BIS DIENG: DAYA DUKUNG WISATA KE NEGERI DI ATAS AWAN

Negeri di Atas Awan

Hai Sobat Yayuarundina, kita jalan-jalan lagi, yuk! Kali ini, kita jelajahi Dataran Tinggi Dieng. Konon, kabarnya Negeri Di Atas Awan ini dulu tempat bertapanya para Dewa. Itulah sebabnya wilayah ini disebut Dieng Plateu. Ada beberapa tempat wisata yang bisa kita kunjungi dengan sebuah bis kecil. Betul Sobat, Bis Dieng ini menjadi Daya Dukung Wisata Ke Negeri Di Atas Awan.

Bis Kecil Dieng - Sumber Gambar: tsabitatourdieng.com


Perjalanan Dengan Bis
            Bagi kami yang berada di Cimahi, berwisata ke Dieng itu butuh sarana transportasi yang memadai. Kendaraan yang nyaman dan jalanan yang bagus. Perjalanan memakan waktu sekitar 13 jam. Sore itu, kami mulai perjalanan setelah shalat Ashar, sekitar pukul 15.00 dan tiba di Dieng sekitar pukul 03.00. Bayangkan, jika kondisi bis dan jalanan sangat buruk.

Bis Hijau ini membawa kami ke Dieng - Foto by Iwan Tea

            Alhamdulillah, kami tidak merasa ringsek badan. Hancur atau pegel-pegel selama perjalanan. Dalam cahaya malam, tak kulihat jalan yang rusak parah. Hampir semuanya mulus. Ini yang paling kami sukai saat melakukan perjalanan jauh. Kalau jalan rusak parah, tentu bis akan berjalan lambat dan waktu perjalanan pun akan sangat lama. Kalau lama, badan kami bisa pegal semua dan kaki bengkak-bengkak. Apalagi bagi mereka, guru pendamping yang sudah berusia di atas kepala lima. Penyakit syaraf kejepitnya bisa kambuh parah. Alhasil, mereka takkan maksimal mendampingi siswa. Untungnya hal ini tak terjadi.
            Setelah menggunakan bis besar sampai di parkiran Dieng, kami segera berganti menggunakan bis kecil. Kalo di Bandung mirip dengan bis Madona untuk ke Cililin atau Eksplore untuk ke Jatinangor. Wah,  gak kebayang deh kalo harus memburu sunrise atau matahari terbit dengan bis besar. Bakalan kepayahan tuh hehehe…. Yang paling kutakutkan adalah kembali jalan mundur karena gak kuat nanjak. Oh No. Naudzubillahhimindalik. Jangan sampai kejadian deh. Ah, untungnya ada Si Kecil.
            Setiap bis kecil itu berisi sekitar 18 orang. Ada supir. Siswa. Guru pendamping dan tour leader. Sejak Janari Leutik sampai tengah hari, kami habiskan waktu bersama menjelajah Dieng dengan bis kecil ini. Perjalanan menjadi nyaman dan lancar untuk mengunjungi beberapa obyek wisata di sana. Gardu Pandang. Candi Arjuna. Kawah Sikidang. Teater Dieng Plateu.
            Murid-murid saya lebih asyek lagi karena mendapatkan supir bis yang ramah, baik hati, banyak ilmunya dan suka bercerita. Makin betah deh mereka berada di bis kecil. Karya wisata ini menjadi lebih berkesan.


Happy-happy



Beberapa Syarat Wisata Asyik dan Menyenangkan
            Dari beberapa kali pengalaman melakukan wisata ke beberapa tempat, ada beberapa syarat agar perjalanan wisata bisa nyaman. Mau tahu? Ini dia:
1. Jalan atau infrastruktur menuju obyek wisata wajib bagus dan mulus
2. Sarana transportasi yang lengkap dan bagus.
3. Ada sarana akomodasi yang cukup
4. Toilet yang bersih, nyaman, aman dan airnya banyak
5. Kuliner menarik
6. Sumber daya manusia yang cakap
7. Jaminan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan
8. Keramahan tuan rumah/ penduduk sekitar obyek wisata
9. Ketersediaan informasi lengkap bagi para wisatawan baik domestik maupun mancanegara
10. Ada pusat bantuan, khususnya untuk situasi gawat darurat.
            Terpenuhinya syarat-syarat tersebut akan menyebabkan tumbuhnya dukungan ekonomi juga. Semakin nyaman wisatawan berada di suatu obyek wisata, semakin banyak yang datang. Dengan demikian kesejahteraan masyarakat dan pengusaha di tempat wisata tersebut akan semakin baik. Pemerintah sudah seharusnya mengagendakan ini sejak lama, terutama untuk program Pesona Indonesia. Semakin baik fasilitas pendukungnya, maka Pesona Indonesia pun akan semakin menarik dan disukai banyak wisatawan.
Tampaknya, hal ini sudah mulai banyak dilakukan. Berbagai pembangunan infrastruktur sudah banyak yang berjalan. Pembenahan materi wisata juga semakin baik. Hal ini dilakukan oleh pemerintah dengan dukungan masyarakat setempat. Kolaborasi yang harmonis ini diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Contoh nyata yang saya lihat langsung terjadi di Kampung Adat Cireundeu Cimahi. Hal yang sama juga terjadi di Dieng berdasarkan obrolan santai dengan salah seorang ibu warung di Dieng. Terutama untuk acara ruwatan anak gimbal di bulan Agustus.
Upaya nyata juga telah dilakukan oleh pemerintah berupa pembangunan infrastruktur untuk menghubungkan daerah-daerah yang memiliki potensi wisata. Dalam hal ini, Kemenhub bertanggung jawab untuk membangun sarana dan prasarana transportasi. Dengan demikian, tempat wisata itu akan semakin menarik dan mampu mengundang para wisatawan untuk datang berkunjung. Semakin banyak yang datang, maka akan semakin banyak pula devisa negara yang akan diterima, juga masyarakat akan semakin sejahtera secara ekonomi. 
Presiden Joko Widodo menginstruksikan untuk melakukan pembangunan di 5 Bali Baru sebagai destinasi wisata, yaiitu: Danau Toba, Mandalika, Labuan Bajo, Borobudur, dan Likupang. Pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan adalah bandara, pelabuhan, kapal dan fasilitas transportasi lainnya. "
Pembangunan ini ditargetkan selesai tahun 2020 untuk mempercepat konektivitas daerah pariwisata tersebut," ujar Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi.
Hal yang sama juga kita harapkan dilakukan untuk kembali membuka jalur kereta api di masa Belanda, yaitu Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo. Presiden Joko Widodo pernah mengemukakan ide revitalisasi jalur kereta api kuno tersebut. Revitalisasi ini akan menyingkirkan anggapan orang tentang susahnya transportasi ke Dieng. Pembangunan infrastruktur ini akan semakin menggaungkan wisata Dieng ke seluruh dunia secara lebih luas lagi. Kemudahan transportasi ini membuat Dieng semakin dekat di hati para wisatawan, baik mancanegara maupun dalam negeri. Transportasi unggul, Indonesia pun maju.
Nantinya Bis Kecil dan Kereta Api ini bisa menjadi andalan transportasi ke kawasan wisata Dieng.

Obyek Wisata Dieng
            Kawasan obyek wisata Dieng memiliki beberapa obyek wisata yang menarik. Kisah anak gimbal. Gardu Pandang. Telaga Menjer. Teater Dieng Plateu dan Kawah Sikidang. Ingin tahu lebih banyak? Ini dia kisahnya.

Kisah Anak Gimbal
Kawasan Dieng memang identik dengan kisah unik yang selalu jadi sorotan masyarakat.  Apalagi kalau bukan cerita Si Anak Gimbal.
Menurut tour guide kami yang memiliki anak gimbal,”Anak Gimbal bisa hidup secara normal hanya memiliki karakter yang unik.”
            Anak gimbal tersebut memiliki rambut yang beda dari kebanyakan orang. Gimbal. Lengket. Gak bisa disisir. Gejala umum yang terjadi pada mereka adalah panas tinggi yang cukup merepotkan orang tua. Setelah itu, terjadilah perubahan. Rambutnya berubah menjadi gimbal kayak gembel di jalanan. Gejala ini umumnya terjadi pada anak kecil hingga usia sekitar 8-12 tahun. Lewat dari usia tersebut biasanya tidak akan menjadi anak gimbal.
            Anak-anak ini biasanya memiliki keinginan khusus yang harus dipenuhi oleh orang tuanya. Keinginan tersebut akan diminta saat mereka melakukan upacara ruwatan. Kalau keinginan tersebut terpenuhi, maka dia bisa sembuh. Jika tidak, dia akan sakit dan rambutnya akan gimbal selamanya.
            Konon kabarnya, jangan datang pada hari Jumat, jika ingin bertemu dengan mereka!


Gardu Pandang
            Obyek wisata alam yang ada di Dieng ini ada beberapa. Salah satunya adalah Gardu Pandang. Di sini, kita dapat berburu matahari terbit atau sunrise yang indah. Saat saya ke sana, matahari yang muncul berselimut kabut. Fenomena ini membuat Kawasan Lembah Dieng memang seperti Negeri Di Atas Awan. Rumah-rumah penduduk  dibalut kabut yang bersih. Indah memesona. Asyik nih buat foto-foto. Kita juga bisa icip-icip minuman yang hangat sambil menikmati mentari yang cantik.

Kawah Sikidang
            Siap-siap menerima bau kentut di sini ya. Hahaha…. Mengapa? Betul, Sob. Bau belerang. Kita harus main kucing-kucingan dengan arah angin kalau tidak ingin menghirup bau tersebut. Dulu, pernah jatuh korban cukup banyak akibat gas beracun yang muncul dari sini saat meletus.
            Nah, karena aku gak tahan dengan baunya, maka aku lebih memilih belanja oleh-oleh Dieng. Harga di sekitar kawah Sikidang ini cukup murah.  Hayo, siapa yang tahu oleh-oleh khas dari Dieng ini? Kentang. Aneka keripik. Carica dan lain sebagainya.


Beli Oleh-Oleh Dieng


Teater Dieng Plateu
            Dari sinilah, aku tahu kisah yang cukup menyedihkan itu. Sangat menarik juga mengenal Kawasan Dieng secara visual. Teater Dieng Plateu ini menurutku seperti bioskop modern di kota-kota. Asyek juga tidur eh nonton di sini. Awas, bahaya ngantuk berat mengintai. Abis cape jalan-jalan, lalu dibuai ac ruangan yang dingin.

Telaga Menjer
            Setelah menikmati sarapan pagi yang cukup siang, akhirnya kami mencuci mata di Kawasan Telaga Menjer yang sejuk. Asyik berperahu. Foto-foto. Juga menikmati pemandangan alam nan hijau permai.

Santai sejenak di Telaga Menjer
            Nah, Sobat Yayauarundina, setelah puas berkeliling, kami kembali naik bis kecil untuk menuju parkiran kembali. Matahari sudah cukup tinggi. Perutpun kembali keroncongan. Saatnya pergi menggunakan bis besar untuk mencari makan siang.
Perjalanan di Dieng dengan transportasi darat ini sangat berkesan. Selain hidangan alam, dukungan infrastrukturnya juga oke bingit. Jalanan yang menanjak dan turun, kadang cukup tajam, tak membuat kami khawatir. Infrastruktur seperti inilah yang kami dambakan di setiap tempat wisata. Infrastruktur nyaman, wisatapun jadi asyik. Bis Diengpun sangat mendukung perjalanan ini.
Ayo, kita kembali ke Dieng!
intai negeri 
Cintai alam
Cintai budaya

2 komentar

  1. dieng salah satu tempat fav ku utk wisata indonesia. krn akut ermasuk yg ga kuat panas, jd objek wisata pantai ga pernah suka :D. makany dieng yang sejuk, jd pilihan.

    trakhir ke dieng 2013 , tp naik mobil sendiri. duuuh kurang bangat cuma semalam di sana. terlalu bagus tempatnya, trus orang2 yg kita temuin juga ramah2 bangettt ya mba. pemilik rumah tempat homestay kebangetan servicenya. Yg lbh bikin terharu, pas ditanya berapa permalamnya, dia cuma bilang, terserah ibu aja. Ya ampuuuuun, aku yg bingung malah hahahaha. pgn suatu saat bisa ke dieng lagi, ajakin anak-anak. dulu si kaka pas kesana msh bayi, jd pasti udh ga inget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah seru kedinginan pastinya 😄 Aayek pastinya bisa menikmati view Dieng di malam hari. Keren pastinya. Kalo kemarin aku nanya ke guide, katanya homestay sekitar 300 ribuan. Am

      Hapus