Senin, 21 Mei 2018

BUKBER DI THE FOOD OPERA BANDUNG


Ramadhan selalu punya cerita-cerita yang menarik. Kisah inspiratif, pengalaman masa kecil, suka duka puasa, kegiatan-kegiatan selama puasa. Juga yang paling populer adalah cerita ngabuburit dan buka puasa bersama atau bukber. Inilah budaya Ramadhan yang ada di Indonesia, betul? Nah, kali ini aku ingin bercerita tentang bukberku di The Food Opera Bandung.


                “Teh Yayu, mau uji nyali denganku sore nanti?” tanya seorang sahabatku, teh Ida Tahmidah.
Spontan kujawab, “Yes. Asyek. Hayuuukkk.”
Coba saja kalau pertanyaan seperti itu disampaikannya pada beberapa tahun ke belakang, sekitar tahun 90-an atau sebelumnya, pasti kutolak mentah-mentah. Lebih baik jalan kaki atau naik angkot deh. Betul kan teh Nurhayati Siagian dan Ceu Hena Sumarni?
Begitulah metamorfosis diriku. Dulu, aku memang sangat takut naik motor apalagi ojek. Kemana-mana lebih senang jalan kaki atau angkot.  Kalau aku naik motor, stresnya luar biasa hahaha…. Ya, dulu, jalan kaki sangat aman dan nyaman. Sekarang, tidak lagi. Motor menjadi andalanku untuk sampai di suatu tempat dengan tepat waktu. Boleh dikatakan, sekarang aku lebih senang bermotor ria daripada jalan kaki atau naik angkot. Apalagi kalau dituntut on time sampai di tempat tujuan.
Nah, sore kemarinpun, aku dengan dibonceng teh Ida bisa menikmati perjalanan menuju sebuah café baru di jalan Gandapura 27 Bandung. Namanya The Food Opera. Sebelumnya, aku sempat was-was juga karena sempat turun hujan dan langit Bandung sangat gelap. Mendung mengiringi perjalanan kami di sore itu. Ketakutanku pada hujan, karena aku tidak mau basah kuyup sampai di lokasi atau kebanjiran di jalan. Namun, syukurlah hal itu tidak terjadi. Alhamdulillah. Kami bisa sampai di lokasi dengan cepat. Perjalanan yang diperkirakan sekitar 1,5 – 2 jam dapat dipangkas banyak. Kami menempuh perjalanan santai sekitar 30 menit saja. Tuuuh, betulkan motor bisa diandalkan untuk perjalanan aman, nyaman dan cepat hehehe….
Kami memasuki café dengan sambutan keramahan. Langsung dicarikan kursi. Dari sekitar sepuluh orang yang akan buka puasa bareng sore itu, ternyata kami berdualah juaranya. Yup, kamilah yang sampai terlebih dahulu. Takut terlambat karena jauh dan macet, ternyata justru datang sangat  cepat. Yang sudah ada di sana adalah rombongan lain. Cukup ramai juga. Tampak juga sebuah keluarga dengan anak kecil yang lucu. Putih bersih. Tak lama kemudian, datang juga teh Lygia Pecanduhujan bersama suaminya. Karena jumlah kami cukup banyak, akhirnya kami diberikan ruangan khusus.

aneka ruang yang instagrammable
Karena waktu berbuka puasa masih lama, kami mencoba menikmati suasana di sana. Ada lantai dua. Katanya bisa digunakan untuk meeting. Oleh karena itu, kami fokus di lantai bawah saja.  Asyik juga tempatnya. Instagrammable pisan. So, kamipun segera beraksi jepret. Cekrek asyik. Seperti biasa menyalurkan hobi swafoto dan foto bersama. Setelah itu, kembali ke ruangan dan memesan aneka menu yang ada.

buku menu the food opera
Maroko Lamb
Menu andalan di sini adalah aneka nasi dan kambing bakar. Ada nasi kebuli, nasi biryani, nasi mandhi, dan Maroko Lamb. Sesuai dengan tagline cuisine arab atau timur tengah. Namun, jangan khawatir menu-menu di sini sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Bagi yang tidak suka kambing, ada daging sapi dan ayam. Menu lainnya adalah Sourbah Laham, Jala kari kambing, salad turky, salad maghribi, salad khodro, shawarma, khobus ayam cincang. Dan minuman yang bikin saya penasaran adalah vanilla coffee mint dan kimoino, teh arab.

aneka minuman

kimoino
Kalau makan bareng-bareng gituh saya mah suka penasaran ingin mencicipi semua rasa. Kalian begitu juga gak sih? Nah, makanya kami memilih menu yang berbeda-beda untuk semua hidangan. Makanan berat, cemilan, salad dan minuman.  Sekali makan, kita bisa icip semua rasa. Gakkan penasaran jadinya hehehe…. Setuju?
Pesan menu sudah selesai, kami diberi sebungkus kurma untuk tajil. Eeeitss, belum waktu berbuka yaaa. Sambil menanti adzan maghrib, kami ngobrol banyak hal, diskusi, foto rame-rame. Tak ketinggalan juga belajar foodfotografi. Seru dan asyik pokoknya. Sampai-sampai kami diingatkan oleh salah seorang staf Food Opera bahwa adzan magrib sudah berkumandang. Buka. Buka. Buka. Ye ye ye. Namun, motret makanan semakin asyik hehehe… Sampai-sampai teh Amy nyuapin sebutir kurma sebagai tanda berbuka. “Nih, batalin dulu atuh, teh!” So sweet yah.
Setelah kurma habis, kamipun shalat magrib terlebih dahulu. Tak perlu jauh-jauh, tinggal ke arah belakang saja. Ada mushola di sana. Ruangan dan suasana di sini benar-benar asyik. Nyaman dan adem. Betah seperti di vila sendiri hehehe….
Setelah sepi sejenak, keriuhan kembali menggema. Aneka menu yang telah dipesan, makin lama makin komplit. Makanan berat, cemilan dan minuman. Semuanya terhidang di meja. Penuh bangets kelihatannya. Kalau kata Dilan, yang berat itu adalah rindu. Di sini, cemilanpun berat juga. Ada ummy alli dan khobus chocomaltine. Bentuknya berupa roti khas timur tengah.
Yang pertama kucocol adalah roti jala dengan kari kambing. Roti berbentuk benang kusut itu terasa pas disantap dengan kare kambing. Agak pedas tapi enak dan gurih. Roti yang tawar menjadi sedap dalam balutan kare. Setelah itu, aku mencoba cemilannya teh Gya. Khobus chocomaltin. Rasanya manis. Dua lapis roti tipis yang agak renyah diisi pisang dan lelehan coklat. Enaknya pas di lidah. Selanjutnya, beralih pada sourbah laham. Sup kambing. Segar. Kuah beningnya agak keasinan. Dagingnya empuk dan mudah diciduk. Habis yang berat, lanjut pada sayuran. Aneka salad yang adapun tak luput disantap. Ada yang dominan mentimun, kol ungu dan bawang Bombay.


Setelah beristirahat sejenak sambil menunggu kedatangan anggota terakhir, kami pun berponsel ria. Setelah agak lama, yang ditunggupun tiba dengan basah kuyup. Duh, kasihan sekali nih jamur Twina kehujanan di jalan. Biar gak kedinginan, kamipun menutup perjumpaan ini dengan makan aneka nasi. Aku lebih memilih nasi mandhi. Kedengaran sedikit asing dan aneh yah.

aneka menu nasi
Akhirnya, tiba jua pada detik perpisahan. Setelah kenyang, kamipun bubar dengan kenangan indah dan rasa yang tak mudah dilupakan. Menu arab di The Food Opera sangat cocok di lidah kita. Dagingnya empuk. Tak ada bau kambing sedikitpun. Bumbunya pas dan meresap. Harganyapun tak mahal. Suasana café mendukung kita untuk mencicipi makanan ala Timur Tengah dengan santai. Pokoknya The Food Opera Bandung adalah tempat makan yang rekomen banget. Enak di hati, lidah dan kantong.
Selamat makan

my genk bukber ( foto from Ida Tahmidah )

The Food Opera Bandung
Jalan Gandapura no 27 Bandung




4 komentar:

  1. Teteeeeh,
    Kenapa sih takut naik motor?
    Sinih boncengan ama aku kita jalan keliling Bandung hehehe.

    Wah, makananya meuni pi-kabita-eun semua siiih! *buka masih lama euy*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bayanganku mah motor teh ngagubrak weh 😅
      Asyeek hayuuuk kita jjs 😅😍

      Hapus
  2. Wah ada aku ka pelem..hihi... Asyik ya makanannya enak2, jadi pengen ke sana lagi.. :)

    BalasHapus