12/25/2022

Perlukah Kita Punya Tokoh Idola dalam Hidup?

 

Halo sobat yayuarundina.com, Perlukah kita punya tokoh idola dalam hidup? Pernahkah mempertanyakan itu? Idola sepertinya menjadi wajib saat remaja. Nah, sekarang bagaimana, adakah pengaruhnya jika kita punya atau tak punya tokoh idola?


kla project
Kla Project

Tokoh idola itu identik dengan dunia remaja yang penuh euphoria. Sepertinya saat itu kita wajib punya tokoh idola untuk bahan obrolan atau pergaulan dengan teman. Artis-artis favorit biasanya menjadi tokoh idola kita. Bisa perempuan atau laki-laki. Hmmm, rasanya siswa laki-laki jarang yang punya tokoh idola, ya? Mereka sepertinya lebih senang ngobrol tentang pemain bola.

Perlukah kita punya tokoh idola dalam hidup? Ini sepertinya sebuah pertanyaan menarik. Dulu, saat remaja, seringkali punya tokoh idola karena terbawa arus. Teman punya idola, kita juga ikut-ikutan (aku sih ini hehehe…). Takut gak masuk dalam circle gaul atau dianggap gak seru saat ngobrol pas jam istirahat.

Perlukah Kita Punya Tokoh Idola dalam Hidup?

Berdasarkan kepemilikan tokoh idola, manusia akan terbagi dua. Pro dan kontra. Wajib punya tokoh idola dan tidak harus punya tokoh idola. Menurutku, memiliki tokoh idola hanya bersifat sementara saja. Ya itu tadi, hanya menjadi bagian pada masa remaja. Setelah itu, biasanya akan hilang dengan sendirinya.

Saat remaja itu, tokoh idola identik dengan para artis, penyanyi atau aktor. Dulu, Katon Bagaskara, Erwin Libels, New Kids On The Block, Ryan Hidayat alm sering menjadi tokoh idola. Kalau sekarang sepertinya beralih ke artis Korea, seperti: So Jong Ki.

Kita akan terobsesi memiliki semua hal yang terkait dengan tokoh idola tersebut. Kaset, baju, foto, poster dan lainnya. Kamar jadi penuh dengan segala pernak-pernik yang berhubungan dengan tokoh idola. Berulang kali lagu favorit dari New Kids On The Block atau Kla Project diputar berulang kali sampai ngageol atau pita kasetnya rusak. Saat mentas, kita wajib beli tiket konsernya. Datang. Berharap bisa salaman, foto bareng, atau minimal dapet tanda tangan di kaset, baju dan tempat lainnya. Apes bagi yang gak berduit.

Satu keuntungan positif saat memiliki tokoh idola adalah kita baca biografinya. Dengan membaca itu, kita jadi tahu perjuangan mereka mencapai puncak karir. Tak mudah memang. Alhasil, kita juga jadi lebih bersemangat mengejar cita-cita. Masa kalah sama tokoh idola kita. Kita jadi lebih bersemangat untuk bersekolah. Ngobrol asyik tentang kegiatan terbaru mereka saat jam kosong atau jam istirahat. Kalau perlu, pulang sekolah, kita lanjutkan obrolannya di rumah teman. Ah, hidup jadi lebih berwarna deh!

Namun, jangan sampai deh kita buta mengidolakan seseorang! Semua hal dari tokoh idola kita jadikan sesuatu yang berharga . Semuanya positif. Semua hal kita telan bulat-bulat. Semua orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Setiap orang punya sisi baik dan buruk. Seperti itulah manusia. Tak ada yang sempurna. Jangan sampai kita sangat fanatik mengidolakan mereka! “Allah memang menutupi aib-aib kita,” ujar Aa Gym selalu untuk mereka-mereka yang sedang menjadi tokoh idola masyarakat.

Belajar Tentang Hidup Manusia dari Tokoh Idola Kita

Apakah aku punya tokoh idola, Sob? Memiliki tokoh idola itu berarti kita bisa belajar tentang hidup manusia. Dalam aplikasi  Kamus Besar Bahasa Indonesia V, idola adalah orang, gambar, patung dan lain sebagainya yang menjadi pujaan. Sedangkan, pujaan adalah orang atau sesuatu yang dipuja-puja. Dipuja-puja artinya dicintai.

Bagiku menentukan seseorang atau sesuatu itu adalah tokoh idola merupakan suatu hal yang sangat sulit. Entahlah, sangat sulit bagiku memuja-muja orang atau sesuatu. Aku sih biasanya cukup suka atau kagum aza sih. Hal seperti ini bisakah tergolong menjadi tokoh idola? Kalau seperti itu, ada artis yang kukagumi dan kusuka karena aktingnya, wajah kasepnya alias ganteng.

Bisa susah move on nih kalau ingat mereka. So Ji Sub yang berperan sebagai penolong dibalik layar sampai akhirnya jatuh cinta sama wanita yang ditolongnya. So Ji Sub sebenarnya orang kaya, tapi ia punya kekurangan, sakit-sakitan hingga kakinya kurang berfungsi dengan baik. Apa ya judul drakornya nih? Ada juga Lee Min Ho, So Jong Ki. Aku ikut-ikutan baper karena drakor yang sempat trending ini Descendant of The Sun.

Selain aktor, ada juga penyanyi  ganteng yang aku suka. Zaman SMA, kami sangat suka sama Katon Bagaskara seiring dengan kepopuleran lagu-lagu Kla Project. Yogyakarta, Terpuruk Ku Di Sini dan lain sebagainya. Lagu-lagu dengan syair yang hebat menurutku itu masuk bangets ke hati. Saat Kla Project manggung lagi di Bandung setelah lama vakum, aku dan temanku sampai rela pulang malam, nonton penampilannya lagi di sebuah mall. Kembali menikmati lagu-lagu favorit Kla Project. Ditambah lagi Katon adalah mantan pramugara. Wuih, saat itu pilot dan pramugara adalah profesi kece bangets deh. Tulus juga.

     Baca Juga: https://www.yayuarundina.com/2022/04/keren-hati-hati-di-jalan-lagu-tulus.html

Bagiku memiliki tokoh idola itu berarti kita bisa belajar tentang hidup manusia. Mengamati perjalanan hidup mereka sampai mencapai puncak ternyata banyak lika-likunya. Butuh waktu, perjuangan, kerja keras, sabar, dan tak kenal putus asa. Lee Min Ho misalnya. Awalnya dia ingin menjadi pemain sepak bola. Pernah terjun di dunia kulit bundar ini. Namun, karena cedera, dia tak bisa lagi menjadi pemain bola. Akhirnya, terjun menjadi artis dan sukses berkiprah di drama korea (drakor). The King ini pada akhirnya menemukan kesuksesannya di dunia yang tak pernah diimpikan sebelumnya, drama korea. Begitulah hidup, selalu banyak hal datang tanpa diduga. Kesuksesan memang harus dibangun dengan kesungguhan.

Tokoh idola bisa jadi motivator bagi kita untuk menjadi lebih baik. Kalau dalam ilmu IPA, kemageran bisa berubah karena ada gaya luar. Kita selalu butuh penyemangat di luar diri kita. Faktor eksternal.

           Baca Juga: https://www.yayuarundina.com/2016/03/belajar-kanker-dari-mamah.html

Mamah Tokoh Idola Sejatiku

Inilah tokoh idola sejatiku, mamah. Aku banyak belajar dari mamahku sendiri. Belajar tentang sebuah kesabaran. Belajar hidup bersahaja. Belajar mendidik dengan penuh cinta. Belajar tentang menerima. Belajar tentang pengabdian sejati pada orang tua dan suami.

Ada satu hal penting lagi yang kupelajari, kukagumi dan mungkin kulakukan juga sekarang. Percaya dan yakin dengan diri sendiri. “Kita jangan sampai ikut-ikutan orang lain. Kamu harus punya prinsip! Jangan terbawa arus dan harus yakin pada dirimu sendiri! Didoakeun ku mamah, kamu juga nanti bisa seperti itu. Hidup enak seperti yang lain.”  Aamin!

Begitulah jawaban jitu saat aku kecewa dengan keadaan. Aku merasa hidupku tak seberuntung orang lain. Bisa ini. Bisa itu. Bisa pergi ke sini. Bisa pergi ke sana. Beli baju baru. Jajan di kfc dan banyak lagi hal menyenangkan lainnya.  . Aku sempat iri dengan keberuntungan teman-temanku. Dunia remaja yang galau dan penuh kamuflase. Namun, berhasil kulewati dengan selamat karena keteguhan, kesabaran dan doa-doa mamah yang melangit. I love you, Mom. Mamahku tercinta. The best. Terima kasih untuk semuanya. Doa untuk mamah sekarang. “Semoga dilapangkan kuburnya. Dijauhkan dari siksa kubur. Dan juga akan mendapatkan surga di sisi Allah SWT. Aamiin!”

 

 

 

 

 

Sumber Gambar:

https://www.republika.co.id/berita/medx60/kejutan-kla-project-di-ulang-tahun-ke-25

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured Post

Seru, Gamifikasi Dalam Proses Pembelajaran

  Halo sobat yayuarundina.com – Kali ini, kita bahas tentang Seru, Gamifikasi Dalam Proses Pembelajaran. Yup, dunia pendidikan sekarang   ...