IN MEMORIAM ANDRIE POTLOT

 



andrie-potlot
Our Guide, Andrie Potlot

Gadis Google Maps

Siang ini kupilih-pilih baju dari tumpukan yang sudah bergunung-gunung. Manakah yang pantas kukenakan untuk acara di dunia maya ini?

Tiba-tiba, Si Hijau menyelip diantara warna lain. Aku terpana sesaat. Beragam rasa mengaliri setiap denyut nadi.

Ingatanku langsung melayang. Memutar sebuah perjalanan indah bersamanya.

Blusukan menyusuri lorong-lorong gelap seperti pasar Kembang di Bandung.

Tengok kanan. Tengok kiri. Masuk satu kios. Keluar satu kios. Begitu terus. Sementara waktu selalu menegur kami.

Begitu riuh suara para pedagang. Begitu bingung, kami menentukan belanjaan. Oleh-oleh pulang ke Bandung.

Akhirnya, setelah Teh Andrie Potlot menawar harga yang pas. Baju yang oke. Kamipun sepakat untuk membawa pulang baju masing-masing.

Beragam warna. Beragam corak. Sesuai selera masing-masing. Aku memilih blus cantik berwarna hijau.

Kudengar tawa cerianya. Bibirnya melebar. Deretan gigi putihnya seolah mewarnai lorong gelap. Kamipun bergegas untuk menyelesaikan acara favorit ini. Meluncur menuju bis yang akan membawa kami ke negara tetangga.

Kini, Si Hijau ini tampil di layar Zoom membawa keceriaan. Blus ini melengkapi petualangan alam pikiran untuk mengenang sosokmu. Mengenang perjalanan manis kita. Sayang, rencana-rencana perjalanan kita terhenti sampai di sini. Allah lebih menyayangimu.

 

andrie-potlot-gadis-google-maps
Gadis Google Maps

Baca Juga: https://www.yayuarundina.com/2019/06/7-obyek-wisata-favorit-di-malaysia.html

My Backup Traveling ke Singapura dan Malaysia

Masih kuingat bujukanmu untuk ikut backpackeran ke Malaysia dan Singapura. Beragam cerita kau sampaikan. Namun, aku menolak karena tugas tak mungkin kutinggalkan.

Tapi, rejeki memang selalu datang tiba-tiba dan tak terduga. Tiba-tiba saja atasanku memberi izin pergi.

Akhirnya, aku berkemas dan pergi bersama kalian.

andrie-potlot-teh-ida
Menikmati malam di Singapura

Inilah perjalanan pertamaku ke luar negeri. Begitu takut dan gugup. Diantara cerita-cerita indah yang kudengar, selalu terselip ketakutanku tentang beragam hal.

“Bagaimana kalau tersesat?”

“Bagaimana kalau terpisah dari kalian?”

“Bagaimana di Bandara?”

“Bagaimana A hingga Z?” memenuhi kepalaku.

Kamu hanya tertawa-tawa kecil saja mendengar segala kecemasanku. Lalu, bercerita banyak hal untuk memperkuat kepercayaan diriku. Kalian saling menimpali diselingi tawa. Mengingat beragam pengalaman lucu di perjalanan sebelumnya.

Masih kuingat dalam pikiranku tentang penjelasan saat di bandara.

“Tenang saja, tinggal maju. Berikan dokumennya!” ujarmu meyakinkan.

Tapi, keberanianku tak ada. “Gak mau. Berdua aza yuk,” ujarku memelas. Dengan sigap, Teteh maju mendampingiku ke petugas bandara hingga semua beres.

“Gampang, kan?” tanyanya selalu diiringi tawa yang renyah.

Aku tersenyum simpul. Akhirnya, aku mendapatkan gambaran utuh proses di bandara yang kuanggap selalu menakutkan.

 

bandara-malaysia
Kami baru tiba di bandara malaysia

Kemping Yuk Di Situ Cileunca Pangalengan Bandung

Satu lagi kegemaranmu. Bermain di alam bebas.

“Yuk, kemping ke Pangalengan,” ajakmu saat itu begitu pandemik tengah melanda.

Baca Juga: https://www.yayuarundina.com/2020/07/wisata-alam-situ-cileunca-pangalengan.html

Setelah sekian lama di rumah. Kondisi sudah mulai terbuka untuk keluar, kamipun bepergian bareng lagi. Ransel jadi andalan.

Kita menikmati perjalanan dari Bandung ke Pangalengan.  Tawa gembira nan renyahmu mewarnai perjalanan asyik ini. Kita mendapat teman baru, sobatmu, Teh Sheila. Cerita-cerita perjalanan kalian mewarnai suasana. Seru deh.

“Kau masih ingat pose-pose kami di antara hijaunya hamparan kebun teh saat kau menyalakan kameramu?”

andrie-potlot-fotografer
Andrie Potlot, Fotografer Andalan Kita

Aku menemukan dunia baruku. Mendengarkan arahan gayamu. Klik. Dapat foto-foto bagus.

Lalu kita pesan kopi hitam bersama. Juga mie ayam untuk membuka hari.

Spot-spot cantik di Café Malabarpun tak dilewatkan begitu saja.

“Kau ingat keinginanmu ke Pangalengan selain kemping?”

Yes, arung jeram.

Dengan penuh semangat, kau masukkan acara itu di antara waktu kemping.

Setelah ada kesepakatan harga, kamipun meluncur ke tempat kemping. Berkendara menuju danau. Berperahu menuju pulau di tengah danau. Spot kece.

Oh ya, subuh sebelum berangkat, kau bersemangat sekali mencari bahan-bahan untuk babakaran. Sosis, Baso, jagung dan lain-lain, lengkap dengan bumbunya.

“Kau ingat, kita rebutan tempat untuk mendirikan tenda?” 

Kita kelimpungan menentukan arah pintu tenda demi sebuah spot paling kece. Sore itu, view danau begitu indah. Banyak spot menarik di Situ Cileunca.

Sore terus merambat menuju malam. Cahaya matahari mulai redup. Tenda sudah siap.

“Babakaran yuk!” ajakmu di tengah kesibukan berbenah barang di dalam tenda.

Dengan sigap, kau mengeluarkan hasil buruan berbelanja subuh tadi. Bagai gula bagi semut, kamipun langsung rebutan memilih bahan babakaran masing-masing. Menusuknya dengan tusukan sate. Berlari ke tempat barbeque di dekat danau. Berebutan tempat di atas api. Seru deh. Tawa canda dan celotehan anak kecil mewarnai malam pertama di Situ Cileunca.

Malam yang tak biasa bagiku saat kemping. Kau membawa sesuatu yang special. Sepanjang malam, alunan suara orang yang mengaji begitu syahdu mewarnai tidur kami. Juga lagu-lagu dan ceramah ustad. Rasanya adem bangets. Apalagi, teman-temanku melakukan tahajud di alam bebas. Di tengah udara dingin mendera. Menjadikan kemping ini sebagai tadabur alam. Mengingat kebesaran Sang Maha Pencipta. Mensyukuri setiap nikmat yang kami peroleh. Menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan Yang Maha Agung. Tiada daya dan upaya, selain pertolongan-Nya.

 

Arung Jeram di Pangalengan

Pagi-pagi, kami sudah bersiap untuk arung jeram. Jujur, ini pengalaman pertamaku. Tak terbayangkan bagaimana rasanya. Ada juga rasa khawatir yang muncul. Juga pada Teh Ida. Namun, semangatmu berarung jeram, membuatku optimis melakukan kegiatan ini di Pangalengan.

Setelah briefing, kami berperahu menyebrangi danau. “Ya Allah, Subhanallah. Begitu memikat pemandangan danau sejak dini hari tadi.” Berganti warna dan rupa. Sebuah lukisan alam yang tiada duanya.

Kemudian, kamipun berarung jeram. Mengikuti perintah dan kode-kode sang instruktur. Kadang-kadang jailnya kumat. Memberikan tipuan perintah yang bikin kami tertawa gembira. “Halaaah, Si Akang!”

Arus besar dan kecil kami arungi. Dinginnya air kami rasakan. Bahkan, aku sempat meminumnya saat arung jeram di arus yang paling besar. Hadeeeuuh. Beberapa belokan sungai kami lalui. Seru dan asyik. Kegembiraan mewarnai perjalanan kecil ini. Teriakanmu. Tawamu. Selalu ada di setiap suasana. Aku menyimpannya khusus di benakku. Pun, ketika kita beristirahat.

Kami semua turun dari ban besar. Menuju warung di pinggir sungai. Lalu, memesan minuman panas untuk mengusir gigil atau dingin. Makan aneka gorengan panas. Perjalanan yang sangat kita nikmati. Sangat bahagia kita. Bercanda dan mengulas arung jeram ini.

Tak lupa hobimu. Motret. Kami berpose kembali di pinggir sungai. Di pinggir warung. Senyum merekah. Jempol terangkat. Jepret. Kenanganmu untuk kami. Kami yang masih harus mengarungi kehidupan ini. Entah sampai kapan.

Sayang, rencana perjalanan kita lainnya harus terputus. Rencana umroh dan haji bersama pun batal. Namun, kami tetap berharap yang terbaik untukmu.

 

 Love you Teh Andrie Potlot. Our guide in every where we go.

Gadis Google Maps yang jari dan kepalanya lebih banyak di layar ponsel.

Semoga Teteh menemukan kebahagiaan sejati di alam sana.

Al Fatihah

Alluhummagfirlaha warhamha waafihi wafuanha

 

yayu-arundina-andrie-potlot
Kebersamaan kita di Singapura

We Love You

Kami, teman seperjalanan yang mengenangmu

2 komentar

  1. Aih jd sedih ingat perjalanan2 kita.... Semoga Andri mendapat tot terbaik di sisi Nya. Aamiin Allohumma Aamiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Perjalanan yang sangat berkesan dan bikin kita happy

      Hapus