolah dalam 3 kunci sukses pendidikan berkualitas ini? Simak di postingan berikutnya. Bagian Kedua: Penting, 3 Kunci Sukses Pendidikan Berkualitas.


Bersambung

5/31/2025

Pentingnya Pendidikan Seks Anak Usia Dini

 

Di tengah meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak dan maraknya informasi tidak layak usia yang tersebar di internet, pendidikan seks untuk anak usia dini menjadi kebutuhan mendesak.


pendidikan seks
Ajarkan Pendidikan Seks pada Anak


Sayangnya, masih banyak orang tua yang merasa topik ini tabu dan enggan membahasnya. Padahal, pendidikan seks bukan tentang mengajarkan hubungan seksual, melainkan membekali anak dengan pemahaman tentang tubuh, batasan, dan keamanan diri. Berikut adalah lima poin penting yang menunjukkan urgensinya.

  1. Melindungi Anak dari Kekerasan Seksual

Salah satu alasan terpenting mengenalkan pendidikan seks sejak dini adalah untuk melindungi anak dari kekerasan dan pelecehan seksual. Mengajarkan mereka tentang bagian tubuh pribadi dan konsep sentuhan aman dan tidak aman akan membantu anak memahami bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri/

 

Mereka akan lebih berani berkata “tidak” dan melaporkan jika merasa tidak nyaman atau dilecehkan. Di era digital saat ini, kasus grooming online terhadap anak juga makin meningkat, sehingga pemahaman ini menjadi benteng awal yang vital.

2.    Membangun Rasa Percaya Diri dan Harga Diri Anak

Pendidikan seks usia dini membantu anak merasa nyaman dengan tubuh mereka sendiri dan memahami bahwa semua perubahan fisik adalah normal.

 

Anak-anak yang memiliki pemahaman tentang tubuhnya cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi dan tidak mudah ditekan oleh pengaruh luar yang negatif.

 

Hal ini juga menumbuhkan penghargaan terhadap tubuh sendiri dan orang lain, serta membantu mereka menolak standar kecantikan atau maskulinitas yang tidak realistis di media sosial.


3. Mengajarkan Batasan dan Konsep Persetujuan (Consent)

Banyak anak tidak memahami bahwa mereka berhak menolak sentuhan, bahkan dari orang dewasa atau kerabat terdekat. Pendidikan seks sejak dini menanamkan konsep persetujuan yang penting untuk dibawa hingga dewasa.

 

Anak belajar bahwa mereka berhak mengatakan “tidak” terhadap hal yang membuat mereka tidak nyaman, dan bahwa orang lain pun memiliki hak yang sama. Pemahaman ini membentuk landasan hubungan yang sehat dan saling menghormati di masa depan.


4. Membangun Komunikasi Terbuka antara Anak dan Orang Tua

Pendidikan seks tidak bisa hanya diserahkan pada sekolah. Keterlibatan orang tua sangat penting agar anak merasa aman dan nyaman saat ingin bercerita tentang hal-hal pribadi.

 

Komunikasi yang terbuka terbuka sejak dini akan mempermudah diskusi di masa pubertas dan dewasa nanti, termasuk dalam pengambilan keputusan penting terkait hubungan, pernikahan, hingga perencanaan keluarga.

 

Bahkan, diskusi ini bisa berkembang ke topik penting lainnya seperti wealth management, perencanaan masa depan, dan tanggung jawab sosial anak. 


5.  Membantu Anak Membuat Keputusan yang Bertanggung Jawab di Masa Depan

Anak-anak yang sudah dibekali pemahaman dasar tentang tubuh, emosi, dan hubungan akan lebih siap mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab di masa remaja dan dewasa.

 

Mereka memahami konsekuensi dari pilihan yang mereka ambil, termasuk dalam relasi romantis. Pendidikan seks yang benar bukan hanya membentuk kesadaran, tetapi juga keterampilan berpikir kritis dalam situasi sosial.

 

 Pendidikan seks anak usia dini bukan tentang mendorong anak untuk aktif secara seksual, tetapi tentang melindungi dan membekali mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang sehat, percaya diri, dan bertanggung jawab.

 

Yuk, mulai berani membuka percakapan tentang pendidikan seks bersama anak! Jadikan rumah sebagai tempat pertama dan paling aman untuk mereka belajar dan berkembang, karena pengetahuan yang diberikan hari ini adalah bekal berharga untuk masa depan mereka.

 


Tulisan ini adalah guest posting kelima dari mbak Arumka Video ID

4/24/2025

Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 9: Gamifikasi Mahkota Bahasa Indonesia Jilid II

 

Nama : Sri Rahayu, S.Pd                                 

Sekolah : SMP Negeri 1 Cimahi

Jenjang/ Kelas : SMP/ 9

Mapel : Bahasa Indonesia

Fase : D

Alokasi Waktu :@ 3 x 40 Menit                                       

Profil Pelajar Pancasila                                                       

1.      Mandiri                                                                      

2.      Kreatif

3.      Kritis

4.      Tanggung Jawab

5.      Jujur

Target Peserta : Siswa Reguler

Jumlah Siswa : 40

Model Pembelajaran : Games Based Learning, Fun Learning

Elemen: Menyimak, Berbicara, Membaca dan Menulis


Belajar bahasa Indonesia
Monopoli Games Mahkota Bahasa Indonesia

Tujuan Pembelajaran

1.       Peserta Didik mampu memahami materi teks eksplanasi, laporan, dan argumentasi

2.       Peserta Didik mampu mengungkapkan gagasannya

3.       Peserta didik mampu mengkritisi isi bacaan

4.       Peserta didik mampu menjawab pertanyaan terkait isi bacaan

5.       Peserta didik mampu bekerja sama

6.       Peserta didik mampu berkreasi

7.       Peserta didik senang belajar (fun learning )

Indikator

1.       Siswa dapat menjawab pertanyaan

2.       Siswa dapat mempresentasikan teks laporan, argumentasi, dan eksplanasi

3.       Siswa mampu menjelaskan beragam aspek kebahasaan

Pertanyaan Pemantik

1.       Masih ingat dengan Games Mahkota Bahasa Indonesia?

2.       Siap bersenang-senang?

3.       Siap berkolaborasi atau bekerja sama?

Asesmen

1.       Asesmen awal : penilaian otentik

2.       Formatif : Penugasan di setiap pos

 

Sarana/ Prasarana

1.       Lembar wacana yang disiapkan oleh siswa

2.       Lembar jawaban (disiapkan oleh siswa)

3.       Media permainan (disiapkan oleh siswa)

Materi dan Bahan Ajar

Ø  Majas = bahasa berkias untuk memperindah karangan

Ø  Teks Argumentasi = teks yang berisi opini/ pendapat disertai fakta, data, bukti yang jelas

Ø  Teks Eksplanasi adalah teks yang menjelaskan tentang proses terjadinya sesuatu

Ø  Teks Laporan = teks yang berisi laporan setelah menyelesaikan suatu tugas atau kegiatan

Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama

1.       Persiapan Games Mahkota Bahasa Indonesia.

2.       Siswa merancang Games Mahkota Bahasa Indonesia secara berkelompok untuk pos minat bakat, games, kebahasaan, argumentasi, eksplanasi dan laporan.

Pertemuan Kedua

1.       Evaluasi rancangan Games Mahkota Bahasa Indonesia

2.       Uji coba rancangan games pada kelompok tertentu

Pertemuan Ketiga

I.                    Pendahuluan

1.       Salam

2.       Mengecek kehadiran

3.       Menyampaikan tujuan pembelajaran

4.       Menyampaikan tata cara bermain Games Mahkota Bahasa Indonesia

 

II.                  Kegiatan Inti

1.       Siswa menyiapkan media Games Mahkota Bahasa Indonesia

2.       Siswa berpasangan secara berkelompok

3.       Siswa berperan sebagai penjaga pos dan pemain secara bergantian

4.       Siswa melakukan Games Mahkota Bahasa Indonesia

5.       Penjaga pos memberikan penilaian

III.                Kegiatan Penutup

1.       Siswa dipandu guru merefleksikan Games Mahkota Bahasa Indonesia

2.       Siswa menyampaikan suka duka bermain games

3.       Pengumpulan konsep games dan jawaban

Asesmen Formatif

1.       Penugasan materi/ tantangan di setiap pos yang dirancang oleh siswa secara berkelompok. Meliputi pos minat bakat, games, kebahasaan, eksplanasi, argumentasi, dan laporan

 

Asesmen Sumatif

1.       Pertanyaan aspek kebahasaan yang dibuat oleh siswa secara berkelompok

Kriteria Ketercapaian Ketuntasan Belajar

80 = mengikuti permainan Games Mahkota Bahasa Indonesia

85 – 99 = melakukan tantangan dengan baik

100 = menjawab/ melakukan tantangan dengan sangat baik

Kriteria Ketuntasan Aspek Kebahasaan

100 = tuntas, semua jawaban benar

90  = tuntas, jawaban salah satu

80 =  tuntas, jawaban salah dua

70 = tidak tuntas, jawaban salah tiga

60 = tidak tuntas, jawaban salah empat

50 = tidak tuntas, jawaban salah lima

40 = tidak tuntas, jawaban salah enam

Remedial

Membuat kelas kecil bagi mereka yang tidak tuntas agar bisa belajar lagi. Penjelasan materi dan latihan soal kebahasaan

Pengayaan

Siswa menganalisis aspek kebahasaan dalam sebuah wacana teks eksplanasi, argumentasi, dan laporan

Refleksi Guru

1.       Bagaimana perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran?

2.       Bagaimana respon siswa ketika pembelajaran?

3.       Apa kesulitan siswa saat pembelajaran?

4.       Apakah tujuan pembelajaran tercapai?

 

 

 

Mengetahui,

Kepala Sekolah,                                                                                                     Guru Mata Pelajaran,

 

 

4/03/2025

Deep Learning Dalam Bahasa Indonesia: Teks Eksplanasi

 

Halo sobat yayuarundina.com – Mari kita pelajari proses pembelajaran Deep Learning dalam Bahasa Indonesia tentang teks Eksplanasi. Bagaimana cara penerapannya? Apa saja yang dilakukan? Yuk, kita simak dalam postingan kali ini. 


Belajar bahasa indoñesia
Belajar Teks Eksplanasi 


Proses pembelajaran bukanlah hal yang mudah. Butuh perencanaan, proses dan evaluasi. Dengan ketiga hal tersebut, kita bisa membuat sebuah pembelajaran yang berkualitas. Bukan hanya sekedar hadir di kelas, tapi siswa mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Inilah inti deep learning.

Deep Learning merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang mendalam. Bukan sekedar hapalan. Bukan sekedar formalitas belajar atau asal hadir di kelas. Namun, siswa mampu mengeksplorasi dirinya untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Ada tiga elemen utama yang menjadi ciri deep learning. Ketiga elemen tersebut adalah mindfull learning, meaningfull learning dan joyfull learning.

Mindfull learning berarti pembelajaran dilakukan secara sadar oleh siswa. Proses pembelajarannya didasarkan atas kebutuhan siswa. Pada kondisi ideal, siswa merasa butuh belajar. Mereka belajar tidak merasa terpaksa atau berdasarkan perintah. Ini yang masih menjadi peer besar pendidikan kita.

Meaningfull learning berarti bahwa proses pembelajaran itu sangat bermakna. Materi pembelajaran dihubungkan dengan kondisi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekedar teori belaka. Dengan pembekalan materi pelajaran, siswa mampu mendapatkan solusi dalam masalah hidupnya sehari-hari.

Joyfull learning adalah proses pembelajaran dilakukan dengan perasaan bahagia. Siswa merasa senang dan menikmati setiap proses pembelajarannya.

Pembelajaran Deep Learning Dalam Bahasa Indonesia Tentang Teks Eksplanasi

Pembelajaran deep learning dalam pelajaran Bahasa Indonesia bisa diterapkan untuk mempelajari teks eksplanasi. Elemen yang dimunculkan adalah membaca dan berbicara. Kali ini, kita menggunakan wacana berupa sebuah cerita inspirasi. Wacana tersebut berjudul Tukang Ojek Payung yang terdapat di dalam buku teks.

Pemanfaatan wacana dalam buku teks diharapkan lebih mempermudah siswa dalam belajar. Keterbatasan dalam beragam hal, seperti sarana dan prasarana belajar bisa diantisipasi dengan penyediaan buku paket.

Wacana ini juga relatif lebih mudah ditemukan oleh siswa. Tidak membutuhkan kuota. Isi wacana juga sangat ideal untuk pembentukan karakter. Siswa diharapkan terinspirasi oleh tokoh untuk memperbaiki nasib hidupnya. Mampu mandiri dan punya semangat juang.

Proses Pembelajaran Deep Learning untuk Teks Eksplanasi

Proses pembelajaran deep learning untuk teks eksplanasi ini berpusat pada elemen meaningfull learning. Siswa menghubungkan isi wacana dengan kehidupan sehari-hari. Mindfull learning didasarkan pada aspek life skill berbicara. Siswa dilatih untuk berani berbicara di hadapan publik. Joyfull learning, guru bisa memberikan ice breaking di sela-sela presentasi yang panjang.

Tahapan proses pembelajaran deep learning ini ada dua, yaitu membaca dan presentasi.  Membaca teks eksplanasi berjudul Tukang Ojek Payung merupakan hal pertama yang dilakukan oleh siswa. Di sini, siswa melakukan kegiatan membaca pemahaman dan membaca kritis. Jika perlu, siswa bisa membuat catatan-catatan kecil untuk bahan presentasi nanti.

Proses pembelajaran deep learning ini diarahkan pada aspek pembelajaran unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Selain itu, untuk bahan presentasi, siswa juga bisa menjawab sepuluh soal yang ada pada buku paket.

Unsur intrinsik. Ada 7 unsur intrinsik. Pertama, siswa mencermati wacana untuk mendapatkan tema atau masalah yang dibahas dalam cerita tersebut. Kedua, siswa menguraikan aspek  penokohan, seperti nama, karakter dan jenis tokohnya. Apakah termasuk tokoh utama atau sampingan. Tokoh baik atau jahat. Ketiga, pembahasan latar. Siswa menguraikan latar tempat, waktu, dan suasana disertai dengan bukti-bukti yang ada di wacana.

Keempat, siswa menjelaskan tentang alur. Termasuk alur maju, mundur, atau campuran. Apa alasannya? Kelima, siswa menguraikan sudut pandang yang digunakan dalam cerita inspiratif tersebut. Keenam, siswa membahas majas atau gaya bahasa. Di sini, siswa kembali mempelajari jenis-jenis majas. Lalu, mencari kalimat dalam wacana yang berupa majas.

Ketujuh, siswa mencari amanat atau hikmah dari isi wacana tersebut. Semoga hikmah ini menjadi harta karun yang berharga untuk kehidupan pribadi mereka. Membangun hati dan jiwanya agar bisa hidup lebih baik lagi.

Unsur Ekstrinsik. Siswa menguraikan aspek politik, ekonomi, sosial budaya, keamanan yang terjadi di Indonesia secara nyata. Juga menghubungkan isi cerita dengan pelajaran IPS tentang perubahan sosial.

Kegiatan menelaah wacana ini dilakukan berpasangan bersama teman sebangkunya. Mereka berkolaborasi dan berdiskusi untuk mendapatkan bahan presentasi nanti.

Deep Learning: Presentasi Teks Eksplanasi

Setelah menelaah wacana dengan panduan khusus tersebut, siswa wajib menyampaikan kembali hasil membaca pemahaman dan membaca kritisnya.

Sebelum mulai presentasi dibuat kesepakatan dulu. Apakah nilai presentasi berlaku untuk teman diskusinya juga atau bersifat individu? Mereka memilih nilai individu.

Oleh karena itu, mereka tampil solo di panggung menyampaikan satu hal saja. Bisa menyampaikan satu jawaban soal, satu unsur intrinsik, atau satu unsur ekstrinsik. Dengan cara seperti ini, siswa memiliki kekayaan sudut pandang.

Tantangan Pembelajaran Deep Learning Tentang  Teks Eksplanasi

Tak ada tantangan gak rame. Demikian juga dalam proses pembelajaran deep learning tentang teks eksplanasi ini. Ada 6 hal yang muncul sebagai tantangan pembelajaran.

1.      Boros waktu

Karena presentasinya bersifat perorangan, maka jumlah siswa yang banyak ( 40 orang ) membuat waktu belajar jadi memakan waktu banyak.

2.      Jenuh

Walaupun materi bahasan berbeda, kejenuhan tetap muncul dalam proses belajar. Untuk menyegarkannya, saya selingi dengan kuis yang jadi bonus nilai.

3.      Kesulitan menangkap informasi

Ada beberapa siswa yang kesulitan menangkap informasi dari bacaan. Mereka harus diberikan pertanyaan-pertanyaan pemantik untuk mendapatkan jawabannya. Dengan pancingan pertanyaan tersebut, mereka bisa presentasi.

4.      Kurang menggali perubahan sosial

Pada aspek presentasi unsur ekstrinsik, siswa yang menyampaikan aspek sosial budaya ini kurang menggali perubahan sosial. Dugaan saya, hal ini terjadi karena mereka mempelajari materi tersebut di semester pertama. Siswa sudah lupa dan kurang waktu untuk mengeksplorasinya kembali.

5.      Siswa kurang berpartisipasi aktif.

Pada saat presentasi, siswa yang hadir wajib  berpartisipasi. Mereka bisa bertanya, mengkritik, memberikan tambahan informasi, berpendapat dan aktivitas lainnya.

Namun, setelah berjalan beberapa waktu, hal ini berkurang drastis. Semakin lama, partisipasi ini semakin tidak ada.

Partisipasi ini juga kurang merata. Ada siswa yang sangat aktif. Ada juga yang sangat pasif. Di akhir presentasi, siswa yang belum berpartisipasi, saya paksa untuk aktif menanggapi atau bertanya agar mendapatkan nilai bonus sebagai bahan tambahan nilai rapot.

6.      Presentasi siswa kurang maksimal

Saat presentasi, siswa kurang menguasai bahan atau materi presentasi. Mereka sangat terpaku pada catatan yang dibuatnya. Kurang berani untuk berbicara secara lepas tanpa buku.

Solusinya perlu manajeman waktu yang lebih baik, cukup waktu untuk latihan dan persiapan.

Refleksi Pembelajaran Deep Learning Teks Eksplanasi

Dalam proses pembelajaran deep learning tentang teks eksplanasi ini, keberhasilan utama adalah siswa sudah mampu menghubungkan isi cerita dengan kenyataan hidup sehari-hari. Ini satu hal yang patut diacungi jempol. Mereka bisa menjelaskannya secara panjang lebar.

Kekurangan yang terjadi dalam proses pembelajaran ini adalah rasa bosan saat proses presentasi, terutama dengan jumlah siswa yang banyak tadi. Butuh variasi untuk menyampaikan presentasi cerita.

Tak ada gading yang tak retak. Pembelajaran itu sebuah proses panjang yang selalu bernuansa trial and error.

Semoga tulisan ini menjadi pemantik untuk proses pembelajaran Bahasa Indonesia menggunakan pendekatan deep learning. Bapak dan Ibu guru hebat bisa lebih mengeksplorasi pembelajaran sehingga bisa mencapai hasil yang lebih maksimal.

Sampai jumpa

 

Featured Post

XLSMART Membumikan Literasi Digital di Pesantren Qamarul Huda Lombok

  Halo sobat yayuarundina.com – Pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru dan sekolah saja. Sebuah karya nyata diwujudkan dalam kolaborasi...